
Pendekar Tanpa Nama mengangguk tanda mengakui. Terhadap segala macam kejadian yang baru saja berlangsung itu, Cakra Buana memang benar-benar tidak menyangka sebelumnya.
Malah sedikitpun tidak ada harapan terlintas kalau mereka bakal datang membantunya di saat-saat genting.
Terlepas dari semua itu, Pendekar Tanpa Nama selalu punya keyakinan yang tidak pernah luntur. Apapun yang terjadi, dia akan tetap yakin akan hal tersebut.
Keyakinan itu bukanlah adalah bahwa dirinya selalu percaya kalau kekasihnya, terutama Sian-li Bwee Hua, pasti tidak akan membiarkannya berada dalam bahaya.
Apalagi, semua rencana ini termasuk bagian dari rencananya. Dan Cakra Buana paham betul jika gadis itu sudah berlaku demikian, itu artinya segala macam sesuatu yang berhubungan dengan rencananya pasti bakal dipikirkan dengan matang. Sedikitpun tidak bakal ada yang terlewat.
Dirinya mengerti betul bagaimana karakter Sian-li Bwee Hua itu.
"Apakah kau sungguh tidak mengira kalau kami akan datang membantumu?" tanya Sian-li Bwee Hua menegaskan kembali.
"Sedikitpun tidak," jawab Cakra buana.
"Hahaha …" Ling Ling hanya menanggapi jawaban itu dengan suara tawanya yang merdu.
"Aku hanya yakin akan satu hal," lanjut Cakra Buana.
"Oh, apa itu?"
"Aku yakin kalau kau pasti tidak akan membiarkan aku mati begitu saja,"
"Kenapa kau begitu yakin?"
"Aku tahu kalau kau tidak ingin diriku cepat mati. Wanita sepertimu, jika sudah menginginkan seseorang agar tidak mati, aku berani tanggung kalau orang itu benar-benar tidak akan mati,"
Ya, Cakra Buana tahu akan hal itu. Dia sudah mengenal Ling Ling lebih dari orang lain. Apalagi pada saat di Tionggoan sana.
Akibat sering bertemu, sering bersama, malah sering menghadapi rintangan 'buatannya', bagaimana mungkin Cakra Buana masih tidak tahu juga?
"Ternyata kau tidak bodoh," jawabnya sambil tersenyum bangga.
__ADS_1
"Kalau aku bodoh, aku sudah pasti mati sejak dahulu kala,"
Lagi-lagi pemuda itu berkata jujur. Kalau dia bodoh, bebal, atau bahkan tolol, entah sudah berapa kali dirinya harus mati. Mungkin jumlahnya tidak terhitung lagi. Karena kematian selalu berusaha menghampirinya. Nyawanya selalu terancam setiap saat, setiap waktu.
Jika Pendekar Tanpa Nama masih bisa hidup sampai detik ini, hal tersebut sudah pasti disebabkan karena dia pemuda yang pintar. Cerdas.
Diluar sana, fajar sudah mulai muncul. Semburat sinar keemasan menerangi alam mayapada. Suara cicit burung nyaring terdengar amat riang. Warga mulai menjalankan aktivitasnya kembali.
Hari ini sepertinya cerah. Secerah wajah orang-orang yang ada di ruangan rahasia tersebut.
Tanpa terasa malam sudah berlalu. Sebagian dari mereka mulai mengantuk. Namun bagaimanapun juga, orang-orang itu tidak dapat tidur. Lebih tepatnya tidak mau tidur.
Masalah besar ini sudah hampir selesai. Perjuangan keras yang harus ditebus dengan keringat darah hampir menemukan titik terang.
Jiak maslaah sudah sampai sejauh ini, siapapun orangnya, tentunya ingin cepat-cepat menyelesaikan masalah tersebut.
"Di dalam Istana Kerajaan pasti sedang gempar. Saat ini, mungkin mereka sedang ramai membicarakan kejadian di hutan itu," kata Pendekar Tanpa Nama mulai bicara ke inti permasalahan.
"Hal itu sudah tentu. Terlebih lagi, mereka pasti akan bicara tentang siapa saja yang terlibat dalam kejadian malam itu," sambung Jalak Putih yang sejak tadi membungkam mulutnya.
Semua orang mengangguk. Mereka sangat setuju dengan ucapan wanita agung itu.
