
Saat ini hari sudah siang. Matahari bersinar sangat terik sekali. Rasa panas amat menyengat tubuh. Untungnya di atas kapal angin berhembus cukup besar. Hal itu menjadikan berkurangnya rasa panas yang dapat dirasakan oleh setiap orang di sana.
Seperti biasanya, Cakra Buana sedang berdiri tegak di ujung kapal. Di sisinya ada pula Sin Jin. Dua tubuh itu tidak bergerak. Mereka sedang memperhatikan sebuah pulau yang ada di depan sana.
Dari jarak yang lumayan jauh, pulau itu tampak seperti kura-kura raksasa. Warnanya hijau. Meskipun belum jelas karena masih tertutup oleh kabut tengah laut, tapi siapapun dapat mengetahui bahwa tempat itu adalah pulau yang sangat besar.
Semakin lama, jarak kapal yang ditunggangi oleh Cakra Buana semakin mendekat dengan pulau tersebut. Mulutnya mendadak tersenyum simpul. Sorot matanya memancarkan rasa bahagia yang tiada terkira.
Pulau yang selalu dia rindukan. Pulau yang selalu terbayang dalam lamunannya. Setelah sekian lama dia pergi, akhirnya kini sudah kembali lagi. Pulau itu sudah terlihat oleh matanya. Walaupun masih remang-remang, tapi Cakra Buana yakin bahwa tidak lama lagi, dia akan segera tiba di Pelabuhan Lemah Jawi.
"Pulau apakah itu?" tanya Sin Jin sambil menunjuk ke arah Pulau Jawa.
"Itu adalah Pulau Jawa. Nanti kita akan turun di Pelabuhan Bantam, Tanah Pasundan,"
"Saat dulu akam pergi ke Tionggoan, kau berangkat dari pelabuhan mana?"
"Pelabuhan Tanah Jawi,"
"Kenapa sekarang kau tidak turun lagi di sana?"
"Berangkat dan pulang berbeda. Tanah kelahiranku adalah Pasundan. Maka aku memilih untuk turun di sana saja,"
"Jika ingin ke Kotaraja, apakah dari Pelabuhan Bantam jaraknya jauh?"
"Tidak seberapa jauh. Kalau menggunakan kuda, paling hanya beberapa hari sudah tiba di sana. Tapi kita tidak akan langsung ke Kotaraja," kata Cakra Buana.
"Lantas ke mana?"
"Nanti kau akan tahu sendiri,"
Sin Jin langsung terdiam sambil menganggukkan kepalanya dengan perlahan. Dia tidak mau memaksa seseorang yang tidak mau bicara.
Dalam beberapa hal, memaksa seseorang untuk bicara bukanlah jalan terbaik. Bukan tidak mungkin kalau dari paksaan itu akan ada masalah yang menghampiri hidupmu.
Cakra Buana tiba-tiba berjalan ke belakang tanpa bicara dulu kepada Sin Jin. Pemuda itu kemudian menghampiri seorang anak buah kapal, dia berbicara kepadanya dalam bahasa Tionggoan.
"Kira-kira kapan kita akan tiba di Pelabuhan Bantam?"
"Kalau cuaca mendukung, sepertinya sore hari nanti kita akan segera tiba di sana," jawab anak buah kapal tersebut.
"Ah, baiklah. Terimakasih,"
"Sama-sama Tuan," jawab orang tersebut.
__ADS_1
Selepas kembali ke tempatnya berdiri tadi, Sin Jin lantas segera mengajukan tanya pula.
"Apa yang kau tanyakan kepadanya?"
"Aku bertanya kapan kita tiba di Pelabuhan Bantam,"
"Apa jawabnya?"
"Sore hari nanti sepertinya kita akan tiba di sana,"
"Hahhh … akhirnya," ucapnya gembira. Dia lantas menggeliatkan tubuhnya.
Cakra Buana sendiri memandanginya dengan penuh selidik.
"Aku ngantuk, aku tidur dulu," kata Sin Jin lalu segera berlalu pergi.
Cakra Buana hanya tersenyum.
Perasaannya saat ini begitu bahagia. Dia amat gembira. Tanpa sadar, dirinya selalu tersenyum-senyum seorang diri.
Kalau ada orang lain yang melihat kejadian ini, niscaya mereka akan menganggapnya sebagai seorang pemuda yang sudah tidak waras.
###
Kapal yang ditumpangi oleh Cakra Buana sebentar lagi akan tiba di pelabuhan. Pemuda itu segera mempersiapkan dirinya. Barang-barang miliknya telah disiapkan.
