Pendekar Tanpa Nama

Pendekar Tanpa Nama
Kota Dunhuang


__ADS_3

Kota Dunhuang …


Kota Dunhuang adalah sebuah kota besar yang ada di Provinsi Taiyan. Kota ini disebut-sebut sebagai kota yang memiliki seribu jenis macam makanan. Makanan yang tersebar di negeri Tiongkok, menurut kabar cerita, adalah makanan yang berasal dari Kota Dunhuang.


Pada saat hari-hari tertentu, terutama pada saat hari libur, Kota Dunhuang pasti dipadati oleh para pelancong yang sengaja datang dari berbagai tempat. Mereka sengaja datang ke kota ini karena ingin menikmati makanannya yang terkenal sangat enak.


Biasanya, para pelancong yang datang itu bukan hanya berasal dari daerah setempat saja, bahkan yang berasal dari tempat jauh semisal provinsi lain pun tidak sedikit jumlahnya.


Makanan Kota Dunhuang sudah terkenal ke seantero negeri Tiongkok. Apalagi makanan yang berasal dari restoran Xiu Chu.


Restoran Xiu Chu adalah restoran yang paling terkenal di Kota Dunhuang. Rasanya, kurang lengkap jika datang ke kota ini tapi tidak berkunjung ke restoran tersebut.


Sekarang Cakra Buana dan Mei Lan pun sedang berada di sana. Keduanya sudah duduk di bangku kosong. Mereka sedang menanti pesanan makanan terenak yang ada di restoran Xiu Chu.


Restoan Xiu Chu selalu dipenuhi oleh pengunjung dari berbagai tempat yang ada di daratan Tionggoan. Begitu juga dengan saat ini, keadaan di sana sudah sesak. Hampir setiap meja telah terisi pengunjung.


Suara orang-orang yang membicarakan berbagai macam masalah terdengar sangat riuh. Berita yang paling banyak di bicarakan adalah berita yang berkaitan dengan masalah dunia persilatan.


Salah satunya adalah berita tentang Pendekar Tanpa Nama yang membunuh Pendekar Pedang Tanpa Bayangan dan beberapa puluh tokoh lainnya dalam waktu bersamaan.


Ternyata berita itu masih menjadi kabar hangat. Bahkan sekarang berita tersebut menjadi tersebar lebih luas lagi. Nama Pendekar Tanpa Nama semakin terkenal, tak sedikit dari para pengunjung yang merasa salut kepadanya.


Tapi di sisi lain, tak sedikit juga mereka yang merasa risih bahkan merasa benci kepada Pendekar Tanpa Nama. Orang-orang yang seperti itu adalah mereka yang merupakan para pendekar aliran sesat.


Telinga Cakra Buana sangat tajam. Dia tahu dan tentunya mendengar ada banyak orang yang sedang membicarakannya. Tapi pemuda itu lebih memilih untuk terus berdiam tanpa membuka mulut. Pada saat itu Cakra Buana memakai caping lebar dari bambu, jadi tidak seorang pun yang dapat mengenalnya.

__ADS_1


Para pengunjung tersebut hanya kenal kepada Mei Lan. Meskipun gadis itu baru turun gunung, meskipun gadis itu belum punya nama, tapi dapat dipastikan bahwa banyak orang yang kenal dengannya.


Alasannya tentu karena latar belakangnya yang istimewa.


Siapa yang tidak mengenal Huang Pangcu si datuk dunia persilatan? Siapa pula yang tidak pernah mendengar berita tentang kecantikan cucu kesayangannya?


Setiap orang pasti kenal dengannya. Setiap orang sudah tentu ingin memilikinya. Tetapi, siapa yang berani mengatakan hal-hal tersebut?


Tidak setiap orang berani mengatakan hal seperti itu. Apalagi jika mengingat status kakeknya di dunia yang sangat tinggi tersebut.


"Apakah kau mendengar kalau mereka sedang membicarakan dirimu?" tanya Huang Mei Lan sedikit berbisik kepada Cakra Buana.


Setelah kurang lebih seminggu bersama, akhirnya gadis itu tidak merasa malu lagi kepada Cakra Buana. Sekarang dia telah menjadi gadis yang mandiri dan tidak manja lagi.


