
Pendekar Tanpa Nama menenggak guci arak kembali. Arak yang dibawa oleh Sian-Li Bwee Hua adalah arak harum. Kalau arak harum, sudah pasti arak itu mahal. Karena itulah, hanya beberapa saat saja, Cakra Buana sudah menghabiskan arak tersebut lebih dari setengahnya.
Sepasang matanya sudah tampak kabur. Wajahnya juga sedikit memerah. Tapi meskipun begitu dia masih sadar. Cakra Buana benar-benar sadar sepenuhnya.
"Sebenarnya, apa tujuanmu menemuiku?" tanya Pendekar Tanpa Nama setelah beberapa saat keduanya terdiam.
Saat manusia melakukan sebuah sesuatu, pastinya ada tujuan tertentu. Hal apapun, pasti mempunyai tujuan dan maksud tersendiri. Saat manusia melakukan suatu hal, pasti ada alasan lain di balik itu semua.
Oleh sebab itulah Cakra Buana bertanya tentang tujuan sebenarnya Dewi Bunga Bwee menemui dirinya. Karena tidak mungkin kalau dia bertemu tanpa suatu tujuan bukan?
"Aku ingin memberitahumu," jawab Ling Ling si Dewi Bunga Bwee.
"Tentang apa?"
Ling Ling menarik nafas dalam-dalam beberapa kali sebelum dia menawan pertanyaan Cakra Buana barusan.
"Aku ingin memberitahumu bahwa orang-orang golongan sesat dunia persilatan sudah bersatu untuk membunuh dirimu,"
"Hal itu aku sudah tahu,"
"Tapi pergerakan mereka sekarang lebih menakutkan dari apa yang kau bayangkan,"
Cakra Buana terdiam sesaat. Dia sedang menebak arah bicara Ling Ling saat ini.
"Siapa yang kau maksudkan mereka?"
"Mereka para golongan sesat, termasuk para tokoh pilih tanding,"
"Aku sudah tahu kalau nyawaku diincar. Aku juga sudah tahu jika mereka sedang memburuku, dan terkait itu semua, bukankah semuanya sudah diatur oleh kalian para anggota Organisasi Naga Terbang?" tanya Cakra Buana sambil memandangi Ling Ling dengan tatapan penuh selidik.
Ditanya seperti itu, Ling Ling tampak sedikit kebingungan. Dia tidak tahu harus menjawab apa kepada Cakra Buana. Mau berbohong? Rasanya tidak mungkin, apalagi pemuda itu sudah mengetahui organisasi miliknya. Mau mengelak? Apalagi, dia sama sekali tidak dapat mengelak dari pertanyaan Cakra Buana barusan.
__ADS_1
"Mungkin kau benar, semuanya memang sudah diatur oleh kami. Hanya saja, tidak semua hal dapat kami atur sebelumnya. Ada beberapa hal lain yang tidak kami atur atau bahkan kami sama sekali tidak tahu,"
"Kalau kau bicara kepada orang lain, mungkin mereka akan percaya. Tapi jika kau berkata padaku, jangan harap aku dapat percaya ucapanmu," jawab Pendekar Tanpa Nama dengan nada suara yang dingin.
Dewi Bunga Bwee nampak kebingungan. Wajahnya memperlihatkan ekspresi panik. Dia tidak tahu harus bicara apa lagi.
"Apakah kau tidak percaya dengan apa yang aku katakan?"
"Untuk hal ini aku tidak percaya. Kalau kau datang menemuiku hanya untuk mengatakan hal seperti ini, lebih baik kau segera kembali. Percuma kau memberitahu, sedangkan semuanya sudah diatur oleh orang-orangmu sendiri. Tapi jika kau datang dengan tujuan lain, kau masih boleh untuk menetap di sini dan membicarakan semuanya," ujar Pendekar Tanpa Nama.
Ling Ling langsung terdiam. Dia sadar dan mengerti apa yang dimaksud oleh Pendekar Tanpa Nama. Apa yang dikatakan olehnya memang tidak salah. Tidak sama sekali.
Semua kejadian yang terjadi dalam dunia persilatan Tionggoan memang sudah diatur oleh orang-orangnya sendiri. Semuanya sudah berada dalam genggamannya. Tinggal menunggu waktu yang tepat, maka semuanya akan menjadi milik Organisasi Naga Terbang.
