
"Tangkap para pengkhianat itu!!!" ujar Ratu Ayu dengan suara yang sangat lantang.
Wushh!!! Wushh!!!
Puluhan bayangan manusia tiba-tiba mendadak muncul dari balik pepohonan yang rimbun. Entah sejak kapan di sana hadir pula orang-orang tersebut.
Semua orang kembali dibuat terkejut untuk yang kesekian kalinya. Malam ini, entah sudah berapa kali orang-orang itu dibuat terkejut.
Puluhan bayangan manusia berpakaian serba putih datang bagaikan malaikat. Gerakan mereka amat cepat. Cekatan. Dan lincah.
Dilihat sekilas saja, siapapun bakal tahu kalau orang-orang berpakaian putih itu pastinya bukanlah orang sembarangan. Para punggawa Kerajaan yang berkhianat tidak sempat melarikan diri. Meskipun sempat, dapat dipastikan kalau mereka tidak akan bisa kabur lebih jauh lagi.
Alasannya karena hutan tersebut ternyata sudah dikepung oleh para pendekar yang dibawa oleh Ratu Ayu. Hal ini bisa diketahui karena pada saat puluhan bayangan manusia itu beterbangan bagaikan burung untuk menangkap para pengkhianat, mendadak muncul kembali puluhan orang berbaju putih lainnya. Mereka langsung berdiri di setiap dahan pohon besar.
Puluhan manusia laknat itu sudah berada dalam genggaman tangan Ratu Ayu. Bukan cuma tubuhnya, malah nyawanya juga sama. Kalau wanita agung itu ingin, dia bisa langsung membunuh orang-orang tersebut.
Sayang sekali kalau Ratu Ayu bukanlah tipe manusia seperti demikian.
"Bawa mereka semua ke tempat yang sudah aku beritahukan kepada kalian. Jaga baik-baik, jangan sampai ada yang kabur. Nanti aku akan menghukum mereka sesuai dengan aturan yang berlaku,"
"Baik …" jawab seorang berpakaian putih mewakili yang lainnya.
Puluhan orang tersebut langsung pergi sambil membawa para punggawa pengkhianat itu. Satu orang, satu pengkhianat. Hanya sekejap saja, mereka sudah menghilang dari pandangan mata.
Sekarang yang ada di sana tinggal pihak dari Pendekar Tanpa Nama. Atau bisa juga disebut pihak Ratu Ayu sendiri.
Kecuali Karmalaya, rasanya tidak ada lagi musuh lainnya.
Orang-orang yang berada dalam satu haluan itu sekarang sudah berkumpul bersama. Mereka saling tersenyum sebagai tanda menyapa.
"Kita apakan dia?" tanya Dewi Bercadar Biru sambil memandang Karmalaya.
"Kita gantung saja di tiang. Lalu kita bawa keliling Kotaraja," jawab Gagak Bodas sambil tertawa.
__ADS_1
"Usul yang baik," ucap Nenek Sakti menimpali.
Mereka tertawa riang. Sedangkan Karmalaya justru tampak murung. Diam-diam dia mengutuk dirinya sendiri.
Kenapa nasibnya seburuk ini? Apakah ini semua merupakan balasan dari apa yang sudah dia perbuat kepada orang lain selama ini?
Ataukah para Dewa sengaja mengujinya dengan masalah sekarang yang ada di hadapannya? Sampai kapan mimpi buruk ini bakal berakhir? Sementara, atau selamanya?
Wushh!!!
Pada saat dirinya sedang melamun, tiba-tiba sejalur sinar hitam meluncur deras ke arahnya. Datangnya sinar hitam itu bagaikan kilat. Hanya satu kali, semuanya langsung sirna.
Tiada lagi sinar hitam. Tiada pula Karmalaya. Ya, dia sudah tiada. Sudah mampus. Mampus karena sejalur sinar hitam tadi.
Sinar itu bukan lain adalah jarum hitam milik Sian-li Bwee Hua.
Jarum yang hitam. Jarum yang tidak pernah mengecewakan pemiliknya.
Karmalaya tewas dengan mata melotot. Begitu jarum tadi masuk ke lehernya, seluruh tubuh orang tua tersebut langsung berubah menjadi hitam. Bau busuk segera menyebar ke segala penjuru.
