Pendekar Tanpa Nama

Pendekar Tanpa Nama
Si Tubuh Pedang


__ADS_3

Orang itu memakai jubah hitam. Rambutnya panjang terurai tampak kusut. Wajahnya kelam. Tapi tidak memperlihatkan ekspresi apapun. Tatapan matanya kosong. Seperti jiwanya yang juga kosong.


Dia bukan seperti manusia. Tapi mirip seperti mayat. Mayat yang masih mempunyai nyawa. Wajah itu tanpa perasaan. Seperti juga sebilah pedang yang terdapat di punggungnya.


Kedua tangannya dilipat di dada. Sekilas, orang itu terlihat seperti tidak mempunyai kemampuan apapun. Tapi caranya berdiri benar-benar kokoh. Walaupun angin badai menerjang, sepertinya orang itu tidak akan goyah walau sedikitpun.


Cakra Buana memandang ke bagian bawah. Dia sedikit terkesiap. Kaki itu, manusia itu, ternyata dia seorang yang cacat. Satu kakinya terbuat dari bambu. Bambu yang sangat istimewa karena tidak akan patah meskipun ditebas oleh golok yang sangat tajam.


Di tengah kegelapan, bambu itu memancarkan sinar kehijauan yang menyeramkan. Menggetarkan dan menakutkan.


Si Tubuh Pedang.


Hati Pendekar Tanpa Nama sedikit bergetar untuk sesaat. Entah kenapa, orang itu seperti membawa hawa tertentu. Cakra Buana pernah berhadapan dengan datuk sesat Tionggoan. Salah satunya si Iblis Tua Langit Bumi.


Tapi rasanya, dia tidak merasakan hawa aneh seperti sekarang ini. Seolah, kematian selalu menyelimuti tubuh orang itu. Ada hawa yang tidak nampak yang selalu menyelimuti seluruh tubuhnya.


'Diakah yang dimaksud orang paling berbahaya di antara sepuluh orang lainnya? Diakah si Tubuh Pedang itu? Hemm, hawa pembunuhan yang keluar dari tubuhnya benar-benar kuat. Entah sudah berapa banyak nyawa manusia yang melayang di ujung pedangnya,' batin Pendekar Tanpa Nama sambil terus memperhatikan orang itu.


Untuk menjadi pendekar yang ditakuti, memang tidak perlu banyak gaya. Walaupun penampilanmu biasa saja, tapi jika hawa pembunuhan yang keluar dari tubuhmu sedemikian pekat, maka niscaya kau akan menjadi sosok yang ditakuti.


Seperti si Tubuh Pedang misalnya.


Penampilannya sangat biasa. Bahkan tidak menampilkan bahwa dia seorang pembunuh ulung. Tapi siapapun tahu, yang berbahaya bukanlah penampilan itu. Melainkan pedang dan kaki bambu itu sendiri.


Pedangnya lebih tajam dari pada mulut tetangga. Dan kaki bambunya lebih berbahaya dari pada manusia bermuka dua.


"Siapa kalian?" terdengar si gendut yang memegang bola besi angkat bicara lebih dulu.


"Kalau kau sudah tahu, untuk apa bertanya lagi?" tanya balik si Walet Putih.


Si gendut tertawa lantang. Suara tawanya sangat keras sehingga membuat perutnya naik turun.


"Si Walet Putih memang bukan orang lain. Untuk apa kau datang kemari?"


"Apapun tujuanku datang kemari, hal itu bukanlah urusanmu,"

__ADS_1


"Memang bukan, aku hanya sekedar bertanya saja," kata si gendut sambil tertawa hambar.


"Kalau aku tidak kau menjawab?"


"Aku tidak akan memaksa,"


Keduanya langsung diam membisu. Mereka saling tatap untuk beberapa saat, seolah keduanya sedang mengukur sampai di manakah kekuatan lawannya masing-masing.


"Lantas, siapakah Tuan muda ini?" tanya si krempeng sambil menatap ke arah Pendekar Tanpa Nama.


"Apakah kau tidak tahu siapa dia?" sebelum Cakra Buana menjawab, si kekar yang ada di pinggirnya malah berkata lebih dulu.


"Aku rasa tidak," jawab si gendut sambil menggelengkan kepalanya.


"Hemm, dia adalah pemuda Tanah Pasundan yang mengembara ke Tionggoan. Namanya Cakra Buana, julukannya Pendekar Tanpa Nama. Belakangan ini beritanya selalu tersebar, masa kau tidak tahu?"


Si gendut itu tercengang. Kemudian dia melihat Cakra Buana dari atas hingga bawah. Orang itu mengangguk-angguk sambil tersenyum hangat.


