
Bayangan merah berkelebat cepat seperti halnya hantu gentayangan. Setiap kali tubuhnya melesat, selalu timbul kesiur angin dingin yang menusuk tulang.
Sudah beberapa kali Cakra Buana menyusuri berbagai tempat yang ada di Perkampungan Raja Harimau itu, namun untuk saat ini pemuda itu baru bisa menyelinap di bagian luarnya saja.
Untuk menyelinap masuk ke bagian dalam, Pendekar Tanpa Nama tidak mau bertindak gegabah. Alasannya karena Cakra Buana tahu bahwa di bagian dalam, para penjaganya bukanlah penjaga biasa.
Dapat dipastikan bahwa mereka yang menjaga merupakan tokoh-tokoh dunia persilatan. Meskipun namanya tidak terlalu tenar, namun setidaknya nama mereka sudah cukup untuk membuat orang merasa jeri.
Sekalipun dirinya sudah mencapai tahap tinggi dalam hal pencapaian sebuah ilmu, namun bagaimanapun juga dirinya merupakan manusia. Selalu saja ada manusia di atas manusia. Selalu ada langit di atas langit.
Di muka bumi ini, apapun bisa terjadi jauh diluar dugaan kita.
Setelah beberapa saat bolak-balik memeriksa keadaan penjagaan diluar Perkampungan Raja Harimau, akhirnya Pendekar Tanpa Nama memutuskan untuk berhenti.
Sekarang pemuda itu telah kembali lagi ke tempat semula. Dia sedang duduk lagi di atas dahan pohon yang sebelumnya. Di tangan kirinya masih menggenggam guci arak yang isinya tinggal sedikit lagi.
Sepasang matanya masih memandang jauh ke depan sana. Posisinya saat ini sangat mirip seperti posisi sebelum dia bergerak mencari informasi tentang Perkampungan Raja Harimau.
Senja telah tiba. Cakra Buana sedang berjalan di antara kerumunan orang-orang. Pemuda itu berjalan santai. Langkahnya amat tenang. Setenang wajahnya saat ini.
Hasil penyelidikan yang tadi dia lakukan cukup memuaskan. Meskipun memang dia baru tahu penjagaan luarnya saja, namun hal itu saja sudah cukup.
Pemuda tampan itu mendapati bahwa di setiap sudut bangunan Perkampungan Raja Harimau dijaga setidaknya oleh sepuluh orang pendekar kelas rendah.
Setiap sudut pasti ada penjaga. Di setiap gerbang juga sama. Ternyata kekuatan Perkampungan Raja Harimau bukan hanya bualan belaka. Kabar itu bukan kabar biasa. Karena pada kenyataannya memang terbukti nyata.
Menurut perkiraan Cakra Buana, rasanya bukan hal mudah untuk melenyapkan perkampungan yang sangat disegani tersebut.
Jangankan sebuah organisasi, bahkan sebuah pasukan bentukan pemerintahan sekalipun belum tentu dapat melakukan hal tersebut.
Dari analisa itu saja sudah dapat diperkirakan bagaimana kekuatan perkampungan itu.
__ADS_1
Lantas, apa yang akan dilakukan oleh Pendekar Tanpa Nama sekarang? Apakah dia akan tetap melangkah maju ke depan? Ataukah dia bakal mundur ke belakang sekarang juga?
###
Restoran itu cukup mewah. Banyak orang-orang yang datang berkunjung ke sana. Hampir semua meja makan telah dipenuhi oleh pengunjung yang berasal dari berbagai macam kalangan. Ada yang kaya, ada yang miskin, tua muda, orang-orang dunia persilatan atau bukan, pokonya setiap jenis manusia seperti ada di restoran tersebut.
Di antara bangku-bangku yang sudah penuh itu, ternyata masih ada satu buah bangku yang kosong. Namun di sana pun sudah ada seorang pengunjung lain. Yang kosong adalah bangku di sampingnya.
Orang yang duduk di bangku tersebut sudah berusia cukup tua. Usianya sekitar lima puluh tahunan. Wajahnya sudah terlihat banyak sekali kerutan. Pakaiannya dekil. Juga penuh tambalan.
Penampilannya tidak menunjukkan bahwa dia merupakan orang yang banyak uang. Tapi, kenapa orang yang tidak banyak uang bisa masuk ke sebuah restoran mewah?
"Maaf sudah membuat menunggu lama," kata Cakra Buana begitu pemuda itu tiba di hadapan orang dekil tersebut.
