Pendekar Tanpa Nama

Pendekar Tanpa Nama
Menunggu


__ADS_3

Cakra Buana terbungkam. Semua keterangan Tuan Santeno benar-benar diluar dugaannya. Dia tidak pernah menyangka kalau Sri Ningsih, gadis cantik jelita yang mempunyai bodi seperti gitar Spanyol itu, ternyata akan menjadi seorang tersangka dalam kejadian yang menyangkut mendiang sahabatnya.


Meskipun pemuda itu ingin membantah, sayangnya dia tidak tahu harus berkata apa. Lagi pula, tidak ada alasan kuat baginya untuk membela.


Tuan Santeno wajar kalau mencurigai Sri Ningsih sebagai pelaku yang melemparkan jarum bambu runcing kepadanya, sebab pada saat itu dia memang hanya melihat dirinya seorang. Tidak terlihat lagi ada manusia lain selain gadis cantik itu.


Kalau kau berada di posisi Tuan Santeno, bukankah kau juga akan melakukan hal yang sama?


"Lantas begitu dia menyadari kalau Paman melihatnya, apa yang dia lakukan?"


"Dia langsung gelagapan. Ingin pergi tapi tidak bisa. Sebab pada saat itu, Paman sudah berada di hadapannya,"


###


Waktu itu, ketika Tuan Santeno tiba di hadapan Sri Ningsih, gadis jelita itu seketika gelagapan. Dia tidak tahu apa yang harus dilakukan olehnya pada saat kejadian. Ingin pergi tidak mungkin, ingin diam, hal itu membuat dirinya serba salah.


"Apa yang sedang kau lakukan di sini?" tanya Tuan Santeno pada waktu itu.


Orang tua itu sedikit membentak. Kalau orang lain ada di sana, jelas dia akan tahu kalau guru besar itu sedang marah besar.


"A-aku hanya sedang memandangi hujan Guru," jawab Sri Ningsih semakin gugup karena melihat sikap Tuan Santeno kepadanya.


"Pergi dari hadapanku sekarang juga," bentaknya.


Tanpa banyak bicara lagi, Sri Ningsih langsung berlari pergi. Larinya amat ketakutan. Persis seperti seorang maling yang sedang dikejar oleh warga.


###


"Jadi, Paman sangat yakin orang yang melemparkan jarum bambu kuning itu adalah Sri Ningsih?" tanya Cakra Buana menegaskan kembali.


"Tidak salah,"


"Kalau begitu, kenapa pada saat itu Paman tidak langsung membunuhnya saja?" tanyanya keheranan.


"Aku tidak punya bukti yang kuat. Bagaimanapun juga, aku adalah tokoh dunia persilatan. Sudah tentu Paman tidak bisa asal bertindak. Mending kalau tuduhan itu benar, kalau salah, bagaimana? Bisa tambah runyam urusannya," katanya.

__ADS_1


Cakra Buana tidak bisa mengalahkan pamannya, kalau dia berada di posisi Tuan Santeno, mungkin dirinya juga akan melakukan hal serupa.


"Kalau begitu, sekarang ada di mana gadis itu?"


"Dia sudah pergi,"


"Pergi?" tanya Cakra Buana sedikit berteriak.


"Benar, dia pergi. Entah ke mana perginya, sebab sampai sekarang tiada orang yang tahu,"


"Kapan dia pergi?"


"Setelah kejadian hilangnya Pedang Merah Darah milik Pendekar Pedang Kesetanan,"


Cakra Buana terpaku. Saat ini dia tidak tahu apa yang harus dilakukan olehnya.


"Kalau begitu, sembilan puluh delapan persen benar bahwa dia lah pelakunya," desis pemuda itu akhirnya mengakui.


"Dua persennya hilang ke mana?"


"Yang dua persen itu berupa kemungkinan. Kemungkinan benar, kemungkin salah," jawab Cakra Buana dengan tenang.


"Sepertinya masalah ini tidak segampang yang aku kira. Kemungkinan besar dalang di balik semua peristiwa yang terjadi di Tanah Jawa dan Tanah Pasundan merupakan orang yang sama. Kalau tidak, minimal merupakan orang yang mempunyai hubungan sangat erat," ujar Cakra Buana.


Memang benar, kemungkinan di atas sangat bisa terjadi dan sangat masuk akal. Sebab salah satu pelakunya merupakan orang yang masih sama.


