Pendekar Tanpa Nama

Pendekar Tanpa Nama
Satu Hal Yang Sangat Penting


__ADS_3

Di bekas kejadian pertarungan antara Pendekar Tanpa Nama dan Pendekar Pisau Terbang, sekarang telah berdiri kembali beberapa orang asing. Jumlah mereka ada lima orang.


Semuanya memakai jubah ungu gelap. Kerudung mereka tampak kelam. Lebih kelam dari malam, lebih kelam dari sebuah harapan yang sirna.


Mereka berdiri mengelilingi jasad Sun Poan si Pendekar Pisau Terbang. Orang-orang ini berbeda dengan orang-orang sebelumnya yang memakai pakaian serba hitam.


"Tak kusangka, bahkan Sun Poan yang terkenal dengan sambitannya yang tidak pernah meleset sekalipun bisa mampus di tangan pemuda itu," ucap seorang di antara mereka.


"Pemuda itu semakin hari semakin hebat," jawab yang lainnya.


"Benar, sepertinya kita harus turun tangan langsung agar tidak jatuh korban lebih banyak lagi,"


"Kapan kita akan turun tangan?"


"Lebih cepat lebih baik,"


Selesai berkata, lima sosok berjubah ungu gelap itu telah menghilang. Entah kapan mereka pergi. Namun yang jelas, kepergiannya tidak ada yang dapat melihat.


Apakah mereka manusia? Kalau mereka manusia, lantas siapakan lima sosok itu?


Rembulan semakin bergeser ke sebelah barat. Bintang yang tadi banyak bertaburan, sekarang hanya tampak tinggal beberapa buah saja. Di langit tiada awan. Hanya ada beberapa ekor kelelawar saja yang terbang ke sana kemari.


Cakra Buana dan Sian-li Bwee Hua sedang duduk di sebuah kedai arak sederhana. Keduanya duduk saling berhadapan satu sama lain. Di hadapan mereka sudah ada satu guci arak kumplit beserta cawannya.


Beberapa potong daging segar juga ada di sana.


Suasana di restoran sudah sepi sunyi. Tinggal beberapa orang saja yang masih ada di sana. Dan semua yang hadir, merupakan orang-orang dunia persilatan.


Tentu saja, memangnya siapa yang mau keluyuran dini hari begini kecuali orang-orang sungai telaga?


"Apa yang ingin kau bicarakan denganku?" tanya Cakra Buana mengawali obrolan serius dengan wanita cantik itu.


"Terkait pertemuan besar tentang perebutan benda pusaka yang akan segera berlangsung,"


"Bukankah itu rencana kalian?"


"Benar. Oleh sebab itulah aku ingin memberitahumu satu hal paling penting dalam pertemuan nanti,"


"Lanjutkan,"


"Kedua benda pusaka yang akan diperebutkan oleh orang-orang dunia persilatan adalah barang palsu. Semuanya barang tiruan," ujar Sian-li Bwee Hua.

__ADS_1


Pendekar Tanpa Nama terperanjat kaget. Sampai-sampai arak yang sudah masuk ke tenggorokannya hampir keluar lagi. Pemuda itu tersedak sehingga batuk-batuk beberapa kali.


Barang tiruan? Apakah yang dikatakan wanita di hadapannya saat ini dapat dipercaya? Benarkah pusaka yang bakal mereka perebutkan adalah barang palsu? Kalau benar demikian, lantas di mana aslinya?


"Apakah kau tidak bercanda?" tanya Cakra Buana sambil memandangi Sian-li Bwee Hua dengan tatapan penuh selidik.


"Ada saat untuk serius, ada pula saat untuk bercanda,"


"Dan sekarang adalah saat untuk serius,"


"Karena itulah aku tidak bercanda,"


Pendekar Tanpa Nama langsung membungkam mulutnya saat itu juga. Dia tahu, wanita yang menempati urutan ketiga dalam Organisasi Naga Terbang itu tidak berbohong. Ucapannya dapat dipercaya.


Tapi walaupun demikian, pemuda tampan itu tetap merasa sangsi. Bukan karena apa, alasannya tentu karena dia tahu bahwa Sian-li Bwee Hua merupakan bagian dari mereka.


Apapun bisa terjadi tanpa diduga sebelumnya. Di dunia ini, terkadang banyak sekali sesuatu yang terjadi diluar dugaan kita sebelumnya.


"Kalau benar benda pusaka yang akan diperebutkan itu palsu, lantas di mana yang aslinya?"


