Pendekar Tanpa Nama

Pendekar Tanpa Nama
Jebakan


__ADS_3

"Apa yang dikatakan Pangcu memang benar. Aku sendiri tidak bisa mendengarnya begitu jelas kecuali yang langkah kaki perlahan,"


"Ternyata kau memiliki telinga yang sangat tajam,"


"Terimakasih atas pujian Pangcu. Sepertinya aku harus mengejar orang itu,"


"Kenapa?"


"Dia sudah mendengar apa yang kita bicarakan. Kalau aku tidak bertindak secara cepat, mungkin kabar tentang diriku akan cepat menyebar. Itu artinya, nyawaku juga akan semakin terancam,"


"Kau benar. Orang itu pasti akan mengincar nyawamu. Terlebih lagi kitab dan pusaka yang ada pada dirimu,"


"Karena alasan itulah sekarang juga aku harus mengejarnya,"


"Baik. Suatu saat kita bertemu kembali nak. Maaf, aku tidak membantumu lebih jauh. Namun kalau kau membutuhkan bantuan, perlihatkan Lencana Harimau ini kepada orang-orang Kay Pang Pek. Ini sebagai tanda tamu kehormatan di partai kami," kaya Huang Yang Qing sambil memberikan lencana bergambar harimau.


"Terimakasih, budi baik Pangcu tidak akan aku lupa. Suatu saat aku pasti akan membalasnya,"


Kakek Tua Tongkat Hijau mengangguk sambil tersenyum. "Pergilah,"


"Baik. Sampai jumpa lagi Pangcu,"


"Ah, tunggu sebentar. Masih ada sisa kepingan emas yang cukup banyak. Semoga Pangcu bisa menerimanya," Cakra Buana langsung memberikan dua kantong kepingan emas. Tanpa menunggu jawaban lagi, dia langsung pergi dari sana.


Cakra Buana segera melesat. Ilmu meringankan tubuh yang dia gunakan jauh lebih cepat daripada sebelumnya. Kakek tua itu sendiri merasa terkejut. Padahal sebelumnya dia melihat anak itu biasa saja. Tak disangka ternyata dia memiliki kemampuan yang lumayan.


"Sungguh pemuda yang luar biasa. Semoga saja thian (langit) selalu melindunginya," gumam Huang Yang Qing.


Dia kemudian melesat juga untuk kembali ke markas cabang. Suasana di sana kembali sepi sunyi. Seperti sunyinya hati Huang Mei Lan yang sekarang sedang memandangi rembulan di taman belakang markas.


Dia duduk di bangku taman. Di pinggirnya ada kolam ikan koi. Sesekali Huang Mei Lan memandangi ikan-ikan yang berenang hilir-mudik itu. Pantulan cahaya rembulan terlihat indah jika di lihat di air.


Tiba-tiba Mei Lan mendengar langkah kaki berjalan mendekat ke arahnya. Dia mendongakkan kepalanya.


"Kakek?"


"Mei Lan, sedang apa kau di sini?" tanya Huang Yang Qing dengan lembut.


Suaranya penuh kasih sayang. Rasa sayangnya bahkan mungkin melebihi menyayangi nyawanya sendiri.


"Aku sedang menikmati malam ini Kek, kenapa Kakek kemari? Bukankah tadi kau sedang bersama pemuda itu?" tanya Mei Lan penasaran.


"Dia sudah pergi," katanya lalu duduk di samping Mei Lan.

__ADS_1


"Pergi?" tanya sadar sia berkata kaget.


Pergi? Pemuda tampan itu pergi? 'Belum juga aku menatapnya lagi'. Batinnya.


"Kenapa kau seperti sangat terkejut begitu?"


"Ti-tidak Kek," jawabnya gugup.


"Benarkah kau sedang menikmati malam? Bukan sedang menenangkan hati yang terasa gundah?" kata si kakek tua itu menggoda cucunya.


"Ih, Kakek ini. Senang sekali menggoda cucunya," ucap Mei Lan sambil menarik jenggotnya.


"Aduh, aduh, sakit. Kebiasaanmu dari kecil memang tidak pernah hilang. Mei Lan, berlatihlah dengan keras supaya kau bisa pergi mengembara. Setelah itu kau bisa mencari rembulan yang hilang,"


"Kakek …" katanya geram karena merasa terus digoda oleh kakeknya.


Melihat cucunya mulai kesal, Huang Yang Qing kemudian pergi sambil tertawa puas. Dia sudah tahu bahwa cucunya memiliki pandangan lain terhadap pemuda bernama Cakra Buana itu.


