
"Kau jadi pulang besok?" tanya si Buta Yang Tahu Segalanya mulai serius.
"Makanya kemari, maka itu artinya aku jadi pulang besok,"
"Kapan kau akan berangkat?"
"Mungkin sore hari. Sore hari adalah waktu yang paling tepat untuk melakukan perjalanan di laut, sebab aku bisa melihat indahnya matahari terbenam,"
Sore hari memang indah. Apalagi kalau dinikmati di lepas pantai di atas kapal. Terbenamnya Sang Surya pasti akan terlihat dengan jelas. Lembayung senja yang mempesona pun pastinya bakal jauh lebih indah lagi.
"Ternyata kau juga pintar memilih waktu sebelum melakukan perjalanan,"
"Aku sudah terbiasa mengembara, oleh sebab itulah aku tahu,"
Cakra Buana memang telah terbiasa. Pahit manisnya kehidupan dia sudah pernah menjalani. Dari mulai yang kecil hingga yang berat, dari yang sepele hingga berarti, dia sudah pernah merasakan.
Oleh sebab itulah dia bisa mendapatkan banyak ilmu dari pengalaman hidupnya.
"Aku tahu. Setelah pulang nanti, apakah kau akan kemari lagi?"
"Aku tidak dapat memastikan. Oleh sebab itulah kita harus melewati hari ini dengan bahagia,"
"Setuju," jawab semua tokoh yang hadir di ruangan utama Bulim Bengcu itu.
"Pokoknya tiba boleh ada kesedihan, kita harus bahagia. Habiskan semua arak yang ada,"
Suara tawa kembali menggema untuk yang kesekian kalinya. Mereka akhirnya berpesta pora bersama-sama. Gedung Bulim Bengcu yang biasanya selalu sepi, sekarang mendadak ramai oleh suara tawa yang tiada hentinya.
Selama seharian penuh Cakra Buana berpesta bersama semua sahabatnya. Puluhan guci arak telah dihabiskan oleh mereka. Puluhan krat daging juga sama. Pokoknya seharian itu gedung Bulim Bengcu sangat ramai.
Keramaian seperti ini tidak bisa dipastikan akan terulang kembali di masa depan. Meskipun dua atau tiga tahun lagi, belum tentu akan terjadi lagi.
Karena alasan itulah, peristiwa kemarin menjadi suatu pengalaman paling menyenangkan dan membahagiakan selama berdirinya gedung Bulim Bengcu.
Saat ini hari sudah malam. Cakra Buana sedang duduk di atas jendela di kamar penginapan yang dia sewa. Kamar itu tidak mewah, hanya kamar sederhana dengan peralatan seadanya.
Tapi meskipun begitu, kamar tersebut justru sangat pas. Semua benda yang dibutuhkan diletakkan di tempat yang sudah sepantasnya.
__ADS_1
Pemuda itu baru saja selesai menyiapkan segalanya sebelum besok kembali ke Tanah Pasundan.
Sebenarnya setelah selesai bersiap-siap, Cakra Buana ingin sekali memejamkan mata. Sayang, matanya malah tidak mau dipejamkan. Rasa kantuk seolah pergi jauh. Sangat jauh.
Seperti harapan cintanya kepada Mei Lan. Cinta yang dulu sempat tersemai di hati gadis itu untuknya, sekarang mungkin sudah pergi jauh. Digantikan dengan cintanya kepada Li Guan si Buta Yang Tahu Segalanya.
Cakra Buana tidak sedih. Dia pun tidak menyesal. Pemuda itu hanya menyayangkan saja.
Kenapa Mei Lan malah memilih Li Guan, bukan dirinya? Kenapa pula Liu Bing tidak memilihnya?
"Ah, sudahlah. Membicarakan cinta tidak akan ada ujungnya," gumamnya kepada diri sendiri.
Memang benar. Bicara tentang cinta, kapan akan selesainya? Sekalipun kau membahas selama berhari-hari, persoalan tentang cinta pasti akan muncul kembali. Selesai satu, muncul seribu.
Malam semakin larut. Rembulan mulai terutup. Cakra Buana memutuskan untuk tidur. Meskipun matanya masih belum bisa terpejam, walaupun kantuk belum datang, tapi dia lebih memilih untuk membaringkan tubuhnya dan mengistirahatkan pikirannya dari pada harus memikirkan berbagai macam persoalan tidak penting.
Bukankah hal itu malah lebih baik?
###
Sekarang sudah sore hari, matahari sudah berada di sebelah barat. Sebentar lagi, dia akan kembali ke peraduannya.
Cakra Buana melangkahkan kakinya dengan perlahan. Pemuda itu membawa serta satu buntalan berisi pakaian dan barang yang sengaja dia beli.
