
Tidak terasa, tiga harian lagi sudah tepat satu bulan. Itu artinya, pertemuan antar tokoh dunia persilatan Tionggoan akan segera terjadi. Orang-orang dari berbagai macam kalangan, berbagai macam aliran dan perguruan, sudah banyak terlihat berkeliaran di sekitaran tempat itu.
Pertemuan besar nanti akan dilangsungkan di Gunung Hua Sun. Gunung Hua Sun ini sudah terkenal di kalangan semua orang. Sejak zaman dahulu, gunung ini sudah terkenal.
Gunung Hua Sun mempunyai sejarah tersendiri. Selain itu, gunung tersebut pernah menjadi saksi terkait suatu peristiwa besar di masa lalu. Setiap orang pasti pernah mendengar berita menyeramkan tentang gunung tersebut.
Hany saja di balik semua itu, Gunung Hua Sun juga menyimpan sejuta keindahan alam tersendiri. Gunung itu mempunyai kelebihan yang tidak akan ditemukan di gunung lainnya.
Lapangan yang terdapat di Gunung Hua Sun sangat luas. Lapangan tersebut dapat menampung ratusan atau bahkan mungkin seribuan orang banyaknya.
Meskipun pertemuan antar tokoh dunia persilatan akan terjadi tiga harian lagi, namun nyatanya di sana sudah banyak orang. Berbagai macam golongan manusia rela tidur beralaskan tanah hanya demi menyaksikan sebuah keramaian yang jarang sekali terjadi.
Mereka rela menempuh jarak puluhan kilo meter jauhnya hanya demi datang dan menyaksikan keramaian tersebut. Mereka yang sudah datang ternyata tidak hanya berasal dari golongan sungai telaga saja, bahkan orang-orang kalangan biasa atau pata pedagang sekalipun, sudah banyak yang hadir.
Puluhan pedagang makanan dan minuman berjejer di sepanjang jalan untuk menuju ke Gunung Hua Sun. Mereka rata-rata merupakan pedagang yang menyediakan kebutuhan pokok dan arak.
Situasi semacam ini menjadi keuntungan tersendiri bagi para pedagang itu. Sehingga mereka rela membuat warung sementara hanya demi meraup keuntungan dari kejadian yang akan berlangsung tiga harian lagi.
Pendekar Tanpa Nama bersama Mei Lan telah hadir di sekitaran Gunung Hua Sun. Keduanya memilih untuk menginap di penginapan yang ada di sana. Mereka tiba dua harian yang lalu.
Saat ini hari masih pagi. Tapi keadaan sudah sangat ramai melebihi hari-hari biasanya.
Orang-orang banyak yang membicarakan sepak terjang Pendekar Tanpa Nama dan Mei Lan. Kedua pendekar muda itu sedang naik daun. Nama mereka semakin terkenal. Berita tentang keduanya semakin hari semakin banyak terdengar.
Beberapa waktu lalu, karena sebuah pertarungan sengit yang dilangsungkan selama berjam-jam, juga karena sepak terjangnya, Mei Lan telah mendapatkan julukan baru.
Gadis maha cantik itu mendapat julukan Dewi Pedang Kembar.
Julukan yang sangat cocok dan sesuai. Juga merupakan julukan yang sangat pas, seperti kenyataannya. Huang Mei Lan adalah gadis yang sangat cantik, tak heran kalau dia dijuluki Dewi. Dia juga merupakan pendekar pedang kembar, tak heran jika dirinya mendapat julukan seperti itu.
Dewi Pedang Kembar.
__ADS_1
Julukan yang indah ketika terdengar. Tapi menakutkan saat melihat sepak terjangnya.
Sekarang ini keduanya sedang duduk di bawah pohon liu (cemara). Mereka sedang bercanda tawa bersama. Hubungan Mei Lan si Dewi Pedang Kembar dengan Cakra Buana semakin lama semakin akrab.
Bahkan sebagian orang-orang dunia persilatan menggosipkan mereka sebagai pasangan. Siapapun pasti mengatakan bahwa keduanya adalah pasangan yang sangat cocok. Sangat serasi.
Kabar tentang seperti itu sudah sampai kepada telinga keduanya. Hanya saja Cakra Buana dan Mei Lan tidak mau ambil pusing. Mereka lebih membiarkan kabar tersebut dari pada harus menanggapinya.
"Ternyata sudah banyak sekali yang datang," ujar Mei Lan sambil memandangi orang-orang yang baru saja tiba di daerah sekitar Gunung Hua Sun.
