Pendekar Tanpa Nama

Pendekar Tanpa Nama
Kejadian Saat Hujan Lebat


__ADS_3

Balairung itu lngsung dilanda kesunyian. Baik itu Cakra Buana, ataupun Tuan Santeno, keduanya belum ada yang bicara lagi. Mereka sepertinya sedang bergelut dengan pikirannya masing-masing.


Matahari semakin condong ke barat. Para murid perguruan yang tadi berlatih, sekarang sudah selesai. Saat ini mereka sedang beristirahat bersama para temannya.


"Kehidupan mereka penuh dengan semangat," ucap Cakra Buana mengalihkan pembicaraan.


"Ya, aku sendiri merasa bangga kalau melihat semangat mereka yang tidak pernah padam," kata Tuan Santeno menimpali.


"Orang hidup harus selalu semangat," gumam pemuda itu.


Siapa yang hidup memang harus semangat. Untuk menjalani kehidupan di muka bumi, rasa semangat harus selalu ada dan bersemayam dalam diri.


Kehidupan hanya untuk mereka yang bersemangat dalam setiap perjuangan. Kalau yang tidak semangat, lebih baik jangan hidup.


Karena yang tidak memiliki semangat hakikatnya hanya orang mati saja.


Semangat untuk hidup, atau hidup untuk semangat?


Tuan Santeno menenggak cangkir tuaknya. Dia langsung menghabiskan dalam sekali teguk. Sudah lama dirinya tidak minum tuak. Untungnya sejak muda dia sudah terbiasa, sehingga meskipun lama tidak minum, Tuan Santeno tidak merasakan sesuatu apapun kecuali perasaan yang selalu dia alami sejak dulu pada saat minum tuak itu.


"Paman rasa, tujuanmu kemari bukan hanya untuk menengok kabar," ucap Tuan Santeno mengalihkan pembicaraan.


"Memang benar," jawan pemuda itu tanpa ragu.


"Lalu, apa tujuanmu yang lainnya?"


"Aku kemari karena ingin berduel dengan Raja Tombak Emas Dari Utara, sesuai apa yang sudah kita setujui waktu itu,"


Tuan Santeno tidak kaget dengan jawaban tersebut. Hakikatnya dia sudah tahu akan hal ini, sebab karena dirinya tidak pernah melupakan perjanjian di antara kedua orang itu.


Sebagai orang-orang persilatan, bagaimana mungkin dia bisa melupakan rencana duel yang bahkan dibicarakan di tempatnya ini?


Sejujurnya dia merasa senang karena akhirnya dapat melihat satu pertempuran yang pastinya berjalan dahsyat itu. Tapi di sisi lain, Tuan Santeno juga merasa khawatir. Dia khawatir akan kehilangan seseorang di antara mereka berdua.


Sebab bagaimanapun juga, di pertempuran itu pastinya bakal ada yang menjadi korban. Untuk hal ini, dia tidak dapat memastikan siapa yang akan kalah dan siapa yang akan menang. Diapun tidak berharap.


Yang dia harapkan hanyalah tidak ingin ada korban jatuh. Walaupun orang tua itu tahu bahwa harapan tersebut mustahil, tapi bukankah setiap orang boleh berharap apa saja?

__ADS_1


Selama nyawa masih dikandung badan, maka harapan harus selalu ada.


"Hal itu Paman juga sudah tahu. Selain dari alasan yang kau sebutkan barusan, bukankah masih ada alasan lainnya lagi?" tanyanya lebih lanjut.


"Ya, ada,"


"Apa?"


Cakra Buana menghela nafas lebih dulu. Dia tidak langsung menjawab. Sorot mata dan milik wajah pemuda itu berubah hebat. Seperti ada kemarahan yang terpendam dalam tubuhnya.


"Aku ingin tahu siapakah orangnya yang telah menyuruh Maling Sakti Seribu Wajah untuk mengambil Pedang Merah Darah milik sahabatku, Pendekar Pedang Kesetanan. Selain itu, aku juga ingin mendengar penjelasan Paman, kenapa orang tua itu bisa mencuri pedang pusaka sahabatku? Bukankah penjagaan di perguruan ini sangat ketat sekali, kalau iya lantas kenapa hal itu dapat terjadi?" tanya Cakra Buana.


Dia mengucapkannya penuh dengan penekanan. Setiap patah kata diucapkan dengan mantap sehingga Tuan Santeno dapat mendengar jelas.


Raut wajah orang tua itupun berbah hebat. Antara heran, sedih, marah dan benci bercampur menjadi satu. Wajahnya mendadak terlihat lebih tua beberapa tahun.


