
Crashh!!! Crashh!!!
Dua tebasan dilayangkan. Dua kepala menggelinding jatuh ke bawah. Hanya dalam beberapa serangan maut, kedua lawannya telah tewas tanpa kepala.
Si Walet Putih langsung mundur setelah membunuh dua lawannya. Orang tua itu tidak mau terlalu mengambil resiko. Karena itulah dirinya memilih untuk mencari aman.
Pendekar Tanpa Nama dan si Walet Putih kembali ke posisi semula seperti sebelumnya.
Melihat kenyataan bahwa si Empat Setan Pedang Kembar meregang nyawa hanya dalam beberapa saat saja, wajah yang lainnya langsung berubah hebat. Baik si krempeng, si kekar maupun si gendut, semuanya memperlihatkan ekspresi sangat marah.
Sedangkan di bawah pohon sana, si Tubuh Pedang masih berdiri dengan tenang. Orang itu tidak bicara, dia hanya mengangguk-angguk tersenyum melihat pertarungan hebat yang membuat dirinya merasa terpukau.
"Bagus. Ternyata Empat Setan Pedang Kembar juga tidak mampu membunuh kalian berdua. Kalau begitu, sudah saatnya sekarang kami untuk turun tangan," kata si gendut dengan suara yang bengis.
Wajah tiga orang itu berubah hebat. Jika sebelumnya mereka terlihat sangat ramah, sekarang justru malah terlihat sangat bengis. Bengis sekali.
Seolah seluruh kemarahan di muka bumi ini sudah ditumpahkan kepada tiga orang tersebut. Wajah ketiganya berubah kelam. Sekelam harapan yang sudah sirna.
"Sudah, jangan banyak bicara lagi. Kalau kalian memang berniat untuk turun tangan, turun sekarang saja. Jangan hanya membual seperti anjing yang menggonggong," ejek si Walet Putih.
Dia sudah muak dengan pertarungan yang tidak berarti. Sebagai tokoh kelas atas, dia akan merasa senang jika berhasil menemukan lawan tangguh. Tapi jika menemukan lawan yang jauh di bawahnya, si Walet Putih justru akan bertarung malas-malasan.
"Kau yang meminta untuk mempercepat kematianmu sendiri. Kalau begitu, kami akan mengabulkannya sekarang juga,"
Wushh!!!
Si krempeng yang bersenjatakan dua pedang kembar langsung melesat ke depan. Dua pedangnya dicabut sesaat sebelum tubuhnya tiba di hadapan si Walet Putih.
Dua cahaya perak berkelebat menebas dari samping kanan dan samping kiri. Sekarang si Walet Putih terkesiap. Dia tidak menyangka bahwa lawan yang mirip tengkorak hidup itu, ternyata mempunyai kecepatan yang sangat luar biasa.
Pedang tajam yang telah membunuh banyak jiwa sudah diayunkan pula. Dia menghindar sambil melancarkan serangan balasan.
__ADS_1
Desiran angin terasa menghunjam tubuh. Orang itu tersentak kembali, lawannya kali ini ternyata benar-benar bukan lawan sembarangan. Meskipun tebasan dua pedangnya tidak mengenai tubuhnya sendiri, namun ternyata angin tebasannya saja sudah membawa hawa panas penuh kematian.
'Kalau begini caranya, aku tidak boleh main-main lagi,' batinnya sambil memperhatikan gerakan lawan dengan seksama.
Dalam sebuah pertarungan dahsyat seperti sekarang, dia harus mengerahkan segenap kemampuannya. Bahkan jika keadaannya memang mendesak, mau tak mau si Walet Putih harus mengeluarkan jurus simpanannya yang jarang dia gunakan.
Si krempeng menyerang lagi. Empat belas tebasan dan sepuluh tusukan langsung dilayangkan dengan kecepatan tinggi. Tubuhnya yang kecil itu memberikan keuntungan tersendiri, yaitu dia mampu bergerak cepat melebihi perkiraan lawannya.
Dengan jurus Menangkap Kekasih Melemparkan Harimau, si krempeng terus menyerang si Walet Putih dengan ganas. Sabetan dan tusukan pedang terlihat tiada hentinya mengancam ke berbagai macam titik penting pada tubuh manusia.
