
Tidak, tidak mungkin. Cakra Buana masih ingat dan sangat yakin kalau di sini adalah tempat pertemuannya dengan Gadis Sumber Informasi.
Dia pasti tidak salah. Ingatannya masih normal. Malah apa yang mereka katakan pada saat pertemuan pun, Cakra Buana masih dapat mengingatnya.
Jadi bagaimana mungkin dia salah tempat?
Pendekar Tanpa Nama masih berdiri terpaku di tempatnya. Dia tidak habis pikir kenapa kejadian seperti ini harus terjadi dalam hidupnya.
Seumur hidupnya, rasanya Cakra Buana baru mengalami hal seperti ini.
Apakah Pendekar Tanpa Nama terkena sihir?
Hal itu rasanya tidak mungkin. Dengan ilmunya yang sudah mencapai tahap sempurna, bagaimana mungkin dia bisa terkena sihir oleh orang lain? Andai kata bisa pun, pasti orang-orang yang sanggup melakukannya tidak lebih dari sepuluh orang saja.
Perduli setan dengan segala macam yang baru saja terjadi. Cakra Buana tidak mau ambil pusing. Sekarang dirinya memutuskan untuk pergi dari sana. Dia ingin segera kembali ke Istana Kerajaan. Pendekar Tanpa Nama ingin mengetahui apakah informasi yang dikatakan oleh gadis maha cantik tadi benar atau tidak.
Wushh!!!
Bayangan merah melesat menembus kegelapan malam. Di tengah malam yang gelap gulita itu, Cakra Buana tak ubahnya seperti setan. Gerakannya benar-benar cepat. Lebih cepat dari apa yang kau bayangkan selama ini.
Menurut perhitungannya, kalau dia mengeluarkan seluruh kemampuan, niscaya dirinya bakal tiba pada saat hari menjelang terang tanah.
###
Suara kokok ayam jantan sudah terdengar saling sahut di kejauhan sana. Kicau burung di dahan pohon dan sarangnya masing-masing pun terdengar amat merdu.
Udara sangat dingin sehingga terasa menusuk tulang belulang. Embun pagi belum lenyap. Embun itu menetes ke daun yang ada di bawahnya hingga akhirnya jatuh menetes ke tanah.
Dewi Malam telah kembali ke peraduannya. Kegelapan yang menyelimuti bumi juga sudah tidak ada.
Sinar keemasan muncul di bagian timur. Semburatnya mampu menerangi seluruh jagat raya dan seisinya. Meskipun belum nampak wujudnya, tapi cahayanya justru sudah terlihat dan terasa oleh semua makhluk.
Pendekar Tanpa Nama sedang berdiri di hutan dekat Kerajaan. Dia ingin masuk ke sana, tapi dirinya ragu. Untuk menyusup ke sebuah tempat, malam hari memang waktu yang paling baik daripada melakukannya pada saat siang hari.
Kalau malam hari tentunya bisa bersembunyi di tempat yang gelap, sedangkan kalau siang hari? Tentu saja tidak bisa.
Lalu, apa yang harus dia lakukan sekarang?
Setelah hampir sepeminum teh berdiri di tempat itu, akhirnya Cakra Buana memutuskan untuk pergi. Dia tidak mau terlalu mengambil resiko. Oleh sebab itulah dirinya memilih untuk berlalu.
Wushh!!!
Bayangan merah bagaikan kilat meluncur deras keluar dari wilayah Istana Kerajaan. Cakra Buana berniat untuk mencari seseorang.
__ADS_1
Dia ingin menemui Kakek Penyaru. Pada saat-saat seperti ini, memang hanya orang tua itu saja yang bisa membantunya untuk lepas dari kebingungan.
Hari sudah terang tanah. Kehidupan ramai kembali. Kedai makan di seluruh wilayah Kotaraja sudah ramai dipenuhi oleh para pengunjung dan para pelanggan.
Para warga sekitar berdesak-desakan satu sama lain. Suara riuhnya seseorang mengalahkan suara kicau burung di pagi hari.
Cakra Buana masuk ke kedai makan yang cukup besar dan mewah. Pemuda itu sengaja datang ke sana karena dia tahu kalau orang-orang Istana Kerajaan, biasanya suka melakukan sarapan pagi di tempat tersebut.
