Pendekar Tanpa Nama

Pendekar Tanpa Nama
Pertempuran di Hutan Kerajaan I


__ADS_3

"Hemm, lancang sekali mulutmu itu. Apakah kau belum merasakan bagaimana rasanya jika mulut dirobek?" tanya seorang tokoh pilih tanding lainnya yang ada di belakang.


"Aku memang belum merasakannya. Terlebih lagi, aku juga tidak mau mengalaminya. Kalau sampai mulutku ini robek, lalu nanti bagaimana aku bisa menjawab semua pertanyaan kalian?"


"Cihh, masih bau kencur tapi sudah pintar membual," timpal tokoh pilih tanding di sisinya.


"Aku bicara yang sebenarnya,"


"Banyak mulut. Sekarang apa yang akan kau lakukan? Dirimu sudah terkepung rapat oleh orang-orangku. Malam ini, jangan harap kalau kau bisa keluar dengan selamat," ucap si Tongkat Seribu Bayangan sambil tersenyum mengejek.


Pendekar Tanpa Nama tidak bisa menampik ucapan barusan. Apa yang dikatakan oleh si Tongkat Seribu Bayangan memang benar. Meskipun dia pendekar tanpa tanding, tapi kalau dihadapkan dengan keadaan seperti sekarang ini, tentunya Cakra Buana bakal kerepotan juga.


Bukan tidak mungkin jika dirinya harus melangsungkan pertempuran panjang kalau ingin bebas dari jeratan lawan.


Apalagi di sana sudah hadir sebelah pendekar tanpa tanding. Dengan umurnya yang sudah lanjut, tentunya pengalaman bertempur mereka mungkin lebih banyak daripada Pendekar Tanpa Nama sendiri.


Dalam dunia persilatan, terkadang kekuatan bukanlah hal utama untuk menjadi pemenang dalam sebuah pertarungan. Ada kalanya pengalaman banyak justru menjadi kunci paling utama.


"Apakah kalian sangat yakin mampu membunuhku?" tanya Pendekar Tanpa Nama setelah sekian lama terdiam.


"Kenapa tidak? Setiap manusia pasti mampus. Sehebat dan sesakti apapun, selama makhluk bernyawa, maka dapat dipastikan sudah tentu bakal mati,"


Ucapannya tidak salah. Setiap yang bernyawa pasti akan mengalami mati.


Salah satu yang pasti di dunia ini adalah kematian itu sendiri.


"Baiklah, kalau aku mati, maka kalian juga harus mampus,"


Suara Pendekar Tanpa Nama semakin dingin. Ekspresi wajahnya bertambah garang. Persis seperti seekor harimau yang sedang mengintai buruannya.


Wushh!!! Wushh!!!


Belasan anak panah kembali dilepaskan dengan segenap kemampuan. Kecepatannya sangat cepat. Orang biasa hanya dapat melihat titik hitam saja.


Sekarang tubuh Pendekar Tanpa Nama menjadi sasaran telak belasan anak panah itu. Untuk menghindari sudah tidak sempat. Apalagi, selain dari belasan anak panah itu, ada juga belasan senjata lainnya yang memang sengaja dilepaskan oleh orang-orang tersebut.


Trangg!!! Trangg!!! Trangg!!!

__ADS_1


Suara nyaring seperti beradunya duah buah besi baja terdengar. Percikan api membumbung tinggi ke udara.


Tepat sebelum belasan senjata itu mengenai tubuh Cakra Buana, dua buah sinar hitam mendadak terlihat. Sinar hitam itu berkelebat secepat kilat lalu segera mengelilingi tubuh Pendekar Tanpa Nama.


Hasilnya, belasan anak panah dan senjata rahasia lainny yang dilemparkan oleh lawan langsung rontok di tengah jalan.


Kejadian itu berjalan dalam waktu sekejap mata. Malah semua orang tidak ada yang pernah menduganya. Begitu juga dengan Pendekar Tanpa Nama sendiri.


Datangnya sinar hitam sangat cepat. Datang tak diduga, pergi tak disangka.


Semua ornag terpaku di tempatnya masing-masing. Tidak ada yang berani bergerak di antara kerumunan orang-orang tersebut.


Awalnya Cakra Buana merasa heran, tapi setelah dipikir beberapa saat, akhirnya dia mengerti juga. Pemuda itu mengaku m senyuman manis yang dilemparkan kepada semua musuhnya.


"Tadi kau bilang kalau aku sudah terkepung?" tanya Pendekar Tanpa Nama.


