
"Keparat jahanam," geram Poh Kuan Tao sambil menggertak giginya.
Tiga datuk dunia persilatan itu seketika merasa amarahnya sudah naik ke ubun-ubun. Begitu juga dengan para tokoh lainnya yang memang hadir di sana.
Semuanya merasakan hal yang sama. Sekarang sedikit banyaknya mereka percaya atas apa yang disampaikan oleh si Buta Yang Tahu Segalanya.
"Coba kalian pikir kembali semua kejadian besar yang terjadi beberapa waktu belakangan ini, bukankah semuanya terasa sangat ganjil?"
Semua orang kembali terdiam. Mereka sedang merenungkan dan mengingat-ingat semua kejadian besar belakangan ini.
Setelah beberapa saat berpikir, satu persatu dari mereka mulai menghela nafas dalam-dalam. Ternyata apa yang diucapkan oleh si Buta Yang Tahu Segalanya memang benar.
Hampir semua kejadian besar di dunia persilatan terasa ganjil dan bahkan ada beberapa yang tidak masuk akal.
"Suadara Li, kalau benar mereka hanya tujuh orang, lalu bagaimana cara mereka bisa menarik orang-orang dari luar agar bisa menjadi kaki tangannya?" tanya Tian Hoa kembali masih penasaran.
Setiap sesuatu apapun pasti ada alasannya. Termasuk orang-orang yang mau disuruh oleh organisasi rahasia tersebut, itupun sudah tentu ada alasannya.
Tapi apa alasan tersebut? Apakah karena kekuasaan? Ataukah karena alasan lainnya?
"Karena kekuatan dan ancaman. Banyak orang yang mau menjadi kaki tangan mereka alasannya karena orang-orang itu takut dengan kekuatan Organisasi Naga Terbang. Selain itu, mereka juga jeri terhadap ancaman yang diberikan olehnya,"
"Ternyata organisasi itu benar-benar mengerikan," kata Ming Tian Bao sambil menghela nafas dalam-dalam.
"Begitulah,"
Suasana hening untuk yang kesekian kalinya. Semua orang yang hadir di sana tampak kebingungan. Mereka masih belum mengerti jelas tentang segala penjelasan Li Guan si Buta Yang Tahu Segalanya, tapi walaupun demikian, orang-orang tersebut hanya bisa terdiam dan berharap bahwa ucapan pemuda itu tidak terbukti nyata.
Karena kalau benar sampai terbukti, otomatis bencana besar yang sulit dibayangkan bakal segera terjadi.
Li Guan si Buta Yang Tahu Segalanya tiba-tiba tersenyum. Senyuman yang misterius. Senyuman yang mengandung arti tersendiri.
"Bagiku, hanya orang-orang bodoh saja yang mau diperalat oleh mereka," kata pemuda tersebut.
"Benar. Aii, hampir saja dulu aku termakan oleh hasutan mereka," ucap si Iblis Tua Langit Bumi merasa sedikit menyesal.
__ADS_1
Sebelumnya pernah diceritakan bahwa dia beberapa kali hampir termakan berita bohong sehingga dirinya begitu benci dan dendam kepada Pendekar Tanpa Nama. Bahkan beberapa kali pula datuk sesat itu ingin membunuh Pendekar Tanpa Nama.
Sekarang dia menyadari bahwa apa yang dilakukannya tidak beralasan. Semuanya menggantung.
"Menurut kalian, lebih baik tewas sebagai pendekar atau hidup sebagai pengecut yang tiada duanya?" tanya si Buta Yang Tahu Segalanya sambil melirik kepada si Pedang Kelam dan Ruyung Halilintar.
"Dua-duanya tiada yang lebih baik," kata si Pedang Kelam.
"Benar. Tapi menurutku, hidup sebagai pengecut lebih baik dari pada harus mati konyol," sambung si Ruyung Halilintar.
Si Buta Yang Tahu Segalanya hanya mengangguk pelan sambil tetap memandang dua orang tersebut.
Yang dipandang mengerutkan kening. Dia tidak mengerti kenapa pemuda itu menanyakan hal tersebut. Karena kalau dipikir lagi, pertanyaan barusan sangat tidak berhubungan.
"Bagaimana contoh orang pengecut tiada duanya itu?" tanya si Pedang Kelam karena merasa penasaran dengan ucapan Cakra Buana.