Dewi Bunga Bwee yang bernama asli Ling Ling itu tidak langsung menjawab pertanyaan Cakra Buana. Wanita itu terdiam beberapa saat lamanya. Dia meneguk arak dalam cawan, kemudian memakan beberapa potong daging segar terlebih dahulu.


Caranya minum arak sangat anggun. Kalau ada pria lain di sana yang melihatnya, sekalipun dia tidak minum arak, pasti pria itu akan tetap mabuk. Memang bukan mabuk arak, tapi mabuk karena melihat wanita itu minum.


"Benda pusaka yang asli ada di suatu tempat yang amat sangat berbahaya," katanya setelah beberapa lama terdiam.


"Di mana tempat itu?" tanya Cakra Buana antusias.


Pemuda itu sangat menginginkan salah satu di antara dua pusaka tersebut. Bagaimanapun caranya, dia harus bisa memilikinya. Halangan apapun bakal dia terjang, tempat di manapun akan dia tuju hanya demi mendapatkan benda itu.


"Aku akan memberitahumu,"


"Lalu kenapa tidak kau katakan secepatnya?" tanya Cakra Buana tidak sabar lagi.


Kalau benar ingin memberitahu, kenapa wanita itu tidak segera langsung menjelaskannya? Cakra Buana amat penasaran, oleh sebab itulah dirinya menanyakan alasan kenapa Ling Ling tidak segera memberitahu.


"Aku akan memberitahumu dengan satu syarat …" ucapnya perlahan.


Dewi Bunga Bwee berkata dengan perlahan. Setiap perkataannya diucapkan dengan penuh penekanan.


"Syarat apa yang kau inginkan? Apapun akan aku lakukan," ucap Pendekar Tanpa Nama.

__ADS_1


"Kau serius?"


"Sangat serius,"


Pemuda tampan itu mengatakan yang sebenarnya. Apapun syarat yang diajukan oleh Ling Ling, selama Cakra Buana mampu, maka dia akan melakukannya.


"Aku akan mengatakan di mana tempat yang sebenarnya asalkan kau tidak memberitahu hal ini kepada siapapun,"


Ucapan Ling Ling barusan membuat Cakra Buana sedikit terkejut. Di balik setiap perkataan seseorang, pasti mengandung maksud tertentu. Dia percaya akan hal ini.


Lalu, maksud apa yang ada di balik perkataan Ling Ling?


"Apakah ucapanmu dapat dipercaya?"


"Nyawaku jadi jaminannya. Jadi kau tidak perlu khawatir," kata Sian-li Bwee Hua meyakinkan Cakra Buana.


"Kalau begitu baiklah. Aku setuju,"


Wanita cantik itu tersenyum lembut. Senyuman kehangatan. Senyuman yang mengandung perasaan kasih dan sayang.


"Aku tahu kau akan menyetujui syarat yang aku ajukan," ucapnya bangga.


Cakra Buana hanya mengangguk perlahan. Dia juga hanya tersenyum simpul sesaat. Selanjutnya pemuda itu memasang wajah serius kembali.


"Katakan di mana tempat yang kau maksudkan?"


"Di makam kuno. Sebelah Utara Gunung Hua Sun,"


"Makam kuno juga banyak. Katakan dengan pasti," pinta Cakra Buana.


"Di sana ada sebuah makam yang paling megah. Makam itu berada dalam sebuah bangunan tua. Di dinding bagian belakang ada pintu rahasia yang menuju ke ruang bawah tanah. Di ruang bawah tanah itulah dua benda pusaka itu sebenarnya," kata Ling Ling menjelaskan.


Cakra Buana tertegun. Pemuda itu tidak tahu jelas tempat yang disebutkan oleh Dewi Bunga Bwee.


"Kalau sudah di sebelah Utara, aku harus menuju ke mana lagi agar sampai ke sana?"


"Dari situ kau hanya tinggal lurus saja. Tapi sebelum ke sana, kau harus ingat bahwa di sekitaran makam itu ada sebuah perkampungan yang dijaga dengan ketat,"


"Perkampungan?"


"Benar. Perkampungan yang paling disegani oleh semua orang-orang dunia persilatan. Pemilik dari perkampungan itu adalah Poh Kuan Tao si Harimau Sakti Tiada Tanding," ujarnya.

__ADS_1


Saat mengatakan nama barusan, Ling Ling seperti menyimpan sebuah perasaan segan yang sulit dijelaskan. Begitu juga dengan Pendekar Tanpa Nama.


__ADS_2