"Tidak salah," jawab si Tongkat Seribu Bayangan.


"Bagus, aku terkepung tidaklah masalah. Tapi bagaimana jadinya kalau kau juga sudah dikepung?"


"Tadi hanya seorang. Tapi sekarang sudah tidak lagi,"


Si Tongkat Seribu Bayangan mengerutkan keningnya. Sebenarnya dia ingin tidak percaya terhadap ucapan Pendekar Tanpa Nama barusan, tapi bagaimanapun juga dia harus tetap percaya.


Karena ekspresi pemuda itu tidak memperlihatkan seseorang yang sedang berbohong.


"Mulutmu memang paling pandai membual," kata seorang tokoh pilih tanding yang sebelumnya bicara.


Pendekar Tanpa Nama hanya tersenyum simpul. Matanya mulai memandang ke tempat di sekitarnya. Sepasang matanya menatap tajam kembali. Tapi bukan tajam karena ancaman, melainkan tajam karena sedang menyelidiki keadaan.


"Aku membual? Kenapa kau tidak coba saja untuk melihat ke belakang?" jawab Cakra Buana dengan tersenyum.


Tanpa sadar, orang itu menuruti perintahnya. Begitu juga dengan para tokoh pilih tanding yang hadir. Tanpa sadar, mereka pun dihinggapi oleh rasa penasaran yang sama.


Begitu orang-orang itu melihat ke belakangnya, jantung mereka berdetak lebih kencang dan tidak karuan. Tatapan mata yang tadi sangat tajam bagaikan pisau, sekarang malah tumpul seperti pedang yang kutung bagian ujungnya.


Ternyata dari balik dahan pohon, mendadak keluar juga puluhan orang lainnya. Mereka berpakaian serba putih. Sepertinya orang-orang tersebut hanya merupakan anggota saja.

__ADS_1


Tapi anggota ini berbeda dengan anggota yang dibawa oleh Tongkat Seribu Bayangan. Kalau anggota mereka hanya pendekar kelas bawah, maka para anggota serba putih ini merupakan pendekar kelas menengah.


"Kalau kalian saja bisa mengepung, bukankah tidak mustahil kalau kalian bakal terkepung juga?"


Sebuah suara merdu dan lembut terdengar. Suara itu merdu seperti kicau burung di pagi hari. Satu sosok berpakaian serba merah tiba-tiba turun dari atas rimbunan daun pohon.


Sian-li Bwee Hua atau si Dewi Bercadar Merah.


"Jika kalian bisa mengancam, maka tentunya kalian juga bisa terancam," suara merdu lainnya terdengar kembali. Satu sosok biru melayang dari atas juga.


Bidadari Tak Bersayap atau si Dewi Bercadar Biru. Ternyata dia pun telah datang.


"Serangan anak panah kalian terbilang cepat. Tapi sayangnya belum bisa mengalahkan kecepatan dua senjataku,"


Bayangan hitam mendadak muncul dari balik pepohonan. Pendekar Belati Kembar hadir pula di sana.


"Hehehe, sepertinya di sini ada keramaian. Aku yang tua juga tidak mau kehilangan kejadian ini,"


"Memangnya hanya kau saja yang ingin menyaksikan? Jangan lupa, aku juga ingin ikut melihatnya,"


Sepasang Kakek dan Nenek Sakti muncul dari kegelapan. Pakaian mereka yang berwarna putih mentereng terlihat lebih bercajaa jika berada di kegelapan malam seperti sekarang ini.


"Siapapun yang berani membuat kekacauan di hutan Kerajaan, maka aku tidak akan melepaskannya,"


"Benar, aku juga akan melakukan hal yang sama,"


Dua buah suara yang nyaring dan bersahutan terdengar oleh semua orang. Sedetik kemudian disusul dengan dua sosok yang melayang lalu langsung bertengger di atas dahan pohon.


Jalak Putih dan Gagak Bodas.


Dua kakek tua itu ternyata juga hadir.


Jika sudah seperti ini kejadiannya, maka siapapun dapat menduga kalau keramaian ini tidak bisa dihalangi lagi. Pertempuran berdarah di hutan Kerajaan, agaknya tkdak bisa dihindari.


Kedatangan para tokoh dunia persilatan itu membuat pihak Tongkat Seribu Bayangan tersentak kaget. Mereka sungguh tidak pernah menyangka kalau kejadian seperti ini bakal terjadi.


Apa yang terjadi sekarang tidak ada dalam benak mereka sebelumnya.

__ADS_1


__ADS_2