
Tentu saja keponakannya, Cakra Buana. Kalau bukan dia, memangnya siapa lagi?
Sudah hampir dua tahun dia tidak bertemu dengannya. Semenjak kepergiannya dulu yang berkata ingin mengembara kembali sambil melupakan kekasihnya yang telah tiada, yaitu Ling Zhi, sejak saat itulah Ratu Ayu tidak pernah mendengar lagi kabar tentangnya.
Apa kabar dia sekarang? Apakah Cakra Buana baik-baik saja? Bagaimana keadaannya sekarang? Hidup serba berkecukupan? Atau serba kekurangan? Sudah menikah, atau belum?
Berbagai macam pertanyaan seperti itu mendadak muncul di benaknya. Semakin dia mendengarkan irama seruling yang merdu itu, semakin mendalam juga rasa rindunya. Tak terasa air matanya mengembang ingin jatuh. Namun sebisa mungkin wanita agung itu menahannya.
Ling Ling adalah wanita yang mengerti tentang ilmu gerak tubuh. Artinya, dia bisa menebak apa yang sedang dirasakan oleh seseorang hanya lewat gerakan tubuhnya saja. Sebagai contoh, dia bisa tahu apakah seseorang sedang berbohong atau tidak.
Seperti sekarang ini, dia mengetahui pula kalau Ratu Ayu sedang merindukan seseorang. Karena rasa penasarannya, tak tahan lagi dia segera mengajukan tanya kepadanya.
"Ratu maaf, apakah Ratu sedang merindukan seseorang?" tanyanya sambil menatap penuh selidik.
Ratu Ayu sedikit tersentak, dia tidak menyangka kalau gadis cantik di hadapannya itu bisa menebak apa yang sedang dirasakan olehnya saat ini.
"Bagaimana kau bisa tahu?" tanyanya mengerutkan kening sambil melirik kepada Ling Ling.
"Karena wajah Ratu sendiri yang mengatakannya. Di sisi lain, Ratu juga tampak gelisah. Apalagi setelah sekian lama mendengarkan irama seruling di kejauhan sana,"
Dia tidak bisa menampik lagi. Sebab Dewi Bercadar Merah secara tidak langsung sudah membongkar keadaan dirinya saat ini.
"Aku memang sedang merindukan seseorang. Seorang keluarga yang sudah lama tidak berjumpa," katanya sambil menghela nafas.
"Kalau boleh tahu, siapakah nama keluarga Ratu itu?"
"Dia adalah Keponakanku. Namanya Cakra Buana, sudah cukup lama sekali dia pergi. Tapi aku sendiri belum pernah mendengar kabar tentangnya. Entah sekarang dia berada di mana, sehat atau tidak, aku benar-benar tidak tahu," ujarnya semakin merasa sedih.
__ADS_1
Kerinduan bisa datang kepada siapa saja dan kapan saja. Kerinduan tidak mengenal waktu, tempat atau sebagainya. Kerinduan bisa melanda kepada setiap manusia yang hidup di alam mayapada.
Sementara itu, Dewi Bercadar Merah benar-benar terkejut. Kagetnya bukan main. Kasarnya, hampir saja jantung gadis itu jatuh karena mendengar cerita Ratu Ayu. Yang dia kagetkan bukan karena perasaan rindunya, melainkan karena nama orang yang dia rindukan itu.
Cakra Buana? Bukankah dia saat ini sedang bersamanya? Malah sedang duduk di hadapannya.
Tapi kenapa dia tidak mengetahuinya? Kenapa pula kekasihnya tidak memberitahukan namanya kepada Ratu Ayu? Apa yang sebenarnya sedang terjadi di antara mereka?
Sekarang giliran Ling Ling yang dihujani oleh berbagai macam pertanyaan di hatinya. Gadis itu benar-benar tidak mengerti tentang semua ini.
Semula Sian-li Bwee Hua mengira kalau dia sudah mengetahui semua rahasia Pendekar Tanpa Nama. Tak nyana, baru sekarang dia menyadari jika dirinya hanya tahu sedikit tentang kekasihnya.
Apakah setiap orang selalu menyimpan suatu rahasia yang hanya diketahui oleh dirinya sendiri?
Berbarengan dengan hal itu, Cakra Buana tiba-tiba memberikan isyarat agar dirinya tetap diam dan tidak banyak bicara.
