
Tengah malam sudah tiba. Kentongan pertama baru saja lewat. Beberapa warga terlihat berkeliling bersama rekan-rekannya.
Suasana di desa sudah sepi sunyi. Suasana di kota juga mulai sepi, meskipun memang masih terlihat orang berlalu-lalang.
Tempat hiburan malam mulai ramai dipadati oleh para lelaki hidung belang. Gemerlap dunia hitam di saat tengah malam ternyata tampak lebih jelas lagi.
Pendekar Tanpa Nama baru saja pulang membeli dua guci arak. Dia sedang berjalan sambil mengawasi segala macam yang ada di sekelilingnya. Sebuah topeng menutupi sebagian wajahnya.
Dia berjalan tenang dan santai. Langkahnya mantap. Hatinya juga mantap.
Sekarang pikirannya sudah jernih. Hatinya sudah tenteram. Keyakinan dan tekadnya telah kokoh seperti bukit karang. Semua persiapan sudah siap. Sekarang waktunya untuk melancarkan aksinya.
Wushh!!!
Bayangan merah darah melesat dengan cepat. Hanya beberapa saat saja, dia sudah tiba di pohon yang sebelumnya dipakai untuk mengawasi keadaan Perkampungan Raja Harimau.
Cakra Buana menenggak arak terlebih dahulu untuk sekedar lebih meyakinkan dirinya.
Pemuda itu mengangkat kepalanya ke atas. Dia sedang memandang rembulan yang bersinar terang. Bintang yang berkelip tidak sebanyak tadi. Namun terangnya cahaya Dewi Malam sudah cukup untuk menerangi dia dalam menjalankan aksinya.
"Waktunya sudah tiba," gumamnya.
"Hahh …" Pendekar Tanpa Nama menghela nafas dalam-dalam. Detik selanjutnya, dia mulai bergerak.
Wushh!!!
Bayangan merah meluncur ke depan seperti seekor burung rajawali yang mengincar seekor anak ayam. Gerakannya sangat cekatan, dalam hal menyergap lawan, dia sudah bisa dibilang ahlinya ahli.
Kalau sudah berlaku demikian, pemuda itu tidak lagi tampak seperti manusia.
Melainkan tampak seperti harimau. Tentu saja, karena dia disebut-sebut sebagai jelmaan dari seekor harimau.
Crashh!!! Crashh!!!
Pedang Naga dan Harimau telah diloloskan dari sarungnya. Begitu pedang itu diloloskan, sudah pasti bakal ada nyawa yang melayang.
Hakikatnya jika pedang pusaka itu sudah keluar, pantang baginya kalau masuk sebelum mendapatkan mangsa.
Lima penjaga gerbang utama telah tewas. Mayat mereka berserakan sesaat. Namun sesaat kemudian, kelima mayat manusia itu telah lenyap dari pandangan mata. Pendekar Tanpa Nama langsung membereskan mereka bersama darah yang berceceran.
__ADS_1
Pemuda itu kemudian segera masuk ke bagian dalam. Malam ini, dia tidak mau terlalu banyak membunuh nyawa manusia. Karena pada dasarnya, niatnya kemari bukan untuk membunuh.
Melainkan hanya untuk mencari cara agar dirinya dapat masuk ke dalam lalu tiba di kuburan kuno yang menjadi tujuan utamanya saat ini.
Setelah bersusah payah melewati berbagai macam rintangan yang terdapat di Perkampungan Raja Harimau, akhirnya Cakra Buana tiba juga di bagian belakang.
Sedikit lagi, tinggal ratusan langkah lagi, pemuda itu sudah akan tiba di ujung perkampungan yang menjadi sarang naga tersebut.
Sayangnya pada saat seperti itu, secara tiba-tiba, puluhan senjata rahasia mendadak meluncur deras ke arahnya. Puluhan am-gi (senjata rahasia) itu datang dari berbagai macam penjuru secara bersamaan.
Di lihat dari kecepatan dan ketepatan lempatan itu, dapat dipastikan bahwa yang melemparnya setidaknya merupakan tokoh kelas atas dunia persilatan.
Senjata rahasia itupun beragam. Ada pisau terbang, jarum beracun, bintang segi lima yang terbuat dari baja, dan sejenisnya.
Pendekar Tanpa Nama yang tadi sedang melangkah, sekarang mendadak menghentikan langkahnya. Pemuda itu tiba-tiba berdiri mematung. Sepasang matanya menatap ke sekeliling datangnya am-gi tersebut.
