
Prabu Katapangan Kresna dan yang lainnya sudah tiba di tempat tujuan mereka. Orang-orang itu langsung menghentikan langkah kakinya.
Suasana di sana sangat hening. Tiada satu suara pun yang terdengar kecuali hanya helaan nafas mereka.
Ruangan itu lumayan luas. Lantainya berupa tanah kering yang keras. Ruangan ini tidak sama dengan ruangan pada umumnya. Sebab ini adalah ruangan uji coba pelatihan.
Biasanya ruangan ini sering dipakai sebagai tempat berlatih para tokoh dunia persilatan Istana Kerajaan. Mereka sering melakukan duel persahabatan bersama rekan-rekannya sendiri. Nantinya setelah duel itu, masing-masing tokoh bakal memberitahukan di segi mana kekurangan dan kelebihan rekannya.
Oleh sebab itulah kebanyakan para pendekar Istana Kerajaan mempunyai jurus yang sempurna dan jarang bisa ditembus dengan mudah oleh setiap musuhnya.
Kenyataan ini diketahui oleh siapa saja. Setiap orang tahu akan hal ini. Karena itulah hanya orang-orang yang nekad saja yang berani mencari masalah dengan Kerajaan.
Apakah orang nekad yang dimaksud termasuk juga Maling Sakti Seribu Wajah?
"Apakah Dua Dewi sudah siap untuk melakukan duel persahabatan ini?" tanya Prabu Katapangan Kresna sambil melirik ke arah Sian-li Bwee Hua dan Bidadari Tak Bersayap.
"Kami sudah siap Gusti Prabu …" jawab Dewi Bercadar Biru.
"Kalian menggunakan senjata?"
"Kalau hamba menggunakan pedang, kalau Rai, tidak,"
Prabu Katapangan Kresna mengangguk. Dia kemudian melirik kepada dua orang pendekar Kerajaan.
"Arya Manunggal, Abikama, kalian berdua majulah," perintah sang Prabu.
Dua orang yang merasa terpanggil langsung maju ke depan menghadap Raja mereka. Keduanya merupakan pria. Yang satu pria tua sekitar lima puluh sembilan tahun, rambutnya panjang dan penuh uban. Jenggotnya yang satu jengkal itu juga sudah ditumbuhi uban. Di punggungnya terdapat sebatang pedang berwarna hitam legam.
Sedangkan satu lagi pria yang baru berumur sekitar tiga puluh delapan tahun. Kumisnya cukup tebal dengan rambut sepundak dibiarkan terurai. Dia memakai ikat kepala warna hijau, persis seperti warna pakaian yang dia kenakan saat ini.
__ADS_1
Abikama tidak terlihat membawa sebuah senjata. Memang dia adalah seorang yang ahli dalam pertarungan dengan kosong.
"Silahkan lawan Dua Dewi ini. Ingat, ini hanyalah pertarungan uji coba, oleh sebab itulah kalian tidak boleh keterlaluan. Apalagi mereka berdua adalah seorang gadis muda yang cantik jelita," kata Prabu Katapangan sedikit bercanda.
"Baik Gusti Prabu, kami mengerti," jawab Arya Manunggal.
Kedua belah pihak masing-masing sudah maju ke tengah ruangan uji coba itu. Arya Manunggal dan Abikama terlihat memandang rendah dua orang gadis di hadapannya saat ini. Mereka acuh tak acuh. Malah terkesan tidak perduli.
"Kami Dua Dewi, aku Dewi Bercadar Merah, dan ini Dewi Bercadar Biru," kata Ling Ling memperkenalkan dirinya.
"Aku tahu," jawab Abikama sedikit ketus.
Ling Ling merasa gemas dengan jawaban itu. Tapi dia hanya bisa menahannya dalam hati.
"Mohon petunjuk dari Tuan berdua …"
Begitu Dewi Bercadar Merah selesai berkata, dirinya langsung melancarkan serangan pertama berupa hantaman tapak yang teramat cepat. Dia menyasar ke dada Abikama.
Bayangan merah berkelebat ke depan. Dengan sigap Abikama menghindari serangan tersebut. Disusul kemudian tangan kanan dan kirinya langsung mengirimkan serangan balasan berupa pukulan keras.
Sekalipun benar duel ini hanyalah pertarungan uji coba, namun jurus yang mereka keluarkan benar-benar jurus berbahaya. Jurus yang dapat mencabut nyawa manusia dengan mudah. Bedanya, orang-orang itu mengeluarkannya dengan batasan tertentu.
