
"Ternyata kau pintar bercanda juga," ujar si Gendut Yang Pintar tertawa.
Mereka minum beberapa cawan arak yang sangat harum sebelum melanjutkan pembicaraan.
"Coba katakan, apa yang ingin kau tanyakan kepadaku?" tanya si gendut. Kali ini wajahnya menjadi lebih serius lagi. Bahkan senyumannya yang lucu juga tidak nampak seperti sebelumnya.
"Aku ingin tahu, siapa sebenarnya Tuan tanah yang dimaksud si Walet Putih?" tanya Cakra Buana dengan serius pula.
"Tuan tanah adalah anak dari gembong iblis yang dulunya mendapatkan julukan si Tangan Sembilan Kaki Empat. Namanya Kong Gan. Dulu, dia dikenal sebagai kepala organisasi aliran hitam yang paling ditakuti, kejadian itu terjadi sekitar puluhan tahun lalu. Setelah Kong Gan memutuskan untuk menikah, akhirnya dia mengundurkan diri dari jabatannya dan bahkan mengundurkan diri dari dunia persilatan juga. Beberapa tahun setelah pernikahannya lahirlah Kong We,"
"Siapa itu Kong We?"
"Si Tuan tanah. Nama aslinya adalah Kong We," jawab si Gendut Yang Pintar.
"Apakah dia juga sudah menikah?"
"Dia memutuskan untuk tidak menikah,"
"Apakah karena ada suatu alasan?"
"Tepat,"
"Alasan apa?"
"Dia ingin menguasai sebuah ilmu sesat dari kitab pemberian ayahnya,"
"Kitab? Kitab apa?"
"Kitab Kuku Mayat Sembilan Racun," ucap si gendut.
Walet Putih tersentak kaget. Cakra Buana juga sama. Walaupun pemuda itu belum lama berada di daratan Tionggoan, namun dia sudah mendapatkan sedikit banyak pengetahuan tentang dunia persilatan dari si Buta Yang Tahu Segalanya.
Baik itu nama-nama tokohnya. Mulai dari yang sesat, lurus, bahkan hingga golongan merdeka. Bahkan juga terkait jurus-jurus sakti dari ketiga aliran yang ada. Dan dalam jurus tingkat tinggi aliran sesat, dia pernah mendengar si Buta Yang Tahu Segalanya menyebut tentang Jurus Cakar Mayat Sembilan Racun itu disebut.
"Apakah kau mengatakan yang sebenarnya?"
"Aku belum pernah berbohong terhadap semua pelangganku,"
__ADS_1
"Dia sudah mempelajari jurus itu hingga ke tingkatan tertinggi?" tanya Cakra Buana penasaran.
Jika sampai hal itu terjadi, maka Kong We tentunya merupakan lawan yang tangguh. Karena pada dasarnya, Jurus Cakar Mayat Sembilan Racun adalah sebuah jurus yang benar-benar berbahaya. Jika sampai bagian tubuh terkena goresan kukunya saja, seketika itu juga bagian tubuh yang terkena akan membusuk dan racunnya akan menyebar.
Jika sampai terjadi hal demikian, maka sangat sulit sekali untuk mencari obatnya. Andai tabib Taiji (salah satu tabib sakti di zaman dulu) hidup kembali sekalipun, belum tentu dia sanggup menyembuhkannya.
"Setahuku belum. Paling banyak dia baru menguasai hingga tingkatan keenam saja," jawab si Gendut Yang Pintar.
"Syukurlah. Jika sudah sampai kepada tingkatan delapan saja, rasanya hal itu sudah cukup untuknya menjadi seorang pendekar pilih tanding," ujar Cakra Buana sambil menghela nafas.
Jika Kong We baru mencapai tingkatan keenam ataupun ketujuh, rasanya dia masih sangat sanggup untuk mengalahkannya. Terlebih lagi, Cakra Buana sekarang sudah menguasai Jurus Tanpa Bentuk dan Jurus Tanpa Nama.
"Sepertinya kau mengetahui banyak tentang jurus-jurus tingkat tinggi. Tak disangka, seorang asing sepertimu, ternyata dapat mengetahui hal-hal seperti ini dalam waktu yang singkat. Kagum, sungguh kagum," kata si gendut sambil mengusap-usap pipinya yang penuh dengan lemak itu.
"Kau terlalu memujiku. Sebenarnya, dia mempunyai kekuatan seberapa luas dan seberapa banyak?" tanya Cakra Buana lagi.
