Pendekar Tanpa Nama

Pendekar Tanpa Nama
Ketakutan Ki Marta


__ADS_3

Belum lagi ditambah satu serangan milik Ki Marta yang tidak kalah cepat dan dahsyatnya. Meskipun usianya sudah lanjut, tapi semangatnya dalam bertarung tidak kalah oleh mereka yang masih muda.


Ki Marta merupakan pendekar yang bersenjatakan trisula perak. Pada zaman ini, memang pendekar trisula tidak sebanyak pendekar pedang ataupun pendekar tangan kosong.


Tapi walaupun demikian, bukan berarti jurus trisula kalah dari jurus-jurus senjata lainnya. Justru jurus milik Ki Marta ini terlihat berbeda dari jurus trisula kebanyakan.


Jurusnya cepat juga penuh dengan tipuan. Terbukti saat ini, belum sempat serangan pertamanya mengenai sasaran, orang tua itu justru telah menggantinya dalam waktu singkat.


Empat serangan yang membawa kabar dari alam baka sudah mengurung tubuh Pendekar Tanpa Nama. Ruangan yang tidak terlalu besar itu mendadak diselimuti oleh ***** membunuh yang amat pekat.


Suasana yang tadinya sepi sunyi, kini telah diramaikan pula oleh benturan antar senjata pusaka tersebut.


Empat batang senjata pusaka menghasilkan empat macam warna berbeda. Meskipun setiap masing-masing serangan itu berbeda, namum nyatanya serangan tersebut saling melengkapi satu sama lain.


Pertarungan sudah berjalan selama enam belas jurus. Pedang Naga dan Harimau yang menggetarkan jagat raya itu sudah dia cabut dari sarungnya beberapa saat lalu.


Cahaya merah menyeruak. Ruangan itu diliputi oleh warna merah untuk sejenak.


Pertarungan semakin seru. Empat orang pendekar sedang berlomba-lomba untuk membunuh Cakra Buana. Semakin lama pertempuran itu, semakin dahsyat juga jurus-jurus yang mereka gunakan.


Tiga Pedang Pelangi tiba-tiba melompat mundur di tengah hujan serangannya sendiri, detik selanjutnya mereka sudah kembali menerjang ke depan.


Tiga batang pedang menampilkan suatu jurus unik namun luar biasa. Jurus itu datang dari tiga penjuru. Yang satu menyerang dengan tusukan. Satu lagi sabetan. Dan sisanya justru berputar-putar layaknya kincir angin.


Kecepatan mereka bertambah beberapa kali lipat.


Dari arah tengah, Ki Marta juga muncul dengan jurus pamungkasnya yang dia beri nama Trisula Tiga Bayangan. Jurus itu adalah jurus yang bertumpu kepada kecepatan.


Semakin cepat dirinya bergerak, maka semakin hebat juga hasilnya.


Wushhh!!! Wutt!!!


Hawa pedang bercampur menjadi satu dengan hawa pembunuhan. Pendekar Tanpa Nama tersenyum dingin. Tanpa banyak membuang waktu lagi, pemuda itu segera mengeluarkan jurusnya.


Jurus Pedang Kilat Tak Berbentuk.


Sebuah jurus pedang yang menggetarkan langit dan bumi. Jurus pusaka yang ampuh dan tiada tandingannya itu terlihat kembali. Cahaya merah tampak untuk sesaat, detik selanjutnya cahaya itu tiba-tiba lenyap di tengah gempuran serangan lawan.


Suasana semakin ramai. Bergulung-gulung sinar yang berasal dari hawa sakti para pendekar itu telah membuat pandangan mata kabur.


Wuttt!!! Crashh!!! Slebb!!!

__ADS_1


Percikan darah mengenai dinding ruangan. Pertarungan langsung berhenti saat itu juga. Semuanya sudah selesai. Masing-masing senjata anggota Tiga Pedang Pelangi telah kutung menjadi dua atau tiga bagian.


Sedangkan pemiliknya sendiri rebah di lantai, mereka semua telah tewas dalam kondisi yang mengenaskan. Ada yang kehilangan kepala, kehilangan tangan dan kaki, juga ada yang robek bagian dadanya.


Semuanya berjalan dalam waktu yang sesingkat-singkatnya. Yang tersisa di ruangan tersebut hanyalah Ki Marta seorang.


Dia memang tidak tewas. Baik kepala maupun kaki tangannya juga tidak hilang. Yang hilang hanyalah keberanian dan rasa percaya dirinya.


