
Mendengar ada suara orang lain yang bicara kepadanya, si orang tua bertubuh kurus kering itu langsung berhenti dalam latihan pedangnya.
Dia membalikkan tubuhnya dengan perlahan. Gerakannya dilakukan sangat lambat. Sekilas, orang tua itu tidak tampak seperti seorang pendekar pedang. Dia justru lebih mirip seperti seorang petani tua yang sedang menyepi dari ramainya kehidupan dunia.
Kakek tua tersebut berjalan beberapa langkah ke depan. Langkahnya juga terlihat berat. Seolah di pundak orang tua itu ada sebuah gunung yang menindihnya.
"Siapa kau?" bukannya menjawab, kakek tua tersebut malah balik bertanya kepada Cakra Buana.
Suaranya pelan. Dia terlihat seperti tidak berminat untuk bicara dengan siapapun.
"Aku bertanya kepadamu, kenapa kau malah bertanya balik kepadaku?" Pendekar Tanpa Nama seperti tidak merasa puas dengan apa yang dilakukan oleh si kakek tua tersebut.
Siapapun mungkin akan merasakan kekesalan yang sama apabila saat dirinya bertanya, orang yang ditanya justru malah bertanya balik.
Orang tua tersebut tersenyum. Senyuman itu masih menjadi tanda tanya. Apakah itu senyuman dingin? Ataukah itu senyuman hangat?
Cakra Buana tidak bisa memastikan. Sebab dia sendiri baru melihat senyuman seperti itu.
"Saat kau bertamu kepada rumah orang lain, apa yang kau lakukan terlebih dahulu?" tanya orang tua tersebut.
"Tentu saja memperkenalkan diri," jawab Cakra Buana dengan cepat.
"Lalu, kenapa sekarang kau tidak memperkenalkan diri? Padahal sudah jelas bahwa saat ini kau sedang berada di wilayahku, di rumahku," tegas orang tua tersebut.
Meskipun suaranya masih pelan, tapi sekarang suara itu terdengar lebih jelas dari pada sebelumnya.
Pendekar Tanpa Nama tertawa konyol. Sekarang dia baru mengerti maksud dari orang tua tersebut.
"Kau benar, aku telah keliru, maaf. Perkenalkan, namaku Cakra Buana," ujarnya memperkenalkan diri.
Meskipun pemuda itu sudah terkenal sebagai pendekar pilih tanding, terkenal sebagai orang yang disejajarkan dengan tokoh kelas atas, tetapi Cakra Buana tidak malu untuk meminta maaf jika memang dirinya salah.
Bukankah orang yang hebat adalah dia yang dapat meminta maaf karena mengakui kesalahannya sendiri?
Banyak orang di dunia ini yang tidak mau mengaku dan tidak mau meminta maaf meskipun dirinya sudah jelas melakukan kesalahan.
Entah bagaimana jalan pikiran orang tersebut. Namun yang pasti, suatu saat kau akan bertemu dengan tipe manusia seperti itu. Bahkan bukan tidak mungkin jika kau sendiri termasuk di dalamnya.
"Cakra Buana … kaukah si Pendekar Tanpa Nama dari Tanah Pasundan?" tanya si orang tua lebih lanjut lagi.
"Benar, begitulah orang-orang mengenalku,"
Orang tua itu menganggukkan kepalanya beberapa kali. Dia menatap kembali wajah Cakra Buana yang tampan dan rupawan itu.
"Apa tujuanmu datang kemari?"
__ADS_1
"Aku sedang mencarimu,"
"Kau mencariku?"
"Benar,"
"Kenapa?"
Cakra Buana menghela nafas sebelum dia menjawab pertanyaan tersebut. Sekalipun kemampuannya sudah hampir mencapai tahap sempurna, tapi bagaimanapun juga dia harus tetap berhati-hati.
Apalagi orang yang sebentar lagi akan dia hadapi bukan orang biasa. Orang itu adalah tokoh kelas atas. Semua orang persilatan pasti mengenal dirinya.
Karena itulah Pendekar Tanpa Nama menarik nafas untuk sekedar mengumpulkan segenap keberanian dalam dirinya.
"Aku ingin membalaskan dendam kematian guruku," tegas Cakra Buana. Suaranya sedikit ditekan, amarah mendadak berkobar dalam dadanya.
Orang tua itu mengerutkan keningnya. Dia masih belum mengerti maksud Cakra Buana sebenarnya.
"Siapa gurumu?"
