Pendekar Tanpa Nama

Pendekar Tanpa Nama
Dua Jurus Maha Dahsyat


__ADS_3

Sekarang musuh yang tersisa hanyalah sepuluh orang saja. Dua belas dengan nenek tua berwajah burik itu. Sampai sekarang, kedua wanita tua tersebut belum lagi turun ke gelanggang pertarungan.


Entah apa yang menyebabkan mereka masih berdiri tanpa pergerakan. Siapapun tidak ada yang mengetahuinya secara pasti.


Hanya saja, kedua nenek tua tersebut seperti terkaget-kaget saat melihat betapa tingginya kemampuan Pendekar Tanpa Nama. Baru sekarang saja mereka menyadari kalau pemuda itu ternyata bukan orang sembarangan.


"Kalau begini kejadiannya, sepertinya kita pun akan ikut tewas," kata si nenek yang di sebelah kiri.


"Aku setuju dengan ucapanmu," jawab nenek di sebalah kanannya.


"Kalau begitu, apakah kita harus kembali?"


"Lebih baik mati di medan laga daripada mati tangannya,"


Si nenek yang satunya menghela nafas. Sorot matanya menggambarkan kebingungan yang tiada duanya. Dia sendiri setuju akan ucapannya rekannya barusan. Memang, mati di medan lagi jauh lebih baik daripada di tangan orang yang sudah memberikan tugas kepadanya.


Bagi sebagian tokoh dunia persilatan, mati tanpa perlawanan adalah kematian yang hina. Lebih hina dari segala yang terhina.


"Baiklah. Kalau begitu kita hadapi saja Pendekar Tanpa Nama itu. Aku ingin tahu sampai di mana ketinggian ilmunya,"


"Jangan sekarang. Bagaimanapun juga, kita adalah tokoh tua. Tidak pantas rasanya kalau ikut mengeroyok angkatan muda sepertinya. Mau ditaruh di mana muka kita kalau sampai kejadian ini tersebar ke dunia luar?"


"Kau benar. Baiklah, kita tunggu saja sampai pertarungan itu selesai. Hitung-hitung melihat kemampuan lawan,"


"Tepat sekali. Turun tangan terakhir pun bukanlah hal buruk. Pada saat itu, toh dia pastinya sudah kehabisan tenaga. Saat itu adalah saat yang paling tepat untuk membunuhnya,"


Si nenek tua di sisinya mengangguk setuju. Ucapan rekannya barusan sangat masuk akal. Sehebat dan setinggi apapun kekuatan seseorang, selama dia manusia, pastinya bakal ada batasnya. Orang itu tentu bakal kelelahan kalau terus-menerus bertarung tanpa berhenti.


Gagasan yang sangat masuk di akal. Ucapan yang mudah dimengerti oleh orang lain.


Sementara itu, pertarungan di depan sana masih berlanjut. Sepuluh pendekar kelas satu itu menyerang Pendekar Tanpa Nama dengan gencar. Mereka bersatu padu dalam setiap serangannya.


Sepuluh orang bekerja sama hanya demi membunuh satu orang pemuda. Kilatan segala macam senjata pusaka memenuhi angkasa raya. Benturan nyaring dan bentakan keras terus dilontarkan demi menggugah semangat dalam diri mereka masing-masing.


Udara hampa. Suasana semakin menegangkan. Pertarungan pun bertambah seru.

__ADS_1


Dua orang menyerang dari sisi kanan. Pedang dan tombak menyatu dalam satu serangan. Yang satu mengarah ke dada. Lebih tepatnya ke bagian jantung. Titik paling penting dalam tubuh manusia.


Sedangkan satu lagi mengarah ke leher. Titik yang tidak kalah pentingnya dari letak jantung.


Bersamaan dengan dua serangan hebat itu, dari sisi kiri juga datang serangan yang tidak kalah dahsyatnya.


Rantai yang panjang dan trisula menerjang keras ke arah Cakra Buana. Keduanya mengandalkan kecepatan yang tiada banding. Semuanya serangan kelas atas. Jurus yang dikeluarkan adalah jurus yang jarang digunakan jika keadaan tidak kepepet.


Oleh sebab itulah, siapapun dapat menduga kalau sekarang adalah saat-saat paling kritis. Saat-saat penentuan antara hidup dan mati mereka.


Serangan bukan hanya datang dari sisi kanan dan sisi kiri. Bahkan dari arah depan dan belakang, juga bagian atas, ada pula para pendekar kelas satu yang menyerang dengan jurus dan serangannya masing-masing.