###
Di sebuah ruangan lain di dalam Kerajaan, ada delapan orang yang sedang duduk saling berhadapan. Di depannya ada sebuah meja dari kayu jati yang sangat mengkilap. Di atas meja terdapat pula berbagai macam hidangan lezat dan wangi.
Orang-orang itu sedang bergelut dengan pikirannya masing-masing. Mereka ada yang sedang memperhatikan semua hidangan, ada yang sedang melihat-lihat kuku jari tangannya. Malah ada pula yang sedang mengetuk-ngetuk meja dari kayu jati itu.
Siapapun dapat mengetahui kalau orang-orang tersebut pastinya sedang menghadapi semua persoalan yang sangat serius.
Sampai sejauh ini, belum ada satu orangpun dari mereka yang berani bersuara. Semuanya terdiam. Seolah tiada sesuatu apapun yang sanggup membuatnya membuka mulut.
Siapa mereka? Kenapa bisa ada di ruangan itu? Kemudian, apa pula masalah yanh sedang mereka hadapi?
__ADS_1
Masalah siapakah orang-orang tersebut, dia bukan lain adalah Prabu Katapangan Kresna beserta empat pengawal pribadinya. Sedangkan yang satu lagi adalah Selir Anjani Saraswati beserta dua pengawal pribadinya pula, yaitu Dua Pendekar Bertopeng.
"Tak kusangka rencana kita akan gagal total," ucap Prabu Katapangan Kresna dengan mimik wajah muram.
"Jangankan dirimu, malah akupun sama sekali tidak menduga kalau hal ini bakal terjadi," timpal Selir Anjani.
Prabu Katapangan tidak menjawab. Dia hanya menghela nafas dalam-dalam lalu menuangkan arak ke dalam cawan yang terbuak dari emas murni.
"Semua ini terjadi karena dirimu," kata Selir Anjani sambil melirik tajam ke arah Prabu.
"Kenapa kau menyalahkanku?"
"Bukankah awal mulanya memang gara-gara kau? Coba kalau dirimu tidak membiarkan dua gadis yang dibawa Sepasang Kakek dan Nenek Sakti itu masuk ke dalam jajaran Kerajaan, mungkin hal seperti ini tidak akan pernah terjadi. Semua rencana kita pastinya akan mulus tanpa ada halangan apapun," jelas wanita licik itu dengan dingin.
Prabu Katapangan lagi-lagi tidak menjawab. Wajahnya semakin murung. Sifat gagahnya lenyap. Seolah dia sangat takut kepada selir yang satu ini.
Memang, persoalan rumit yang mereka hadapi, semuanya bermula sejak kehadiran Bidadari Tak Bersayap dan Sian-li Bwee Hua di dalam Istana Kerajaan.
Semenjak saat itu, semua rencana yang sudah disusun dengan sangat matang, mendadak mentah di tengah jalan.
"Kalau begitu dua kakek tua itu harus dibunuh secepat mungkin. Mereka adalah bibit bencana, dengan cara membunuhnya, setidaknya kekesalanmu bisa sedikit terobati," kata Prabu Katapangan.
"Apa?" Selir Anjani tersenyum dingin. Senyuman itupun ibarat sebuah ejekan yang merendahkan seseorang.
"Kau kira saat ini kita masih bisa membunuh keduanya? Apakah kau mimpi?"
"Aku tidak mimpi. Semuanya bisa saja terjadi asal mau berusaha,"
"Mungkin memang bisa, malah sangat bisa. Tapi jiak hanya mengandalkan orang lain, semua ucapanmu hanyalah omong kosong. Apakah di antara kita ada yang mau mengambil resiko? Selain daripada itu, saat ini Sepasang Kakek dan Nenek Sakti selalu bersama mereka. Kau pikir ini merupakan pekerjaan mudah?" bentak Selir Anjani.
Dia sangat kesal. Marah. Semua perasaan semacam itu bercampur menjadi satu.
Orang-orang yang selalu ada di sekeliling Sepasang Kakek dan Nenek Sakti saat ini bukan orang sembarangan. Hampir semuanya merupakan tokoh pilih tanding. Belum lagi kalau disangkut pautkan dengan Pendekar Tanpa Nama pula.
__ADS_1
Dengan kehadiran mereka, bagaimana mungkin pihaknya bisa membunuh dua orang tua itu?