Serangan Abikama mengarah ke titik penting di tubuh manusia. Dewi Bercadar Merah bersalto dua kali di udara begitu melihat serangan lawan hampir tiba.
Serangan balasan kembali diberikan oleh lawan. Ling Ling mulai mengeluarkan kemampuannya. Jurus tapak yang dia berikan menjadi lebih hebat dan lebih dahsyat daripada sebelumnya.
Dia tahu, orang seperti Abikama ini kalau tidak diberi pelajaran tentunya bakal berbuat lebih sombong di kemudian hari. Oleh sebab itulah gadis Tiongkok itu tidak mau main-main. Beberapa jurus yang menggetarkan sukma dia layangkan dengan pengerahan tiga bagian tenaga dalam.
Walaupun hanya tiga bagian, tapi karena tenaga dalamnya sudah sempurna, tentu ceritanya lain lagi. Angin menderu keluar dari kedua telapak tangannya. Serangannya bagaikan hujan deras yang tidak pernah berhenti walaupun hanya sekejap.
__ADS_1
Pertarungan baru berjalan belasan jurus. Tapi Abikama tampak berada di posisi yang tidak diuntungkan. Selama ini orang yang berjuluk Tapak Mega itu hanya bisa bertahan dan terus bertahan.
Dewi Bercadar Merah sama sekali tidak memberikan ruang untuk membalas serangan kecuali hanya sedikit.
Abikama si Tapak Mega menggertak gigi. Dia tidak mau dipermalukan di depan junjungannya sendiri. Enam bagian tenaga dalam langsung dia kerahkan dalam serangannya. Begitu mendapat celah untuk membalas, jurusnya yang dahsyat langsung dikeluarkan.
Bayangan manusia melesat secepat anak panah meluncur. Abikama mengeluarkan jurus Burung Walet Menyambar Mega. Gaya bertarungnya seketika berubah total.
Dia yakin dengan jurusnya ini. Sebab lawan yang takluk dalam jurus ini sudah tidak terhitung lagi. Sayangnya usaha yang sekarang gagal.
Semua serangan dalam jurus itu dapat ditahan dengan mudah oleh Dewi Bercadar Merah.
Di sisinya, pertarungan Dewi Bercadar Biru melawan Arya Manunggal juga tidak kalah hebatnya. Keduanya merupakan pendekar pedang. Kalau seorang pendekar bertemu dengan lawan yang satu jalan dengannya, tentu pertarungan yang berlangsung juga bakal jauh lebih seru lagi.
Mereka ternyata tidak memakai senjata pusakanya masing-masing. Kebetulan di sisi ruangan itu ada rak senjata. Dan senjata yang terdapat di sana lah yang mereka pakai untuk pertarungan uji coba ini.
Arya Manunggal atau yang berjuluk si Pedang Guntur sudah menyerang dengan ganas. Batang pedang itu terlihat seperti pecah menjadi beberapa puluh titik putih keperakan. Seluruh jalan darah di tubuh manusia menjadi sasaran tebasan ataupun tusukannya.
Dewi Bercadar Biru tidak gentar. Kalau lawan menggunakan jurus pedang yang keras dan cepat, sebaliknya, dia justru menggunakan jurus pedang yang bersifat lembut dan agak lamban.
Tubuhnya meliuk-liuk seperti seorang gadis yang sedang menari di atas panggung. Gerakan pedangnya terlihat bergerak sangat lamban, tapi siapa sangka, ternyata semua tusukan dan sabetan yang dilancarkan oleh si Pedang Guntur dapat ditahan dengan mudah olehnya.
Benturan pedang kerap terjadi beberapa kali. Percikan api membumbung tinggi ke udara lalu lenyap begitu saja.
Sebenarnya bagi dua kekasih Pendekar Tanpa Nama tersebut, dua lawannya saat ini tidak terlalu berat. Bahkan dengan mudah saja mereka dapat mengalahkannya. Sayangnya mereka tidak bisa memperlihatkan seluruh kemampuannya.
Alasannya tentu karena keduanya tidak ingin diketahui latar belakangnya oleh pihak Kerajaan.
Meskipun mungkin tidak ada yang dapat mengetahuinya dengan jelas, tapi setidaknya orang-orang itu tentu bakal tahu kalau mereka sebenarnya adalah tokoh tanpa tanding dunia persilatan.
__ADS_1
Bukk!!!
Di tengah pertarungan sengit itu, mendadak satu bayangan manusia meluncur ke belakang cukup deras.