"Tidak, tidak lama. Umpama harus menunggu dua hari penuh sekalipun, aku akan tetap menunggu Tuan. Silahkan duduk Tuan Cakra," ujar orang tersebut penuh hormat.
Cakra Buana langsung duduk. Orang tadi segera menuangkan secawan arak harum yang sudah tersedia di meja tersebut.
Keduanya segera bersulang arak. Mereka tampak akrab. Padahal keduanya bari pertama kali bertemu.
"Beliau baik-baik saja. Ketua cabang tidak perlu khawatir," jawab Cakra Buana dengan sebuah senyuman hangat.
Ketua cabang, orang yang dihadapan Pendekar Tanpa Nama sekarang memang merupakan ketua cabang. Lebih tepatnya ketua cabang dari Kay Pang Pek.
Seperti yang diketahui oleh semua orang, Kay Pang Pek adalah perkumpulan terbesar yang ada di Tionggoan. Di setiap tempat, setiap kota yang ada di daratan Tionggoan, pasti terdapat satu cabang Kay Pang Pek yang cukup besar?
Anggota mereka biasanya juga tidak sedikit. Semua orang tahu akan kebenaran hal ini.
Pendekar Tanpa Nama bersama ketua cabang itu mulai bicara serius. Keduanya membahas tentang Perkampungan Raja Harimau. Meskipun baru pertama bertemu, namun keduanya sudah tampak seperti teman dekat.
Ternyata tadi sebelum ke restoran itu, Pendekar Tanpa Nama sempat mencari-cari informasi tentang markas cabang Kay Pang Pek. Kebetulan dia dapat menemukannya dengan mudah.
__ADS_1
Setelah menemukan markas cabang itu, dia lantas memperlihatkan lencana pemberian Huang Taiji. Kemudian Cakra Buana membicarakan maksud tujuannya mencari markas mereka.
Setelah semuanya jelas, maka pemuda itu meminta kepada ketua cabang untuk menunggunya di restoran tersebut. Oleh sebab itulah setelah mereka bertemu kembali di restoran, keduanya sudah terlihat akrab.
Selama si ketua cabang membicarakan tentang Perkampungan Raja Harimau milik Poh Kuan Tao si Harimau Sakti Tiada Tanding, Pendekar Tanpa Nama hanya mampu diam sambil terus mendengarkan.
Pemuda itu memasang sepasang telinga dengan tajam. Sepasang matanya terus memperhatikan si ketua cabang bicara. Sedikitpun dia tidak mau berpaling darinya.
Seolah pemuda itu takut kehilangan satu patah perkataan orang tersebut.
Si ketua cabang menyebutkan bahwa penjagaan di bagian dalam Perkampungan Raja Harimau jauh lebih ketat lagi. Di dalam gedung mewah itu terdapat sekitar tiga puluh delapan tokoh dunia persilatan.
Masing-masing dari mereka mempunyai satu keahlian yang berada di atas rata-rata. Baik pria maupun wanita ternyata sama saja. Mereka sama-sama tangguh, sama-sama hebat dan sama-sama terlatih.
Hebatnya lagi, perkampungan itupun masih menyimpan beberapa rahasia yang sama sekali tidak diketahui oleh orang lain. Bahkan Kay Pang Pek sendiri tidak dapat mengetahuinya. Padahal perkumpulan itu dikenal sangat handal dalam hal mencari informasi.
"Yang paling berbahaya di Perkampungan Raja Harimau adalah barisan yang mereka miliki," kata si ketua cabang tersebut.
"Memangnya barisan apa yang dimiliki oleh mereka?" tanya Pendekar Tanpa Nama penasaran.
"Barisan Sembilan Harimau Mengepung Serigala,"
"Apakah barusan itu merupakan barisan paling berbahaya?"
"Bukan. Masih ada barisan lain lagi selain Barisan Sembilan Harimau Mengepung Serigala,"
"Lalu kenapa kau tidak menyebutkannya?"
"Bukannya aku tidak percaya kepada kemampuan Tuan Cakra, tapi jujur aku sendiri agak ragu apakah kau dapat membebaskan diri dari barisan itu atau tidak. Sebab selama ini belum pernah ada seseorang yang dapat bebas darinya," kata si ketua cabang tersebut.
Cakra Buana ingin tidak percaya. Sayangnya pemuda itu dituntut untuk tetap harus percaya.
__ADS_1
###
Satu lagi nanti ya hhi … see u☕