Sepuluh pendekar menyatu dalam satu tekad. Mereka memiliki tujuan dan maksud yang sama. Yaitu membunuh Pendekar Tanpa Nama.


Sepuluh serangan dahsyat telah datang menerjang bagaikan amukan badai yang dapat menghancurkan segalanya.


Pendekar Tanpa Nama masih berdiri dengan tegak. Dia belum bergerak sama sekali. Sepasang matanya mencorong tajam kepada sepuluh serangan tersebut.


Pada detik-detik penentuan, sepasang mata itu tiba-tiba berkilat penuh dendam membara. Amarahnya berkobar lebih hebat lagi.


Wushh!!!


Akhirnya Pendekar Tanpa Nama mengambil tindakan. Tanpa tanggung-tanggung lagi, pemuda itu langsung mengeluarkan dua jurus maha dahsyat yang tidak pernah terlintas dalam benak semua musuhnya.


Jurus Pedang Kilat Tak Berbentuk dan Jurus Tanpa Bentuk.


Dua jurus yang berbeda namun saling melengkapi satu sama lain. Dua jurus yang merupakan pasangan sangat sempurna.


Jurus-jurus maha hebat itu kini telah dilancarkan dengan segenap kemampuan. Delaan bagian tenaga dalam sudah dikeluarkan oleh Pendekar Tanpa Nama.


Debu mengepul tinggi menutupi tubuhnya. Pusaran angin terbentuk di sekitarnya.


Wushh!!!


Bayangan merah melesat dengan kecepatan diluar nalar. Suara bergemuruh seketika terdengar sangat jelas. Arena pertarungan diselimuti oleh debu tebal yang mirip seperti kabut di tengah malam.

__ADS_1


Tiada seorangpun tahu apa yang sedang terjadi di dalam pusaran debu tersebut. Termasuk dua nenek tua itu. Keduanya tidak dapat menyaksikan dengan jelas. Pandangan mata mereka kabur. Yang ada di hadapannya hanyalah debu dan debu.


Wutt!!!! Crashh!!! Crashh!!!


Suara sama terus terdengar bersahutan.


Bukk!!! Plakk!!! Brakk!!!


Disusul kemudian dengan suara pukulan dan hentakan tangan serta kaki. Semuanya terjadi dalam waktu sekejap mata. Siapapun tidak bakal dapat membayangkannya.


Dua orang penyerang mulai terlempar jauh ke belakang. Disusul kemudian dengan beberapa orang lainnnya yang juga terlempar. Kejadian serupa terus terjadi tanpa berhenti.


Semuanya bagaikan mimpi buruk. Mimpi buruk tapi nyata terjadi.


Sepuluh pendekar kelas satu dunia persilatan tewas dalam waktu yang terhitung singkat. Mereka semua mengalami luka yang sangat parah. Darah segar membanjiri padang rumput.


Kondisi mereka bermacam-macam. Meskipun luka-luka yang dialaminya berbeda, tapi keadaannya jelas sama.


Mereka merasakan sakit yang tiada tara. Sepuluh orang itupun mati membawa rasa penasaran. Berbagai macam pertanyaan timbul dalam benaknya. Tapi sayang sekali, sebanyak apapun pertanyaan yang ingin mereka lontarkan, dan sebanyak apapun jawaban yang didapatkan, orang-orang itu tentu tidak dapat mendengarnya lagi.


Karena sekarang mereka telah mampus.


Memangnya ada mayat yang bisa mendengar sebuah jawaban?


Arena pertarungan hancur total. Hawa yang tadinya sejuk, sekarang berubah menjadi panas karena amarah Pendekar Tanpa Nama.


Dua nenek tua berwajah jelek itu merasa sangat ketakutan. Keduanya tidak pernah membayangkan kalau mereka bakal menyaksikan sebuah kejadian mengerikan seperti yang baru saja terjadi.


Tubuhnya bergetar makin hebat. Keringat dingin yang keluar juga semakin banyak.


Sebenarnya mereka ingin lari. Tapi sayang sekali, keduanya tidak bisa lari.


Karena itulah, nenek tua tersebut langsung menyerang secara bersamaan. Jurus tangan kosong yang merupakan senjata andalannya segera dikeluarkan.


Keduanya melompat lalu menerjang dari arah depan belakang. Masing-masing tangan mereka mengirimkan pukulan dan serangan tapak maha dahsyat.

__ADS_1


Sebelum serangan keduanya tiba, angin tajam sudah menderu menyambar lebih dulu.


__ADS_2