Pendekar Tanpa Nama

Pendekar Tanpa Nama
Pesta


__ADS_3

Setelah beberapa puluh menit kemudian, para tokoh itu akhirnya berhasil menyelesaikan pekerjaan mereka.


Dua buah kuburan besar telah tercipta. Yanh satu dikhususkan sebagai kuburan semua anggota Organisasi Naga Terbang, termasuk Poh Kuan Tao di dalamnya. Sedangkan satu lubang besar lainnya dikhususkan untuk para tokoh kelas atas dunia persilatan yang menjadi korban.


Semuanya sudah selesai. Perlahan namun pasti, padang rumput Gunung Hua Sun yang sebelumnya ramai dipenuhi oleh orang-orang dunia persilatan dari berbagai penjuru, sekarang telah lenggang.


Di sana mulai sepi. Sunyi. Tidak ada lagi keramaian akibat pertarungan. Tidak ada bentakan nyaring, benturan senjata, dan lain sebagainya yang berhubungan dengan hal kekerasan.


Yang ada hanyalah kenangan. Kenangan pahit bagi orang-orang persilatan Tionggoan. Kelak, tempat keramat itu akan menjadi sebuah sejarah. Sejarah kelam dari yang terkelam.


Para pedagang arak, orang yang menyewakan penginapan dan sejenisnya, sekarang mereka mulai membereskan lapaknya masing-masing.


Gunung Hua Sun kembali lenggang. Lenggang seperti sebuah tempat keramat yang sangat jarang dikunjungi oleh para manusia.


###


Tiga hari sudah berlalu. Tiang Bengcu bersama kawan-kawannya, sekarang sedang berada di sebuah restoran besar yang ada di kota tersebut. Para tokoh kelas atas juga banyak yang hadir di sana.


Mereka berkumpul karena masih saja melaksanakan pesta. Pesta karena telah berhasil menghadapi malapetaka yang mengerikan.


Puluhan guci arak tersedia di setiap meja yang ada di restoran tersebut. Stok arak juga masih tersedia sangat banyak di sana. Dalam merayakan syukuran, bagi orang-orang dunia persilatan, arak dan daging segar adalah hidangan yang sangat-sangat wajib.


Oleh sebab itulah di sana terdapat sangat banyak sekali dua macam hidangan di atas.


Belasan menu makanan yang enak dan lezat juga ada. Pokoknya, semua yang enak pasti tersedia. Asal menyebutkan apa yang ingin kau mau, niscaya saat ini tersedia di restoran itu.


"Akhirnya malapetaka itu berhasil kita singkirkan. Aii, aku tidak bisa membayangkan kalau malapetaka itu benar-benar terjadi," kata Cio Hong sambil menghela nafas.


"Kalau sampai terjadi, pastinya kejadian itu akan menjadi sejarah terburuk dalam dunia persilatan Tionggoan," kata Huang Pangcu menanggapi.


Memang benar, andai saja rencana Organisasi Naga Terbang berhasil dengan mulus, niscaya kejadian itu akan menjadi sejarah baru. Sejarah yang kelam. Bahkan bukan tidak mungkin kalau saat itu akan menjadi akhir dari dunia persilatan Tionggoan.

__ADS_1


Di meja bundar yang besar itu terdapat para tokoh pilih tanding. Mereka hadir semua untuk merayakan kemenangan. Selain itu, orang-orang tersebut pun sedang berusaha untuk mengakrabkan diri satu sama lainnya.


"Tuan Cakra, setelah ini, apa yang akan kau lakukan?" tanya Tiang Bengcu kepada Cakra Buana setelah dia berdiam diri cukup lama.


Pendekar Tanpa Nama minum arak lebih dulu sebelum menjawab pertanyaan itu.


"Mungkin secepatnya aku akan kembali lagi ke Tanah Pasundan. Toh semua tugas yang diberikan oleh guruku sudah selesai. Jadi ada baiknya kalau aku harus kembali ke sana," kata Pendekar Tanpa Nama dengan tenang dan santai.


Setelah berkata, dia langsung mengambil satu potong daging segar sebagai teman minum arak.


Suaranya biasa saja. Tapi bagi seseorang, suara itu sangat luar biasa. Suara itu seperti mengandung suatu hal tersendiri yang sangat sulit untuk dibayangkan.


"Kapan kau akan kembali lagi ke sana?" tanya Huang Pangcu menyahut cepat.