Sin Jin belum nampak batang hidungnya. Mungkin sahabatnya itu masih tertidur.
Cakra Buana memutuskan untuk pergi ke kamarnya.
Ternyata benar, dia masih tidur. Tidur dengan anggun, layaknya seorang wanita. Kamar itupun amat bersih, bahkan menebarkan bau harum seorang wanita.
Seorang pria tulen yang masih muda, tapi di kamarnya bau harum wanita.
Sebenarnya dia itu pria atau wanita? Kalau pria, kenapa minyak wanginya berbau wanita? Kalau wanita, kenapa malah berdandan pria? Dan siapa dia sebenarnya?
Cakra Buana tidak mau berpikir hal macam-macam. Pemuda itu segera membangunkan Sin Jin. Tapi sebelum tangannya terjulur, pemuda itu malah sudah terbangun.
"Mau apa kau masuk kamarku?" tanyanya kaget sambil bangkit dari tidurnya.
"Aku hanya ingin membangunkanmu, kita sudah hampir tiba di pelabuhan. Segeralah bersiap, setelah itu langsung keluar dan temui aku," Cakra Buana berkata sambil berlalu dari kamar Sin Jin.
Pemuda itu langsung mengemas barang-barang miliknya. Dia pun menyempatkan diri untuk mandi.
__ADS_1
Begitu selesai, ternyata benar, Cakra Buana sudah menunggunya.
"Apakah kita sudah sampai?" tanyanya begitu dia tiba di dekat pemuda tampan tersebut.
"Sudah, sebentar lagi akan sampai,"
Sin Jin menatap ke depan. Ternyata benar, kapal mereka hampir sampai di pelabuhan.
Dan setelah beberapa menit kemudian, kapal itu akhirnya berlabuh.
Bunyi terompet kapal sebagai tanda agar yang ada di sekitarnya menyingkir terdengar sangat keras. Uap kehitaman mengepul tinggi ke atas. Anak buah kapal segera membuka pintu bagi para penumpang yang hendak turun.
Puluhan orang mulai turun. Cakra Buana dan Sin Jin juga turun.
Setelah para penumpang yang turun itu, kini segera bergantian. Para calon penumpang yang akan naik, mulai naik ke atas kapal.
Teriakan orang-orang yang bekerja menawarkan jasa angkut barang juga terdengar keras. Satu persatu dari mereka mulai mendapatkan bagian. Setelah sekian lama menunggu pelanggan, akhirnya orang-orang tersebut mendapatkannya.
Semua tukang jasa angkut barang itu merasa sangat bersyukur. Akhirnya anak istri atau orang tua mereka bisa makan. Meskipun upahnya tidak terlalu besar, tapi toh mereka bisa bertahan hidup sampai sekarang.
Cakra Buana dan Sin Jin sudah berada diluar pelabuhan. Keduanya celingukan ke sana kemari seperti sedang mencari sesuatu.
Suasana Pelabuhan Bantam ternyata sangat ramai.
Deretan kedai yang menjual makan sudah dipenuhi oleh pengunjung. Penginapan juga sama. Seolah di sekitar pelabuhan itu tiada tempat yang kosong. Tidak ada yang sepi. Semuanya ramai. Semuanya sudah terisi.
"Apakah kau merasa lapar?" tanyanya kepada Sin Jin.
"Lumayan,"
"Kalau begitu mari kita cari makan. Akan aku kenalkan kau kepada menu makanan khas Tanah Pasundan. Aku jamin makanan di sini tidak kalah enaknya dengan makanan di Tionggoan,"
Mendengar itu Sin Jin girang. Dia langsung menganggukkan kepalanya dengan cepat.
"Kalau begitu mari kita cari tempat makan. Aku sudah tidak sabar ingin makan makanan khas tanah kelahiranmu,"
Sin Jin berjalan lebih dulu, dia bahkan menarik tangan Cakra Buana.
Mereka sengaja memilih kedai yang agak jauh dari pelabuhan. Alasannya agar dua orang itu mendapat ketenangan. Karena kalau terlalu ramai, toh makan pun jadi terasa tidak enak.
Bisa jadi kenikmatan mereka malah terganggu oleh hal-hal tertentu. Belum. Lagi karena bisingnya suara orang-orang yang memesan menu makanan.
Meskipun hal tersebut terdengar lumrah, tapi bagi sebagian orang, bukankah makan terlalu ramai pun bisa mendatangkan rasa tidak nyaman?
__ADS_1