Pendekar Tanpa Nama

Pendekar Tanpa Nama
Informasi Dari Kerajaan


__ADS_3

Malam baru saja tiba. Rembulan menggantung di atas langit bersama bintang yang gemerlapan. Langit cerah tanpa terhalang oleh awan sedikitpun.


Malam ini adalah malam yang indah. Waktu yang sangat cocok untuk menikmatinya.


Pendekar Tanpa Nama, Sian-li Bwee Hua dan Bidadari Tak Bersayap sudah berada di dalam salah satu restoran yang ada di Kotaraja Tanah Pasundan.


Di hadapan tiga pendekar muda itu ada sebuah meja bundar yang terbuat dari kayu jati pilihan. Warnanya sangat mengkilap. Beberapa macam hidanga mewah memenuhi meja tersebut. Di sebrang meja itu ada pula dua orang tokoh dunia persilatan angkatan tua.


Satu wanita, satu lagi pria. Usia keduanya tidak terpaut jauh. Meskipun sudah lanjut, namun kegagahan mereka masih dapat terlihat jelas.


Pendekar Tanpa Nama sangat mengenal siapakah kedua orang tua itu. Sebab tak lain dan tak bukan, mereka adalah Sepasang Kakek dan Nenek Sakti.


Seseorang yang sangat sering membantu dirinya pada saat dulu berada di dalam lingkungan Istana Kerajaan. Dua orang tua yang telah berjasa kepadanya. Entah bagaimana caranya Cakra Buana membalas jasa mereka, sebab jasa keduanya sangat besar. Mungkin dibayar denga harta sebanyak apapun tidak akan impas.


Mereka masih terdiam. Belum ada yang bicara sama sekali.


Seperti yang diceritakan sebelumnya, Bidadari Tak Bersayap ingin mengundang dua tokoh tua sekaligus orang-orang istana itu dengan meminjam nama mendiang gurunya. Tapi hal tersebut akhirnya dibatalkan.


Sebab Cakra Buana telah memutuskan suatu hal lain.


Dia telah mengirimkan suratnya sendiri kepada Sepasang Kakek dan Nenek Sakti lewat prajurit Kerajaan. Bahkan pemuda itupun menggunakan nama yang sebenarnya.


Kontan saja kedua orang tua tersebut sangat antusias begitu menerima surat darinya. Sudah sejak lama mereka menantikan kabar dari Pangerannya ini.


"Kakek, Nenek, apakah kalian semuanya baik-baik saja?" tanya Cakra Buana mengawali pembicaraan.


"Kami berdua baik Pa-…" ucapan Kakek Sakti tidak jadi dilanjutkan. Sebab tepat pada saat itu Cakra Buana memberikan isyarat agar dirinya tidak memanggil Pangeran kepadanya.


"Baik Den, Aden sendiri bagaimana?" tanya Nenek Sakti melanjutkan perkataan.


"Aku juga baik Nek," jawab Cakra Buana tersenyum.


Dua orang tua itu menghembuskan nafas lega. Cukup mendengar kabar ini saja mereka sudah sangat gembira.


"Siapa kedua gadis ini Den?" tanya Kakek Sakti.


"Ini adalah Ling Ling Sian-li Bwee Hua, dan ini adalah Sinta Bidadari Tak Bersayap,"


"Apakah mereka berdua? …" tanya Nenek Sakti.


"Ya, kami berdua kekasih Kakang Cakra Buana," jawab Sinta cepat.


Kemudian mereka segera memperkenalkan dirinya masing-masing dengan ramah. Kakek dan Nenek Sakti langsung teringat kembali kepada salah satu gadis di hadapannya ini. Ternyata seorang di antara mereka merupakan murid mendiang salah satu sahabatnya. Hal ini menjadi kegembiraan tersendiri bagi dua tokoh tua itu.

__ADS_1


"Aii, sungguh beruntung sekali kau mendapatkan dua gadis cantik yang selalu mendampingi," kata Kakek Sakti bercanda.


"Hahaha, Kakek bisa saja,"


Meja itu kemudian ramai oleh suara canda tawa di antara mereka. Beberapa saat kemudian, pembicaraan serius kembali dilanjutkan.


"Sebenarnya apa tujuan Aden mengundang kami berdua?"


"Ada beberapa pertanyaan yang ingin aku ajukan kepada Kakek,"


"Silahkan, Den,"


"Apakah benar bahwa Kujang Dewa Batara sudah hilang dari ruang pusaka Istana Kerajaan?"


"Benar. Berita ini memang tidak salah,"


"Sudah diketahui siapa pelakunya?"


"Ya, pelakunya adalah Maling Sakti Seribu Wajah,"


"Apakah jejaknya sudah ditemukan?"


"Belum, padahal semua orang-orang persilatan sudah berusaha mencarinya," keluh kakek tua itu.


"Entahlah. Hal ini memang masih menjadi misteri," jawab Nenek Sakti ikut nimbrung.


