Pendekar Tanpa Nama

Pendekar Tanpa Nama
Ketakutan yang Paling Takut


__ADS_3

Wushh!!!


Cahaya merah menyeruak menyelimuti seluruh alam semesta. Saat cahaya merah memanjang itu terlihat, tiga cahaya dari tiga senjata pusaka berbeda langsung lenyap.


Seolah gabungan cahaya itu ditelan habis tanpa sisa oleh cahaya merah memanjang yang terlihat barusan. Semuanya menjadi satu dalam satu gulungan. Cahaya merah memanjang itu terlihat berkelebat beberapa kali.


Suara dentingan beberapa kali terdengar. Suara tusukan juga meramaikan suasana. Semua kejadian ini hanya berjalan sesaat saja. Si Kakek Kipas Badai ingin terjung ke gelanggang pertarungan. Sayangnya hal itu harus dia urungkan, karena begitu niatnya timbul, semuanya mendadak berhenti.


Cahaya merah lenyap tak berbekas. Tiga cahaya sebelumnya juga menghilang tanpa jejak.


Pendekar Tanpa Nama masih berdiri di posisinya semula. Bahkan caranya berdiri, caranya menggengam pedang, semuanya masih sama seperti sebelumnya. Dia seakan tidak pernah bergerak sedikitpun dari tempatnya berdiri.


Tiga rekan si Kakek Kipas Badai juga sama. Mereka masih berdiri dengan posisi menggabungkan jurus seperti yang akan dilakukan sebelumnya. Tidak ada yang bergerak di antara mereka.


Tapi wajahnya mendadak berubah pucat pasi seperti mayat. Tatapan matanya juga menggambarkan perasaan takut yang tidak bisa dilukiskan. Seolah perasaan takut yang ada di muka bumi ini dilimpahkan kepada mereka bertiga.


Kakek Kipas Badai tidak mengerti dengan semua ini. Dia ingin mengetahui apa yang sebenarnya sudah terjadi.


Tiga rekannya sama sekali tidak berkutik. Perlahan namun pasti, sebuah luka yang tidak besar mulai nampak di tengah-tengah tenggorokan mereka bertiga. Di bagian pergelangan tangannya masing-masing juga terdapat sebuah luka sayatan.


Apa yang sebenarnya terjadi? Kenapa mereka bertiga hanya berdiam diri?


Kakek Kipas Badai masih belum menemukan jawaban pasti. Dia sedang mengawasi semuanya.


Luka yang ada di tenggorokan tiga rekannya mendadak membesar. Seperti sebuah lubang yang baru tercipta.


Plukk!!!


Tiba-tiba pergelangan tangan mereka jatuh ke bawah bersamaan dengan senjata mereka. Pergelangan tangan itu kutung. Darah mulai mengucur dari kutungan lengannya. Tenggorokan mereka juga mulai mengucurkan darah kental berwarna merah pekat.


Tapi ekspresi wajahnya masih sama. Mereka tidak terlihat kesakitan sama sekali. Darah mulai mengucur jatuh ke bawah.


"Apa yang kau lakukan?" tanya Kakek Kipas Badai kepada Cakra Buana.


Kakek tua itu tidak bisa lagi menahan rasa penasarannya. Dia ingin segera tahu apa yang sebenarnya telah terjadi.


"Aku sedang menunggu,"


"Menunggu apa?"


"Menunggu tiga rekanmu ambruk ke tanah,"


"Apakah mereka telah mati?"

__ADS_1


"Aku pikir kau sudah tahu, ternyata belum. Hemm, di dunia ini, adakah orang yang tidak merasa sakit saat pergelangan tangan mereka kutung dan tenggorokan mereka ditembus senjata?"


"Tentu saja tidak ada,"


"Ada,"


"Siapa?"


"Orang yang mati. Bukankah orang yang sudah mati tidak akan merasa sakit lagi meskipun tubuhnya di potong-potong?"


Kakek Kipas Badai langsung terbungkam. Sekarang dia tahu kenapa tiga rekannya terlihat tidak merasakan sakit. Mereka telah mati.


Tiga rekannya benar-benar mampus. Mereka ambruk ke tanah secara bersamaan.


Kakek Kipas Badai lagi-lagi dibuat ngeri. Entah jurus apa yang telah digunakan oleh pemuda asing itu. Hanya saja, dia menilai bahwa jurus yang dikeluarkan olehnya benar-benar aneh.


Rasa takut mulai menyelimuti seluruh tubuh Kakek Kipas Badai. Dia ingin pergi dari sana, tapi sepertinya hal itu hanya merupakan khayalan. Sebab bagaimanapun juga, orang tua itu sadar bahwa Pendekar Tanpa Nama tidak akan mengizinkannya pergi.


"Ilmu iblis apa yang kau gunakan?" tanyanya dengan mata yang mencorong tajam.


