Pendekar Tanpa Nama

Pendekar Tanpa Nama
Sepuluh Orang Bercadar Hitam


__ADS_3

Ternyata lima sinar hitam tadi dihasilkan dari lima batang jarum yang melesat secepat kilat.


Sedangkan suara jeritannya tentu berasal dari korban keganasan jarum tersebut.


Sian-li Bwee Hua segera menerobos masuk ke asal suara tersebut. Begitu dia keluar, tangan kanannya sudah menjinjing satu sosok manusia berpakaian hitam dan bercadar hitam pula.


"Satu orang rekan kalian sudah mampus. Pergi pun sudah terlambat, lebih baik tunjukkan saja batang hidung kalian sebelum aku benar-benar hilang kesabaran," teriak Sian-li Bwee Hua.


Suaranya menggelegar. Suara itu mengandung amarah yang mendalam. Seisi hutan dibuat bergetar. Gema suaranya terdengar hingga ke kejauhan sana.


Sekitar hutan tersebut seketika diliputi oleh hawa mencekam. Hawa kematian juga mendadak terasa sangat pekat sekali. Wajah Sian-li Bwee Hua memancarkan hawa pembunuhan.


Tiba-tiba sepuluh bayangan manusia dengan pakaian sama mendadak muncul dari balik semak-semak dari semua penjuru mata angin. Di balik cadar yang hitam legam itu, sorot mata mereka jelas menggambarkan beberapa ekspresi.


Antara terkejut, kagum, juga takut. Tiga perasaan itu bertumpuk menjadi satu. Namun yang paling besar bukanlah rasa kagum, melainkan rasa takut.


Mereka tahu rekannya yang baru saja tewas itu termasuk ke dalam jajaran pendekar kelas atas. Seorang pendekar kelas atas tentunya mempunyai segudang ilmu dan pengalaman.


Siapa sangka, orang yang demikian hebat dan lihat, mampu dibuat tewas hanya dalam satu kali serangan saja.


Lima batang jarum rahasia yang dilemparkan oleh Sian-li Bwee Hua ternyata tidak meleset satupun. Kelimanya tepat mengenai sasaran titik penting di tubuh manusia.


Sepuluh bayangan manusia itu masih berdiri terpaku. Mereka masih membayangkan bagaimana kejam dan hebatnya cara gadis maha cantik itu turun tangan mencabut nyawa satu orang rekannya.


Sementara itu, Cakra Buana masih berdiri dengan tenang. Wajahnya kalem. Senyuman di bibirnya tidak pernah menghilang. Sejauh ini, pemuda itu belum melakukan tindakan apapun. Dia hanya memperhatikan semua kejadian penuh ketenangan.


"Siapa kalian ini?" tanyanya berteriak.


"Siapapun kami tidak penting,"


"Mau apa datang kemari?"


"Membunuh pemuda yang datang bersamamu," kata salah seorang dari mereka dengan bengis.


Pemuda yang dimaksud tidak bukan adalah Cakra Buana adanya. Sambil bicara demikian, orang itu sudah mencabut golok yang tersimpan di pinggang bagian kiri.


Batang golok tampak menyilaukan mata pada saat terkena tempaan sinar matahari. Sekali lirik saja, siapapun bakal segera mengetahui bahwa itu adalah golok yang tajam.


Karena merasa terpanggil, maka Cakra Buana memutuskan untuk maju dua tiga langkah ke depan. Setiap langkahnya tenang. Senyuman tidak pernah lenyap dari mulutnya.

__ADS_1


"Jadi kedatangan kalian karena ingin membunuhku?" tanyanya sambil menunjuk kepada diri sendiri.


"Kalau sudah tahu, untuk apa bertanya lagi?" bentak seseorang kepada Pendekar Tanpa Nama.


"Hanya untuk memastikan saja, apakah salah?"


"Sudah tentu salah. Tidak ada yang perlu dipastikan lagi. Sebab semuanya juga sudah pasti,"


"Aii, orang-orang gagah seperti kalian, ternyata gampang sekali mengumbar amarah. Lebih baik pergi saja, aku tidak berani," ucap Cakra Buana dengan kalem.


"Persetan dengan segala bualanmu. Lebih baik kau mampus saja!!!"


Wushh!!!


Bayangan manusia meluncur dengan deras. Bayangan golok yang tajam telah tiba lebih dulu dari tubuhnya. Serangan ini amat berbahaya. Penuh perhitungan yang cermat dan langkah yang tepat.


Pendekar Tanpa Nama tidak bergeming. Dia tetap berdiri di tempatnya semula. Bahkan sepasang matanya menatap golok itu tanpa berkedip.