"Lebih cepat lebih baik, mungkin satu atau dua minggu lagi," jawab Cakra Buana.


Huang Pangcu mengangguk sebagai tanda mengerti, yang lainnya juga sama. Mereka jelas paham tentang posisi Pendekar Tanpa nama saat ini.


Meskipun dia sudah mulai merasa betah di Tanah Tionggoan, meskipun dirinya mulai mendapatkan banyak teman, sahabat dan keluarga, tapi bagaimanapun juga, dia harus tetap kembali ke tanah kelahirannya.


Apapun yang terjadi, dia harus kembali. Ya, Cakra Buana wajib untuk kembali.


Toh dia hanya merupakan murid yang menjalankan tugas dari sang guru. Sekarang kalau tugasnya sudah selesai, tentu dia harus kembali lagi.


"Kenapa bukan satu atau dua harian lagi?" tanya si Buta Yang Tahu Segalanya. Nadanya sinis, senyumannya juga sinis.


Semua orang mungkin terkejut, tapi tidak bagi sahabat dekatnya.


"Kenapa kau ingin sekali kalau aku cepat pergi?" tanya Cakra Buana kembali, nada suara dan senyumannya tidak kalah sengitnya.


"Aku sudah muak melihat tampangmu. Aku juga sudah jengah dengan tingkahmu," jawab Li Guan.

__ADS_1


"Eh … eh … eh … apa maksudmu? Kau pikir yang merasa begitu hanya dirimu saja? Aku juga sama, setiap kali melihat tampangmu yang sok tampan, aku merasa ingin sekali memukul wajahmu hingga hancur," teriak Cakra Buana sambil menunjuk wajah Li guan.


Brakk!!!


Meja di depan pemuda serba putih itu di pukul. Tapi tidak hancur, karena dia tidak mengerahkan tenaga dalamnya.


Suasana mulai tegang, semua tokoh menghentikan kegiatan mereka. Yang minum langsung menaruh cawan arak, yang makan segera menaruh sumpitnya, dan yang sedang bicara, langsung membungkam suaranya saat itu juga.


Mereka memandangi dua tokoh muda pilih tanding itu. Semuanya menatap dengan tatapan rasa ngeri.


Mereka berpikir, kalau sampai Pendekar Tanpa Nama dan si Buta Yang Tahu Segalanya bertarung, bisa dipastikan keadaan di restoran tersebut bakal porak poranda.


Membayangkan hal ini, satu persatu dari sini para tokoh itu mulai menghela nafas. Mereka menyesalkan sekali kalau keduanya benar-benar bertarung. Bahkan sebagian dari mereka juga ada yang pelan-pelan berusaha keluar restoran. Untungnya hal tersebut segera diketahui.


"Jangan ada yang keluar dari sini!!!" tegas si Buta Yang Tahu Segalanya sambil memandangi seluruh ruangan restoran.


Dia langsung diam, hawa kematian mendadak terasa kental. Para tokoh kelas atas bergidik ngeri.


"Sebab aku dan pemuda sialan ini hanyalah bercanda … hahaha …" si Buta Yang Tahu Segalanya langsung tertawa sangat lantang.


Suara tawanya menggema, disusul kemudian dengan suara tawa para sahabatnya yang sejak tadi sudah mereka tahan. Para tokoh merasa gemas, namun tak urung mereka juga tertawa dibuatnya.


Suara tawa itu terus berkumandang memenuhi restoran. Mereka benar-benar bahagia dengan momen-momen seperti sekarang ini.


Kapan lagi coba mereka bakal merasakan keadaan seperti ini? Keadaan di mana mereka hanya memikirkan persatuan dan melupakan permasalahan.


Keadaan seperti sekarang mungkin tidak akan terjadi dalam waktu dua atau tiga tahun lagi. Meskipun kelak dunia persilatan Tionggoan bakal dilanda bencana kembali, belum tentu suasana persatuan seperti kemarin terulang lagi.


"Mari semuanya makan dan minum cawan arak ini, habiskan segala yang ada. Jangan sungkan, Tiang Bengcu bertanggungjawab untuk semuanya," teriak si Orang Tua Menyebalkan.


Para sahabatnya langsung melirik ke arah orang tua itu. Para tokoh juga sama. Sedangkan Tiang Bengcu hanya mampu menghela nafas pasrah.

__ADS_1


"Hahahaha …" suara tawa kembali terdengar menggema.


Mereka terus melangsungkan pesta dengan riang gembira.


__ADS_2