Pendekar Tanpa Nama

Pendekar Tanpa Nama
Sampai Tujuan Akhir


__ADS_3

"Semua orang yang selalu kau andalkan, kini telah tewas. Selanjutnya giliranmu yang akan menyusulnya," kata Pendekar Tanpa Nama dengan nada datar.


Si Tuan tanah merasa gentar untuk sesaat. Meskipun dirinya termasuk ke dalam tokoh kelas atas, namun tak urung juga rasa takut terus menjalar ke seluruh tubuhnya secara perlahan.


Dia masih merupakan manusia. Dan setiap manusia pasti mempunyai rasa takut dalam dirinya. Seperti kamu yang takut kehilangan si dia.


Si Tuan tanah menggertak giginya untuk kesekian kali agar keberanian dalam dirinya muncul kembali.


"Hahahha …" akhirnya dia tertawa. Suara tawanya sangat lantang, tapi siapapun bakal tahu bahwa suara tawa itu sangat dipaksakan. "Jangan sombong karena kau berhasil membunuh orang-orang itu. Mereka hanyalah tikus-tikus yang tidak berguna, justru sudah lama aku ingin membunuhnya," lanjut si Tuan tanah Kong We.


Pendekar Tanpa Nama hanya tersenyum dingin. Senyumannya masih sama, ekspresi wajahnya juga sama.


"Percuma saja kau bicara seperti itu. Aku tahu kau hanya memaksakan dirimu sendiri,"


"Jangan sok tahu," bentak si Tuan tanah Kong We.


"Justru karena aku tahu,"


"Bangsat,"


Wushh!!!


Dia melesat. Serangannya sangat dan berbahaya. Pukulan pertama segera dilancarkan dengan dahsyat. Kekuatannya dikumpulkan dalam pukulan itu sehingga menghasilkan desiran angin tajam.


Cakra Buana memundurkan tubuhnya ke belakang. Pukulan si Tuan tanah mengenai tempat kosong. Tangan kirinya segera memberikan sodokan ke arah perut.


Pendekar Tanpa Nama menangkis dengan tangan kanannya. Setelah itu dia langsung melancarkan tendangan hebat.


Plakk!!!


Si Tuan tanah menahan tendangan itu dengan tangan kanannya. Pergelangan tangan itu terasa sedikit sakit dan tergetar. Dia memundurkan dirinya tiga langkah ke belakang.


Hawa murninya segera disalurkan ke seluruh tubuh. Rasa hangat menjalar memberikan kenyamanan sehingga mengurangi rasa sakit yang dideritanya.


Cakra Buana melesat kembali. Dia tidak mau memberikan kesempatan bagi lawannya. Segulung angin dahsyat menerjang si Tuan tanah. Datangnya lebih cepat dari pada serangan orang itu tadi.


Meskipun belum siap sempurna, tapi sebagai tokoh kelas atas, maka si Tuan tanah bisa menangisi serangan Cakra Buana


Benturan dahsyat terjadi lagi. Keduanya terdorong ke belakang. Sesaat kemudian, pertarungan sengit di antara mereka segera berlangsung.

__ADS_1


Pendekar Tanpa Nama berada dalam posisi menyerang. Dua tangannya seperti bayangan naga yang mengamuk di tengah udara. Ke mana pun si Tuan tanah menghindar, dua tangan itu tetap mengejarnya.


Belasan jurus sudah berlalu kembali. Si Tuan tanah mulai marah. Dia menggeram keras lalu memberikan serangan balasan yang lebih dahsyat lagi.


"Serigala Berlari ke Sarang Naga …"


Wushh!!!


Si Tuan tanah mengeluarkan salah satu jurus hebatnya. Pukulan dan tendangan langsung dilancarkan dengan kekuatan besar. Serangannya penuh dengan tipuan yang tidak akan pernah diduga oleh lawannya.


Pendekar Tanpa Nama tersenyum dingin. Dia mengibaskan tangan kanannya. Debu mengepul tinggi dan segera mengelilingi keadaan sekitar.


Sebuah tenaga yang sangat dahsyat menyelimuti halaman tersebut.


Prakk!!!


Si Tuan tanah terlempar ke belakang. Kepalanya pecah berantakan. Darah menyembur ke segala penjuru halaman. Bau anyirnya langsung tercium hingga jarak yang cukup jauh.


Cakra Buana tidak bergerak sedikitpun. Dia hanya berdiri kokoh kembali seperti sebelum melakukan pertarungan.