Sekalipun nyawanya sedang terancam, meskipun bisa saja hidupnya akan berakhir, namun nyatanya pemuda itu masih tampak tenang.
Mulutnya mengulum senyum. Senyuman yang penuh keyakinan dan rasa percaya diri.
Wushh!!! Trangg!!! Trangg!!! Trangg!!!
Pedang Naga dan Harimau.
Cahaya merah yang dimaksud memang berasal dari senjata itu. Pusaka yang menggetarkan jagat tersebut telah memperlihatkan taringnya kepada semua lawan.
Hanya sesaat, hanya sekejap, puluhan am-gi yang dilemparkan dari seluruh penjuru itu telah rontok seluruhnya. Pelempar yang bersembunyi di berbagai tempat itu terkesiap.
Mereka tidak pernah menyangka bahwa lemparannya yang sekarang akan menemui kegagalan. Padahal orang-orang itu merupakan tokoh yang cukup mempunyai nama. Semuanya mempunyai keahlian masing-masing.
Siapa sangka, malam ini, mereka harus rela dipermalukan di hadapan seorang pemuda bergelar Pendekar Tanpa Nama.
Setelah puluhan am-gi berhasil ditebas habis oleh Cakra Buana, mendadak dari balik semak-semak, dari sudut bangunan, dan dari berbagai tempat lainnya telah keluar lima orang dunia persilatan.
Semuanya memperlihatkan wajah kesal. Mereka melemparkan ekspresi dendam dan benci yang telah menjadi satu.
"Tamu dari manakah yang telah malam begini datang kemari?" tanya seorang tua berpakaian biru tua. Pakaiannya sudah lusuh. Wajahnya angker dengan janggut putih cukup panjang. Saat bertanya demikian, suaranya terdengar dingin dan matanya menatap dengan tajam.
"Dari mana aku datang, dari sana pula aku berasal," jawab Pendekar Tanpa Nama tidak kalah dinginnya.
__ADS_1
"Hemm, masih muda tapi sudah berani. Mungkin dia telah makan nyali harimau," ujar rekan yang ada di sampingnya.
Orang itu lebih muda sedikit. Wajahnya tampan dengan kumis tipis. Tangan kanannya memegang pedang pendek yang sangat tajam. Di tangan kirinya ada sebatang bambu beberapa jengkal.
Pemuda itu semenjak memunculkan diri hingga sekarang, tidak berhenti menyerut bambu tersebut. Seolah dia sedang mengetes ketajaman pedangnya sendiri.
"Untuk berani datang kemari, aku tidak perlu memakan nyali harimau. Sebab aku sendiri harimau itu," jawab Cakra Buana seenaknya.
Kelima orang itu mulai kesal. Wajah mereka telah menampilkan kemarahan yang teramat sangat. Pemuda asing yang ada di hadapannya saat ini sangat angkuh. Dia pun teramat sombong.
"Sebetulnya untuk apa kau datang kemari?" tanya seorang tua lainnya.
Perawakan orang tua yang baru saja bicara lebih pendek dari yang lainnya. Namun meskipun begitu, tampangnya justru jauh lebih seram karena wajah itu penuh dengan luka codetan.
Pendekar Tanpa Nama memandangi mereka satu persatu. Ternyata lima orang itu berbeda-beda. Perawakan mereka berbeda. Wajahnya pun berbeda.
"Niatku hanya lewat saja,"
"Lewat ke mana? Ujung dari tempat ini adalah pemakaman kuno,"
"Apakah maksudku kurang jelas?"
"Hemm, apa yang kau cari di makam itu?" tanya si orang tua yang tadi bicara pertama.
"Apapun yang aku cari, hal itu bukan urusanmu,"
Mereka langsung membungkam mulutnya masing-masing. Keadaan di sana mendadak hening. Hawa pembunuhan mulai terpancar dari tubuh orang-orang tersebut.
Keadaan seperti ini amat menegangkan. Karena itu artinya, sebuah pertarungan hebat pasti akan segera terjadi sebentar lagi. Bahkan sekarang pun sudah dimulai.
Wushh!!!
Tiga batang bintang persegi lima kembali melesat.
Jarak kedua belah pihak itu sangat dekat. Mungkin hanya terpaut beberapa langkah saja. Sedangkan luncuran itupun sangat cepat. Dalam jarak sedekat itu, bisa dibayangkan bagaimana cepatnya serangan mendadak tersebut.
Kalau orang lain, mungkin dia tidak akan sanggup menghindarkan diri lagi.
Lalu, apalah Cakra Buana sanggup menghindarinya?
__ADS_1