"Tak kusangka, ternyata pendekar yang menggetarkan dunia persilatan kita, tidak lebih hanyalah seorang pemuda tampan. Hemm, kagum, sungguh kagum," puji si gendut dengan tulus.


Kalau dia disuruh memilih, sudah pasti pemuda itu memilih untuk tidak terkenal. Karena menjadi orang terkenal ternyata sangat merepotkan. Apalagi kalau berhubungan dengan dunia persilatan.


Ke mana pun dirinya pergi, pasti ada yang kenal. Lebih parahnya lagi, dia selalu bertemu dengan musuh yang tidak pernah diduga sebelumnya.


"Terimakasih atas pujian Tuan sekalian. Aku sendiri merasa kurang nyaman, karena bagiku, hal itu sangatlah berlebihan," jawab Cakra Buana dengan sopan.


Seorang pendekar yang berilmu tinggi, biasanya mereka akan memilih untuk saling menghargai lebih dulu. Karena masing-masing tahu sampai di mana kelihaian calon lawannya.


"Hahaha, sudah beirlmu tinggi, pandai merendah pula. Siapa yang akan mengira bahwa pemuda sepertinya sangat berbahaya?" kata si krempeng tertawa.


Apa yang dia katakan memang benar. Jika orang yang sama sekali tidak mengenal dirinya, dia pasti tidak akan pernah menyangka bahwa pemuda tampan dan ramah itu, ternyata sebenarnya adalah pemuda yang lebih mengerikan daripada Malaikat Maut sendiri


"Apakah bisa kita mulai sekarang?" tanya seorang yang lainnya.


"Silahkan, aku hanya akan mengikuti keinginan tuan rumah saja," jawab Cakra Buana tanpa melepaskan senyuman hangat di mulutnya.

__ADS_1


"Bagus. Kau memang pemuda yang sangat tahu tatakrama,"


Ucapannya baru saja selesai. Tapi serangannya sudah datang lebih dulu. Segulung angin menerjang Pendekar Tanpa Nama, sayatan golok yang secara mendadak hampir mengenai tubuhnya.


Untung bahwa dia mampu bergerak melebihi kecepatan serangan itu sendiri.


Orang yang baru menyerang merasa semakin penasaran, serangan berikutnya langsung dia lancarkan secara beruntun.


Dua orang juga sudah mengejar si Walet Putih. Pukulan berhawa panas dan tusukan dari tongkat baja menerjang tiba.


Pedang di tangannya langsung diangkat untuk menghalau sodokan tongkat itu. Tangan kirinya terayun menghalau pukulan lawan.


Tiga orang menyerang. Delapan orang lainnya masih terdiam di tempatnya masing-masing.


Plakk!!!


Tangan kanan Pendekar Tanpa Nama tahu-tahu sudah menampar pergelangan tangan orang yang menyerangnya. Untung bahwa orang itu mempunyai cengkraman yang kuat. Kalau tidak, mungkin goloknya sudah terlempar jauh.


Dia terdorong dua langkah ke belakang. Sampai mati pun, orang tersebut tidak akan percaya bahwa dirinya mampu terdorong hanya dalam waktu singkat.


Wushh!!!


Pendekar Tanpa Nama tkdak mau menunggu lebih lama lagi. Tangan kanannya melancarkan tiga kali pukulan dahsyat. Bergulung-gulung tenaga tak kasat mata datang menyambar tubuh lawan.


Orang itu berjumpalitan di udara. Goloknya langsung ditebaskan melancarkan serangan jarak jauh.


Dua pendekar mulai bertarung secara jarak dekat. Golok yang sangat tajam itu mencecar dengan tusukan dan sabetan yang tidak bisa dipandang sebelah mata.


Cakra Buana dapat menghindari serangan dahsyat itu. Tapi tak urung juga tubuhnya hampir menjadi sasaran empuk bagi lawan.


"Naga Menerjang Badai …"


Pendekar Tanpa Nama langsung mengeluarkan jurus saktinya. Dua kepalan tangan itu bergerak secara lincah untuk menghindar dan melancarkan serangan hebat.


Dua tangannya seperti dua ekor naga yang menari menerjang ganasnya badai. Tubuhnya melesat ke dalam gulungan sinar golok milik lawan.

__ADS_1


Beberapa kali terdengar sambaran angin tajam. Dua tangan itu semakin lama semakin cepat. Pendekar Tanpa Nama sudah mengeluarkan delapan bagian tenaga dalam. Jika sudah demikian, maka serangannya tidak diragukan lagi.


__ADS_2