Tidak ada rasa gentar yang dia perlihatkan. Dengan keyakinan sekokoh gunung, Pendekar Tanpa Nama tetap belum mengambil tindakan.


Golok tajam sudah dekat. Tapi pada saat golok itu hampir mengenai sasaran, sekonyong-konyong ada sebatang pedang lemas yang telah menahan serangan golok tersebut sehingga senjata pusaka itu mendadak berhenti tepat berjarak satu jari dari wajah Pendekar Tanpa Nama.


"Kau kira bisa membunuh pemuda ini dengan mudah? Hemm, langkahi dulu mayatku," kata Sian-li Bwee Hua sambil tersenyum mengejek.


Trangg!!!


Kejadian kecil ini membuat sepuluh manusia serba hitam itu membelalakkan matanya. Meskipun terlihat seperti kejadian tidak berarti, tapi bagi mereka jelas sangat berarti.


Mereka tahu, hanya orang-orang yang berilmu sangat tinggi saja yang sanggup mementalkan golok tadi berserta dengan pemiliknya.


"Gadis jalang, rupanya kau ingin mampus lebih dulu," bentaknya gusar.


Wushh!!! Wushh!!!


Sepuluh bayangan manusia bergerak secara bersamaan. Mereka menyerang Sian-li Bwee Hua secara serentak. Tidak tanggung-tanggung, serangan pertama yang mereka lancarkan sangat kejam dan keji.


Sepuluh batang senjata pusaka telah mengincar Ling Ling. Berbagai macam jurus serangan diperlihatkan oleh musuhnya masing-masing.


Di negeri asalnya Sian-li Bwee Hua bukanlah seorang gadis biasa. Dia bukan tokoh sembarangan, meskipun sekarang dirinya berada di negeri orang, namun bukan berarti dia tidak berani.

__ADS_1


Sekali mulutnya mengeluarkan suara lengkingan tinggi, pada saat berbarengan itulah tubuhnya yang indah padat sudah menerjang ke depan pula. Dia menyambut sepuluh serangan ganas tersebut.


Trangg!!! Trangg!!!


Sepuluh kali benturan nyaring terdengar. Selanjutnya digantikan dengan suara jerit ngeri yang menyayat hati. Jeritan itu adalah jeritan kesakitan sebelum datangnya kematian.


Angin menggulung. Debu mengepul tinggi menutupi pandangan mata.


Begitu semuanya lenyap, pemandangan juga sudah berubah total.


Sepuluh orang manusia berpakaian serba hitam itu telah berubah menjadi sesosok mayat. Mereka semua telah tewas di ujung pedang lemas Sian-li Bwee Hua.


Cakra Buana hanya menghela nafas. Dia berjalan untuk memeriksa orang-orang tersebut.


Pemuda itu berjongkok di sisi salah satu mayat, tangan kanannya terjulur lalu segera membuka cadar hitam tersebut.


Betapa kagetnya Ling Ling dan Cakra Buana pada saat mengetahui wajah di balik cadar itu. Ternyata hanya selang beberapa saat saja, wajah orang-orang tersebut telah berubah mengerikan.


Waja itu gosong. Kulitnya lembek. Kalau ada orang lain, mereka pasti tidak akan dapat mengenali siapa saja orang-orang itu.


Apa yang sudah terjadi? Kenapa bisa seperti ini?


"Keji," kata Sian-li Bwee Hua menggerutu.


"Ya, benar-benar keji," jawab Pendekar Tanpa Nama menyetujui.


Cakra Buana memeriksa kembali wajah mayat yang gosong dan lembek itu untuk memastikan kejadiannya.


"Mereka tewas karena racun yang disimpan di serpihan bambu kuning," gumam Cakra Buana.


Ternyata benar. Tepat di bawah dahi orang itu ada satu serpihan bambu kuning yang sangat kecil. Ukurannya mungkin hampir sama dengan jarum rahasia yang biasa digunakan orang-orang persilatan.


Yang menjadi pertanyaannya saat ini adalah siapa pelakunya?


"Hemm, racun yang amat ganas,"


"Memang begitu. Sepertinya nyawaku akan terancam kembali," gumam Cakra Buana perlahan.


Tapi meskipun mulutnya bicara begitu, ekspresi wajahnya masih tetap tenang dan santai. Sedikitpun tidak ada tanda-tanda bahwa dia takur ataupun jeri.

__ADS_1


Tentu saja, dengan bekal kemampuan yang sudah mencapai tahap kesempurnaan seperti sekarang ini, memangnya apalagi yang ditakutkan oleh Pendekar Tanpa Nama?


Pastinya tidak ada. Ya, tidak ada dan tidak akan pernah ada.


__ADS_2