Pendekar Tanpa Nama

Pendekar Tanpa Nama
Mulut Sialan


__ADS_3

Mei Lan langsung pergi tidak kembali lagi ke ruang tamu tersebut. Alasan gadis itu menolak permintaan kakeknya memang benar karena ilmunya belum sempurna.


Namun selain alasan tersebut, ada juga alasan lainnya yang membuat dia tidak mau.


Dia belum kenal dengan pria tadi. Selain itu, dia juga terlalu tampan untuk dirinya.


Padahal semua orang tahu bahwa Mei Lan adalah gadis yang teramat cantik. Jika ada bidadari lalu dibandingkan, mungkin dia akan menang di atasnya sedikit.


Sepertinya saat Mei Lan diciptakan, Tuhan sedang sangat berbahagia. Sehingga ciptaannya juga sangat sempurna.


Tapi sebenarnya di dalam hati, dia sendiri langsung kagum saat melihat ketampanan pria itu. Ternyata apa yang diceritakan oleh kakeknya, memang benar sesuai kenyataannya.


Pemuda itu sangat tampan. Badannya tinggi kekar dengan dada yang bidang. Sorot matanya seakan mampu menembus relung hati terdalam. Belum lagi senyumannya.


Andai langit kelabu lalu dia tersenyum, mungkin langit itu bisa mendadak cerah kembali.


Tanpa sadar Mei Lan tersenyum sendiri dalam hatinya. Ada perasaan lain terhadap pria tadi.


Namun sebagai wanita, tentu saja gengsinya tinggi.


Seorang wanita terkadang sengaja jual mahal. Bukan karena dia sombong. Biasanya karena dia hanya ingin melihat sampai di manakah perasaan si pria kepadanya? Apakah dia berani mengejarnya? Apakah dia berkorban untuknya? Berani atau tidak? Serius atau tidaknya seorang pria, bisa dinilai dengan cara-cara tertentu oleh seorang wanita.


Hahh … wanita memang mempunyai seribu akal.


Di ruang tamu, Huang Yang Qing hanya bisa menghela nafas dalam-dalam. Dia tidak tega untuk memarahi cucu wanitanya itu. Apalagi dia cucu wanita satu-satunya.


Untuk diketahui, ayah dan ibu Mei Lan sudah meninggal beberapa tahun lalu. Keduanya tewas di saat bertempur membela kebenaran melawan perguruan sesat yang terkenal di daerah Sungai Kuning.

__ADS_1


Kabar kematian anak Pangcu Kay Pang Pek tentu langsung membuat dunia persilatan gempar. Mencari masalah dengan Kay Pang Pek, sama saja mencari masalah dengan seluruh umat dunia persilatan.


Sayangnya sekalipun perguruan tersebut berhasil dihancurkan, namun masih ada para anggota dan petinggi yang berhasil melarikan diri.


Dan sekarang mereka menjadi buronan umat persilatan. Khususnya Kay Pang Pek. Dua tiga bulan lagi ada pertemuan besar, bisa saja musuh bebuyutan Kay Pang Pek itu hadir di sana. Karena alasan tersebut lah Huang Yang Qing berminat untuk pergi ke sana.


Dari hasil pernikahan anaknya, dia mendapatkan hadiah dua cucu. Satu pria, satu wanita. Yang satu bernama Huang Mei Lan, sedangkan satu lagi bernama Huang Lin Pei. Lin Pei sendiri sekarang sudah menjadi salah satu kedua cabang.


Dia dikabarkan akan menjadi penerus Huang Yang Qing jika seluruh ilmunya sudah sempurna. Sekarang usia Lin Pei telah menginjak tiga puluh lima tahunan. Dia juga sudah menikah dan mempunyai seorang putera.


Karena kakaknya sudah menikah, maka Huang Mei Lan memilih untuk tinggal bersama kakeknya dan berguru kepadanya.


"Maafkan aku Cakra, Mei Lan memang seperti itu. Mungkin karena aku terlalu memanjakannya, sehingga aku tidak berani terlalu kasar kepadanya," kata Huang Yang Qing dengan raut wajah merasa bersalah.


Kalau seorang tua sedang berada dalam keadaan bersedih, pasti usianya akan nampak lebih tua beberapa tahun. Dan hal seperti itu berlaku juga terhadap Huang Yang Qing.


Namun dia buru-buru meralat ucapannya. Karena pemuda itu baru sadar bahwa mulutnya telah berkata lain.