Cakra Buana tersenyum sinis. Dia tidak pernah menyangka bahwa tokoh kelas atas seperti Kakek Kipas Badai, ternyata mampu berkata konyol.


Seseorang pendekar yang sedang berada dalam ancaman maut, biasanya mereka akan berkata yang tidak-tidak. Tujuannya tentu hanya satu, dia hanya berharap dari perkataan konyol itu bisa melepaskan dirinya dari jeratan kematian.


Tapi, benarkah Pendekar Tanpa Nama akan melepaskannya?


"Aku tidak ingin tahu,"


"Tapi aku tetap akan memberitahumu,"


Si Kakek Kipas Badai langsung terdiam. Dia menyadari walaupun dirinya bicara semalaman suntuk, hal itu tetaplah sia-sia belaka. Apapun yang terjadi, pemuda itu tetap tidak akan membebaskannya.


"Kau benar-benar pemuda yang keras kepala,"


"Aku memang keras kepala,"


"Sepertinya tidak ada jalan lain di antara kita, terpaksa aku harus membunuhmu. Akan aku lihat apakah kau mampu menahan serangan Kipas Badak milikku atau tidak,"


"Silahkan, aku ingin melihat sampai di mana kehebatan kipasmu itu,"


Wushh!!!


Si Kakek Kipas Badai bergerak. Tangan kanannya langsung memberikan kibasan menggunakan kipas pusaka miliknya.

__ADS_1


Segulung angin dahsyat menerjang keluar. Bebatuan terlempar ke segala arah.


Blarr!!!


Ledakan pertama terdengar. Pendekar Tanpa Nama menahan angin dahsyat itu dengan telapak tangan kirinya.


Belum sempat dia kembali ke posisi semula, Kakek Kipas Badai telah tiba dengan serangan dekat yang pertama kalinya. Kipas itu mengibas beberapa kali sehingga mengeluarkan hawa panas yang menggebu.


Kedua kakinya tidak tinggal diam. Kaki itu turut memberikan tendangan hebat yang mengarah ke titik tertentu.


Cakra Buana tidak berdiam diri menanti kematian. Dia langsung bergerak sambil mengayunkan Pedang Naga dan Harimau.


Cahaya merah memanjang kembali menyeruak. Cahaya yang keluar terlihat indah seperti halnya pelangi. Bedanya, pelangi ini membawa serta kematian bagi siapapun yang melihatnya.


Kakek Kipas Badai tersentak kaget. Dia merasakan adanya segulung angin yang lebih dahsyat menerjang ke arahnya. Sebisa mungkin kakek tua itu menghindar ke arah samping.


Amarahnya semakin memuncak hebat. Selama malang melintang di dunia persilatan, Kakek Kipas Badai belum pernah merasa semarah ini. Dia menyerang dengan kalap.


Kibasan kipas benar-benar mengeluarkan badai yang hebat serta tiada hentinya. Seluruh tenaga dalamnya dikumpulkan lalu disatukan dengan kipas tersebut. Jurus terdahsyat yang dia miliki dikeluarkan dengan dendam sedalam samudera.


Cakra Buana menyambut badai dahsyat itu dengan tenang. Dia mulai berputar. Awalnya perlahan. Tapi semakin lama semakin cepat dan bertambah cepat sehingga tubuhnya lenyap dari pandangan mata manusia.


Cahaya merah bergerak menyelimuti bumi. Raungan seperti iblis terdengar menyeramkan. Selapis hawa kematian terasa semakin menebal.


Trangg!!! Slebb!!!


Suara benturan terdengar satu kali. Suara benda yang menusuk juga terdengar satu kali. Setelah kedua suara terdengar, semuanya mendadak lenyap. Selapis hawa kematian menghilang. Sinar merah juga entah pergi ke mana.


Keadaan menjadi sepi sunyi. Tubuh Cakra Buana berdiri dengan tenang dan tegar. Setegar tekad yang ada dalam dirinya.


Si Kakek Kipas Badai terpaku. Dia seperti patung. Patung yang sangat ketakutan.


Perlahan, darah yang kental meleleh dari sudut bibirnya. Detik berikutnya dia muntah darah. Kerongkongannya tertembus ujung pedang.


Karena pada dasarnya, pada saat itu Pedang Naga dan Harimau memang masih menempel di tenggorokannya.


Kejadian ini berlangsung cepat. Secepat waktu yang terus berjalan. Secepat pergantian siang dan malam.


"Ju-jurus iblis apa yang sekarang ini?" tanyanya dengan susah payah karena darah telah memenuhi seluruh bagian mulutnya.


"Jurus Pedang Kilat Tak Berbentuk," jawab Cakra Buana dengan dingin.


###

__ADS_1


Minta do'anya ya, author tanpa nama lagi meriang ni😄entah meriang (merindukan kasih sayang) atau meriang karena apa ini teh😆


Semoga kakang dan nyai terhibur …


__ADS_2