
"Tak kusangka kalau tokoh kosen seperti kalian bisa hadir juga di sini," kata Pendekar Tanpa Nama sambil tersenyum simpul.
Kesannya saat bicara memang biasa saja. Tetapi di antara mereka sama tahu kalau masing-masing pihak saling menghormati satu sama lain.
"Hahaha, aku pun tidak menyangka. Sudah lama aku mendengar tentang sepak terjang Pendekar Tanpa Nama yang selalu memberantas kejahatan. Untunglah hari ini kita bisa berjumpa," kata si Pedang Angin Puyuh mewakili tiga orang rekannya.
"Hahaha, sungguh perjumpaan yang tidak disangka-sangka. Ah iya, bagaimana kabar kalian ketiga orang tua?" tanya Cakra Buana sambil tertawa lebar.
"Kami bertiga baik. Bagaimana denganmu sendiri?"
"Sekarang pun aku baik. Tapi entah kalau nanti," jawabnya tersenyum penuh arti.
Saat ini Cakra Buana memang baik-baik saja. Sedikitpun tidak ada yang kurang dari dirinya. Akan tetapi entah kalau nanti.
Kelima orang itu tertawa nyaring. Semua orang prajurit yang hadir tidak ada yang berani mengambil tindakan. Mereka masih terdiam. Malah di antara prajurit itu tidak ada pula yang berani ikut nimbrung bicara.
"Kalau boleh tahu, sebenarnya apa kedatangan kalian kemari?" tanya Pendekar Tanpa Nama mulai membahas persoalan yang lebih serius lagi.
"Kami tidak ada maksud apa-apa. Datang kemari hanya karena ingin melihat keramaian saja. Aku harap hal tersebut tidak mengganggu ketenangan Pendekar Tanpa Nama," jawab si Pendekar Mata Satu sambil tersenyum.
"Kami ingin pergi melihat situasi diluar. Sampai berjumpa nanti," ujar si Kerdil Dewa Kipas.
Orang kerdil itu bicara sambil tertawa. Berbarengan dengan hal tersebut, dirinya langsung membuka kipas warna putih yang selalu digunakannya. Dia melangkahkan kaki sambil mengipas tubuhnya sendiri.
Tiga orang datuk dunia persilatan lainnya menyusul di belakang. Mereka melangkah perlahan. Akan tetapi kenyataannya sungguh jauh berbeda, baru sebentar saja, tiga tokoh kosen itu sudah berada diluar gerbang Istana Kerajaan.
Pendekar Tanpa Nama masih berdiri di tempatnya. Dia tidak melangkah ke depan. Juga tidak mundur ke belakang. Pemuda itu ibarat sebuah tombak yang sudah terpaku di bumi.
Pada saat itulah tiba-tiba ada hawa yang sangat menekan seluruh area di sekitar Istana Kerajaan. Daun pepohonan di sekitar Istana berguguran. Batangnya bergoyang karena hembusan angin tersebut.
Cakra Buana semakin waspada. Dia seakan mengenal hawa seperti ini. Entah kapan dan di mana, rasanya pemuda itu pernah merasakan hawa yang sama.
Sepasang matanya menatap semakin tajam ke arah depan. Mata itu memicing. Hawa murni disalurkan ke seluruh tubuhnya.
Angin berhembus ke halaman Istana Kerajaan. Debu mengepul tinggi lalu menyatu menjadi satu gulungan. Pandangan mata Pendekar Tanpa Nama jadi sedikit kabur. Dia tidak bisa melihat dengan jelas apa yang sudah terjadi di hadapannya saat ini.
__ADS_1
Namun begitu debu itu lenyap, pemuda tersebut kembali terkejut. Di depannya, dalam jarak sekitar sepuluh tombak, sudah berdiri tujuh orang berpakain mewah. Yang seorang merupakan wanita. Di belakangnya ada dua orang bertopeng.
Ternyata orang-orang yang baru datang itu bukan lain adalah Prabu Katapangan Kresna dan Selir Anjani Saraswati. Kedua orang tersebut datang bersama dengan pengawal pribadinya masing-masing.
Mereka tersenyum ke arah Cakra Buana. Sedangkan pemuda itu sendiri, sama sekali tidak membalas senyuman tersebut.
Dia muak. Benci. Dendam. Sekaligus sangat marah.
Namun untuk sekarang, bagaimanapun juga Pendekar Tanpa Nama harus bisa menahan semua amarahnya. Sebisa mungkin dia harus tetap berusaha untuk tenang.
Dalam situasi seperti ini, ketenangan dan konsentrasi tinggi sangatlah dibutuhkan. Kalau dua syarat utama itu sudah tidak ada dalam diri, maka bisa dipastikan kalau semuanya bakal gagal total.