Tetapi dia sendiri tidak mencoba untuk terlalu ikut campur. Karena hal itu hanya berlaku bagi mereka yang muda saja.


###


Cakra Buana masih terus berlari secepat yang dia bisa. Kalau seekor harimau sudah memutuskan untuk mendapatkan mangsangya, maka bagaimanapun caranya, dia harus bisa menangkapnya.


Dan Cakra Buana adalah harimau.


Setelah beberapa saat mengejar orang yang sempat menguping pembicaraannya, pada akhirnya perjuangan dia tidak sia-sia.


Pemuda serba putih itu berhasil juga mengejarnya.


"Berhenti!!!" teriak Cakra Buana setelah mereka tiba di tepi danau yang cukup besar.


Di sana hanya ada danau dan hutan. Tak ada rumah, taka ada apapun kecuali pepohonan yang menjulang tinggi.


Orang yang dipanggil langsung berhenti saat itu juga. Dia kemudian membalikan badannya ke arah Cakra Buana.


Sinar rembulan menyorot orang tersebut. Ternyata dia seorang pria tua berumur sekitar enam puluhan tahun. Pakaiannya serba biru tua. Rambutnya panjang diikat oleh sutera biru pula. Wajahnya terlihat jelek dengan luka bacokan di seluruh bagian muka.


Sorot matanya tajam seperti mata kucing di kegelapan. Menyala dan mengancam.


Di pingggangnya terselip sebatang golok ramping. Sekilas mirip pedang, tapi jelas bukan pedang.


"Mau apa kau mengejarku?" tanya orang tersebut.

__ADS_1


"Justru aku yang seharusnya bertanya, mau apa kau menguping pembicaraanku?"


"Itu hakku,"


"Tapi aku tidak mengizinkanmu,"


"Anak muda, jangan banyak bicara lagi. Lebih baik kau serahkan saja barang yang ada pada dirimu sekarang sebelum aku hilang kesabaran," kata orang tersebut sambil menjulurkan tangan kanannya.


"Barang yang mana?"


"Jangan berlagak bodoh. Serahkan sekarang atau aku akan memaksamu,"


"Kalau memang mampu, lakukanlah,"


"Bagus. Ternyata kau pemuda keras kepala dan bernyali besar,"


Selesai dia berkata seperti itu, terdengar suara angin tajam dan dingin mengarah kepada Cakra Buana. Buru-buru dia melompat untuk menghindari senjata rahasia itu. Belum lagi dia mendapatkan posisi yang tepat, puluhan batang jarum berwarna hitam pekat telah melesat kembali dari berbagai penjuru.


Tetapi Cakra Buana bukanlah pemuda sembarangan. Dia mulai menggerakan kedua tangannya lalu menghimpun tenaga dalam untuk memusnahkan senjata rahasia tersebut.


Sebenarnya dia merasa heran. Dari mana datangnya senjata rahasia tadi? Bahkan jumlahnya hingga sebanyak itu dan melesat dari segala penjuru.


Padahal orang yang tadi mengupingnya masih terdiam tidak melakukan sesuatu apapun.


Di saat seperti itu, mendadak air danau yang tenang langsung muncrat ke segala arah. Tiga orang muncul dari sana. Pakaian mereka hitam pekat. Karena hanya fokus pada orang tadi, Cakra Buana jadi tidak menyadari bahwa di danau tersebut ternyata ada orang lain.


Setelah tiga orang itu, mendadak dari sekeliling muncul juga beberapa orang berpakaian sama. Jumlah mereka tidak kurang dari lima belas orang banyaknya.


Sekarang dia baru sadar bahwa dirinya telah masuk ke sarang musuh. Dia telah terkena jebakan.


"Aku katakan sekali lagi, serahkan barang itu sebelum terlambat. Setelah barangnya ada padaku, kau boleh pergi,"


"Sekali aku katakan tidak, sampai matipun tidak. Apakah sekarang kau mengerti?"


"Bagus. Ternyata kau memang sudah bosan hidup,"


"Habisi dia!" perintahnya kepada lima belas berpakaian hitam.


Tanpa berkata, lima belas orang tersebut langsung maju menyerang Cakra Buana. Sinar pedang berkilat terkena cahaya rembulan. Lima belas orang mengepungnya dengan pedang di tangan.


Gerakan mereka cukup cepat. Tetapi gerakan Cakra Buana lebih cepat lagi.


Entah bagaimana caranya, dia bisa terbebas dari kepungan lawan.

__ADS_1


__ADS_2