Pendekar Tanpa Nama

Pendekar Tanpa Nama
Seorang Kakek Tua


__ADS_3

"Lumayan juga kemampuan pemuda asing ini. Hemm, kalau begitu aku harus mengeluarkan kemampuanku juga," gumam Pong Tofu perlahan.


Sementara itu, Pendekar Tanpa Nama hanya tersenyum-senyum saja sambil sesekali terlihat meremehkan dirinya. Pong Tofu bukan anak kemarin sore. Dia tahu bahwa lawan sedang memgejeknya.


"Lihat serangan …" teriak Pong Tofu.


Pedang yang dia genggam bergetar. Sinar pedang segera menggulung menjadi satu seperti ombak di lepas pantai. Suara bergemuruh mengiringi serangannya.


Pedang itu menebarkan titik putih di segala penjuru. Desiran anginnya terasa sangat tajam merobek kulit. Namun Pendekar Tanpa Nama masih tenang.


Hanya berkelit ke samping kanan dan kiri. Atau menggerakan maju mundur kakinya, semua serangan Pong Tofu berhasil dia lewati dengan sangat mudah. Seperti seorang anak kecil yang bermain. Pemuda Tanah Pasundan itu sesekali tertawa dan mengejek lawan.


Hal tersebut segera membangkitkan amarah Pong Tofu. Sebagai salah satu pemimpin dari Tujuh Perampok Berhati Kejam, tentu saja dia tidak akan terima di hina seperti itu.


Dia membentak nyaring. Serangannya berubah menjadi lebih ganas dan lebih menyeramkan. Pedang itu berkelebat dengan sangat cepat. Sinar hitam menggulung menerjang Pendekar Tanpa Nama.


Suara jeritan roh kematian terdengar berbarengan saat pedangnya berkelebat. Hawa pembunuhan keluar dari tubuh Pong Tofu. Pedangnya bergetar memberikan sabetan menggiriskan.


Pendekar Tanpa Nama mulai berlaku serius. Kini dia tidak hanya berdiam diri menunggu datangnya serangan seperti tadi.


Pemuda serba putih itu bergerak sebelum lawannya tiba dengan serangan maut yang dilancarkan. Cakra Buana memainkan Pedang Naga dan Harimau dengan gerakan yang ulet.


Pedangnya menangkis lalu balas menyerang. Kedua kakinya mengikuti irama permainan yang indah dan lihat itu.


"Trangg …"


"Trangg …"


Dua kali bunyi nyaring terdengar. Telinga mendengenung. Percikan bunga api membumbung tinggi.


Pendekar Tanpa Nama memulai serangan lebih dulu. Pedang pusaka itu bergerak dari samping kiri ke kanan mengincar bagian leher.


Kalau lawan tidak menghindar, dapat dipastikan sekali tebas saja kepala itu akan menggelinding jatuh ke bawah kakinya.


Namun Pong Tofu bukanlah pendekar abal-abal. Sebelum sabetan pedang tiba, tubuhnya telah maju selangkah memberikan ancaman serangan lainnya.


Arah serangannya ke pinggang. Dan gerakan yang secara tiba-tiba itu cukup mengejutkan Cakra Buana. Mau tidak mau pemuda itu menggagalkan serangan sebelumnya.


Sebab kalau dia meneruskan serangannya, pinggangnya tentu akan menjadi sasaran pedang lawan.

__ADS_1


"Kilat Menyambar Bumi…"


Jurus pertama keluar. Pedang Naga dan Harimau berubah gerakannya. Cahaya merah berkilat setiap saat mengarah ke segala tempat. Seolah cahaya itu adalah kilat yang dahsyat dan memiliki kecepatan mengerikan.


Pendekar Tanpa Nama sangat yakin bahwa hanya dengan jurus ini, tentu lawannya sudah keteteran. Sekali lihat saja dia sudah dapat menduga bahwa Tujuh Perampok Berhati Kejam tidak terlalu mempunyai kemampuan tinggi.


Kelebihan meraka hanyalah memiliki jaringan yang sangat luas sehingga semua orang segan.


Analisa Cakra Buana terbukti. Baru sebentar dia mengeluarkan jurus Kilat Menyambar Bumi, Pong Tofu mulai keteteran.


Dia membentak nyaring lalu mengeluarkan juga jurusnya yang cukup lumayan hebat.


Bagi orang lain mungkin hebat.


Tetapi bagu Pendekar Tanpa Nama masih kurang hebat.


Walaupun gerakan Pong Tofu bertambah cepat, tetapi masih kalah cepat jika dibandingkan dengan pedangnya.


Pedang Naga dan Harimau bergetar. Ribuan titik merah menyebar. Hawa pembunuh langsung terasa menekan.