Suasana di kota itu sepi. Kecuali calon penumpang, rasanya tidak ada siapapun lagi.
Ke mana perginya orang-orang? Ke mana pula para sahabatnya? Apakah mereka tidak akan mengantarkan kepergiannya?
Cakra Buana tidak mau ambil pusing. Dia terus berjalan mendekat ke arah pelabuhan. Di sana kapal yang akan ditumpangi sudah terlihat, sebentar lagi kapal itu pasti akan tiba di pinggir.
Pada saat demikian, tiba-tiba dia dikejutkan karena semua sahabatnya muncul secara bersamaan dari arah samping kanan dan kiri. Hampir semua tokoh persilatan yang hadir di Gunung Hua Sun beberapa waktu lalu, hadir pula di pelabuhan itu. Bahkan Tiang Bengcu pun tidak terkecuali.
Pemuda itu menghentikan langkahnya tepat di hadapan mereka. Rasa haru mulai menjalar, tanpa sadar dua titik air mata jatuh ke pipinya. Selama di Tionggoan, rasanya baru kali ini saja Cakra Buana meneteskan air matanya.
"Aku kira kalian tidak datang," katanya dengan suara serak parau.
"Seorang sahabat sejati mau pergi, bagaimana mungkin kami tidak akan mengantarnya?" tanya balik Tiang Bengcu sambi melangkah perlahan ke arahnya.
__ADS_1
"Maafkan kalau aku merepotkan Bengcu," ucap Cakra Buana penuh hormat.
"Kau jangan sungkan. Kita sahabat, tidak ada kata merepotkan,"
"Betul. Kami kemari khusus untuk mengantarkan kepergianmu," timpal Huang Pangcu.
"Ini ada sedikit bekal untukmu, kami tidak bisa memberikan sesuatu yang mewah. Hanya sesuatu sederhana yang mungkin kelak akan berguna. Ini Lencana Naga, kalau suatu saat ada niat berkunjung kemari lagi, bawalah lencana ini. Asalkan semua orang melihatnya, maka kau bebas melakukan apapun di sini. Lencana ini tanda bahwa kau berkuasa. Orang kepercayaan Kaisar. Setiap orang-orang dunia persilatan Tionggoan yang melihatnya, pasti akan tunduk kepadamu seperti juga mereka tunduk kepadaku," kata Tiang Bengcu sambil memberikan sebuah lencana berukir naga yang dibuat dari batu kemala.
Warnanya hijau terang. Bentuknya sangat indah menawan.
"Bengcu, pemberianmu ini tidak bisa aku terima. Ini terlalu besar, rasanya lebih baik kau saja yang pegang," kata Cakra Buana menolak.
"Kalau kau menolak, berarti kau tidak menganggapku sebagai sahabat. Kau juga tidak menganggap mereka semua sahabatmu,"
Cakra Buana dibuat kebingungan. Namun karena Bengcu menyinggung soal sahabat, maka pemuda itu tidak bisa lagi untuk menolaknya.
"Baiklah, demi persahabatan kita semua, aku akan menerima Lencana Naga ini sebagai kenangan," katanya semakin terharu.
"Bagus, ini baru namanya sahabat," seru Tian Hoa lalu tertawa.
"Arak sudah ada di sana. Semua kebutuhanmu di kapal sudah ditanggung. Kau jangan khawatir kelaparan apalagi tidak menemukan arak. Sahabat, terimakasih karena kau sudah sudi menjalankan perintah dari Pendekar Tanpa Nama. Ini, aku titipkan sepucuk surat yang sengaja aku tulis untukmu. Buka surat ini saat kau sudah berada di tengah lautan lepas," ucap si Buta Yang Tahu Segalanya sambil memberikan sepucuk surat kepada Pendekar Tanpa Nama.
"Baik, aku akan mendengar semua ucapanmu. Jaga Huang Mei Lan baik-baik, jaga pula Huang Pangcu," bisiknya serius dengan suara yang dalam.
"Itu sudah pasti. Kau jangan khawatir,"
"Bagus, aku pergi dulu,"
Cakra Buana memeluk para sahabatnya satu persatu. Sebagian dari mereka menitipkan pesan terakhir kepada pemuda itu.
Kapal telah tiba, Cakra Buana segera naik ke atas kapal. Dia memandangi semua sahabatnya yang datang, ada perasaan sedih di sana.
Ke mana dia? Kenapa si dia tidak hadir?
"Sampai berjumpa lagi sahabat-sahabatku …" katanya dengan suara lantang dan bergema.
Gema suaranya terdengar hingga satu menit lamanya. Sebab suara itu disaluri oleh tenaga dalam tinggi.
__ADS_1