Pendekar Tanpa Nama

Pendekar Tanpa Nama
Lebih Baik Tidak Mengerti


__ADS_3

Bangunan itu cukup mewah. Halaman yang tersedia juga lumayan besar. Pagar dari kayu jati mengelilingi keseluruhan bangunan tersebut.


Di depan sebuah gerbang ada dua orang penjaga. Tubuh mereka tinggi tegap. Tapi keduanya tidak membawa apapun. Malah mereka sedang duduk di saung dekat pintu gerbang itu sambil memakai sarung yang sudah lusuh.


Di hadapannya ada dua cangkir kopi hitam murni. Ada juga beberapa buah ubi rebus yang sudah dingin.


Ki Suryo berjalan perlahan. Walaupun jalannya terlihat lamban, tapi ternyata hanya sesaat saja dia sudah sampai di dekat saung tersebut.


"Kenapa dengan Whira dan Aswanta, Ki?" tanya salah seorang di antara keduanya.


"Tidak papa Kang. Mereka hanya mabuk saja," jawab Ki Suryo berbohong.


"Anak muda selalu senang sesuatu yang berlebihan," timpal rekannya.


Ki Suryo tidak menjawab. Dia hanya mengangguk perlahan lalu berjalan kembali. Dia sudah masuk ke dalam halaman.


Sedangkan dua penjaga tadi melanjutkan obrolannya.


Ruangan itu lumayan besar. Di depan sana ada sebuah kursi yang terbuat dari cendana. Seorang pria tua sedang duduk sambil menikmati tembakau. Di hadapannya ada secangkir kopi hitam pahit. Di sisi cangkir itu ada ubi rebus dan singkong rebus pula.


Dia hanya seorang diri saja. Wajahnya yang telah keriput bisa terlihat dengan jelas. Namun di balik itu, ada kesan angker dan wibawa tersendiri yang terpancar keluar dari tubuhnya.


Ki Suryo melangkah pelan ke dalam ruangan. Begitu tiba di hadapan pria tua tadi, Ki Suryo kemudian meletakkan jasad Whira dan Aswanta. Kemudian dia mengambil kepingan uang yang disimpan di balik saku bajunya.


"Ini Tuan …" katanya penuh hormat.


Setelah memberikan uang, Ki Suryo mundur kembali ke tempatnya semula. Tapi dia tidak duduk. Orang tua itu berdiri dengan sikap penuh rasa takut.


Sedangkan si pria tua di hadapannya masih tetap menikmati asap tembakau. Sedikitpun tidak membuka matanya yang pada saat itu memang terpejam. Seolah di dunia ini tiada sesuatu apapun yang dapat membuka mata tua itu.


Piuhh!!!


Asap putih bergulung-gulung keluar dihembuskan dari mulutnya.


Suasana di sana hening. Ki Suryo belum bicara sepatah katapun. Dia juga tidak beranjak pergi. Dia tidak akan bicara jika belum disuruh. Dia juga tidak pergi kalau tidak di titah.


Pada saat sedotan terakhir, barulah orang tua itu membuka matanya. Tembakau perlahan dimatikan, matanya memandang ke arah Ki Suryo.


"Hasil hari ini?" tanyanya tenang.


Wajahnya tetap kalem. Suaranya serak parau. Setiap patah kata selalu diucapkan perlahan-lahan, seperti orang yang takut salah bicara.


"Benar, Tuan," jawab Ki Suryo menundukkan kepalanya.

__ADS_1


"Lumayan,"


Sepasang mata tuanya itu kemudian berpaling, sekarang dia sedang memandangi tubuh Whira dan Aswanta yang sudah telentang di sana.


"Mereka mati dibunuh?" tanyanya.


Suaranya masih kalem. Ekspresi juga tetap tenang. Seolah-olah dia sudah terbiasa menghadapi hal semacam ini.


"Mereka tidak dibunuh, Whira dan Aswanta tewas karena dirinya sendiri. Dia sendiri yang mengantarkan nyawa kepada Malikat Maut," jawab Ki Suryo.


"Siapa yang sudah membunuhnya?"


"Seorang pendekar muda,"


"Kau tahu siapa mereka?"


"Hamba tidak tahu, Tuan. Sepertinya hamba sendiri baru melihat mereka di Kotaraja ini,"


"Tapi mereka tahu siapa dirimu?"


"Hamba sudah mengatakan kalau hamba adalah orang suruhan Tua Gandrung Kalapati,"


"Apa kata mereka?"


Wajah orang tua yang kebetulan memang Gandrung Kalapati itu terlihat semakin mengkerut. Sinar matanya tiba-tiba berubah setajam ujung mata pisau.


