Pendekar Tanpa Nama

Pendekar Tanpa Nama
Sebelas Bayangan


__ADS_3

"Lepas …" bentak Pendekar Tanpa Nama.


Dua gulung angin dahsyat datang menerjang dua lawannya. Tidak ada jalan keluar lagi. Jalan satu-satunya hanyalah melepaskan golok yang ada di tangan.


Karena alasan itulah, tanpa berpikir panjang, mereka segera melepaskan goloknya masing-masing. Dua golok itu kini sudah berada di genggaman Pendekar Tanpa Nama.


Sedangkan pemiliknya melompat mundur empat langkah agar selamat dari serangan sebelumnya. Mereka juga sempat berjumpalitan agar terbebas dari jeratan maut.


"Jika kemampuan kalian hanya seperti ini, lebih baik segera pergi dan panggil orang-orang di atas kalian. Aku terlalu malas untuk membunuh orang seperti kalian," ejek Cakra Buana sambil melemparkan dua batang golok rampasan itu.


Dua orang itu merasa geram. Ucapan Pendekar Tanpa Nama barusan benar-benar merupakan hinaan yang sangat dalam. Siapapun tidak akan menerimanya begitu saja.


Begitu juga dengan mereka.


Namun setelah berpikir beberapa saat, keduanya lebih memilih untuk bertekad. Karena jika kembali juga percuma, nyawa mereka pasti akan melayang. Peraturan di wilayah kekuasaan si Tuan tanah memang sangat ketat.


Bagi mereka, lebih baik mati di medan pertarungan dari pada pulang membawa kegagalan. Oleh sebab itu, entah sudah berapa banyak orang-orang si Tuan tanah yang mati konyol karena ketidakmampuan mereka dalam menjalankan tugasnya.


"Kami lebih baik mampus dari pada harus kembali membawa kegagalan," katanya lalu bersiap kembali untuk melancarkan serangan maut.


"Kalau memang itu keinginan kalian, baiklah. Aku akan penuhi sekarang juga," ujar Pendekar Tanpa Nama ketus.


Di sisi lain, si Walet Putih masih melangsungkan pertarungan antara hidup dan mati melawan satu orang musuhnya. Ternyata walaupun sudah tua, permainan pedangnya semakin lama justru semakin hebat.


Sekarang dia berada dalam posisi menyerang. Pedang di tangannya dimiringkan mengincar bagian iga kanan lawan. Kaki kirinya juga bergerak. Kaki itu melancarkan sapuan yang mengandung kekuatan hebat.


Lawannya merasa gentar. Tapi dia juga sama dengan yang lainnya. Dia sendiri lebih baik mampus dari pada harus pulang dengan tangan kosong.


Senjata di tangannya bergetar sehingga terlihat menjadi beberapa bayangan. Kecepatan serangannya lebih hebat dari pada sebelumnya.


Dua pendekar sudah terlihat dalam pertarungan sengit. Si Walet Putih melompat tinggi. Pedangnya melancarkan empat tusukan dan dua kali sabetan.


Cahaya putih menyilaukan mata saat terkena tempat lentera yang ada di bangunan mewah tersebut.

__ADS_1


Meskipun kedua pertarungan ini mengeluarkan bunyi yang nyaring, namun rasanya tidak akan terdengar jelas hingga ke dalam ruangan. Sebab jarak untuk ke sana masih terbilang lumayan jauh.


"Pedang Terbang di Bawah Rintik Air Hujan …"


Wushh!!!


Si Walet melesat cepat ke depan. Jurus pedang pamungkas miliknya dikeluarkan dengan pengerahan tenaga dalam tinggi. Pedang itu seperti jarum yang dilemparkan dengan cepat. Selalu bergerak ke segala arah, tapi mampu ditarik dan diubah gaya serangannya secara tiba-tiba.


Jubah putihnya berkibar tertiup angin. Orangnya sendiri saat ini sedang melayangkan serangkaian tebasan dan tusukan maut.


Menjelang jurus keempat puluh, pedang milik si Walet Putih berhasil menusuk bagian lambung lawannya. Darah menyembur dari mulut orang itu.


Senjata yang tadinya digenggam erat, kini mendadak jatuh sehingga menimbulkan bunyi nyaring. Orangnya sendiri langsung ambruk saat pedang lawan telah dicabut.


Ujung pedang si Walet Putih masih meneteskan darah segar. Orangnya masih berdiri dengan tenang. Nafasnya sangat teratur, wajahnya juga mengembangkan sekulum senyuman yang hangat.


Sekilas, siapapun tidak akan menyangka bahwa dia baru saja melangsungkan pertarungan maut.