"Cukup lumayan. Hanya saja bagimu, aku rasa mereka bukanlah lawan yang sukar dihadapi. Kecuali kau harus berhati-hati jika berhadapan dengan orang-orang pilihannya. Jumlah mereka ada sebelas orang. Di antaranya, kau harus sangat waspada jika berhadapan dengan seorang kakek tua yang satu kakinya disambung menggunakan bambu,"
"Seorang yang cacat, siapa dia sebenarnya?"
Cakra Buana termenung. Bagaimana mungkin seorang yang cacat bisa menjadi begitu sangat ditakuti? Tapi walaupun begitu, Pendekar Tanpa Nama tetap percaya. Sebab yang bicaranya adalah manusia yang terkenal akan kepintarannya.
"Apa kelebihan si Tubuh Pedang itu?"
"Kelebihannya dalam hal kecepatan. Jika dia bergerak, maka akan lebih cepat dari pada sambaran kilat dan lebih mengerikan dari pada hantu di siang bolong. Selain itu, kau harus berhati-hati dengan jurus pedangnya yang jarang menemui tandingan. Belum lagi kaki bambunya itu. Jika dia sudah marah, maka bambu itu bisa mendadak terbelah dan melemparkan puluhan senjata rahasia dalam waktu yang bersamaan,"
Cakra Buana dibuat semakin tertegun. Kalau si Tubuh Pedang bisa membuat si Gendut Yang Pintar bicara seperti itu, sudah pasti bahwa kemampuannya tidak diragukan lagi.
"Sekuat itukah hambatan tentang dirinya?"
"Memang begitu kenyataannya. Bahkan kau harus tahu, Kong We si Tuan tanah sendiri menaruh rasa segan terhadap si Tubuh Pedang,"
Cakra Buana hanya mengangguk pelan saja. Meskipun dalam hatinya tidak ada rasa gentar sedikitpun, tetapi dirinya tetap harus berlaku waspada.
"Aiii, ternyata lawan yang akan kita hadapi tidak main-main lagi. Aku jadi tidak yakin akan menang," keluh si Walet Putih secara tiba-tiba.
Si Gendut Yang Pintar tertawa terbahak-bahak. Saking kerasnya dia tertawa, perutnya yang bulat seperti bakso raksasa itu hingga turun naik.
__ADS_1
"Kenapa kau malah tertawa?" tanya si Walet Putih keheranan.
"Tentu saja, apakah kau masih meragukan kemampuan Pendekar Tanpa Nama?" tanyanya serius.
"Jadi, apakah dia ini Pendekar Tanpa Nama?" tanya si Walet Putih.
Sekarang dia baru sadar siapa pemuda itu. Walaupun sudah dikatakan sebelumnya, namun sama sekali dia belum tahu benar sepenuhnya.
"Kau kira dia siapa? Jika bukan Pendekar Tanpa Nama, bagaimana mungkin dia berani membayarku tanpa ada negosiasi?"
"Aii, ternyata mataku sudah lamur dan telingaku sudah bolot. Sekarang aku baru benar-benar sadar," kata Walet Putih sambil menghela nafas.
Suasana hening seketika. Mereka Salim diam untuk beberapa saat lamanya. Arak sudah beberapa kali masuk ke mulutnya masing-masing. Namun mereka masih diam.
Brakk!!!
Cakra Buana menggebrak meja sehingga semua yang ada di meja berhamburan ke atas.
Wushhh!!!
Pemuda itu mengibaskan tangannya sampai membuat sebatang garpu melesat sangat cepat ke atas atap.
Clapp!!!
Garpu itu menancap di atap restoran.
Sekali kakinya menjejak tanah, Pendekar Tanpa Nama sudah menjebol atap restoran sehingga menimbulkan suara gaduh.
Matanya memandang sekeliling. Tetapi tidak ada siapa-siapa di sana. Sejauh matanya memandang, pemuda itu hanya melihat ratusan atap bangunan yang sama. Tidak terlihat sedikitpun bayangan manusia yang ada di atasnya.
"Apakah kau tidak menyadari kehadiran orang lain?" tanyanya kepada dua orang yang ada di hadapannya tersebut.
"Aku tidak terlalu mengerti tentang ilmu silat. Kemampuanku tentang silat sangat rendah sekali," kata si Gendut Yang Pintar.
"Aku sendiri sudah tua. Jika tidak sedang benar-benar fokus, aku tidak bisa mengetahui apapun dengan jelas," jawab si Walet Putih.
"Sudahlah. Mungkin hanya orang yang tidak sengaja mendengar saja," tukas Cakra Buana berusaha menenangkan hatinya yang mulai merasa ada firasat buruk.
__ADS_1