Pendekar Tanpa Nama

Pendekar Tanpa Nama
Dua Belas Siluman Berdarah Dingin


__ADS_3

Lima belas menit sudah berlalu. Para pemanah sudah merasa kelalahan. Kedua tangannya sudah merasa sangat pegal. Ditambah lagi, kedua telapak tangan sudah merah dan lecet.


Dari sekian ratus anak panah yang dilesatkan, tak ada satupun yang berhasil mengenai empat orang yang kini ada di hadapan mereka.


Padahal, para pemanah itu sudah sangat ahli. Memanah apapun mereka bisa. Puluhan tahun bergelut dengan busur dan anak panah, sudah tentu keahliannya tidak dapat diragukan lagi.


Jangankan memanah manusia, memanah burung yang sedang terbang tinggi pun mereka bisa melakukannya.


Tapi malam ini, mereka harus rela atas kejadian yang sudah menimpanya. Empat orang manusia yang jaraknya tidak sampai puluhan tombak, ternyata tidak satupun yang terkena oleh anak panah mereka.


Seumur hidup, mereka baru mengalami kejadian seperti ini. Bahkan mimpi pun belum pernah.


Apakah bidikan mereka yang meleset? Ataukau karena tenaga mereka kurang?


Tidak, sudah pasti bukan dua hal itu yang menjadi alasannya.


Alasan kenapa tidak ada yang terluka di antara empat orang tersebut, adalah karena mereka bukan orang-orang biasa. Mereka adalah manusia lain daripada yang lain. Siapa yang tidak mengenal empat soosk tersebut?


Keluar dari amukan api saja mereka mampu, apalagi hanya menghindari serangan anak panah yang tidak disertai tenaga dalam sama sekali? Tentu saja mereka jauh lebih mampu. Bahkan sambil memejamkan mata pun, mereka bisa melakukannya.


"Kalian tidak usah membuang tenaga lagi. Simpan sisa tenaga untuk nanti lari. Tugas kalian sudah selesai, sekarang segera pergi jika tidak ingin menyesal," kata Orang Tua Menyebalkan sambil tertawa jenaka.


Para pemanah saling pandang bersama rekannya masing-masing. Mereka ingin lari, tapi apakah Dua Belas Siluman Berdarah Dingin akan membiarkannya?


Kakek tua itu paham atas apa yang dipikirkan oleh para pemanah. Oleh sebab itu, dia lantas berkata, "Kalian jangan khawatir. Dua belas tikus ini tidak akan ada yang berani mengusik, aku tanggung jawab atas keselamatan kalian," katanya sambil tiada henti tertawa.


Setelah mendengar jaminan itu, sontak puluhan pemanah segera lari terbirit-birit tanpa menunggu lebih lama lagi. Bahkan di antara mereka sambil mendahului, tidak ada lagi yang menengok ke belakang.


Suasnaa langsung hening. Bangunan Restoran Angin Musim Semi hampir semuanya dilalap si jago merah. Asap hitam pekat membumbung tinggi ke udara lalu dihempas angin malam.


"Kami sudah keluar, kenapa kalian masih diam saja?" tanya Huang Pangcu sambil menatap tajam.


"Maaf, kami tidak mempunyai masalah dengan Huang Pangcu. Dan kami juga tidak ingin mempunyai masalah dengan kau orang tua. Kami hanya diperintahkan untuk membunuh Pendekar Tanpa Nama seorang," kata si pria berpakaian kuning.


Pangcu Kay Pang Pek itu memandang kepada Cakra Buana. Si pemuda hanya mengangguk pelan.


"Bagaimana denganku?" teriak Orang Tua Menyebalkan.


"Sama saja. Siapapun sama, kami hanya ditugaskan khusus untuk mengambil nyawa pemuda bernaw Cakra Buana," tegas wanita yang sempat menjadi pelayan.


"Aii, kalian tidak seru. Aku benci," ujar kakek tua itu sedikit merengek.


Ketiga orang yang ada di sisi Pendekar Tanpa Nama saling pandang kepadanya. Seolah mereka sedang bertanya, apa yang harus dilakukan.

__ADS_1


"Kalian pergi saja dulu. Jangan khawatirkan aku, aku masih sanggup melayani mereka sendiri," katanya perlahan.


"Sungguh? Kau sungguh-sungguh anak bodoh? Kau pikir mereka siapa? Pengemis cilik? Bukan, mereka iblis yang menyebalkan," teriak Orang Tua Menyebalkan sambil menuding Dua Belas Siluman Berdarah Dingin.