Ling Ling menghela nafas untuk yang kesekian kalinya. Dia tidak bicara sepatah katapun. Wanita cantik itu hanya menatap Pendekar Tanpa Nama dalam diam. Meskipun mulutnya diam, tapi tatapan matanya bicara.
Tatapan mata itu membicarakan semuanya kepada Cakra Buana.
Suaranya mendadak lembut. Mendadak lebih mesra dan penuh kasih sayang. Dari suaranya saja sudah terlihat bahwa wanita itu bicara dengan jujur. Sedikitpun tidak nampak kebohongan.
Namun meskipun begitu, Cakra Buana tetap belum percaya sepenuhnya.
Ada orang yang mengatakan bahwa semakin cantik seorang wanita, semakin tinggi juga untuknya melakukan kebohongan. Entah ungkapan itu benar atau tidak, yang jelas sampai sekarang belum ada yang mengetahuinya secara pasti.
"Terimakasih, aku akan selalu mengingat perkataanmu ini. Terkait kau tidak ingin melihat aku mati, apakah kau bicara dengan jujur?" tanya Cakra Buana memastikan lebih jauh lagi.
"Kau pikir aku berbohong?" teriak Ling Ling saking gemasnya. "Saat seorang wanita bicara seperti itu, bagaimana mungkin dia berbohong?" lanjutnya dengan nada yang sama.
"Mungkin saja. Karena setiap manusia, baik itu pria maupun wanita, pasti bisa dan pernah melakukan kebohongan,"
"Tapi aku bicara serius. Aku sungguh-sungguh. Aku … aku tidak ingin kau mati, bagaimanapun juga, kau harus tetap hidup. Aku yakin kau bisa menghadapi semuanya," kata Dewi Bunga Bwee.
__ADS_1
Suaranya kembali lemah lembut. Tatapan matanya kembali tenang. Kecemasan terlihat jelas di wajah cantiknya.
Melihat kesungguhan dalam ucapan Ling Ling, Cakra Buana hanya bisa menghela nafas dalam-dalam. Meskipun dia percaya, tapi dirinya tidak percaya seratus persen. Pemuda itu hanya percaya sembilan puluh lima persen.
"Baiklah kalau begitu, terimakasih karena kau sudah peduli denganku. Untuk ke depan, apa yang akan kau lakukan selanjutnya?"
"Aku akan membantumu dengan caraku sendiri,"
"Maksudmu, kau bermaksud untuk menolongku dari rencana jahat rekan-rekanmu?"
Sian-Li Bwee Hua mengangguk sambil tersenyum. "Tentu saja, kalau bukan membantu seperti itu, apa lagi?"
"Kau yakin?"
"Sangat yakin,"
"Bagaimana jika pada akhirnya mereka mengetahui tentang rencanamu yang ingin membantuku?" tanya Cakra Buana penasaran.
"Kau tidak perlu mengkhawatirkan hal itu. Kau juga tidak perlu tahu, yang harus kau tahu adalah aku akan tetap membantumu,"
Cakra Buana terdiam. Dia tidak mengerti hal apa di balik ini semua. Meskipun banyak pertanyaan yang muncul dalam benaknya, tapi Pendekar Tanpa Nama memilih untuk diam.
"Baiklah, aku tidak bisa berkata apa-apa lagi kecuali berterimakasih kepadamu,"
Sian-Li Bwee Hua tersenyum lembut. Dia tidak menjawab apapun. Wajahnya langsung mendekat, wajah itu hampir menempel dengan Cakra Buana.
Pemuda itu adalah pemuda yang peka terhadap seorang perempuan. Tidak perlu banyak bertanya lagi, Cakra Buana langsung mencium bibir lalu segera memeluknya.
Pada saat seperti itu, tiba-tiba Sian-li Bwee Hua menarik diri. "Aku harus pergi, suatu saat nanti kita akan bertemu kembali," katanya sambil melemparkan sebuah senyuman.
Setelah berkata seperti itu, wanita cantik tersebut langsung pergi. Sesaat kemudian, Ling Ling sudah tidak nampak lagi. Wanita itu hilang seolah telah ditelan bumi.
__ADS_1
Pendekar Tanpa Nama kembali duduk seorang diri. Dia menghela nafas lagi lalu menenggak guci arak. Entah kejadian apa yang akan segera tiba nantinya. Yang jelas, apapun itu, Cakra Buana telah siap untuk menerima semuanya.