Pendekar Tanpa Nama

Pendekar Tanpa Nama
Pertempuran III


__ADS_3

Naga Terbang Ketiga tersenyum sinis sambil tetap memandang ke arah Harimau Sakti Tiada Tanding yang sekarang sedang kesakitan itu.


Tanpa memperdulikannya lagi, Naga Terbang Ketiga lalu kembali ke barisannya. Sebelum dia sampai di sana, sepasang matanya menatap ke arah Pendekar Tanpa Nama yang juga sedang melangsungkan sebuah pertarungan.


"Aku sudah membalaskan dendammu saat di Perkampungan Raja Harimau. Selangkah lagi, dia harus mati," gumamnya lirih.


Sementara itu, Ming Tian Bao tampak memperhatikan luka-luka yang sekarang telah memenuhi tubuh datuk Utara tersebut. Menurut pandangan matanya, luka itu bukan luka ringan. Luka tersebut terhitung luka berat.


Meskipun benar tidak beracun, tapi efeknya sungguh hebat. Entah jurus apa yang sudah digunakan oleh anggota Organisasi Naga Terbang tersebut. Namun yang pasti, dia baru melihat luka semacam ini.


"Kau baik-baik saja?" tanyanya kepada Poh Kuan Tao.


"Aki baik, kau jangan terlalu khawatir. Aku tidak akan mampus hanya karena luka seperti ini," jawabnya dengan santai. Wajahnya kalem. Tapi suaranya sedikit bergetar karena menahan rasa sakit.


Kakek tua itu adalah seorang datuk dunia persilatan. Kedudukannya di rimba hijau juga sudah sangat tinggi. Bagaimana mungkin dia akan memperlihatkan ekspresi kesakitan hanya karena luka demikian?


Si Raja Racun Tiada Obat tidak membahas lebih lanjut. Dia mempunyai watak yang sedikit aneh. Yaitu jika ada orang lain yang sedang berjuang merasa melawan rasa sakit karena sebuah luka, baik itu luka beracun atau tidak, selama si penderita tidak meminta bantuannya, maka sampai kapanpun Ming Tian Bao tidak akan membantunya. Sedikitpun tidak akan.


Dia sendiri terkadang merasa bingung dengan watak yang sudah ada sejak dirinya kecil itu. Apakah watak tersebut baik, atau buruk?


Terlepas baik atau buruk, dia tidak pernah terlalu memikirkannya. Yang jelas, memang begitulah watak aslinya.


Poh Kuan Tao si Harimau Sakti Tiada Tanding sudah kembali ke barisannya masing-masing. Tanpa berkata apa-apa, orang tua tersebut langsung duduk bersila lalu kemudian segera menyalurkan hawa murni ke seluruh tubuh untuk mengobati semua luka yang dideritanya saat ini.


Di sebelah kanan pertarungan datuk Utara melawan Naga Terbang Ketiga tadi, ada juga sebuah pertarungan yang tidak kalah hebatnya.


Pertarungan tersebut milik si Buta Yang Tahu Segalanya. Pemuda tampan yang mempunyai pengetahuan seluas samudera itu mendapatkan lawan si Naga Terbang Keempat.


Orang yang dihadapinya saat ini memakai senjata berupa tombak perak dengan batang berwarna merah darah. Kilatan mata tombak terlihat sangat tajam. Sekali melihat, setiap orang pasti bakal paham bahwa benda tajam itu merupakan senjata mestika tingkat tinggi.


Tidak banyak pendekar yang mempunyai gaman seperti demikian. Selain sudah sangat langka, kalaupun ada yang jual, pasti harganya sangat mahal sekali.

__ADS_1


Tombak yang merah pekat. Pakaian yang hitam legam.


Sebuah perpaduan warna yang sangat cocok dan serasi. Kalau kedua warna tersebut disatukan, sudah pasti hasil gabungannya akan menghasilkan sebuah warna yang angker. Menyeramkan. Dan menggidikkan hati siapapun yang memandangnya.


Pertarungan mereka sudah berlangsung selama dua puluhan jurus. Selama ini, si Buta Yang Tahu Segalanya tidak pernah membalas serangan lawan. Dia hanya menghindar atau menangkis setiap serangan si Naga Terbang Keempat.


Sejauh ini, entah sudah berapa kali dirinya hampir mati karena saking ganasnya serangan si Naga Terbang Keempat. Untungnya dia adalah si Buta Yang Tahu Segalanya.