Di sisinya, si gendut yang bersenjata bola besi berduri sudah menyerang Pendekar Tanpa Nama. Bola besi yang diikat dengan rantai itu diputarkan sangat cepat sehingga bentuknya lenyap.
Yang terlihat bukanlah bayangan bola besi berduri, justru yang terlihat adalah bayangan hitam yang mebawa hawa kematian pekat.
Wutt!!!
Bola itu dilepaskan menyerang Pendekar Tanpa Nama. Jika sampai mengenai tubuhnya, sudah pasti tubuh itu akan remuk. Kekuatan yang terkandung dalam bola besi itu setara dengan berat ratusan kilo.
Telapak tangan kananya terbuka. Segulung kekuatan dahsyat menerjang ke depan lebih dulu. Debu mengepul membawa hawa kematian. Hembusan angin menerpa sangat keras.
Blarr!!!
Si gendut terdorong tiga langkah. Tapi tubuhnya tidak mengalami luka sedikitpun, tubuh yang penuh lemak itu hanya tergetar sedikit. Entah kapan dan entah bagaimana caranya, namun ternyata dia sempat menarik bola besinya dan dibenturkan dengan telapak tangan Cakra Buana.
Cakra Buana sendiri sedikit kaget saat melihat bagaimana kecepatan orang itu. Untung sebelumnya pemuda itu sempat menyalurkan hawa murni ke seluruh tubuh, sehingga dia tidak mengalami rasa sakit saat berbenturan dengan senjata aneh itu.
Si kekar masih belum turun tangan. Orang itu memperhatikan dua pertarungan tersebut dengan serius secara bergantian. Kadang-kadang dia melirik ke pertarungan Cakra Buana, kadang-kadang juga dia melirik ke pertarungan si Walet Putih.
Si Walet Putih saat ini sedang mencecar si krempeng. Pedangnya seperti badai yang mengamuk. Menghancurkan segala macam sesuatu dan mendatangkan hawa kematian kental.
Trangg!!! Trangg!!!
__ADS_1
Dentingan nyaring terdengar keras saat pedangnya berbenturan dengan senjata lawan. Dia sudah mengeluarkan jurus simpanannya yang dinamakan Berkelit Dari Maut Menyerang Dengan Ganas.
Jurus itu merupakan pencapaian titik sempurna dari permainan pedangnya. Sehingga serangannya tidak usah diragukan lagi.
Trangg!!!
Benturan sangat keras terjadi. Si krempeng terkejut setengah mati saat menyadari satu pedangnya patah menjadi dua bagian. Serpihan ujung pedangnya terlempar hingga menancap di batang pohon.
Si Walet Putih berniat untuk melancarkan serangan terakhirnya. Siapa sangka, sebelum hal itu terjadi, empat gulung angin dahsyat datang menerjang dari arah sebelah kanan.
Si kekar telah turun tangan. Empat pukulan jarak jauh dia layangkan sedahsyat mungkin. Belum selesai serangan sebelumnya, kakinya yang besar itu telah melayang pula menebarkan kematian.
Blarr!!!
Si Walet Putih tidak sempat menghindar. Dua gulung angin itu berhasil menyambar tubuhnya dengan telak. Dia langsung terlempar dan bergulingan di tanah. Mulutnya memuntahkan darah segar yang tidak sedikit.
Si kekar tidak mau menyia-nyiakan kesempatan emas ini. Dia menjejakkan kakinya di tanah lalu meluncur kembali ke arah si Walet Putih.
Dua tangannya datang membawa kabar maut. Serangan kali ini jauh lebih hebat. Sebab segenap kemampuannya telah dicurahkan secara sempurna.
Blarr!!!
Dua pukulan kembali mengenai tubuh si Walet Putih dengan telak. Orang tua itu terlempar kembali. Tubuhnya terasa remuk karena tidak sempat menahan serangan lawan.
Si krempeng yang merasa sangat marah karena satu pedangnya dibuat patah, dia langsung menyerang kalap saat melihat satu kesempatan baik ini.
Pedang itu bergetar sehingga berubah seperti ribuan pedang. Bergulung-gulung tenaga hebat keluar dari ujung pedang. Tidak ada kesempatan lagi untuk menghindar. Si Walet Putih hanya mampu menggertakkan giginya sambil menahan rasa sakit.
Dia mengangkat pedangnya untuk menahan serangan si krempeng.
Trangg!!!
__ADS_1