Lantas yang menjadi pertanyaannya sekarang adalah siapakah dalang itu? Apakah misteri ini akan dapat dibongkar?


###


Tiga hari telah berlalu kembali. Pendekar Tanpa Nama dan dua orang kekasihnya sudah menghabiskan waktu di Perguruan Tunggal Sadewo. Kedua gadis cantik itu sangat menikmati hidup di tempat itu.


Alamnya indah. Pegunungan hijau nan subur berdiri kokoh, sejauh mata memandang, terlihat dengan jelas hamparan samudera biru dan hijau. Persis seperti hamparan permadani dalam dongeng.


Udaranya amat sejuk. Orang-orangnya ramah, manusia mana yang tidak akan betah kika disuguhkan dengan keindahan alam seperti itu?

__ADS_1


Jangankan orang lain, mungkin kalau kau di sana sekalipun, pasti akan merasakan hal serupa.


Waktu menunjukkan pagi hari. Pendekar Tanpa Nama bersama dua orang kekasihnya dan Tuan Santeno Tanuwijaya sedang duduk di pendopo tempat orang rua itu bersantai.


Pendopo ini terletak di belakang perguruan. Di depan sana ada pegunungan, di sekelilingnya banyak pepohon yang tumbuh dengan subur. Pendopo itupun dikelilingi dengan taman bunga yang indah menawan.


Bau harum menusuk hidung. Kupu-kupu dan kumbang terbang menghampiri bunga yang sedang mekar. Burung-burung berdecit nyaring.


Di hadapan mereka ada sebuah meja. Di atasnya terdapat beberapa macam menu sarapan pagi. Beberapa cangkir itu terisi teh hangat.


Mereka berempat bukan hanya sedang bicara atau menikmati susana pagi, orang-orang itu sebenarnya sedang menunggu seseorang.


Seseorang yang sangat dinantikan kehadirannya oleh Pendekar Tanpa Nama.


Ya, mereka sedang menanti Raja Tombak Emas dari Utara. Kabarnya, orang tua itu akan datang hari ini sebelum matahari berada di atas kepala.


Kemarin, seorang murid sudah mengirimkan surat kepadanya kalau Pendekar Tanpa Nama sudah berada di Perguruan Tunggal Sadewo. Surat itu langsung diterima olehnya dengan senang hati.


Bukan hanya Cakra Buana dan yang lainnya saja, bahkan kakek tua itu sendiri juga sama menantikan saat-saat seperti ini.


Dia sudah memimpikan duel yang sebentar lagi akan dilangsungkan di Perguruan Tunggal Sadewo tersebut.


"Apakah Raja Tombak Emas dari Utara akan datang?" tanya Sian-li Bwee Hua. Dia belum tahu siapakah sebenarnya kakek tua itu. Yang dia tahu hanyalah bahwa kekasihnya akan berduel.


"Pasti datang. Apapun yang terjadi dengannya, dia pasti akan datang. Sebab aku yakin kalau Raja Tombak Emas dari Utara bukanlah orang yang ingkar janji. Setiap apa yang dikatakan, pasti dia berani mempertanggungjawabkan," jawab Tuan Santeno dengan penuh keyakinan.


"Benarkah? Bagaimana kalau seandainya dia mati?"


"Pasti akan ada orang yang datang kemari membawa jenazahnya. Sebab dia seorang pendekar sejati. Pendekar sejati tidak akan ingkar janji. Selamanya tidak akan pernah," kali ini giliran Cakra Buana yang menjawabnya.


Pada saat dia bicara demikian, wajahnya memancarkan suatu kekaguman tersendiri. Sorot matanya menampilkan betapa dirinya menghormati orang tua itu.


Bahkan pada saat dia bicara, setiap perkataannya bukanlah sebuah omongan kosong. Dia bicara dari hati. Siapapun tahu kalau hati adalah tempat kejujuran.


"Kalau begitu, aku juga percaya," ujar Sian-li Bwee Hua.

__ADS_1


Kalau dua orang tokoh dunia persilatan sudah bicara dengan makna yang sama, bagaimana mungkin dia tidak akan percaya?


Diam-diam gadis cantik itu merasa penasaran juga dengan sosok Raja Tombak Emas dari Utara. Keinginannya saat ini, Sian-li Bwee Hua berharap kalau kakek tua itu secepatnya bisa datang di Perguruan Tunggal Sadewo.


__ADS_2