Sehingga sahabat apapun serangan lawan, sekeras apapun tekad orang tersebut, si Buta Yang Tahu Segalanya tetap bisa berkelit tanpa merasa kesulitan.


Sebenarnya, sampai di mana tingkat kemampuan pemuda yang tidak dapat melihat itu?


Sebenarnya pertanyaan tersebut tiada satupun yang dapat menjawabnya. Termasuk si Buta Yang Tahu Segalanya sendiri.


Kalau dirinya sendiri saja tidak tahu, apalagi orang lain?


Wushh!!!


Semua orang yang hadir di sana hanya mampu melihat selarik sinar keperakan menembus udara yang hampa.


Trakkk!!! Bukk!!!


Tombak yang tadinya diniatkan untuk menusuk tenggorokan si Buta Yang Tahu Segalanya, kini harus rela berhenti dengan jarak setengah buku jari. Entah bagaimana caranya pemuda tersebut dapat menangkap luncuran senjata tajam yang maha dahsyat itu.


Berbarengan dengan kejadian tersebut, pemuda bernama asli Li Guan itu lantas melancarkan satu hantaman telapak tangan ke arah dada si Naga Terbang Keempat.


Satu tubuh terlempar cukup jauh ke belakang. Tapi bukan tubuh si Buta Yang Tahu Segalanya, melainkan tubuh si Naga Terbang Keempat. Orang itu sempat bergulingan beberapa saat sebelumnya akhirnya berhenti lalu mencoba untuk bangkit berdiri kembali.


Darah kental tiba-tiba keluar dari sudut bibir sebelah kanannya.


Wutt!!!

__ADS_1


Satu bayangan melesat ke tengah-tengah mereka. Ming Tian Bao selaku wasit langsung menghentikan gerakan keduanya.


"Pertarungan selesai, kau sudah terluka. Dan si Buta Yang Tahu Segalanya yang keluar sebagai pemenang," kata orang tua tersebut.


Meskipun semua anggota Organisasi Naga Terbang tahu bahwa datuk sungai telaga itu berada di pihak pendekar Tionggoan, tapi mereka pun tidak menampik kalau dia sangat adil.


Selaku wasit memang mesti adil. Perduli siapa yang menang dan siapa yang kalah. Yang jelas, keadilan adalah hal paling utama.


Si Naga Terbang Keempat tidak bicara sepatah katapun. Begitu juga dengan Li Guan si Buta Yang Tahu Segalanya.


Kedua sosok tersebut segera kembali ke posisinya masing-masing.


Bukkk!!!


Suara benturan nyaring dari arah sebelah kanan terdengar begitu keras hingga mengejutkan semua orang. Puluhan pasang mata segera melirik ke tempat asal suara tersebut.


Di sana ternyata ada Tian Hoa si Iblis Tua Langit Bumi. Sedangkan yang menjadi lawannya adalah Dewi Cantik Tujuh Nyawa. Sang pemimpin utama dari Organisasi Naga Terbang. Meskipun dirinya hanyalah seorang wanita, tapi dia yang terkuat, juga yang terhebat.


Semua orang tahu akan hal ini.


Oleh sebab itulah, di antara semua pertarungan yang berjalan secara bersamaan tersebut, agaknya pertarungan tersulit adalah milik Tian Hoa si datuk sesat.


Benturan keras tadi ternyata berasal dari kedua telapak tangan mereka. Saking hebatnya benturan tersebut sehingga membuat telapak tangan kedua orang itu mengepulkan asap putih tipis.


Sepertinya bukan hanya benturan tenaga luar saja, mungkin disertai pula dengan benturan sinkang (tenaga sakti).


Dewi Cantik Tujuh Nyawa tampak tenang dan sangat kalem. Wajahnya bahkan tersenyum sinis kepada Tian Hoa. Berbeda dengan lawan, wajah kakek tua itu justru menggambarkan perasaan terkejut setengah mampus.


Peluh sebesar biji kacang kedelai telah turun dari kening ke pelipis. Dia tidak pernah menyangka bahwa tenaga sakti lawan sungguh berada di atasnya. Bahkan jarak yang terbentang pun cukup jauh.


Mau tidak mau, sekarang Tian Hoa percaya bahwa semua anggota Organisasi Naga Terbang ternyata sesuai dengan apa yang sudah didengarnya.

__ADS_1


__ADS_2