Selain ingin menemui Kakek Penyaru, Cakra Buana juga ingin menemui Sepasang Kakek dan Nenek Sakti. Karena hanya dua orang tua itu saja yang mengetahui di mana keberadaan kakek tua tersebut.
Pucuk dicinta ulam pun tiba.
Baru sesaat saja dia duduk di sana, dari pintu masuk mendadak terlihat Sepasang Kakek dan Nenek Sakti. Keduanya melangkah perlahan dengan langkah penuh percaya diri.
"Pergi ke belakang dulu Kek, aku ingin bertanya kepadamu," kata Cakra Buana secara tiba-tiba.
Dia berkata lewat ilmu mengirimkan suara jarak jauh. Kecuali mereka berdua, tentunya tiada seorangpun yang sanggup mendengarnya lagi.
Kakek Sakti mendadak menoleh ke arah suara tersebut. Begitu melihat ada Cakra Buana di sana, dia cukup kaget. Secepat mungkin dirinya menganggukkan kepalanya.
"Aku pergi ke belakang dulu. Kau pesan lah makan," ujarnya pelan kepada Nenek Sakti.
"Baik," jawab Nenek Sakti tanpa banyak bicara.
Kapan dia bergerak?
Kakek Sakti tidak mau memikirkan hal-hal bodoh seperti itu. Dia tahu, apa yang tidak bisa dilakukan oleh orang lain, justru malah bisa dilakukan oleh Pendekar Tanpa Nama, junjungannya.
"Jangan memakai tatakrama," kata Cakra Buana mendahului bicara.
Kakek Sakti mengangguk. Orang tua itu langsung mengerti maksud dari ucapannya.
"Apakah ada yang bisa kubantu?"
"Ada,"
"Apa itu? Katakanlah?"
"Aku ingin pergi menemui Kakek Penyaru. Di mana aku bisa menemukannya?"
"Di kedai makan sebelah barat. Sore hari dia pasti sudah berada di sana,"
"Aku tidak mau menunggu lama. Aku ingin langsung pergi ke kediamannya. Apakah kau tahu di mana kediamannya?"
__ADS_1
"Aku tahu," jawab Kake Sakti dengan cepat.
Cakra Buana tidak menjawabnya. Pemuda itu sedang menunggu orang tua di hadapannya melanjutkan bicara. "Pergilah ke sebelah selatan. Di sana ada satu bukit, di dekat kaki bukit ada saung sederhana. Itulah kediamannya,"
"Baiklah kalau begitu. Sekarang juga aku akan pergi ke sana," ucap Cakra Buana.
"Tunggu dulu, memangnya kenapa kau ingin mencari rumahnya?"
"Nanti kau akan tahu sendiri,"
"Sepertinya kau terburu-buru sekali,"
"Malah sangat terburu-buru,"
Wushh!!!
Belum sempat Kakek Sakti menjawab, Cakra Buana malah sudah pergi. Hanya sekejap saja, dia telah menghilang dari penglihatannya.
Junjungannya pergi, maka bawahannya tentu pergi juga. Di belakang kedai makan itu, sekarang sudah tiada seorang manusia pun.
Di dalam kedai makan, ternyata Nenek Sakti sudah menunggunya. Di hadapannya sudah ada beberapa hidangan yang masih mengepulkan asap putih tipis beraroma wangi.
"Apakah kau sudah menemui seseorang?" tanyanya begitu Kakek Sakti duduk di sampingnya.
"Tepat sekali,"
"Siapa yang kau temui?"
"Seseorang yang tanpa nama," jawab Kakek Sakti.
Nenek Sakti segera paham siapakah orang yang dimaksud itu. Seseorang yang tanpa nama, siapa lagi kalau bukan Pendekar Tanpa Nama alias Cakra Buana?
"Apakah ada masalah penting?"
"Aku tidak tahu pasti. Hanya saja dia menanyakan di mana kediaman Kakek Penyaru. Sepertinya dia juga sangat terburu-buru,"
"Hemm, sepertinya ada masalah genting,"
"Mungkin," kata Kakek Sakti sambil mengangkat kedua pundaknya.
"Bukan mungkin. Tapi pasti,"
"Kenapa kau begitu yakin akan ucapanmu itu?"
__ADS_1
"Karena perasaan seorang wanita jauh lebih peka daripada perasaan seorang pria," jawab Nenek Sakti sambil tersenyum penuh kemenangan.