
Dedaunan pohon rontok. Daun bernasib malang itu kemudian terbang terbawa oleh angin. Dahan pohon bergoyang-goyang karena hembusan sang bayu. Matahari masih panas. Begitu juga darah Pendekar Tanpa Nama.
Darahnya panas. Persis seperti dendamnya kepada Penguasa Kegelapan dan Empat Dewa Sesat.
Darah si Tangan Baja sudah kering. Seluruh tubuhnya dibasahi oleh darahnya sendiri. Kematiannya sungguh mengenaskan. Siapapun yang melihatnya pasti tidak akan tega.
Setelah berdiam beberapa saat di tempatnya semula, akhirnya Pendekar Tanpa Nama melangkah masuk ke dalam saung tersebut.
Keadaan di dalam sama seperti diluar. Sangat rapi. Bersih. Juga terawat. Meskipun hanya ada satu kamar tidur, tapi kamar itu pun juga bersih.
Di ruangan tengah ada satu buah meja makan dan kursi. Semuanya terbuat dari kayu jati.
Cakra Buana sedang mencari-cari Kakek Penyaru. Setelah beberapa saat mencari, akhirnya dia menemukan orang tua itu.
Tapi apa yang terjadi sekarang, sungguh sesuatu yang tidak pernah dia harapkan. Ternyata Kakek Penyaru telah tewas. Kondisinya sungguh memprihatinkan. Darah segar keluar dari seluruh lubang di tubuhnya.
Darah itu pun sudah kering. Wajahnya sangat pucat. Dadanya melesak masuk ke dalam. Sekali lihat saja, Pendekar Tanpa Nama sudah mengerti kalau organ dalam si Kakek Penyaru telah terguncang hebat. Malah bukan tidak mungkin kalau jeroan tubuh renta itu telah hancur.
Siapa yang sudah membunuh Kakek Penyaru? Apakah si Tangan Baja sendiri yang melakukannya?
Kalau benar iya, maka Pendekar Tanpa Nama telah terlambat sedikit. Coba kalau dia tiba lebih dulu di tempat ini, mungkin Kakek Penyaru sekarang belum tewas.
Tapi sayang sekali. Takdir berkata lain. Mungkin Kakek Penyaru memang harus ditakdirkan untuk tewas di tangan musuhnya.
Di dunia ini, ada beberapa hal yang tidak bisa diubah ataupun dikembalikan. Salah satunya adalah takdir mutlak dan sang waktu.
Pendekar Tanpa Nama mengepalkan kedua tangannya. Dia pun menggertak gigi. Kemarahan dalam dadanya benar-benar sudah meluap. Dia tidak bisa diam saja. Cakra Buana tidak akan berpangku tangan melihat semua kejadian ini.
Bagaimanapun juga, dia harus mengusut tuntas semua kejadian misteri yang terjadi selama ini.
Dia berpikir sesaat. Cakra Buana tidak mau bertindak gegabah. Pemuda itu sedang memikirkan siapa kira-kira orang yang sudah membunuh Kakek Penyaru.
Dia berjalan mendekati tubuh Kakek Penyaru. Setelah itu dirinya segera berjongkok untuk memeriksa jasadnya.
__ADS_1
Pendekar Tanpa Nama mulai melihat-lihat seluruh luka yang terdapat di tubuhnya. Setelah diperhatikan dengan jelas, ternyata luka itu berasal dari dalam. Tiada luka luar yang terlihat.
Mendadak hidung Cakra Buana mencium adanya bau tak sedap. Antara bau busuk dan bau amis yang berbeda daripada umumnya.
Racun.
Ya, kakek tua itu jelas terbunuh karena keganasan sebuah racun.
Tapi racun apa? Siapa pula yang telah membunuhnya?
Pemuda itu sedang berpikir keras. Menurut penilaiannya, di Tanah Pasundan, rasanya tidak banyak orang yang mampu membunuh Kakek Penyaru. Meskipun usianya sudah lanjut, namun siapapun mengerti kalau kakek tua itu mempunyai kemampuan tinggi di atas rata-rata.
Dia disejajarkan dengan tokoh pilih tanding. Dan sebagai tokoh pilih tanding, tentunya hanya segelintir orang saja yang sanggup melakukan semua ini. Mustahil tokoh kelas satu atau tokoh setara dengannya mampu membunuh secepat itu.
Sepasang mata yang tajam tersebut semakin memandang menyelidik. Dia pun memperhatikan keadaan sekitar.