"Tentu saja, mereka memilih untuk datang lebih cepat dari pada harus datang terlambat," kata Cakra Buana sambil menganggukkan kepalanya.
"Memangnya kenapa mereka memilih seperti itu?" tanya Mei Lan penasaran.
Gadis itu baru terjun ke dunia persilatan. Jadi apa yang saat ini terjadi, baginya sangat aneh.
"Karena kalau sudah tepat tiba saatnya, keadaan di sini akan jauh lebih ramai lagi. Nanti pasti bakal banyak orang yang berdatangan, baik itu orang-orang dunia persilatan, maupun orang-orang biasa yang datang hanya untuk menonton keramaian saja,"
"Benarkah seperti itu?"
"Apakah Kakekku akan datang juga kemari?"
"Tentu saja dia akan datang. Apalagi Kakekmu merupakan datuk dunia persilatan,"
"Hemm, aku sudah rindu kepadanya, sudah lama sekali aku tidak berjumpa,"
Sekalipun Mei Lan sudah tidak manja seperti pada saat pertama melakukan pengembaraan, namun jika bicara tentang kakeknya, gadis itu masih sama dengan yang dulu.
"Nanti juga bakal bertemu. Percayalah," tukas Pendekar Tanpa Nama.
Keduanya kembali terdiam. Mereka terus memperhatikan orang-orang yang berdatangan itu. Semakin lama, orang yang datang ternyata semakin banyak. Bahkan penginapan yang ada di sekitar Gunung Hua Sun juga sudah penuh semuanya.
__ADS_1
Semua restoran dipadati oleh pengunjung. Para pedagang arak laris manis menjajakan arak mereka.
Mei Lan mengajak Cakra Buana untuk berjalan-jalan, tanpa menolak, pemuda Tanah Pasundan langsung mengangguk mengiyakan.
Keduanya berjalan berdampingan. Langkah mereka tenang, sama sekali tidak terburu-buru. Baik Cakra Buana maupun Mei Lan, mereka sama-sama menikmati semua pemandangan yang ada di depan matanya.
Sepanjang mereka berjalan, semua orang yang hadir dan melihat keduanya sama-sama memandangi dengan takjub. Orang-orang itu mulai membicarakannya sebagai pasangan muda yang sangat istimewa.
Cakra Buana mempunyai telinga yang sangat tajam. Karena itulah dia mendengar dan tahu semua percakapan setiap orang tentang dirinya. Hanya saja, sama seperti yang sudah dijelaskan di atas, pemuda itu lebih memilih untuk tidak peduli.
"Apakah kau dengar kalau orang-orang itu membicarakan kita?" tanya Mei Lan sambil melirik hangat kepada Cakra Buana.
"Biarkan saja mereka bicara apa yang ingin dibicarakan. Toh tidak ada sangkut pautnya dengan kita," kata Pendekar Tanpa Nama.
"Bagaimana tidak ada sangkut pautnya? Mereka jelas membicarakan kita," ucap Mei Lan sambil melirik tajam kepadanya.
"Apakah apa yang mereka bicarakan sesuai dengan kenyataannya?"
"Tentu saja tidak," teriak Mei Lan sedikit manja.
"Kalau begitu biarkan saja. Kita tidak perlu mendengarkannya. Hemm, sekarang mungkin tidak, entah kalau nanti," bisik pemuda itu menggoda Mei Lan.
Cucu dari Huang Pangcu itu mencubit tangan Cakra Buana dengan manja, tapi dia tidak bicara apapun.
Keduanya terus berjalan menyusuri beberapa tempat. Mereka berhenti di sebuah batu hitam pinggiran sungai. Sepasang muda-mudi itu segera duduk di sana.
"Aku sudah datang, lalu kenapa kau tidak segera keluar?," ujar Cakra Buana secara tiba-tiba.
Mei Lan kebingungan sesaat. Namun selanjutnya dia segera mengerti, tidak berapa lama setelah itu, di seberang sungai di depan keduanya, telah berdiri seorang kakek tua yang sedang tersenyum-senyum memandangi Cakra Buana dan Dewi Pedang Kembar.
"Hahaha … ternyata panca inderamu masih tajam seperti saat itu," kata kakek tua tersebut, dia segera nelomoati sungai yang cukup lebar tersebut.
__ADS_1
Sekalipun sungai itu cukup besar, namun nyatanya si kakek tua bisa melewatinya dengan mudah.
Siapa kakek tua itu sebenarnya?