
Cakra Buana terlempar sejauh lima tombak. Hantaman tapak yang secara mendadak itu sungguh dahsyat. Seumur hidupnya, dia baru merasakan hantaman sedahsyat ini.
Dan yang membuatnya aneh adalah Cakra Buana sama sekali tidak merasakan adanya kekuatan besar. Bahkan firasat buruk pun tidak ada.
Oleh sebab itulah dia percaya kepada Tian Hoa. Sama sekali tidak menaruh curiga. Sebab dia sendiri melihat bahwa kakek tua itu memang ramah dan mudah di ajak bersahabat.
Tak nyana, sekarang dia baru menyadari semuanya. Ternyata dia lagi-lagi terkena jebakan oleh jeratan musuh.
Sebelumnya kakek tua itu sudah memperingatkan kepada dirinya. Ucapannya bahkan masih teringat jelas di kepala. Tak disangka justru ucapan itu merupakan peringatan sebelum dia melancarkan aksinya.
Cakra Buana masih dalam keadaan tersungkur. Tubuhnya benar-benar tidak bertenaga seperti kapas yang dimasukan ke air. Seluruh tenaga dalam lenyap tanpa jejak. Hawa panas menjalar ke seluruh tubuh.
Dia tahu bahwa hantaman tadi tidak mengandung racun. Hanya saja, hantaman tadi jelas mengandung kekuatan yang aneh dan mengerikan.
Wajah Cakra Buana pucat pasi seperti mayat. Beberapa saat kemudian, dia tidak sadarkan diri.
Tian Hoa tertawa. Suara tawanya menggema ke seluruh hutan. Dia melompat ke atas goa lalu mendorong batu besar di atasnya. Begitu batu terjatuh ke depan mulut goa, dia langsung memukulnya hingga batu tersebut menutupi seluruh mulut goa.
Cakra Buana dipastikan tidak akan bisa keluar. Lagi pula, mau keluar bagaimana? Tenaga dalam dia sudah lenyap sama sekali.
Tian Hoa menghabiskan arak kembali. Dia amat senang. Ternyata tipu dayanya berhasil. Pemuda itu benar-benar bodoh kenapa bisa begitu percaya kepada orang asing.
Tian Hoa.
Dia adalah salah satu datuk sesat dari Selatan. Namanya sangat ditakuti baik oleh golongan putih maupun golongan hitam. Ketenaran namanya jangan ditanyakan lagi. Seluruh dunia persilatan Tionggoan pasti kenal kepadanya.
Namanya memang Tian Hoa. Saat memperkenalkan kepada Cakra Buana juga dengan nama yang sama.
Namanya memang tidak seram. Tapi jukulannya itulah yang menyeramkan.
Dia dijuluki Iblis Tua Langit Bumi.
Kalau dia sudah berbuat sesuatu, pasti tidak akan mengecewakan orang. Dia ingin membunuh, pasti targetanya tidak akan selamat.
Datuk dari tiga penjuru lainnya sendiri sangat segan kepadanya. Bahkan Huang Yang Qing sendiri yang merupakan datuk Barat, juga merasa segan. Dia terkenal dengan jurus hantaman tangannya yang tiada banding.
Konon katanya kalau dia marah lalu menghantam bukit, maka bukit itu bisa bergetar hebat saking tingginya ilmu yang dia kuasai.
Kakek tua itu memang sengaja mencari Cakra Buana untuk membalaskan dendam temannya. Beberapa waktu lalu Tujuh Perampok Berhati Kejam memberikan laporan bahwa salah satu saudara mereka tewas oleh seorang pemuda bernama Cakra Buana.
Karena itulah dia mencarinya. Selain hal tersebut, dia juga mendapatkan berita bahwa pemuda asing itu bisa menjadi ancaman bagi golongan yang sama dengannya.
Karena itulah dia turun tangan sendiri sambil mencoba ilmu barunya yang bernama Tapak Iblis Langit Bumi Merenggut Nyawa.
Dia yakin pemuda itu akan tewas karena ilmunya. Tidak ada yang dia ambil. Baik itu pedang pusaka maupun kitab pusaka, dia sengaja. Toh orangnya juga sudah mati. Sedangkan bagi dia sendiri, pusaka-pusaka itu tidak berarti apa-apa.
Jurus Tapak Iblis Langit Bumi Merenggut Nyawa memang dahsyat. Mungkin datuk rimba hijau sekalipun belum tentu mampu menahannya secara sempurna. Apalagi seorang pemuda bernama Cakra Buana yang bukan datuk dunia persilatan?
__ADS_1
Sudah pasti tak akan ada harapan untuk selamat.