"Srett …"


Sekali tebas, punggung lawan robek cukup lebar. Pong Tofu mengeluh tertahan. Dia ingin menerjang kembali, tetapi dua saudaranya segera membentak lalu turun tangan.


Mereka langsung melancarkan jurus serangan dahsyat yang tidak kalah darinya. Lo Jin menggunakan golok kembar. Sedangkan Ong Wi menggunakan ruyung hitam.


Dua golok kembar seketika berubah seperti dua ekor naga yang sedang mengamuk. Segala sisi berhasil dia kuasai. Sinar putih keperakan menggempur Pendekar Tanpa Nama.


Belum lagi ruyung hitam milik Ong Wi. Ruyung itu terlihat seperti ular hitam berbisa yang setiap saat bisa mencabut nyawanya.


Jurus Kilat Menyambar Bumi tidak berarti lagi jika dihadapkan dengan dua jurus dahsyat seperti ini.


Posisi Cakra Buana mulai tidak menguntungkan.


Di saat dia hendak mengeluarkan jurusnya yang lebih tinggi, mendadak segulung angin dashyat menerjang Lo Jin dan Ong Wi.


Keduanya terlempar tiga langkah ke belakang. Untungnya mereka berhasil menguasai tubuh sehingga tidak sampai jatuh tersungkur.


"Hehehe, ternyata ada dua orang iblis yang main keroyokan terhadap seorang pemuda gagah. Hemm, berani sekali berlagak di sini," suara itu terdengar nyaring seperti seorang kakek tua. Hanya saja orangnya belum terlihat sama sekali.

__ADS_1


Raut wajah Ong Wi, Lo Jin dan Pong Tofu berubah hebat. Ketiganya ingin melarikan diri dari sana dengan segera.


Tetapi sebelum noaynya terlaksana, mendadak sejalur sinar hijau menerjang mereka.


"Trakk …"


Benturan terjadi. Pedang dan golok milik dua pemimpin Tujuh Perampok Berhati Kejam bergetar keras. Bahkan pemiliknya dibuat mundur dua langkah ke belakang.


Tangan yang memegang senjata itu terasa sangat ngilu sekali.


Cakra Buana menyaksikan kejadian barusan dengam wajah terkejut. Dia tidak menyangka ada seorang tua yang mempunyai jurus sedemikian anehnya sehingga dia sendiri tidak tahu kapan dia memulai serangannya.


"Maafkan kami Ketua Huang Yang Qing, kami tidak berani lagi. Izinkan kami semua pamit undur diri. Lain waktu kalau ada kesempatan, kami akan menyambutmu dengan hormat," kata Lo Jin ketakutan.


Dia segera mengajak rekan-rekannya lari dari tempat itu. Hanya dalam sekejap saja, orang-orang tersebut sudah tidak terlihat lagi bayangannya.


Melihat hal tersebut, Pendekar Tanpa Nama semakin kaget. Dia yakin kakek tua di hadapannya ini pastilah seorang tokoh ternama di dunia persilatan.


"Terimakasih atas kebaikan Tuan, namaku Cakra Buana. Salam hormat untuk Tuan penolong," kata Cakra Buana lalu menjura memberi hormat.


Orang tua itu membalikkan badannya sambil tersenyum. Dia memakai caping lebar. Di tangan kanannya tergenggang sebatang tongkat hijau. Seperti bambu, tapi bukan bambu. Semacam tongkat yang terbuat dari batu giok.


Bajunya putih sedikit lusuh. Ada beberapa tambalan di setiap tempatnya.


"Bangunlah anak muda. Kau tidak perlu seperti itu," jawab kakek tua tersebut sambil tersenyum.


Tingginya umum seperti orang lain. Wajah tuanya dihiasi alis tebal dan jenggot yang panjang. Alis dan jenggotnya sudah warna putih. Begitu juga dengan rambutnya yang tergerai di bawah caping.


Tetapi walaupun begitu, jelas sekali aura kewibawaan terpancar dari tubuh tuanya.


"Terimakasih Tuan penolong," jawab Cakra Buana segera berdiri kokoh kembali.


"Siapa namamu tadi?"


"Cakra Buana,"


"Aii, kau bukan orang asli sini? Kau kah pemuda yang berasal dari Tanah Pasundan itu?" tanya kakek tua tersebut.


"Benar Tuan, bagaimana Tuan bisa tahu aku berasal dari Tanah Pasundan?" tanya Cakra Buana keheranan.

__ADS_1


Dari mana kakek tua itu tahu asalnya? Sedangkan dia sendiri baru bertemu dengannya.


"Nanti aku ceritakan. Sekarang kau ikut saja bersamaku,"


__ADS_2