"Ah, maaf Pangcu Huang. Maksudku mengembara bersama, bukan hidup bersama," katanya merasa malu dan mengutuk keras kebodohannya.


"Hahaha …" Huang Yang Qing tertawa terbahak-bahak. "Tidak perlu seperti itu Cakra. Aku tahu bahwa kau suka bercanda, sekalipun kalau memang benar begitu, toh tidak masalah juga. Bukankah jodoh sudah ditentukan oleh thian (langit)?" kata kakek tua itu lalu meneguk guci arak.


Cakra Buana juga tertawa bersama. Sebagai seorang pria, tentu keduanya sedikit banyak dapat saling memahami. Namun dalam hatinya, Cakra Buana benar-benar merasa bodoh.


'Mulut sialan,' batinnya.


Untung saja Huang Yang Qing sudah merasa cocok kepadanya. Lagi pula, hubungan mereka terbilang baik meskipun baru pertama kali bertemu. Coba kalau dia bicara seperti itu di depan datuk sesat?

__ADS_1


Mungkin kepalanya sudah terlepas dari tempatnya.


"Cakra, kapan kau akan melanjutkan perjalanan ke Perguruan Rajawali Putih?" tanya Huang Yang Qing.


"Lebih cepat lebih baik Pangcu. Hidupku terasa penuh beban kalau wasiat terakhir guru belum selesai,"


"Kau memang murid yang baik. Rela datang jauh-jauh kemari hanya demi mengantarkan sebuah kitab saja. Kagum, aku sungguh kagum,"


"Terimakasih atas pujian Pangcu. Ini semua hanya membalas rasa terimakasihku kepada guru,"


"Bagus, memang harus seperti itu. Guru itu ibarat kedua orang tuamu sendiri. Jadi kau harus patuh pada perintahnya. Pertanyaanku mungkin lancang, tetapi sepertinya ini penting. Sebab aku merasa heran juga, kalau gurumu asli Tanah Pasundan, bagaimana mungkin bisa menjalin hubungan dengan orang-orang Tiongkok? Jadi maaf sebelumnya, siapa gurumu yang sebenarnya?" tanya Kakek Tua Tongkat Hijau kepada Cakra Buana.


"Ah, lupakan saja Cakra. Kalau kau tidak berkenan menjawab, jangan dijawab. Itu hanya rasa penasaran yang ada dalam pikiranku saja," ucapnya melanjutkan.


Cakra Buana merasa tidak enak kalau tidak menjawabnya. Kakek tua itu memang tidak mewajibkan, namun karena Cakra Buana merupakan pemuda berperasaan, tentu saja dia tidak mau membuat orang lain seperti itu.


"Baiklah Pangcu, aku akan menjawab pertanyaan itu, hanya saja aku mohon supaya Pangcu tidak menceritakan hal ini kepada siapapun,"


"Baik, aku berjanji kepadamu,"


"Nama asli guruku, aku sendiri tidak tahu. Seba aku hanya menemukan kitab peninggalannya saja secara tidak sengaja. Namun di awal kitab menyebutkan bahwa orang itu mempunyai julukan Pendekar Tanpa Nama. Dia menulsikan riwayat singkat hidupnya bahwa puluhan tahun lalu, beliau lari dari Tiongkok untuk menuju ke Tanah Jawa. Alasannya karena dia dikejar-kejar oleh pendekar Tibet beserta tentara Kerajaan yang sedang berkuasa dan para pendekar dunia persilatan,"


"Karena alasan itulah dia melarikan diri ke sana. Sebelum menjelang kematiannya, beliau telah menuliskan sejilid kitab pusaka yang merupakan ringkasan dari semua ilmu yang dia pelajari. Selain itu, beliau juga membuat sejilid kitab yang dibuat khusus untuk Perguruan Rajawali Putih. Di bagian terakhir kitab itulah beliau menyuruh bahwa siapapun yang menemukan dan mempelajari kitabnya, dimohon untuk memberikan satu kitab yang dibuat khusus untuk perguruan tadi," kata Cakra Buana menjelaskan pengalaman singkatnya bagaimana dia bisa datang ke Tiongkok.


Huang Yang Qing tampak terkejut sekali mendengar cerita anak muda itu. Tentu saja dia tahu siapa Pendekar Tanpa Nama. Perubahan ekspresinya bisa terlihat jelas juga oleh Cakra Buana.


Sehingga dia juga sudah menduga bahwa kakek tua itu mengetahui sesuatu.

__ADS_1


__ADS_2