Pertarungan Pendekar Tanpa Nama hampir mencapai akhir. Dua lawannya sama sekali tidak dapat berbuat apa-apa. Mereka hanya mampu bertahan dan terus seperti itu hingga saat ini.


Meskipun sekarang dia mempunyai tenaga dalam yang sukar dicari tandingannya, namun dia tidak mau untuk selalu menggunakan seluruh kekuatannya. Meskipun bisa menjalankan pertarungan dalam waktu singkat, tetapi dia tidak mau mempraktekkannya.


Alasannya karena pemuda itu masih membutuhkan sebuah pengalaman dari setiap pertarungan. Karena dengan banyaknya pengalaman, dia bisa mendapat pelajaran banyak.


Mulai dari bagaimana menangkis suatu jurus tertentu, bagaimana cara menghindarkan diri dari serangan maut, dan sebagainya. Karena pada hakikatnya, belajar itu memang sangat diperlukan meskipun kita sudah berada di atas.


Kecuali jika memang situasinya sudah tidak memungkinkan lagi. Kalau sudah seperti itu, maka terpaksa jurus tertingginya harus segera keluar.


Menghadapi dua lawannya yang sekarang, jurus tingkat tingginya tidak perlu dikeluarkan. Hanya dengan jurus biasa saja, Pendekar Tanpa Nama sangat yakin bahwa dia mampu menyelesaikan pertarungan ini.


Dan sekarang dia melakukannya. Tadi pemuda itu belum begitu serius, tapi sekarang, ceritanya lain lagi.


Tangan kanannya digulirkan ke depan. Sebatang golok langsung dijepit, secepat kilat dia segera mematahkan golok tersebut.

__ADS_1


Clangg!!!


Golok itu langsung patah. Serpihan goloknya yang tajam, dia lemparkan ke tubuh lawan dengan kecepatan tinggi. Tanpa mampu menghindar, lawannya segera tewas di ujung serpihan senjatanya sendiri.


Rekannya yang masih bertahan menggeram ganas. Dia menyerang secara kalap. Goloknya dimainkan sedemikian rupa sehingga terlihat menjadi beberapa bayangan.


Cakra Buana menggeser kaki kanannya lalu memiringkan tubuhnya untuk menghindari serangan tersebut. Tangan kirinya memapak serangan lawan. Dengan satu jari telunjuk, dia menekan batang golok.


Clangg!!!


Golok lawan dibuat patah kembali hanya dengan totokan satu jari telunjuknya. Begitu golok tersebut patah, Pendekar Tanpa Nama langsung mengibaskan tangannya ke arah lawan.


Orang itu terpental ke belakang. Tubuhnya bergulingan. Orangnya tewas seketika. Dari mulutnya keluar darah segar.


Ternyata dalam kibasan tadi, terselip sebuah tenaga hebat yang mengguncang organ dalam lawan.


Cakra Buana kembali ke posisi semula. Kedua tangannya ditaruh di belakang.


"Siapa lagi?" teriaknya sambil melirik keadaan sekitar.


Tapi tidak ada jawaban. Yang terdengar hanyalah hembusan angin lirih menerpa tubuhnya dan mengibarkan jubahnya.


"Kau baik-baik saja?" tanya Cakra Buana kepada si Walet Putih.


"Tentu saja. Kau jangan khawatir. Ada lima belas lawan seperti mereka sekalipun, aku masih sanggup untuk melawannya," jawab si Walet Putih penuh semangat.


Lolongan anjing di kejauhan sana terdengar membawa perasaan seram. Dua orang berpakaian merah dan putih berdiri dengan tenang menanti lawan selanjutnya.


Tidak perlu menunggu terlalu lama, karena beberapa saat kemudian mendadak muncul belasan bayangan manusia. Pakaian mereka beragam, begitu juga dengan wajah dan penampilannya.


Namun yang menjadi perhatian Cakra Buana hanya tiga orang saja. Yaitu orang yang paling gendut, paling krempeng dan paling kekar.


Si gendut memegang bola besi yang disambung sebuah rantai dan mempunyai duri di sekelilingnya. Yang paling krempeng hanya memegang dua batang senjata. Tombak dan seruling.

__ADS_1


Sedangan yang paling kekar tidak terlihat membawa apa-apa. Dia bertangan kosong, tapi sorot matanya menampilkan kekejaman tiada tara.


Terlepas dari tiga orang itu, Pendekar Tanpa Nama memperhatikan lekat-lekat seorang yang berdiri paling belakang sambil bersandar ke sebatang pohon.


__ADS_2