"Mereka yang menyamar di antara kerumunan para tokoh. Padahal secara tidak langsung penyamarannya sudah terbongkar, tapi tanpa tahu malunya, mereka masih tetap bersemayam dari balik akal bulusnya itu,"
Wajah Si Pedang Kelam dan si Ruyung Halilintar berubah drastis. Wajah keduanya mendadak terkejut bercampur marah. Siapapun dapat melihat perubahan ekspresi tersebut.
"Kenapa kau memandang kami seperti itu?" tanya si Ruyung Halilintar kepada si Buta Yang Tahu Segalanya, dia tampak tidak terima.
"Karena pengecut tiada duanya yang aku maksudkan adalah kalian berdua," jawab pemuda itu sambil tersenyum sinis.
Semua orang kaget setengah mampus.
"Apa maksudmu?" tanya si Pedang Kelam bengis.
"Jangan berpura-pura bodoh lagi. Penyamaran kalian sudah aku ketahui. Sebenarnya, siapa kalian berdua? Apakah kalian kaki tangan Organisasi Naga Terbang?"
"Bedebah, bagaimana kau bisa menyangka kami seperti itu?" si Ruyung Halilintar tidak terima sekali. Dia adalah orang yang paling mudah tersinggung, tentu saja amarahnya paling cepat naik.
"Karena aku si Buta Yang Tahu Segalanya," jawab Li Guan sambil tersenyum sinis.
"Cuihh!!!" si Pedang Kelam meludah ke pinggir. Rumput yang terkena ludahnua seketika mengepulkan asap putih.
__ADS_1
"Jangan mentang-mentang kau tahu banyak persoalan sehingga membuatmu merasa segalanya hal tahu. Di dunia ini, masih banyak sesuatu yang mungkin tidak kau ketahui," jengek orang berwajah bengis itu.
"Memang benar, tapi terkait penyamaran kalian, aku jelas sudah mengetahuinya,"
"Sebutkan alasannya,"
"Pertama, bedak kalian mulai luntur. Aku yakin kalian kaki tangan Organisasi Naga Terbang. Kenapa aku berkata demikian? Alasannya karena aku bisa melihat jelas perubahan raut wajah kalian berdua pada saat aku membicarakan organisasi rahasia itu. Selain itu, di dada bagian kiri kalian terdapat sebuah tanda seekor naga hitam. Di balik saku baju kalian pun ada lencana bergambar seekor naga,"
Semua orang semakin tersentak. Mereka mulai waspada terkait apa yang mungkin bakal terjadi. Setiap tokoh sudah memegang senjatanya masing-masing. Mereka siap melancarkan serangan kapan saja.
Wushh!!!
Si Buta Yang Tahu Segalanya tiba-tiba bergerak. Satu kedipan mata kemudian, pemuda tersebut kembali lagi ke tempatnya semula.
"Sekarang kalian percaya bahwa perkataanku benar?" tanyanya kepada semua orang yang ada di sana, tapi wajahnya tetap memandang ke arah si Pedang Kelam dan si Ruyung Halilintar.
Pada saat dia berkata demikian, tangan kanannya di angkat ke atas sambil memperhatikan dua buah lencana. Lencana berwarna perak dengan gambar naga terbang.
Selain hal tersebut, sekarang semua tokoh pun dapat melihat bahwa di dada bagian kiri si Pedang Kelam dan si Ruyung Halilintar ada tanda yang hampir sama dengan lencana tadi.
Entah bagaimana caranya si Buta Yang Tahu Segalanya dapat melihat dan membongkar hal tersebut. Yang pasti, sekarang semuanya sudah terlihat dengan jelas.
Siapapun bisa mengetahuinya.
Ternyata dua orang pemimpin barisan itu memang benar merupakan kaki tangan Organisasi Naga Terbang.
Para tokoh segera mengurung keduanya. Bahkan mereka pun mengurung orang-orang yang ada di belakang dua pemimpin tersebut.
"Sekarang kalian tidak dapat menyangkalnya lagi bukan?" si Buta Segalanya tersenyum penuh kemenangan.
"Bag …" belum sempat si Pedang Kelam menyelesaikan ucapannya, Li Guan telah memotongnya lebih dulu.
"Jangan menanyakan bagaimana aku bisa tahu. Karena meskipun kau bertanya seribu kali, aku akan tetap memberikan jawaban yang sama,"
Si Pedang Kelam dan si Ruyung Halilintar membungkam mulut mereka. Keduanya hanya mendelik ke arah pemuda serba putih itu.
__ADS_1