
Dia memakai jubah berwarna kelabu. Kepalanya botak. Tubuhnya kecil, bahkan tampak seperti tidak memiliki daging. Hanya kulit yang berbalut tulang belulang saja.
Dia berjalan mendekati Cakra Buana dengan senyuman. Matanya mencorong. Alis matanya tebal mirip golok.
"Maaf Tuan, aku tersesat. Ingin bertanya ke mana arah yang menuju ke kampung atau pedesaan?" tanya Cakra Buana dengan sopan.
"Aii, ternyata orang yang tersesat. Mari,mari, masuk saja dulu. Kita bicara di dalam," ajak orang tua tadi.
Dia adalah paderi agama Tao atau dalam bahasa Tiongkok biasa disebut Tosu. Tosu tua itu kemudian mengajak Cakra Buana masuk ke dalam kuil bobrok. Walaupun luarnya seperti kuil, ternyata dalamnya tidak nampak mirip kuil.
Di dalamnya sangat bobrok. Sarang laba-laba memenuhi seisi ruangan. Ada juga beberapa kelelawar yang terlihat menggantung di kayu-kayu atap bangunan.
Cakra Buana di bawa ke sebuah ruangan. Mirip ruang tamu, tapi keadaannya juga sama kotor.
"Kau pasti belum makan, sebentar aku akan menyiapkan makan untukmu sambil mengambil arak. Kau tunggu saja di sini," kata Tosu tua tersebut lalu masuk ke dapur.
Pemuda itu ingin pergi, tetapi dia tahu etika. Kalau tuan rumah menyuruhmu untuk makan, kalau bisa jangan menolaknya. Sebab jika begitu, artinya kau sudah menyinggung perasaan si tuan rumah.
Walaupun hanya makan sedikit, bagi tuan rumah itu saja sudah cukup. Setidaknya kau masih menghargai dirinya.
Setelah beberapa saat menunggu, akhirnya Tosu tua itu datang kembali. Di tangannya ada sup yang masih mengepulkan asap. Jelas, sup itu masih panas. Dia kembali lagi sambil membawa nasi dan arak.
Tanpa banyak bicara lagi, keduanya segera menyantap makanan. Setelah selesai makan, Tosu dan Cakra Buana segera menikmati arak sambil berbicara.
"Nama anak muda yang gagah ini siapa dan tujuannya hendak ke mana?"
"Nama saya Cakra Buana, saya ingin mencari perkampungan terdekat Tuan. Tak disangka saya malah tersesat,"
"Aii, kau bukan orang asli sini?"
"Bukan Tuan. Kalau sudi, mohon kiranya Tuan beritahu arah mana yang harus aku tempuh supaya tiba di perkampungan,"
__ADS_1
"Baiklah anak muda, nanti aku akan memberitahumu. Sekarang kita habiskan arak ini sebagai tanda persahabatan,"
Mereka minum lagi. Keduanya menghabiskan arak tersebut sambil ditemani beberapa potong daging.
Hari mulai semakin siang. Matahari semakin meninggi hampir tepat di atas kepala. Cakra Buana dan Tosu tua sudah menghabiskan araknya.
Kini si pemuda serba putih tersebut pamit untuk undur diri.
"Aii, buru-buru sekali. Tapi baiklah, dari sini sejauh lima ratus meter, kau lurus saja. Nanti ada pertigaan hutan, kau ambil jalur kanan. Saat bertemu belokan lagi, ambil kanan juga. Setelah dua ratus meter kemudian, kau akan menemukan perempatan hutan. Di situ ambil saja jalur kiri. Nah dari situ, kau tinggal lurus saja. Nanti di depan ada sebuah desa," kata si Tosu tua memberitahu ke mana jalan untuk menuju pemukiman warga.
"Baiklah, terimakasih atas petunjuknya Tuan. Semoga langit selalu melindungi Tuan,"
Cakra Buana segera melangkah keluar. Dia terus mengingat petunjuk si Tosu tua tadi. Pendekar Tanpa Nama berlari sejauh lima ratus meter. Lalu belok, berlari kembali.
Terus seperti itu hingga dia tiba di belokan hutan terakhir.
Suasana di hutan tersebut cukup tenang. Tak ada suara apapun kecuali suara burung nuri yang hinggap di atas pohon. daun-daun bergoyang lembut tertiup angin. Cahaya matahari tidak terlalu menyorot karena terhalangi oleh rimbunnya dedaunan.