"Mungkinkah di dalam Istana ada seorang pengkhianat?" tanya Bidadari Tak Bersayap sambil memandangi wajah dua orang tua itu.


"Hal ini tidak mungkin," tegas Nenek Sakti.


"Tapi hanya hal itu saja yang masuk akal. Kalau benar tidak ada pengkhianat, bagaimana mungkin ruang pusaka yang dijaga ketat oleh para tokoh kelas atas dunia persilatan bisa kecolongan begitu saja. Bahkan tanpa ada pertempuran lebih dulu, bukankah kejadian ini sangat ganjil?" tanya Sian-li Bwee Hua. Dia mulai tertarik dengan permasalahan ini.


Sepasang Kakek dan Nenek Sakti langsung membungkam mulutnya. Mereka tidak bisa tidak setuju dengan perkataan Sian-li Bwee Hua. Sebab memang alasan itulah yang paling masuk akal.


"Emm, Kakek, apakah kita bisa bicara empat mata?" tanya Cakra Buana.


"Tentu bisa Den,"


"Kalau begitu, mari ikut aku sebentar,"


Cakra Buana bangkit berdiri. Kakek Sakti juga sama. Kedua pria itu kemudian melangkah keluar restoran. Tiga wanita yang ada di sana tidak ada yang bicara. Mereka hanya menggeleng-gelengkan kepalanya pertanda tidak mengerti.


Wushh!!!

__ADS_1


Pendekar Tanpa Nama dan Kakek Sakti melesat menggunakan ilmu meringankan tubuh. Keduanya baru berhenti setelah berada di tengah hutan.


"Kakek, apakah Paman baik-baik saja?" tanyanya begitu dirinya tiba di sana.


"Baik, Pangeran. Prabu juga sering bertanya-tanya tentang kabar Pangeran, sepertinya dia sudah benar-benar rindu,"


"Biarlah, nanti aku akan kembali ke dalam Istana untuk menjalankan tugas utamaku. Tapi sebelum itu aku ingin mengembara di dunia persilatan lagi. Di sisi lain, aku juga ingin memecahkan misteri ini. Di balik ini semua, pasti ada hal luar biasa yang tidak kita sangka-sangka,"


Kakek Sakti mengangguk, dia sangat setuju dengan pernyataan Cakra Buana. Orang tua itupun sebenarnya merasakan hal yang sama.


"Sepertinya memang begitu. Kakek sendiri berpikrian sama,"


"Belakangan ini, apakah ada hal baru yang terjadi di dalam lingkungan Istana Kerajaan?"


Kakek Sakti nampak berpikir sebentar, kemudian dia segera menjawab, "Tidak ada apa-apa Pangeran. Kecuali di Istana hanya menambah tiga orang baru saja,"


"Siapa mereka?" tanya Cakra Buana dengan cepat.


"Selir sang Prabu,"


"Paman menambah selir lagi?" tanyanya kaget.


"Benar Pangeran, sedangkan dua orang lainnya mengaku sebagai pengawal pribadi selir tersebut. Sebelum memasuki Istana, katanya mereka sudah selalu mengikuti ke mana pun dia pergi,"


"Siapa saja mereka?"


"Selirnya bernama Anjani Saraswati, sedangkan dua orang pengawalnya biasa disebut Sepasang Pendekar Bertopeng,"


Cakra Buana tidak langsung bicara. Dia memikirkan dan mengingat-ingat siapakah ketiga orang ini. Sayang, beberapa kali dia berusaha, hasilnya tetap mengecewakan.


"Apakah Paman, dekat dengan selir barunya itu?" tanyanya setelah sekian la terdiam.


"Malah sangat dekat. Ratu sendiri seperti kalah, dia tersingkir dari posisinya semula. Prabu lebih mencintai selir Anjani," kata Kakek Sakti sambil menghela nafas.


Dari nada suaranya, dapat ditebak kalau kakek tua itu kecewa. Seperti ada sesuatu yang tak kuasa dia ucapkan.


"Hemm, aku tahu Paman sudah jauh berubah sejak dulu sebelum aku pergi. Hal ini bisa terlihat dari keamanan negeri yang semakin berkurang, tindak kriminal terjadi setiap hari, bahkan masalah menggemparkan juga mulai terjadi. Aku juga mengerti kalau selir beserta dua pengawalnya itu memiliki latar belakang yang misterius. Oleh sebab itulah aku akan membongkar semua ini," tegas Cakra Buana dengan semangat berkobar.


Kakek Sakti tidak berani menjawab. Dia hanya menundukkan kepalanya. Semua ucapan Cakra Buana memang sesuai dengan kenyataan yang sebenarnya.


###


Untuk sekarang dan besok satu dulu ya. Soalnya sudah melebihi target. Sekalian, author ingin istirahat sejenak hihi☕

__ADS_1


Kalau sudah awal bulan, in shaa allah gasspol lagi mengembara😝


__ADS_2