Dia tertawa kembali. Burung-burung yang hinggap di dahan pohon berterbangan karena merasa takut dengan suara tawa itu.
Mendadak muncul enam orang di hadapannya.
Dia adalah Tujuh Perampok Berhati Kejam.
"Bagaimana Tuan?" tanya Oh Kay Tin yang merupakan pemimpin pertama dalam kelompok tersebut.
"Kau masih meragukan Iblis Tua Langit Bumi?"
"Tidak, maksudku bukan itu. Hanya sekedar memastikan saja, jadi pemuda itu sudah benar-benar tewas?" tanyanya.
"Kau pikir ada orang yang bertahan dari jurus Tapak Iblis Langit Bumi merenggut Nyawa?" Tian Hoa memandangnya dengan tatapan setajam pisau.
Bergetar hati Oh Kay Tin, katanya "Syukurlah kalau dia telah tewas. Dendam adik ketiga akhirnya terbalaskan,"
"Hahaha, kau jangan sungkan-sungkan. Jangan lupa, jatah bulan depan harus beberapa kali lipat,"
"Terimakasih Tuan Hoa. Masalah itu kau jangan khawatir. Semuanya sudah aku persiapkan,"
"Bagus. Kalau begitu aku pergi dulu,"
Tian Hoa si Iblis Tua Langit Bumi segera pergi. Tujuh Perampok Berhati Kejam juga pergi.
Di dalam goa, Cakra Buana sudah terkapar selama tujuh hari tujuh malam. Dia seperti orang mati. Tidak bergerak sama sekali.
Di alam bawah sadarnya dia merasa sangat gelap. Tapi mendadak dari gelap itu menjadi terang benderang.
"Bangun Cakra. Kau belum saatnya untuk mati sekarang,"
Cakra Buana langsung bangun. Sekelilingnya tidak ada siapa-siapa. Dia seperti di alam lain.
"Tuan siapa?"
"Kau tidak perlu tahu siapa aku. Yang jelas aku akan menyelamatkanmu. Duduklah bersila,"
Cakra Buana mengikutinya.
"Pejamkan magamu,"
Dia juga menurut.
Sebuah tenaga dahsyat memasuki tubuhnya dari arah belakang. Dia langsung muntah darah kehitaman. Proses itu cukup lama, singkatnya sudah selesai.
"Buka matamu dan berdiri,"
__ADS_1
Cakra Buana membuka mata lalu berdiri seperti yang diperintahkan suara tersebut.
"Bagus. Kau berhasil,"
"Berhasil apa Tuan?"
"Kau berhasil meleburkan seluruh ajian yang kau miliki saat awal mula pengembaraan. Sekarang semua ajianmu telah musnah. Yang tersisa hanyalah warisan Pendekar Tanpa Nama,"
"Kenapa bisa begitu? Lalu kemana ajian warisan dari guru-guruku sebelumnya?"
"Telah aku leburkan menjadi dua jurus,"
"Jurus apa yang Tuan maksud?"
"Jurus Tanpa Bentuk dan Jurus Tanpa Nama,"
"Apa maksudnya?"
"Kau akan tahu sendiri. Semua ilmu berasal dari intisari. Dan aku telah membuka wawasanmu untuk menemukan intisarinya sehingga terciptalah dua jurus tersebut. Kau tidak perlu bertanya. Sebab nanti kau akan tahu sendiri,"
"Aku belum mengerti,"
"Kau akan mengerti nanti. Tapi masih ada satu syarat untuk menyempurnakan dua jurus itu. Kalau kau berhasil, di manapun kau bisa menjadi nomor satu. Tinggal menambah pengalaman saja,"
"Syarat apa yang Tuan Maksudkan?"
"Kau harus mencari ginseng seribu tahun. Kau harus minum air rebusan ginseng itu untuk menyempurnakan tenaga dalam yang kau miliki. Setelah itu baru kau bisa menunaikan semua tugasmu,"
"Di mana aku bisa menemukannya?"
"Kau akan tahu sendiri nanti,"
"Sekarang kau boleh pulang. Bangunlah, dunia persilatan butuh uluran tanganmu,"
"Tapi, siapa nama Tuan?"
"Kau sungguh ingin mengetahui namaku?"
"Tentu saja,"
"Kau sebut saja aku Bambang Sukma Saketi,"
Perlahan cahaya putih mulai redup. Beberapa tombak di depan Cakra Buana, terlihat ada seorang pria tua berwajah tampan. Semua yang ada pada dirinya, ada pada diri Cakra Buana.
Penampilan dan wajahnya benar-benar mirip.
"Ayah …" Cakra Buana menahan air matanya. Dia langsung lari menuju ke arah pria tua tersebut yang memang merupakan ayahnya.
__ADS_1