
Untuk kesekian kalinya Dewi Bunga Bwee dibuat gugup oleh pemuda yang berjuluk Pendekar Tanpa Nama. Orang lain pasti tidak akan percaya bahwa orang yang berada pada jajaran ketiga di Organisasi Naga Terbang itu mampu dibuat gugup hanya karena beberapa patah kata saja.
Terlepas percaya atau tidak percaya, yang jelas kejadian ini sungguh nyata.
Ling Ling tidak berani memandang wajah pemuda tampan di hadapannya saat ini. Karena kalau dia menatap wajahnya, terutama matanya itu, bisa dipastikan kedua pipinya akan memerah. Wajahnya bakal terasa panas seperti direbus.
Kenapa hal itu bisa terjadi?
Tiada seorangpun yang tahu. Yang bakal mengerti hanyalah mereka yang pernah di posisi Sian-li Bwee Hua saat ini.
"Sudah tiba waktunya, aku harus pergi. Jaga dirimu baik-baik," kata Ling Ling kembali mengingatkan Cakra Buana.
Pada saat dirinya hendak pergi dari hutan tersebut, tiba-tiba pergelangan tangannya digenggam oleh pemuda Tanah Pasundan itu.
Ling Ling tidak bicara. Karena dia sendiri tidak tahu apa yang harus dibicarakan. Wanita maha cantik itu hanya bisa memandang Cakra Buana dengan keheranan. Tatapan matanya menandakan kebingungan. Wajahnya masih tertunduk malu seperti sebelumnya.
Tiba-tiba Pendekar Tanpa Nama maju selangkah ke arahnya. Satu kecupan mesra mendarat tepat di kening Sian-li Bwee Hua.
Hampir saja wanita itu berteriak karena tidak menyangka akan kejadian barusan. Sungguh, semua ini diluar dugaan dia sebelumnya.
Tapi wanita itu hanya diam saja. Dia tidak menampik, juga tidak menghindar. Hanya saja sekarang tubuhnya menjadi lebih gugup lagi. Dia mendadak lemas. Bukan lemas karena terluka, tapi lemas karena saking terlena.
Kalau tidak malu, mungkin Ling Ling bakal langsung jatuh di pelukan pemuda berdada bidang tersebut.
"Pergilah. Hati-hati," ucap Pendekar Tanpa Nama.
Ucapannya sanga singkat. Tapi senyuman hangat terhias di bibirnya.
Wushh!!!
Bayangan hitam melesat menembus pekatnya malam. Hanya sesaat saja bayangan tersebut langsung lenyap ditelan gelapnya hutan.
__ADS_1
Setelah kepergian Dewi Bunga Bwee, Pendekar Tanpa Nama juga kemudian pergi. Tapi beranjak dari sana, dia sempat tersenyum manis sambil menggelengkan kepalanya sekali.
Wushh!!!
Bayangan merah menembus keluar hutan. Cuma sekejap mata, bayangan tersebut sudah kembali ke posisi semua. Persis pada saat dia berdiri tadi.
Suasana semakin menegangkan. Gemurh terus terdengar. Hawa sesat mulai dirasakan semakin pekat. Malam menjadi riuh. Rasa takut telah membelit semua tokoh yang hadir di padang rumput Gunung Hua Sun malam ini.
Semua orang telah mengambil sikap lebih waspada dari pada sebelumnya. Tapi belum ada satupun yang bergerak di antara mereka semua.
Kecuali para datuk dunia persilatan dan beberapa tokoh pilih tanding, tiada satupun manusia yang mampu melihat suatu kejadian aneh.
Para sahabat Pendekar Tanpa Nama, Tiang Bengcu, si Buta Yang Tahu Segalanya, bahkan Cakra Buana sendiri, mereka mulai merasakan adanya firasat buruk.
Kecuali Pendekar Tanpa Nama dan si Bita Yang Tahu Segalanya, rasanya tiasa seorangpun yang lebih apa yang bakal terjadi kecuali hanya kedua pemuda gagah tersebut.
"Semuanya bersiap. Ambil sikap waspada, lakukan kerja sama semaksimal dan sebaik mungkin. Malam ini, kita lupakan segala macam persoalan di antara kita sebelumnya. Lupakan dendam dan masalah untuk sementara waktu. Kalau ingin dunia persilatan Tionggoan masih ada dan terus tumbuh, maka kalian harus mendengar perintahku," teriak si Buta Yang Tahu Segalanya dengan suara lantang.
