
Semua orang yang ada di dalam balairung tersebut mengangguk setuju. Perkataan Cakra Buana atau si pemuda berjuluk Pendekar Tanpa Nama itu memang benar.
Bahkan Raja Tombak Emas dari Utara sendiri membenarkan ucapan anak muda tersebut.
"Apa yang kau katakan itu benar. Nanti kalau sudah tiba saatnya, aku ingin melihat sampai di mana kemampuanmu. Apakah sanggup untuk menjadi lawanku, atau belum. Kalau misalnya belum sanggup, maka aku akan memberimu waktu. Kita lihat saja nanti," gumam kakek tua itu sambil tertawa.
Mereka bersuka ria bersama. Arak dan hidangan sudah banyak tersedia di meja makan. Para tokoh tersebut menyantap semua makanan dan minuman yang ada di sana. Semua hal di lewati secara bersama.
Setelah melalui perjuangan panjang dan melelahkan, pada akhrinya mereka berhasil menyelamatkan dunia persilatan. Sehingga rasanya sangat kurang tepat jika pencapaian tersebut tidak dilewati dengan sesuatu yang menggembirakan.
Pendekar Tanpa Nama dan Bidadari Tak Bersayap meminta izin untuk mengundurkan diri lebih dulu. Kedua muda-mudi tersebut ingin menikmati malam ini dengan sesuatu yang menyenangkan.
Semua tokoh mengangguk. Mereka tidak ada yang bicara lebih banyak lagi. Toh semuanya pernah muda. Dan mereka tahu bagaimana rasanya jika diri sedang dilanda badai cinta yang terus bergelora setiap saat.
"Kakang, bagaimana pendapatmu tentang kedua muda-mudi itu?" tanya Pendekar Belati Kembar kepada Tuan Santeno Tanuwijaya.
Mendadak suasana terasa sangat akrab. Tidak ada lagi rasa asing dan sejenisnya. Para tokoh tua itu justru terlihat seperti kawan yang sudah lama berpisah dan baru berkumpul kembali.
Dan pada hakikatnya memang demikian. Untuk diketahui, dulunya orang-orang tersebut pernah mengembara bersama mengarungi dunia persilatan. Khususnya di saat usia mereka masih sepantaran Cakra Buana.
Berbagai macam persoalan mulai dari yang gampang hingga yang rumit, mereka lewati secara bersama. Jarang ada yang tahu bahwa sebenarnya empat tokoh itu, waku mudanya pernah mendapat julukan Empat Pendekar Budiman dari Tanah Jawa.
Namanya sudah terkenal ke seluruh negeri. Sayangnya di saat usia mereka sudah tua, kesemuanya jarang bertemu karena mulai mempunyai kesibukannya masing-masing.
Baru belakangan ini mereka dapat berkumpul kembali. Sehingga para tokoh itu sangat merindukan suasana seperti sekarang ini.
"Aku yakin dalam waktu beberapa tahun lagi, mereka akan menjadi pendekar ternama yang jarang ada tandingannya. Khususnya di Tanah Pasundan," kata Tuan Santeno menjawab pertanyaan Pendekar Belati Kembar.
"Apa yang dikatakan oleh Rai Santeno memang benar. Dan asal kalian tahu saja, sebenarnya aku sudah tahu asal usul pemuda itu dari mana. Hanya saja, sekarang bukan waktu yang tepat untuk mengatakan semua itu. Mungkin suatu saat nanti dia akan membutuhkan kita kembali," timpal Kakek Sakti Alis Tebal.
"Benarkah? Aku jadi penasaran. Hemm, namun aku yakin bahwa dia bukanlah sembarang pendekar. Pemuda itu pasti mempunyai latar belakang yang tidak biasa," kata Pendekar Belati Kembar penasaran.
"Aku setuju denganmu. Ketahuilah, aku mengajaknya berduel justru karena ingin melihat apakah dia sudah pantas menjadi pemimpin dunia persilatan di Tanah Pasundan atau belum. Tapi aku sendiri yakin, anak muda itu suatu saat nanti bisa merajai rimba hijau. Tinggal menambah pengalaman dan kematangan ilmunya saja. Andai kata dia menemukan inti sari dari Kitab 7 Jurus Naga dan Harimau, sudah pasti kekuatannya jarang ada yang menyamai," kata Raja Tombak Emas dari Utara panjang lebar.
Sementara itu Cakra Buana dan Sinta Putri Wulansari, saat ini pasangan kekasih tersebut sedang berjalan santai menikmati keindahan malam.