Dia paling benci terhadap orang-orang seperti yang diceritakan oleh Ki Suryo. Siapapun orang itu, maka dia wajib tahu siapakah Gandrung Kalapati.


Jangankan kalangan pendekar, bahkan orang-orang Kerajaan sendiri menaruh rasa hormat dan segan kepadanya.


Bagaimana mungkin dia akan membiarkan pendekar muda berlaku seperti itu terhadapnya?


"Ki Suryo …" panggil Gandrung Kalapati.


"Hamba, Tuan …"


"Kau tahu apa yang harus kau lakukan?"


"Hamba mengerti," jawab Ki Suryo cepat.


"Bagus, lakukan sekarang …"


Gandrung Kalapati yang merupakan salah satu datuk dunia persilatan langsung menyulut kembali tembakaunya. Matanya terpejam lagi. Kalau dia sudah seperti ini, siapapun tidak akan ada yang berani mengganggunya.

__ADS_1


Sosok tua itu amat ditakuti. Terlebih lagi di daerah sekitar Kotaraja. Meskipun sudah beberapa tahun dirinya bersembunyi dan memundurkan diri dari dunia persilatan, tapi wibawanya masih bisa dirasakan dengan jelas.


Apalagi dia bekas datuk rimba hijau. Salah satu penguasa di dunia persilatan. Sudah tentu kekuatan dan kekuasaannya sulit dibayangkan.


Begitu mendapat perintah, Ki Suryo langsung pergi begitu saja. Entah apa sebenarnya yang bakal dia lakukan. Yang jelas, sebelum pergi, dirinya sempat menunjukkan senyuman dingin.


###


Pendekar Tanpa Nama dan dua orang kekasihnya baru saja menyelesaikan makan mereka. Sekarang ketiganya sedang menikmati buah pisang sebagai pencuci mulut.


Restoran itu telah ramai kembali. Para pengunjung mulai silih berganti. Namun walaupun keadaan ramai, hawa pembunuhan justru masih terasa kental. Bagi mereka yang tahu, bulu kuduknya terasa bergidik jika mengingat kejadian beberapa saat yang lalu.


Mereka tidak berani lagi memandang ke meja di mana Pendekar Tanpa Nama duduk bersama dua orang gadis muda. Mereka takut. Sekaligus ngeri.


"Kakang, jurus apa yang kau gunakan tadi? Kenapa aku tidak dapat melihatnya walau sedikitpun?" tanya Bidadari Tak Bersayap secara tiba-tiba.


Dia merasa sangat heran karena tidak mampu menyaksikan gerakan Pendekar Tanpa Nama. Padahal ilmunya sudah luhur, ketajaman matanya juga tidak boleh dipandang rendah.


Tapi kenapa dia tidak sanggup melihat gerakan kekasihnya?


"Sampai kapanpun kau tidak akan melihatnya Sinta. Jangankan dirimu, Ling Ling sendiri juga tidak mungkin melihat," kata Cakra Buana.


Sian-li Bwee Hua hanya menanggapinya dengan anggukan kepala saja.


"Memangnya kenapa? Bukankah setiap jurus mempunyai bentuk dan gerakan?"


"Tapi jurus tadi adalah pengecualian,"


"Kenapa begitu?"


"Karena itu adalah Jurus Tanpa Bentuk,"


"Jurus Tanpa Bentuk?" tanya Sinta menegaskan kembali.


Gadis itu merasa asing. Baru pertama kali ini saja dia mendengar nama jurus tersebut. Sebelumnya dia tidak pernah mendengar ada jurus demikian.


"Jurus Tanpa Bentuk adalah jurus leburan dari segala jurus. Jurus yang sudah mencapai tahap sempurna. Jurus itu tidak bisa dilihat bentuknya karena memang tidak berbentuk. Yang ada hanyalah intisari dari segala jurus," kata Sian-li Bwee Hua menjelaskan sebiasanya.


"Aku tetap tidak mengerti," ucap Bidadari Tak Bersayap.


"Di dunia ini terkadang memang ada sesuatu yang seharusnya tidak kau mengerti. Kadang tidak mengerti jauh lebih baik daripada kau mengerti," tukas Pendekar Tanpa Nama.


Di muka bumi ini, hal demikian memang sering terjadi. Ada sementara sesuatu yang bahkan lebih baik kau tidak mengerti daripada harus mengerti.

__ADS_1


Bidadari Tak Bersayap seketika membungkam mulutnya. Dia tahu karakter Cakra Buana. Kalau pemuda itu memutuskan untuk tidak memberitahu, maka selamanya kau tidak akan tahu.


__ADS_2