Jantung Pendekar Tanpa Nama berdebar kencang. Dendamnya semakin membara. Darah dalam tubuhnya semakin bergolak hebat.
Dia menemukan lagi satu petunjuk. Meskipun hanya jejak pada dinding, tapi cukup melihat satu kali saja, Cakra Buana sudah bisa menduga semuanya.
Dewa Tapak Racun!!!
Ya, Cakra Buana yakin, jejak telapak tangan yang tertera di dinding itu tentu jejak dirinya.
Bagaimana pemuda itu bisa tahu kalau jejak itu milik Dewa Tapak Racun?
Tentu saja tahu. Sebagai tokoh tanpa tanding, Cakra Buana pastinya bisa mengerti sesuatu yang tidak dimengerti oleh orang lain. Selain daripada itu, dulu, diapun pernah bertarung dengannya.
Malah Cakra Buana hampir mampus di tangan orang itu.
Karena semua hal tersebut, rasanya tidak aneh kalau dia mengenalinya, bukan?
"Keparat jahanam. Bagaimanapun juga, aku pasti akan menemukanmu. Aku akan membunuh kalian semua," katanya sambil menggertak gigi.
__ADS_1
Matanya mendadak memerah. Wajahnya bengis. Dari pori-pori tubuhnya keluar ***** membunuh yang sangat tebal. Hawa dalam saung itu berubah hebat.
Burung-burung diluar yang kebetulan bertengger di atas atap saung tiba-tiba jatuh ke bawah dan langsung tewas. Hal itu disebabkan karena saking kuatnya pancaran hawa kematian yang keluar dari tubuh Pendekar Tanpa Nama.
Tiba-tiba Cakra Buana bangkit berdiri. Dia membopong mayat Kakek Penyaru. Pemuda itu masuk ke hutan lalu segera menggali tanah begitu dirinya menemukan tempat yang cocok.
Setelah selesai, Pendekar Tanpa Nama lantas langsung pergi dari sana. Sekarang dirinya sudah nekad. Dia tidak perduli lagi apakah pergerakannya bakal ketahuan oleh musuh atau tidak.
Cakra Buana hanya yakin satu hal. Dewi Bercadar Merah atau Sian-li Bwee Hua pasti sudah mempunyai rencana. Setidaknya, kekasihnya itu pasti bakal membantu kalau sampai dia terjerat ke dalam perangkap lawan.
Wushh!!!
Bayangan merah berkelebat. Debu dan kerikil berterbangan menggulung menjadi satu. Bayangan itu bagaikan kilat. Cepatnya bukan main.
###
Malam telah datang. Rembulan hanya bersinar separuhnya. Bintang di langit cuma tampak sedikit. Tidak ramai seperti biasanya.
Saat ini Pendekar Tanpa Nama sudah berada di wilayah Istana Kerajaan. Lebih tepatnya di tengah hutan Istana. Pemuda itu sudah bersiap untuk mengguncangkan "rumahnya" sendiri.
Seperti biasa, pakaiannya serba merah. Bedanya, kali ini wajahnya juga tertutup oleh sebuah cadar merah darah.
Merah melambangkan keberanian. Merah juga melambangkan kemarahan yang teramat sangat.
Selain itu, warna merah juga mempunyai arti darah. Darah itu kental. Tapi dendamnya jauh lebih kental lagi.
Kentongan pertama baru saja lewat. Suasana sudah semakin sepi. Niat awal pemuda itu hanya ingin menyusup ke dalam Istana Kerajaan lalu pergi menemui Dua Dewi, Sepasang Kakek dan Nenek Sakti, serta menemui juga Ratu Ayu.
Tapi di sisi lain, dia pun sudah membulatkan tekad, kalau saja ada orang-orang mencurigakan di dalam Istana Kerajaan lalu menyerang dirinya, maka dia bersumpah bakal membunuhnya tanpa pandang bulu.
Perduli dia itu siapa, kalau benar kehadirannya hanya untuk menghancurkan Kerajaan yang megah nan besar itu, maka orang tersebut pantas untuk mati.
Masa bodoh istilah kenal atau tidak kenal, kawan atau lawan, Pendekar Tanpa Nama sudah tidak melihat itu semua.
__ADS_1
Intinya, setiap manusia yang hanya mendatangkan bencana bagi Tanah Pasundan, dia pasti akan langsung membunuhnya.