
Sementara itu, Cakra Buana telah keluar dari kamarnya. Dia mengetuk pintu sahabatnya. Ternyata kamar itu tidak dikunci, dia segera masuk ke dalam.
Tetapi Li Guan tidak ada di sana. Ke mana dia?
Cakra Buana segera melihat ke bawah. Terlihat di sana ada Li Guan sedang menyaksikan orang-orang tersebut dari pinggir.
Di depannya, orang-orang tadi hampir ribut kembali. Keduanya sudah sama-sama mengumpulkan tenaga dalam yang lebih besar. Sepertinya kondisi semakin keruh.
"Cepat bawa pemuda keparat itu kemari sebelum aku menurunkan tangan kejam kepadamu," bentak anggota Tujuh Perampok Berhati Kejam tadi.
"Aku bilang tidak ada. Sekalipun ada, aku tidak akan membawanya jika kalian meminta dengan cara seperti ini"
"Bagus. Kau memang ingin mati,"
Orang tersebut segera melancarkan serangan jarak jauh dengan tenaga dalamnya. Sebuah pukulan bertenaga besar melesat secepat kilat.
"Blarr …"
Ledakan terdengar keras. Dua tenaga dalam tinggi beradu di tengah-tengah orang tersebut. Debu mengepul tinggi. Kerikil berterbangan ke segala arah. Berbarengan dengan itu, anggota Kay Pang Hek dan Tujuh Perampok Berhati Kejam terpental hingga lima langkah.
Tapi yang paling menarik perhatian bukan mereka semua. Hanya ada satu orang yang terpental paling jauh. Bahkan orang tersebut muntah darah cukup banyak. Wajahnya pucat pasi. Kedua tangannya tampak bergetar.
Orang itu adalah dia yang tadi berniat untuk menyerang si penjaga keamanan. Setelah debu mulai lenyap, semua orang dibuat kaget.
Ternyata penjaga keamanan itu masih terdiam dengan wajah kebingungan. Dan yang beradu tenaga dalam dengan salah satu anggota Tujuh Perampok Berhati Kejam bukanlah dia, tapi orang lain.
Memakai pakaian merah, bergambar naga dan harimau di belakang punggungnya.
Siapa lagi kalau bukan Cakra Buana si Pendekar Tanpa Nama?
Semua orang tercengang. Terlebih lagi mereka yang mencari dirinya.
Dia menatap dingin. Dingin sedingin-dinginnya.
Si Buta Yang Tahu segalanya hanya tersenyum lembut sambil berjalan. Tetapi dalam hati, dia sangat terkejut. Orang lain mungkin tidak dapat melihat bagaimana Cakra Buana menahan tenaga dalam lawan. Tapi dia melihatnya.
Hanya dengan menempelkan jari tengah dan jari telunjuk di telapak tangan lawan, dia sudah bisa membuat akibat yang cukup hebat.
Kejadian ini sangat langka. Kalau bukan orang yang mempunyai tenaga dalam sempurna, niscaya dia tidak berani melakukan hal demikian bodohnya hingga berani menahan tenaga dalam orang hanya dengan dua jari. Walaupun dia bukan termasuk pendekar kelas atas, tapi tetap hal tersebut berbahaya.
Tetapi Cakra Buana merupakan pengecualian.
__ADS_1
Kalau orang lain mungkin tidak akan percaya. Dia sendiri tidak ingin percaya, tapi sayangnya Li Guan melihat sendiri. Sehingga bagaimanapun juga, terpaksa dia harus percaya.
'Dia benar-benar orang yang lain daripada yang lain. Tampaknya dia sudah mempunyai tenaga dalam sempurna. Pendekar Tanpa Nama memang tidak pernah mengecewakan orang,' batinnya sambil tetap berjalan mendekat ke arahnya.
Semua orang masih berdiri mematung. Tapi orang-orang yang mencarinya langsung memperlihatkan ekspresi geram yang tidak bisa dilukiskan lagi.
"Tenanglah. Dalam menghadapi masalah apapun, jangan sampai kau dikuasai oleh amarah," ucap Li Guan sambil menepuk pundaknya.
Cakra Buana hanya tersenyum sambil menganggukkan kepalanya.
"Seharusnya kalian datang kemari secara baik-baik. Kalau aku yang menjadi penjaga kemananan, aku juga tidak akan menuruti permintaan kalian jika memintanya dengan cara kasar,"
Ucapannya dingin. Lebih dingin daripada seorang wanita yang membenci pria.