Suasana bertambah menegangkan. Malam semakin larut semakin mencekam.
Pendekar Tanpa Nama berada di posisi paling depan bersama Tiang Bengcu si Naga Kebenaran Dari Nirwana dan si Buta Yang Tahu Segalanya. Di belakang ketiga orang tersebut ada para sahabat Cakra Buana, disusul kemudian dengan para datuk dunia persilatan yang mengepung empat penjuru.
"Kalau kalian sudah datang, datang saja. Perlihatkan kehadiran kalian, jangan menjadi pengecut seperti ini," kata Tiang Bengcu dengan suaranya yang lantang.
Sang Bengcu sudah merasa sangat kesal. Dia geram kalau ada manusia pengecut yang melakukan sesuatu seperti sekarang ini.
"Hahaha … Bengcu yang sangat pemberani. Hemm, belum saatnya aku menampakkan diri. Biarlah aku ingin melihat sampai di mana ketinggian ilmu silat orang-orang Tionggoan, hahaha …" sebuah suara yang serak parau tiba-tiba terdengar menggema di tengah udara.
Suara itu menyeramkan. Bahkan terdengar seperti jeritan setan dari neraka. Suaranya mengalun terbawa angin malam yang membawa rasa seram. Gema suaranya terdengar di mana-mana.
Setiap orang yang ada di sana merasa jantungnya berdetak lebih kencang. Terlebih lagi mereka para tokoh kelas atas.
__ADS_1
Meskipun benar tokoh kelas atas, namun orang-orang itu tak lebih disejajarkan dengan pendekar kelas satu. Berbeda dengan tokoh pilih tanding yang jarang menemui tandingan.
Sebutan semacam ini meskipun hampir mirip, namun jelas mempunyai perbedaan antara langit dan bumi.
Suara masih mengalun. Semakin lama semakin menghilang. Setiap insan yang hadir tahu bahwa si pemilik suara sudah mencapai tingkatan yang sulit untuk diukur. Sinkang (tenaga sakti) orang itu pasti sudah mencapai tahap yang benar-benar matang dan sempurna.
"Keparat. Organisasi Naga Terbang ternyata tak lebih dari seorang pecundang," bentak Tian Hoa si Iblis Tua Langit Bumi.
Kakek tua itu sangat marah. Apalagi kalau dirinya dipermainkan seperti sekarang ini. Sebagai seorang datuk dunia persilatan, sudah tentu Tian Hoa paling benci kalau diperlakukan seperti saat ini.
"Hahaha … sekarang kau boleh berkata demikian bangsat tua, tapi sebentar lagi, jangan harap kau dapat mengatakan hal yang sama," kata suara tadi terdengar kembali.
Wushh!!!
Sinar hitam melesat secepat angin ke arah berkumpulnya para tokoh kelas atas. Sinar hitam itu tampak berkelebat beberapa kali dengan kecepatan yang sama.
Setelah kurang lebih berkelebat lima kali, sinar tersebut langsung lenyap begitu saja. Entah ke mana perginya sinar itu karena tiada seorangpun yang dapat melihatnya dengan jelas.
Yang dapat melihat berkelebatnya sinar barusan hanya mereka para tokoh pilih tanding.
Pada saat sinar itu lenyap memang tidak terjadi apapun di sana. Namun setelah beberapa saat kemudian, tampaklah akibat dari berkelebatnya sinar tersebut.
Lima orang pendekar kelas satu tiba-tiba roboh ke tanah. Tidak ada suara jeritan kematian. Tidak ada rintihan kesakitan. Yang ada hanyalah kematian tak terduga. Yang terjadi adalah nyawa manusia melayang tanpa tahu sebabnya.
Mereka yang ambruk segera mengucurkan darah segar cukup banyak. Beberapa bagian tubuhnya terus mengalirkan darah lalu melengos begitu saja.
Bagian tubuh yang mengeluarkan darah tadi ternyata sudah berpisah dari tempat asalnya. Lima pendekar kelas satu itu tewas mengenaskan. Nasibnya sungguh buruk dan sial.
Sudah mati, terpotong-potong pula.
Semua orang yang hadir semakin merasa takut. Terlebih lagi mereka rekan para korban keganasan Organisasi Naga Terbang.
__ADS_1
Belum muncul orangnya saja sudah seperti ini, apalagi kalau nanti sudah menampakkan diri?