Jalanan itu sepertinya biasa dilalui oleh orang-orang sekitar. Terlihat ada bekas kereta kuda dan tapak kaki orang lain.
Belum lama berada dalam keadaan seperti itu, mendadak tiga sosok sudah ada di hadapan Cakra Buana. Ketiganya merupakan pria tua. Salah satunya si Tosu tua tadi.
Pemuda itu masih hijau di dunia persilatan Tiongkok. Dia belum tahu siapa saja tokoh-tokoh hebat di sana. Bagaimana rupanya, dan siapa namanya.
Cakra Buana hanya tahu beberapa saja. Dan tentu, Huang Yang Qing masuk dalam tokoh hebat yang sudah dia ketahui.
Tiga orang tersebut berdiri tepat satu dua tombak di depannya. Mata mereka menyorot tajam seperti serigala yang lapar. Ketiganya memiliki penampilan sama.
Tiga orang tua itu merupakan Tosu.
Mereka biasa dikenal sebagai Tiga Tosu Sesat. Yang tadi Cakra Buana temui adalah Tosu Tangan Geledek. Dia merupakan tokoh yang cukup ditakuti oleh kaum dunia persilatan.
__ADS_1
Dua rekannya bernama Tosu Angin Badai dan Tosu Kaki Besi Tendangan Guntur.
Mereka semua bukan sembarangan Tosu. Ketiganya tokoh sesat. Hampir semua kalangan sesat kenal kepada mereka. Apalagi dengan jurus-jurusnya yang bisa mencabut nyawa kapanpun.
"Kau kenapa anak muda?" tanya Tosu Tangan Gledek yang tadi sempat bersama Cakra Buana. Nada suaranya seperti seorang yang sedang bersedih, padahal dalam hatinya dia sangat senang bahwa usahanya lancar tanpa kendala.
"Aku merasa sangat pusing sekali Tuan. Bahkan tubuhku rasanya sangat lemas," ujar Cakra Buana sambil berusaha mempertahankan kesadarannya.
"Aii, kenapa bisa begini? Mari, mari, biar aku periksa dulu lukamu," kata si Tosu Tangan Gledek.
Dia langsung maju menghampiri Cakra Buana. Langkahnya amat tenang sekali. Sepertinya dia sangat percaya diri sekali.
Tangannya dijulurkan ke depan hampir di tempelkan ke depan dada. Cakra Buana masih terdiam.
Namun begitu tangan tersebut menempel di dada, mendadak Tosu Tangan Gledek itu terjengkang ke belakang.
Untung bahwa kedua rekannya segera menahannya. Kalau tidak, sudah pasti Tosu tua itu akan tersungkur.
Tiba-tiba Cakra Buana bangkit berdiri. Tubuhnya seketika langsung terlihat segar bugar. Wajah yang tadinya pucat, kini sudah kembali normal seperti sedia kala.
Dia benar-benar telah pulih. Tak terlihat bahwa pemuda itu keracunan.
Tiga Tosu sangat kaget melihat kejadian ini. Sebelumnya mereka sudah melihat bahwa anak muda itu jelas keracunan, tetapi kenapa sekarang dia menjadi segar bugar?
"Ba-bagaimana kau bisa? …" Tosu Tangan Gledek tidak dapat bicara lebih jauh. Dia sungguh tidak mengerti kenapa bisa begini.
"Hehehe, tentu saja aku bisa tahu. Bahkan dari awal aku sudah tahu bahwa arak dan sup yang kau berikan itu mengandung racun," kata Cakra Buana dengan santai.
Tiga tosu saling pandang. Mereka tokoh tua, sudah mengetahui jenis-jenis racun yang ada di dunia ini. Dan racun yang mereka gunakan untuk meracuni Cakra Buana adalah racun ganas.
Racun Perenggut Nyawa.
__ADS_1
Seperti juga namanya. Racun itu memang ditujukan untuk merenggut nyawa seseorang. Belum ada orang yang selamat dari ganasnya racun tersebut. Kalaupun ada, mungkin itu hanya beruntung saja. Atau kalau tidak si target memang merupakan pendekar kelas atas sehingga dia bisa bertahan.
Lalu, bagaimana dengan anak muda itu? Termasuk ke golongan yang mana dia? Golongan orang yang beruntung kah? Atau golongan yang merupakan pendekar kelas atas?