Genangan darah tidak menjadikan dirinya ngeri. Puluhan mayat tidak membuatnya merasa takut. Pendekar Tanpa Nama tetap berdiri seperti patung.


Wushh!!!


Cakra Buana langsung pergi dari sana tanpa sempat memeriksa tempat tersebut. Hanya dalam waktu sekejap mata, bayangannya telah menghilang dari pandangan mata.


###


Lima hari sudah berlalu.


Malam semakin larut. Pemuda bernama Cakra Buana sedang berjalan seorang diri di tempat sepi di sebuah jalan pedesaan. Dia tidak tahu dirinya berada di mana.


Pendekar Tanpa Nama berjalan mengikuti ke mana langkah kaki membawanya. Dia tidak menghiraukan keadaan sekitar.


Dia terus berjalan. Berjalan tanpa tahu arah tujuan. Berbagai macam rasa sedang berkecamuk dalam benaknya saat ini. Rasa rindu, rasa jenuh, rasa sedih, semuanya menjadi satu untuk saat ini.


Apa kabar Bidadari Tak Bersayap yang merupakan kekasih hatinya? Kapan dia bisa bertemu kembali dengan gadis yang maha cantik itu?


Sebenarnya pemuda Tanah Pasundan itu ingin segera kembali secepat mungkin. Dia telah merindukan semuanya. Tapi sayang, semuanya tidak semudah apa yang dia inginkan.

__ADS_1


Sampai kapan Cakra Buana akan berada di Negeri Tionggoan ini? Apakah dia bisa kembali lagi ke tanah kelahirannya?


Pemuda itu terus melangkah lunglai. Tanpa terasa sinar mentari pagi sudah muncul di angkasa. Sinarnya memancarkan cahaya keemasan dan membawa rasa yang menenangkan.


Langkah kakinya mendadak berhenti. Dia menengadah ke atas, sebuah bangunan berdiri di depan sana. Bangunan itu sangat megah dan mewah. Walaupun baru pagi-pagi buta, tapi keadaan di sana sudah sangat ramai.


Di atas atap bangunan tersebut, ada sebuah patung burung rajawali berwarna putih. Sayapnya mengepak dan paruhnya sedang terbuka.


Cakra Buana penasaran. Tak tahan lagi dia bertanya kepada para warga yang kebetulan lewat di dekatnya.


"Maaf saudara, bangunan yang megah itu, sebenarnya bangunan apa?" tanyanya dengan sopan.


"Bangunan itu merupakan sebuah perguruan ternama di sini,"


"Perguruan? Apa nama perguruan itu?" tanyanya semakin merasa penasaran.


"Itu adalah Perguruan Rajawali Sakti yang sangat terkenal," jawabnya seperti bangga dengan adanya perguruan tersebut di daerahnya.


Mata Cakra Buana berbinar-binar. Tujuan akhirnya telah ditemukan. Tanpa terasa, mendadak pemuda itu melesat ke depan menuju ke bangunan tersebut.


Warga yang baru saja dia tanya hanya bisa menggelengkan kepalanya perlahan. Dia sendiri merasa keheranan atas sikap pemuda asing itu.


"Pemuda yang aneh," gumamnya lalu segera melangkah pergi untuk menjalankan aktivitasnya.


Angin pagi berhembus lirih menggoyangkan dedaunan. Embun pagi masih menetes dari ujung daun lalu jatuh ke tanah membuat tanah itu basah.


Cakra Buana masih berdiri mematung. Dia masih sedikit tidak percaya dengan apa yang dilihatnya saat ini. Apakah benar bangunan itu adalah Perguruan Rajawali Sakti?


Dia tidak tahu. Karena dirinya harus memastikan lebih dulu.


Setelah melanjutkan langkahnya beberapa jarak ke depan, Cakra Buana telah tiba di depan gerbang utama bangunan tersebut. Dua orang murid penjaga memandangnya keheranan.


"Maaf, siapakah saudara ini dan ke mana tujuan saudara sebenarnya?" tanya salah seorang kepada Pendekar Tanpa Nama.


"Tumpang tanya, apakah benar bahwa ini adalah Perguruan Rajawali Sakti?" tanyanya sangat sopan dan penuh hormat.


Dua murid penjaga itu saling pandang. Seolah mereka merasa heran kepada pemuda asing yang ada di hadapannya saat ini.


"Apakah saudara orang baru di sini?" tanyanya untuk memastikan.

__ADS_1


"Benar, karena itulah aku bertanya," jawab Cakra Buana.


__ADS_2