"Pendekar Tanpa Nama,"
Tiba-tiba dia menatap tajam Cakra Buana. Tatapan matanya sangat berbeda dengan sebelumnya.
"Jadi kau menggunakan julukan gurumu sendiri?"
"Benar,"
Cakra Buana tidak memberikan reaksi apapun. Dia hanya tetap berdiri sambil terus memandangi tubuh tua renta yang kurus kering itu.
"Terimakasih. Jadi, apakah benar bahwa kau itu Pendekar Pedang Tanpa Bayangan?" tanya Cakra Buana memastikan kembali.
Dalam hal membalas dendam, pemuda itu tidak mau melakukan kesalahan apapun. Dia tidak ingin membunuh manusia yang tidak tahu apa-apa. Karena alasan tersebut, maka Cakra Buana harus memastikan terlebih dahulu apakah orang itu sosok yang sedang dicari atau bukan.
"Kalau benar, apakah kau tetap akan membalas dendam?"
"Tentu saja. Kenapa tidak?"
"Tapi kau belum mampu untuk membunuhku,"
"Jika belum mencoba, bagaimana bisa berkata seperti itu?"
"Kalau begitu, cobalah," kata orang tua tersebut yang memang merupakan Pendekar Pedang Tanpa Bayangan.
Angin berhembus lirih membawa hawa yang dingin. Pohon-pohon seperti menari karena tertiup angin malam.
__ADS_1
Suara lolongan anjing dan lolongan serigala terdengar saling sahut. Suara jangkrik di semak-semak memecahkan keheningan di tempat tersebut.
Wushh!!!
Pendekar Tanpa Nama bergerak lebih dulu. Gerakannya sangat cepat dan dahsyat. Serangan pertama datang seperti air bah yang menerjang batu besar.
Jika lawannya orang lain, mustahil bisa menahan serangannya. Untung bahwa yang menjadi lawannya adalah Pendekar Pedang Tanpa Bayangan.
Seorang tokoh tua dunia persilatan yang namanya sudah terkenal ke seluruh penjuru muka bumi.
Trangg!!!
Pedang yang sudah digenggam sejak tadi mendadak diangkat. Pedang itu dengan tepat menangkis serangan pertama Pendekar Tanpa Nama.
Pendekar Pedang Tanpa Bayangan tersenyum hangat.
Sebagai tokoh tua yang jarang menemukan tandingan dalam permainan pedang, sudah pasti dia akan merasa senang jika pada akhirnya bertemu dengan lawan yang setimpal.
"Jurus pedang yang bagus. Sekarang aku percaya bahwa kau memang murid Pendekar Tanpa Nama. Aku yakin kau tidak berbohong," katanya dengan santai.
Seolah dia tidak sedang melakukan hal apapun. Padahal pada saat itu, dirinya sedang menahan gerakan pedang Pendekar Tanpa Nama.
"Memang jurus bagus. Aku tidak pernah berbohong," jawab Cakra Buana.
Selesai dia berkata demikian, serangan berikutnya telah dilancarkan lagi.
Pedang Naga dan Harimau bergerak lebih cepat. Pedang itu menebas dengan dahsyat ke arah leher.
Serangan pemuda itu membawa maut. Tapi Pendekar Pedang Tanpa Bayangan masih terlihat sangat santai.
Trangg!!!
Kejadian mengejutkan kembali terjadi. Entah bagaimana caranya, Pendekar Pedang Tanpa Bayangan lagi-lagi mampu menangkis serangan Cakra Buana.
Wushh!!!
Angin kencang berhembus. Kedua pendekar pedang pilih tanding itu masing-masing terdorong beberapa langkah ke belakang.
Cakra Buana selalu siap siaga. Tapi kali ini dia harus mengalami suatu kejadian yang belum pernah dia alami sebelumnya.
Tiba-tiba saja ada sinar hitam yang menerjang dengan sangat-sangat cepat. Saking cepatnya hingga tidak bisa dilukiskan dengan kata-kata.
Sebuah tusukan dahsyat mengarah ke lehernya. Serangan itu tidak bisa terlihat oleh sepasang mata Cakra Buana. Padahal, dia terkenal sebagai harimau yang menjelma menjadi sosok manusia.
Wushh!!!
__ADS_1
Sinar hitam hampir mengenai sasarannya. Untung bahwa pada saat itu Pendekar Tanpa Nama dapat bergerak lebih cepat dari apa yang dibayangkan.