Tuan Santeno sudah menduga bahwa saat seperti ini pasti bakal terjadi. Cepat atau lambat. Dan sekarang telah terbukti.


Untuk sesaat lamanya dia hanya mampu tertunduk memandangi cangkir tuak yang sudah kosong itu. Dia bingung. Tidak tahu harus menjawab bagaimana.


"Kalau Paman menjawab, apakah kau bakal percaya?"


"Baiklah. Kalau begitu Paman akan mengatakan apa yang diketahui,"


Tuan Santeno kemudian mengisi kembali cangkir tuaknya. Dia langsung meminumnya sampai habis. Setelah tubuhnya bisa diajak bekerja sama, orang tua itu segera bercerita.


"Malam itu hujan turun dengan deras. Petir menggelegar menyambar-nyambar. Paman sedang duduk di sini seorang diri. Para murid yang ditugaskan menjaga, masih tetap menjalankan tugasnya masing-masing. Awalnya biasa saja, tidak terjadi sedikitpun keanehan yang terlihat. Tapi beberapa saat kemudian, peristiwa itu mulai terjadi,"


"Suara teriakan menjelang ajal mulai terdengar di tempat para murid berjaga. Di tengah hujan lebat itu, beberapa orang murid perguruan tewas mengenaskan di tangan Maling Sakti Seribu Wajah. Sejurus kemudian, cahaya kuning melesat masuk ke daerah terlarang, tempat bersemayamnya Pendekar Pedang Kesetanan,"


"Cahayanya sangat cepat. Hanya sesaat saja, semuanya telah sirna. Sebenarnya pada saat itu Paman ingin memburu. Bahkan sudah siap mengejarnya. Sayang, sesuatu juga sudah terjadi kepada Paman sendiri,"


Sampai di sini, Tuan Santeno berhenti sebentar. Wajahnya memancarkan kemarahan besar dalam dirinya. Sinar matanya membara seperti api di neraka.


"Apa yang sudah terjadi kepada Paman?"


"Seseorang telah melemparkan senjata rahasia dan tepat mengenai paha kanan Paman,"

__ADS_1


"Siapa yang melemparkannya?"


"Paman tidak tahu. Hingga saat ini, Paman masih belum mengetahui dengan pasti," jawabnya gemas.


"Lalu senjata rahasia apa sehingga bisa melukai Paman?"


"Hanya tiga buah bambu kuning tajam yang lebih kecil daripada jarum," katanya secara perlahan.


Cakra Buana tersentak. Dia amat kaget mendengar penuturan Pamannya.


Betapa tidak? Pendekar Tanpa Nama sudah beberapa kali menemui senjata rahasia itu. Meskipun sekilas hanya sederhana, walaupun terlihat biasa saja, tapi siapa sangka? "Jarum bambu kuning" itu justru amat sangat menakutkan.


"Aku tidak bisa membayangkan bagaimana cepatnya luncuran jarum itu," gumamnya sambil memandang jauh.


"Sangat cepat sekali,"


"Ya, itu pasti. Mungkin kecepatannya tidak terlihat oleh mata sendiri, sebab kalau tidak begitu, tidak mungkin seorang Tuan Santeno dapat dilukai dengan mudahnya,"


Semua orang tahu itu. Siapapun tidak ada yang meragukan bagaimana tingginya ilmu guru Perguruan Tunggal Sadewo tersebut. Kalau tidak terlampau cepat, pastinya tidak mungkin dia dilukai. Jika bukan tokoh yang setara dengannya, mustahil orang itu sanggup melakukan hal demikian.


Tapi yang jadi pertanyaannya sekarang, siapakah orangnya?


Tuan Santeno tidak menampik perkataan Cakra Buana. Kalau orang lain saja yakin dengan kekuatannya, kenapa dia sendiri tidak?


Selamanya, Tuan Santeno Tanuwijaya adalah orang yang sangat yakin terhadap dirinya. Terutama kekuatannya.


"Pada saat itu, apakah ada orang lain yang Paman lihat?"


"Ada, hanya satu orang saja,"


"Siapa?"


"Sri Ningsih …" katanya sambil menggertak gigi.


Cakra Buana dibuat terkejut untuk yang kesekian kalian. Dia tidak ingin percaya dengan ucapan Tuan Santeno.


"Apakah Paman tidak salah lihat?"

__ADS_1


"Pasti tidak. Walaupun usiaku sudah setua ini, tapi mataku masih belum tua. Sepasang masa ini masih dapat diandalkan, dan Paman yakin akan hal itu,"


__ADS_2