Sebelum Cakra Buana menjawab, Huang Pangcu tiba-tiba memukul kepala kakek tua itu. "Kenapa kau bawa-bawa pengemis? Kau ingin mampus?" katanya sambil melotot.


"Tidak, tidak. Maksudmu pengemis hitam yang menyebalkan itu,"


"Jangan banyak bicara. Ayo ikut," ucap Huang Pangcu sambil menjewer kakek tua itu.


"Tapi, tapi dia bagaimana?"


"Biarkan saja,"


"Bagaimana kalau di mati?"


"Yang mati bukan dia,"


"Lantas siapa?"


"Kau!!!"


Dua orang tua itu adu mulut sepanjang jalan. Walaupun mereka sering bertengkar, namun keduanya adalah sahabat yang sudah saling memahami satu sama lainnya.


"Baik. Aku pergi dulu," jawabnya.


Dia tidak harus banyak berkata. Sebagai sahabat, dia harus mempercayai sahabatnya sendiri.


Terkadang kepercayaan seorang sahabat bisa menjadi sebuah kekuatan besar bagi seseorang yang mengalaminya.


Seperti Cakra Buana saat ini.


Si Buta Yang Tahu segalanya sudah pergi dari sana. Tidak ada yang melihat kepergian orang itu kecuali Pendekar Tanpa Nama sendiri.


"Sekarang tinggal ada aku saja di sini. Apakah bisa dimulai?" tanyanya kepada Dua Belas Siluman Berdarah Dingin.


"Sudah tentu. Tidak disuruh pun, kami akan memulainya. Sepertinya kau sudah tidak sabar untuk pergi ke neraka," kata seseorang sambil menyeringai.


Sebelas rekannya langsung tertawa lantang. Seolah mereka sangat yakin bisa membunuh pemuda yang ada di hadapannya saat ini.


"Baiklah. Kalau begitu segera mulai, aku sudah tidak ingin berlama-lama melihat wajah kalian. Lagi pula, Malaikat Maut sudah membisikkan kata di telingaku. Katanya aku disuruh menjadi wakilnya untuk mencabut nyawa kalian," ucap Pendekar Tanpa Nama penuh ejekan.


Dia memang selalu sengaja memancing emosi musuh-musuh yang akan dihadapinya.

__ADS_1


"Bangsat. Lancang sekali mulutmu. Memangnya apa yang bisa kau lakukan?"


"Apapun aku bisa melakukannya,"


"Banyak bicara, kapan bertarungnya? Apakah kau sengaja mengulur waktu karena takut? Hemm, cabut senjatamu!" bentak orang yang bersenjata pedang.


"Tidak. Karena jika aku mencabut senjata, justru kematian kalian tidak akan lama lagi,"


"Cabut sekarang!!! Kalau kau tidak mencabut senjatamu, itu tanda bahwa kau takut,"


Cakra Buana memicingkan matanya. Sebagai pemuda, darahnya lantas naik ke permukaan ketika mendengar ucapan barusan.


"Baik. Jangan salahkan aku jika terlalu berlebihan,"


"Omong kosong. Lihat serangan!"


Wushh!!!


Dua belas bayangan melesat membelah udara. Berbagai macam senjata sudah terhunus di tangan mereka masing-masing.


Pendekar Tanpa Nama sudah berada dalam kepungan musuh. Tanpa berlama-lama lagi, Dua Belas Siluman Berdarah Dingin langsung melancarkan serangan pertama mereka.


Gerakannya sungguh cepat. Juga mengandung tenaga dalam besar. Kesiur angin tajam menerpa tubuh. Mengibarkan pakaian dan rambut Cakra Buana.


Pemuda itu belum bergerak. Dia sedang menanti datangnya serangan.


Wuttt!!!


Sebatang kipas baja melesat menyambar wajahnya. Deru angin berhawa panas terasa. Pendekar Tanpa Nama menarik mukanya ke belakang.


Serangan pedang datang dari sisi kanannya. Serangan ruyung yang mengincar batok kepala datang dari sisi kiri. Dari atas ada golok. Dari belakang ada dua pisau.


Semua sisi sudah dikuasai oleh musuh. Tak ada lagi kesempatan untuk menghindar.


Di saat seperti itu, mendadak Pendekar Tanpa Nama menghilang dari pandangan semua lawan.


Wushh!!!


Crashh!!!


Dua orang menjerit kesakitan. Punggung mereka terkoyak cukup lebar. Darah segera menyembur.


Semua orang tersentak. Kapan pemuda itu melancarkan serangan? Dan bagaimana dia bisa lolos dari kepungan mereka?

__ADS_1


__ADS_2