Wajahnya amat serius. Sepasang matanya mengandung makna dalam yang tidak bisa dia ketahui oleh siapapun. Melihat keseriusan Pendekar Tanpa Nama itu, pada akhirnya Sian-li Bwee Hua mengerti. Dia mengangguk lalu diam. Beribu pertanyaan tadi, untuk sementara ini hanya bisa dia pendam dalam benaknya.
Hal ini bukan hanya harapan, melainkan sebuah kenyataan.
"Aii, hamba juga pernah berada di posisi seperti yang Ratu rasakan sekarang. Memang rasanya sungguh sangat menyiksa batin. Hamba hanya bisa berdoa kalau Ratu bisa segera berjumpa dengan Keponakan bernama Cakra Buana itu," ucap Dewi Bercadar Merah setelah berpikir beberapa saat.
"Akupun berharap demikian. Sungguh, aku ingin sekali berjumpa dengannya. Ada banyak hal yang ingin aku beritahukan kepadanya," kata sang Ratu yang terlihat murung itu.
"Ya … semoga saja," jawab Cakra Buana ikut nimbrung.
Dalam hatinya, dia pun merasa bersalah karena tidak bicara siapakah dirinya sebenarnya. Namun bagaimanapun juga, Cakra Buana tetap harus merahasiakan jati dirinya untuk beberapa waktu. Sebab kalau tidak begitu, maka semuanya bisa gagal total.
__ADS_1
Semua rencana yang telah disusun sempurna, bisa runtuh di tengah jalan.
"Ratu, sebelumnya maaf kalau aku lancang, tapi bisakah Ratu kami ajak bekerja sama untuk membongkar rahasia di balik semua kejadian ini?" tanya Pendekar Tanpa Nama setelah diam sebentar.
Sekarang adalah waktunya untuk serius. Oleh sebab itulah dia tidak mau terlalu larut dalam kesedihannya. Membongkar rahasia besar di balik semua peristiwa jauh lebih penting daripada terperangkap dalam keterpurukan.
"Baik, aku bersedia bergabung bersama kalian. Aku tahu niat kalian semua sebenarnya baik, sekarang aku benar-benar mengerti bahwasanya apa yang dilakukan oleh kalian semua, sebenarnya bertujuan demi Tanah Pasundan kita ini,"
Ratu Ayu adalah seorang wanita cerdas. Oleh sebab itulah dia langsung mengerti meskipun kedua muda-mudi di hadapannya saat ini belum menjelaskan lebih lanjut.
"Terimakasih banyak Ratu. Kalau begitu, sekarang kita mempunyai tujuan yang sama," ujar Pendekar Tanpa Nama.
"Ya, benar. Mulai sekarang aku adalah orang-orang kalian,"
"Nanti jika sudah tiba di Kerajaan dan bergabung bersama Sepasang Kakek dan Nenek Sakti serta Dewi Bercadar Biru, kita akan bicarakan hal ini lebih lanjut lagi,"
"Baik. Aku sudah mengerti akan hal itu,"
Cakra Buana dan Ling Ling mengangguk. Hati kedua pendekar muda itu dilanda perasaan bahagia yang tiada terkira. Sungguh, keduanya tidak pernah menyangka kalau Ratu Ayu bakal bergabung dengan pihaknya secara sukarela seperti barusan.
"Kita akan berangkat sekarang. Hamba akan berjaga-jaga di sini, silahkan Ratu dan Dewi Bercadar Merah istirahat saja," kata Cakra Buana kembali buka suara.
"Kita berada di jalan yang sama. Oleh sebab itulah kita akan berjaga bersama. Ah iya, jangan bicara hamba lagi. Bicara saja sewajarnya, sebenarnya aku tidak terlalu suka jika ada orang yang bicara hamba segala macam," ucap Ratu Ayu dengan serius.
Meskipun merasa tidak enak, tapi mau tidak mau Pendekar Tanpa Nama dan Dewi Bercadar Merah mengangguk juga. Di hadapan seorang Ratu, keduanya tidak berani membantah. Selama menurut mereka benar dan wajar, maka keduanya pasti akan menurut.
"Kami mengerti …" jawabnya serempak.
__ADS_1
Waktu terus berjalan secara perlahan. Matahari yang tadi menyinari bumi dengan terik, sekarang telah menghilang dan digantikan dengan rembulan yang bersinar terang.
Malam ini cuaca cerah. Bintang bertaburan di cakrawala. Tiada awan sedikitpun sehingga sinar sang Dewi Malam begitu menerangi alam mayapada.