Seluruh tubuhnya bergetar keras melihat pemandangan yang baru saja dia saksikan itu. Semumur hidupnya, dari dulu hingga sekarang, rasanya kakek tua itu belum pernah menjumpai pemandangan mengerikan seperti sekarang ini.


Puluhan atau bahkan ratusan pendekar sudah dia jumpai. Berbagai macam jurus yang hebat dan dahsyat, semuanya pernah Ki Marta saksikan. Tidak ada jurus yang belum pernah dia saksikan.


Tapi sungguh tak disangka, jurus yang baru saja dia lihat itu benar-benar jurus yang belum pernah dia lihat sepanjang hidupnya.


Jangankan jurusnya, bahkan gerakannya pun tidak terlihat sama sekali.


Kalau kau berada di posisinya saat ini, kira-kira apa yang bakal kau rasakan?


Keringat sebesar biji kacang kedelai telah membasahi keningnya. Ki Marta masih berdiri. Tapi sudah tidak setegak tadi. Dia masih bertahan, sampai sekarang pun masih bernafas, tapi kalau untuk bertarung lagi, kakek tua itu sudah tidak mempunyai ***** sama sekali.


Nyalinya telah pergi ke tempat yang tidak bisa dijangkau oleh manusia.


"Tiga rekanmu sudah aku bunuh …" kata Pendekar Tanpa Nama dengan kalem.


Hal ini menjadi ketakutan tersendiri bagi pria tua bernama Ki Marta itu.


"Aku tahu. Dan kau adalah pembunuhnya,"


"Sebenarnya aku tidak ingin membunuh manusia. Aku ingin berhenti melakukan perbuatan ini. Tapi sayang sekali, banyak manusia yang memang pantas untuk dibunuh,"


"Apakah Tiga Pedang Pelangi adalah aalah satunya?"


"Mungkin demikian. Kalau kau akan dibunuh, benarkah kau akan diam saja?"


Ki Marta langsung menggelengkan kepalanya secepat mungkin. Tentu saja dia tidak akan tinggal diam. Memangnya manusia mana yang akan tetap berpangku tangan jika dirinya sudah tahu akan dibunuh orang lain?


Rasanya tidak ada. Dan meskipun ada, mungkin orang itu kalau tidak bodoh, pastilah seseorang yang sudah pasrah.


"Sekarang tiada seorangpun yang bisa menolongmu. Aku hanya ingin tahu, siapakah kau sebenarnya?"


"Aku tidak akan memberitahukannya kepadamu,"

__ADS_1


"Lalu sebenarnya rencana apa yang akan kalian lakukan kepadaku?"


"Sudah aku katakan, kami ingin nyawamu,"


Pendekar Tanpa Nama langsung berpikir kembali. Dia mengingat lagi susunan peristiwa yang dialaminya saat ini. Mulai dari memasuki desa, mendapat laporan, informasi, lalu hingga dirinya tiba di tempat ini.


Beruntung bahwa saat ini dia sudah tenang, oleh sebab itulah Pendekar Tanpa Nama mulai bicara menurut tebakannya.


"Jadi sebelumnya kalian sudah tahu siapa aku sebenarnya?"


"Tepat sekali,"


"Oleh sebab itulah kau membuat rumor asal-asalan hanya untuk memancingku datang kemari?"


"Tidak salah lagi,"


"Hemm, jadi memang semuanya sudah direncanakan dengan matang,"


"Kalau tidak matang, tidak mungkin kami mau turun tangan langsung,"


"Tapi kalian sudah salah memperhitungkan satu hal,"


"Satu hal yang mana?" tanya Ki Marta sambil mengerutkan keningnya.


"Kalian salah memperhitungkan kemampuanku,"


Ki Marta hanya diam saja. Diam tandanya mengiyakan.


Dia memang salah menilai pemuda yang tampan dan kekar itu. Semula, dirinya yakin bakal berhasil dengan semua rencananya ini. Tapi sayang sekali, yang terjadi justru malah sebaliknya.


Rencana yang dipercaya sudah matang, sebenarnya malah masih sangat mentah.


Kalau tidak mentah, bagaimana mungkin dia bisa gagal?


"Ada satu hal yang harus kau ketahui dari diriku," kata Pendekar Tanpa Nama.


"Hal apa?"


"Siapapun yang ingin membunuhku, maka jangan harap dia bisa hidup lebih lama setelah berhadapan denganku,"


Suaranya dingin. Dingin seperti ujung mata pedang. Ki Marta semakin ketakutan. Penyesalan mendadak menyelimuti dirinya.

__ADS_1


Sayang sekali, penyesalan itu tidak berguna lagi.


Wushh!!!


__ADS_2