
"Ide apa?" tanya Dewi Bercadar Biru sambil memandangnya dengan penuh selidik. Yang lain pun juga melakukan hal serupa.
"Kita bagi tugas saja,"
"Teruskan," kata Dewi Bercadar Merah.
"Aku akan mencari orang-orang yang terlihat dalam rahasia besar ini diluar sana. Sedangkan kalian juga melakukan hal serupa, tapi di dalam Istana Kerajaan. Kalian harus melakukan seperti yang aku lakukan. Usut masalah dari hal-hal terkecil dan sepele. Cari tahu siapa pelakunya, lalu bunuh kalau memang sudah terbukti benar,"
"Ada kalanya orang-orang seperti itu memang harus dibunuh. Dunia akan hancur jika dihuni oleh manusia-manusia serakah dan tidak mempunyai hati nurani," jelasnya memberitahukan ide yang dimaksud.
"Usul yang sangat baik. Tapi dengan siapa kau membongkar rahasia ini diluar sana?" tanya Ratu Ayu penasaran.
"Rasanya seorang diri saja sudah cukup. Dua Dewi tidak perlu ikut denganku, sebab cepat atau lambat Istana Kerajaan pasti bakal dilanda musibah. Bukan tidak mungkin perpecahan di dalam jajaran pemerintahan bakal terjadi pula,"
Kalau menyangkut kekuasaan, apapun memang bisa terjadi. Tidak terkecuali dalam permasalahan sekarang. Siapa tahu kalau saar ini Kerajaan Kawasenan benar-benar sudah terpecah? Hanya saja pecahannya itu belum diketahui oleh orang banyak.
Karena alasan itulah Pendekar Tanpa Nama mengusulkan ide semacam itu. Biarlah dia sendiri yang pergi mengembara lagi. Selain untuk membongkar masalah besar ini, ada hal-hal lain juga yang harus dia lakukan.
Hal apakah yang dia maksudkan?
Tiada seorangpun yang tahu. Sebab Pendekar Tanpa Nama tidak membicarakannya.
"Apakah kau yakin?" tanya Nenek Sakti.
"Kalau aku sudah menyanggupi sebuah hal, itu artinya keyakinanku tidak perlu dipertanyakan lagi,"
Semua orang tahu akan hal tersebut. Setiap apa yang akan dilakukan oleh Pendekar Tanpa Nama pastinya sudah melewati perhitungan matang. Cakra Buana tidak mau melakukan suatu hal kalau dirinya sendiri tidak yakin.
__ADS_1
Jika diri sendiri saja tidak yakin, bagaimana orang lain akan yakin?
Tapi kalau orang lain tidak yakin, tapi diri sendiri sangat yakin, rasanya hal tersebut sudah lebih dari cukup. Dalam hidup ini, keyakinan dan kepercayaan diri sendiri jauh lebih berarti daripada keyakinan dan kepercayaan orang lain.
Akhirnya semua orang yang ada di sana mengangguk. Jika seseorang sudah mempunyai keyakinan sekokoh gunung nun jauh di sana, rasanya tiada sesuatu apapun lagi yang bisa meruntuhkannya.
Buah-buahan di atas meja masih segar-segar. Begitu pula dengan makanan lainnya. Sekalipun sudah beberapa waktu lamanya Ratu Ayu hanya bisa rebah di atas pembaringan, namun dia selalu memerintahkan seorang pelayan untuk selalu membersihkan dan merawat ruangan ini.
Walaupun tiada orang yang datang, tapi pelayan itu selalu mengganti buah-buahan jika sudah tidak segar.
Oleh sebab itulah meskipun sudah lama tidak diinjak, tapi ruangan ini masih tetap bersih dan terawat.
Sekarang mereka pun mulai makan buah-buahan yang segar itu. Jika seseorang sedang merasakan pikiran dan hatinya kalut, kadang sesuatu yang sederhana tapi membuat bahagia, biasanya dapat memberikan bantuan lebih.
Ruangan itu kembali dilanda kesepian. Selain suara orang mengunyah, rasanya tiada suara apapun lagi.
"Ratu lebih baik bersikap seperti biasanya saja supaya tidak mendatangkan perasaan curiga. Kalau tidak, biarlah nanti Sepasang Kakek dan Nenek Sakti mencarikan pelayan baru yang merupakan orang-orang sendiri. Masalah bergerak mencari tahu, hal ini bisa kita bicarakan lagi nanti. Yang penting untuk sekarang adalah kita harus merencanakan semua hal ini dengan matang," kata Dewi Bercadar Merah menjawab pertanyaan Ratu Ayu.