"Akhirnya kau muncul juga. Aku tidak ingin mencari gara-gara, tapi dua penjaga keamanan ini seolah merasa di rumah sendiri," kata seorang anggota Kay Pang Hek memperlihatkan kekesalannya.
"Karena pada dasarnya kalian memang sedang berada di rumah orang lain. Ada apa kalian mencariku?"
"Ketua cabang dari Kay Pang Hek dan anggota pilihan Tujuh Perampok Berhati Kejam bersama dua orang ketua mengundangmu. Mereka ngin bertemu denganmu,"
"Untuk apa mereka mencariku?"
"Aku hanya ditugaskan untuk mencarimu, tidak ditugaskan untuk memberitahu atas dasar alasan apa mereka mencarimu,"
"Di markas cabang Kay Pang Hek yang tersedia di kota ini,"
"Kapan mereka ingin bertemu denganku?"
"Malam nanti,"
"Baik. Aku dan sahabatku akan datang,"
"Bagus. Aku percaya bahwa Pendekar Tanpa Nama tidak pernah mengecewakan orang,"
"Baik, kami pergi sekarang,"
Orang-orang tersebut segera pergi setelah menyampaikan pesannya kepada Cakra Buana. Tanpa pamit, tanpa permisi. Mereka pergi begitu saja.
Cakra Buana dan Li Guan masih berdiri memandangi kepergian mereka.
"Menurutmu atas dasar apa mereka mencariku?" tanya Cakra Buana.
__ADS_1
"Terkait pembunuhan,"
"Maksudmu?" Cakra Buana tidak paham dengan jawaban sahabatnya.
"Seseorang telah membunuh beberapa anggota dari dua perkumpulan ini. Dan mereka menggunakan namamu sebagai pelakunya,"
"Tapi aku tidak pernah membunuh anggota mereka lagi. Seingatku terakhir aku membunuh anggota Kay Pang Hek sudah lima hari lalu. Tapi untuk Tujuh Perampok Berhati Kejam, tidak ada lagi anggota mereka yang aku bunuh,"
"Aku tahu. Terakhir kali kau membunuh semua orang di markas cabang Kay Pang Hek, itupun di daerah sebelumnya. Kau juga pernah mendatangi markas cabang Tujuh Perampok Berhati Kejam, tapi kau tidak melakukan satu pembunuhan pun,"
"Dari mana kau tahu?" tanya Cakra Buana keheranan.
"Karena aku si Buta Yang Tahu Segalanya," kata Li Guan sambil tersenyum.
"Kalau begitu, kenapa mereka mencariku?"
"Sudah aku katakan, terkait pembunuhan. Ada seseorang di balik layar yang melakukan semua ini untuk membunuhmu. Dia akan melakukan berbagai macam cara untuk membunuhmu. Termasuk mengadu domba,"
"Apa? Berani sekali orang itu," Cakra Buana merasa sangat kaget mendengarnya.
"Karena berani itulah dia ingin membunuhmu,"
"Tapi aku tidak ingin diadu domba,"
"Tapi mereka ingin. Dan kau tidak bisa menolaknya. Sebab lawan yang satu lagi, tidak tahu apapun di balik semua ini,"
"Apakah kau tidak bisa membantu mereka untuk percaya kepadaku bahwa aku tidak melakukannya?" tanya Cakra Buana.
"Kau pikir mereka akan percaya kepadaku? Apalagi aku ada di sisimu. Sudah pasti apa yang aku katakan, mereka tidak akan percaya. Apalagi tanpa bukti yang kuat,"
"Lalu apa yang harus aku lakukan?"
"Mengikuti permainan ini. Anggap saja kau sebagai pembasmi kejahatan," jawab Li Guan sambil tersenyum kemudian segera memasuki kembali warung arak.
Cakra Buana hanya bisa menghela nafas dan pasrah kepada nasib yang menimpa dirinya. Sepertinya orang-orang seperti dia memang ditakdirkan untuk menanggung beban masalah yang berat.
Sampai sekarang, Cakra Buana belum tahu pasti kenapa ada seseorang yang benar-benar ingin dia mati. Padahal kalau diingat lagi, akar permasalahannya hanya karena dia pernah mendapat masalah dengan dua kelompok tadi.
Siapa sangka, justru sekarang malah merembet. Bahkan ada orang yang bermain di belakang layar.
Anehnya lagi, bahkan datuk persilatan pernah membuatnya hampir mati konyol.
__ADS_1
"Terserah siapapun yang ada di belakang layar, tapi suatu saat, aku akan mengetahuinya. Cepat atau lambat," gumam Cakra Buana sambil berjalan memahami warung arak kembali.