__ADS_1
Mereka duduk di bawah sebuah pohon rindang di taman Perguruan Tunggal Sadewo. Bidadari Tak Bersayap menyenderkan kepalanya ke pundak Cakra Buana.
Angin yang sejuk membawa hawa menenangkan. Membawa rasa nyaman bersama semerbak harum bunga mekar. Bintang bertaburan di alam raya. Rembulan bersinar terang.
Suasana yang sangat cocok sekali untuk sepasang kekasih yang sedang melepas rindunya.
"Kakang, kapan kau akan kembali ke Tanah Pasundan?" tanya Bidadari Tak Bersayap secara tiba-tiba.
"Suatu saat aku akan kembali lagi. Nanti setelah seluruh tugasku selesai,"
"Memangnya kau mau ke mana lagi?"
"Menjalankan tugas guruku yang lainnya, kau mau ikut?"
"Tidak. Itu tugas khusus untukmu. Kau punya guru dan memberikan tugas khusus, akupun juga sama,"
"Memangnya kau tidak keberatan kalau kita berpisah?"
"Hemm, hanya sementara kan? Bukan selamanya? Aku rasa aku sanggup. Asal saat kita bertemu nanti, perasaanmu padaku masih sama,"
"Tentu saja. Kalau semua tugas sudah selesai, aku akan segera menikahimu,"
"Tentu. Pria sejati sekali berjanji, maka selamanya tidak akan diingkari,"
"Huhh, kau memang pintar bicara," kata Bidadari Tak Bersayap dengan manja.
Cakra Buana mulai memeluknya. Keduanya tangannya meraba bagian tubuh yang padat sempurna tersebut. Pinggulnya dia remas sedikit.
"Plakk …"
Tamparan pelan dan penuh kasih sayang mendarat di pipinya.
"Jangan di sini. Kalau mau, ayo kita ke kamar," bisik Bidadari Tak Bersayap penuh rasa cinta.
Tanpa menjawab lagi, Cakra Buana segera merangkul tubuh kekasihnya. Mereka segera pergi dari sana lalu menuju ke kamar. Kalau masalah seperti itu, siapapun akan bergerak cepat.
__ADS_1
Hanya dalam waktu singkat, keduanya telah tiba di kamar. Mereka kembali berpelukan lalu mulai bermain lebih ganas lagi.
###
Waktu terus berjalan tanpa henti. Tiga hari sudah berlalu. Waktu untuk duel telah tiba.
Raja Tombak Emas dari Utara memutuskan untuk berduel dengan Pendekar Tanpa Nama saat tengah malam. Sebab menurutnya, saat seperti itu adalah saat yang tepat untuk berduel dan melatih ilmu.
Dan sekarang sudah tengah malam.
Semua tokoh yang bersangkutan sudah ada di sana. Tidak banyak yang hadir. Hanya ada Kakek Sakti Alis Tebal, Pendekar Belati Kembar, Tuan Santeno Tanuwijaya dan Bidadari Tak Bersayap.
Mereka berempat akan menjadi saksi duel antara datuk dunia persilatan dan seorang pendekar muda yang akan menggetarkan rimba hijau di kemudian hari nanti.
Baik Pendekar Tanpa Nama maupun Raja Tombak Emas dari Utara, keduanya sudah sama-sama berdiri berhadapan. Jarak mereka hanya terpaut lima langkah saja.
Kakek tua itu memakai pakaian kebanggaannya yang berwarna biru tua. Sedangkan Cakra Buana memakai pakaian merah berlambang naga dan harimau di punggungnya.
"Apakah kau sudah siap?" tanya Raja Tombak Emas.
"Kapanpun aku siap,"
"Bagus, hehe … anak muda yang berani,"
"Terimakasih atas pujiannya,"
"Heh Giwangakara Baruga, aku harap kau menyaksikan juga pertarungan kita di alam sana. Akan kulihat apakah anak muda ini memang pantas menjadi sahabatmu atau tidak," kata si kakek tua sedikit berteriak lantang.
Pedang Naga dan Harimau sudah dicabut dan digenggam erat di tangan. Begitu pula dengan tombak emas.
"Tahan serangan …"
Belum habis ucapan si kakek tua, mendadak cahaya emas melesat secepat kilat ke arah Cakra Buana.
"Trangg …"
__ADS_1
Benturan terjadi, percikan api membumbung tinggi ke udara.
Semua tokoh tersentak. Mereka tahu bahwa Raja Tombak Emas mengeluarkan kemampuan yang sesungguhnya sehingga kecepatan serangan pertama sangat mengerikan. Hanya saja mereka lebih tersentak kaget saat melihat bahwa anak muda tersebut ternyata mampu menahannya.