Mei Lan sudah tumbuh menjadi gadis layaknya seorang pendekar wanita. Dia sangar, tapi juga ramah. Dia terlihat lemah lembut, tapi ganas saat menghadapi musuh dalam sebuah pertarungan.


"Tentu saja aku mendengarnya," jawab pemuda itu.


"Kalau mendengarnya, kenapa kau tidak bertindak? Bukankah kau sendiri juga mendengar bahwa banyak orang di antara mereka yang ingin bertemu dan membunuhmu?"


"Bagaimana mungkin aku dapat bertindak? Mereka hanya bicara, dan setiap orang mempunyai hak untuk bicara. Setiap orang punya mulut, mana mungkin aku melarang mereka membuka mulutnya. Meskipun mereka ingin membunuhku, sayangnya mereka masih belum sanggup. Karena membunuhku tidak semudah saat bicara," ujar Cakra Buana perlahan.


Selama ini, entah sudah berapa banyak pendekar yang ingin membunuh Cakra Buana. Entah sudah berapa banyak juga yang ingin mengambil nyawa Pendekar Tanpa Nama, hanya saja, dari semua orang itu, berapa banyak yanh sanggup membunuhnya?


Sebanyak apapun pendekar yang menginginkan kematian Cakra Buana, toh buktinya sampai sekarang pemuda itu masih hidup. Dia masih mampu menjalani hari-harinya dengan tenang seperti tidak mempunyai masalah apapun.

__ADS_1


Saat mendengar jawaban seperti itu, Huang Mei Lan sedikit tidak terima. Kalau yang menjadi Cakra Buana adalah dirinya, tentu saja dia tidak akan diam saja. bagaimana mungkin dia akan diam saat dirinya diancam ingin dibunuh?


Pemikiran gadis itu masih dangkal. Pengalamannya dalam dunia persilatan juga belum banyak. Sebagai seorang gadis, dia pun masih mempunyai darah panas. Karena itulah, Mei Lan sedikit cemberut karena merasa kesal.


"Cihh, kalau aku menjadi dirimu, sudah aku patahkan leher mereka," dengusnya sambil melirik kepada sekumpulan orang yang tadi bicara ingin membunuh Pendekar Tanpa Nama.


"Sudah, sudah. Sekarang kita makan saja dulu, lihatlah, pelayan telah datang,"


Dua orang pelayan berjalan menghampiri sepasang muda mudi itu. Nampan besar berisi makanan dibawa oleh mereka berdua. Tidak lupa juga, dua guci arak tersedia dalam nampan tersebut.


Setelah makanan tersedia di atas meja, keduanya langsung menyantap makanan tersebut tanpa banyak bicara lagi.


Makanan yang dipesan adalah makanan terenak. Karena itulah, keduanya makan dengan lahap. Terlebih lagi Mei Lan, dia baru mengetahui dunia luar, selama ini yang dia makan hanya makanan itu-itu saja, sekarang setelah merasakan makanan enak dan mewah, gadis itu langsung menyambarnya. Dia tampak seperti seorang gadis yang belum makan selama satu minggu.


Saat mereka sudah selesai membayar biaya semua makan, saat itu juga orang-orang yang tadi membicarakan Cakra Buana pergi.


Keduanya segera keluar dari restoan Xiu Chu tersebut. Cakra Buana berjalan sambil minum guci arak. Mei Lan belum mau minum arak, dia lebih memilih berjalan sambil melirik ke sana kemari.


Orang-orang yang dia incar berada tidak jauh di depannya. Saat keadaan ramai, Mei Lan masih terlihat tenang. Namun begitu tiba di tempat sepi, tiba-tiba saja gadis itu menjejakkan kakinya ke tanah lalu melompat dan meluncur deras ke arah orang-orang tersebut.


Dia berhenti tepat di hadapan sekelompok orang itu.


"Berhenti!!!" teriak gadis maha cantik tersebut.


Sekelompok orang itu langsung berhenti. Mereka memandangi Mei Lan dengan tatapan tersendiri.

__ADS_1


###


Satu lagi agak maleman yaa, maaf kalo kemaren ga up. Mohon dimaklumi yaa wkwk, tapi jangan khawatir, novel ini in shaa allah bakal tamat … tidak akan berhenti di tengah jalan.


__ADS_2