Kecerdasan gadis itu memang diatas rata-rata. Oleh sebab itulah persoalan apapun bisa dihadapinya dengan mudah. Bahkan tak bisa dipungkiri lagi kalau Ratu Ayu, diam-diam juga memuji dirinya.
"Benar. Ratu cukup diam dan memberikan perintah, atau juga memberikan informasi berarti. Selebihnya, serahkan semuanya kepada kami berempat," sambung Dewi Bercadar Biru.
"Hahh …" tiba-tiba Ratu Ayu menghela nafas. "Dua orang gadis cantik jelita yang pintar dan cerdas. Aku sangat senang bisa berjumpa dengan kalian. Ternyata Sang Hyang Widhi sangat menyayangiku sehingga mempertemukan aku dengan kalian. Andai saja Cakra Buana ada, niscaya aku akan menjodohkan kalian. Itu pun jika kalian mau,"
Jantung lima yang ada sinaana berdetak lebih kencang lagi. Tak disangka, dalam menghadapi persoalan seperti sekarang ini, ternyata Ratu Ayu masih ingat kepada keponakannya itu.
Dalam hatinya, Cakra Buana semakin merasa bersalah karena dirinya tidak bisa memberitahukan siapakah dia sebenarnya.
__ADS_1
"Sepertinya Ratu sangat menyayangi pemuda bernama Cakra Buana itu. Kalau boleh tahu, apakah dia pemuda yang tampan juga?" tanya Dewi Bercadar Merah sambil tertawa genit.
Dia sengaja melakukan hal ini karena dirinya ingin mencairkan suasana.
"Bukan hanya tampan, bahkan dia pun seorang pemuda yang gagah perkasa. Dia tidak berbeda jauh dengan ayahnya. Sayang sekali sudah banyak waktu aku tidak mendengar kabarnya. Aii, mungkin sekarang dirinya sudah banyak berubah,"
"Aku jadi tidak sabar ingin bertemu dengannya. Semoga saja kita bisa cepat-cepat berjumpa dengan Cakra Buana itu,"
"Akupun berharap sama. Aku akan sangat senang kalau kalian berdua menjadi jodoh keponakanku,"
"Memangnya kenapa Ratu?" tanya Dewi Bercadar Merah.
"Karena kalian bertiga pasti akan melengkapi satu sama lainnya. Perlu diketahui, keponakanku itu sebenarnya kadang suka bodoh dan tak jarang malah bersikap konyol,"
Hampir saja pecah tawa empat orang yang ada di dalam ruangan tersebut. Hanya saja, mereka masih ingat di mana berada dan dengan siapa mereka bicara. Coba kalau yang bicara itu bukan seorang Ratu, niscaya ruangan tersebut bakal diramaikan oleh suara tawa orang-orang gagah.
Sementara itu, Cakra Buana justru menggerutu dalam hatinya. Tak disangka, meskipun sudah lama tidak berjumpa, ternyata bibinya masih saja ingat dengan tingkah konyol yang sering dia lakukan dulu.
Pendekar Tanpa Nama hanya bisa tertawa getir. Kalau saja dibahas lebih lanjut, niscaya bakal habis dirinya. Oleh sebab itulah dia memutuskan untuk bicara serius kembali.
"Besok sebelum panon poe moncorong (mentari pagi muncul), aku akan mulai bergerak. Aku harap kalian juga melakukan hal yang sama. Waktu yang kita miliki tidak banyak," kata Cakra Buana.
"Baik sekali. Kalau begitu kita harus bersiap-siap sekarang juga," ujar sang Ratu.
Yang lainnya mengangguk.
Semua orang-orang itu serius kembali. Sepasang Kakek dan Nenek Sakti membagi tugas dengan Dua Dewi. Dia juga mengeluarkan peta Istana Kerajaan. Meskipun sekarang belum benar diperlukan, tapi bukan tidak mungkin kalau suatu hari nanti peta tersebut bakal dibutuhkan.
__ADS_1
Sebelum melakukan rencana besar memang diperlukan langkah-langkah yang sangat efisien. Kekompakan juga sangat diperlukan. Semakin kompak orang-orang yang terlibat di dalamnya, semakin baik juga dalam pelaksanaannya.