Cakra Buana yakin kalau persoalan ini tidak semudah yang tertampak. Dia percaya, masih ada rahasia besar yang belum terungkap.
Untuk sekarang dia belum bisa menjawabnya. Namun kalau nanti, tentunya beda lagi. Cakra Buana sangat yakin pada saat masalah ini akan selesai, semuanya pasti bakal tersingkap. Tirai hitam di balik semua kejadian selama ini akan terbuka.
"Apa kabar, Pendekar Tanpa Nama?" tanya Selir Anjani Saraswati sambil tersenyum dingin.
"Kalau sudah tahu, kenapa masih bertanya?" jawab Cakra Buana membalas senyuman dingin itu.
"Kalau sudah tahu, kenapa masih bertanya? Kau lebih tahu daripada aku. Jadi segala macam pertanyaan yang akan kau ajukan kepadaku, semuanya hanya basa-basi saja," jawabnya masih dengan kata yang sama.
Selir Anjani menarik muka. Dia tidak mengira kalau pendekar muda itu berani bicara selancang itu.
"Berani bicara di tempat harimau mendekam naga bersembunyi, sungguh merupakan keberanian yang sangat luar biasa. Aku kagum," kata wanita licik itu sambil tersenyum mengejek.
"Aku tidak butuh pujianmu,"
Sementara itu, sejauh ini Prabu Katapangan Kresna masih diam. Dia belum bicara sepatah katapun. Entah apa sebabnya, namun wajahnya itu seperti mengandung perasaan takut tersendiri.
"Keponakanku, ke mana saja kau selama ini?" tanya Sang Raja.
Akhirnya dia buka suara. Namun sayang sekali, nadanya sangat kaku.
"Kau tidak perlu tahu," jawab Cakra Buana dingin.
__ADS_1
"Kurang ajar!!!" bentak Prabu Katapangan penuh amarah.
Pendekar Tanpa Nama tidak menjawab. Dia acuh tak acuh dengan bentakan pamannya barusan.
Wushh!!!
Tiba-tiba pemuda itu bertindak. Hawa pembunuhan langsung terasa menekan di tempat tersebut. Pedang Naga dan Harimau mengeluarkan sinar merah menyala. Kekuatan besar terkandung dalam pusaka tersebut.
Wushh!!!
Cakra Buana bergerak lebih dulu. Gerakannya sangat cepat. Pedang pusaka yang sakti mandraguna itu telah ditebaskan dalam kecepatan tinggi ke arah sepuluh pasukan elit Istana Kerajaan.
Sepuluh pasukan yang merasa nyawanya terancam langsung mengambil tindakan cepat. Mereka tentunya tidak bisa diam jika nyawanya terancam bahaya. Sepuluh batang pusaka kelas atas sudah dicabut olehnya masing-masing.
Trangg!!! Trangg!!! Trangg!!!
Benturan senjata pusaka beradu langsung terdengar nyaring. Sepuluh orang pasukan elit Istana Kerajaan itu tergetar. Masing-masing dari mereka tersentak mundur dua sampai tiga langkah ke belakang.
Pendekar Tanpa Nama tidak memberikan kesempatan bagi lawan untuk membalas serangannya. Secepat kilat, dia langsung melancarkan Jurus Pedang Kilat Tak Berbentuk.
Jurus pedang maha dahsyat yang tiada tanding itu kembali terlihat. Hawa kematian semakin kental. ***** membunuh menekan arena pertempuran.
Semua orang yang melihat pertarungan itu menahan nafas. Para prajurit kelas bawah tidak ada yang dapat menyaksikannya dengan jelas. Mereka hanya sanggup melihat bayangan merah yang berkelebat ke sana kemari secepat kedipan mata.
Wutt!!! Wushh!!! Wushh!!!
Pendekar Tanpa Nama mengeluarkan kemampuannya hingga delapan bagian tenaga dalam. Kalau sudah seperti ini, itu artinya dia tidak main-main lagi.
Pedang Naga dan Harimau menebas dengan sekuat tenaga. Sekali tebasan, satu kepala telah terlempar jauh. Satu anggota pasukan elit Istana Kerajaan telah tewas.
Darah muncrat ke segala arah. Sembilan orang rekannya langsung ketakutan. Mereka bersatu padu dalam satu serangan. Semua itu dimaksudkan demi untuk membunuh Pendekar Tanpa Nama.
Crashh!!!!
Seorang pasukan itu kembali menjadi korban keganasan Jurus Pedang Kilat Tak Berbentuk. Darah segar meleleh. Dada orang itu koyak. Dari sisi kanan hingga sisi kiri terdapat sebuah luka sayatan pedang yang cukup dalam.
__ADS_1