Dua buah senyuman manis dari wanita yang sangat cantik beradu. Meskipun pemandangan itu terjadi dalam sekejap, tapi sungguh, hal tersebut sanggup membuat siapapun terpukau karenanya.
"Jarum yang beracun ganas. Lemparan yang sangat hebat, aku kagum," ucap Ratu Ayu kepadanya.
"Kau tidak marah?" tanya Dewi Bercadar Merah sengaja tidak memakai tatakrama.
"Buat apa marah? Manusia sepertinya memang pantas mati. Aku hanya menyayangkan saja,"
"Apanya yang perlu disayangkan?"
"Seharusnya dia tidak mati secepat itu. Manusia sepertinya sebaiknya diberi siksaan terlebih dahulu agar dia tahu bagaimana rasanya penderitaan," kata Ratu Ayu.
Yang lain hanya menanggapinya dengan anggukan kepala.
__ADS_1
Sepak terjang Karmalaya di dunia persilatan selama ini memang bisa dibilang sangat kejam. Dia tidak mengenal kata ampun. Jangankan kepada orang lain, kepada orang-orang sendiri pun, jika baginya orang itu harus mati, maka Karmalaya bakal membunuhnya tanpa segan-segan.
Malam semakin larut. Rembulan sudah condor ke barat. Kentongan ketiga sudah lewat kurang lebih setengah jam yang lalu. Itu artinya, fajar akan segera menyingsing.
Semilir angin berhembus semakin dingin. Laksana sebatang golok yang menyayat kulit manusia.
Di hutan itu sudah sepi sunyi. Orang-orang yang tadi terlibat pertempuran sengit telah kembali ke tempatnya masing-masing. Di sana tiada seorangpun manusia hidup.
Yang ada hanyalah jasad para korban dari pihak Karmalaya. Malah termasuk jasad orang itu sendiri masih berada di sana. Ratu Ayu sengaja tidak mau membawa mayat-mayat itu. Beliau hanya menyuruh orang-orangnya membawa mayat pihaknya sendiri.
Bukan karena dia tega. Bukan pula karena kejam. Sang Ratu melakukan hal tersebut hanya bertujuan untuk memberi pelajaran kepada manusia lainnya bahwa segala yang kita perbuat semasa hidup, pasti bakal mendapatkan balasan yang setimpal.
Entah itu pada saat masih bernafas, atau bahkan ketika nyawa sudah terlepas.
Dari balik rimbunnya pepohonan terlihat ada beberapa ekor serigala dan anjing hutan yang sudah bolak-balik. Binatang-binatang malam itu sepertinya sedang mengintai mayat-mayat tersebut. Di atas juga sama. Beberapa ekor burung gagak sudah terbang berputar-putar di area sekitarnya.
###
Ruangan itu sangat besar. Segala macam barang yang ada di sana terbilang antik. Dindingnya berwarna merah darah. Aroma wewangian bunga tercium menyengat hidung.
Ruangan ini adalah ruangan bawah tanah yang berada di bawah kamar Ratu Ayu. Ternyata selain ruangan yang dulu pernah dikunjungi oleh Pendekar Tanpa Nama beserta rekannya, masih terdapat juga satu ruangan rahasia lainnya.
Sekarang yang berada di sana hanyalah orang-orang penting saja. Di antaranya Pendekar Tanpa Nama, Dua Dewi, Sepasang Kakek dan Nenek Sakti, Jalak Putih, Gagak Bodas, dan juga Pendekar Belati Kembar.
Mereka sedang duduk saling berhadapan. Di depannya ada meja dari kayu jati pilihan berbentuk persegi panjang. Di atasnya terdapat banyak hidangan lezat. Tentunya tersedia juga beberapa guci arak wangi berkualitas tinggi.
Pendekar Tanpa Nama menuangkan arak. Suara arak yang dituang ke dalam cawan terdengar nyaring. Suasana masih hening. Belum ada seorangpun yang bicara. Mereka sedang sibuk dengan kegiatannya masing-masing. Ada yang sedang makan, minum arak, ada juga yang sedang melihat-lihat barang antik dengan sepasang matanya.
"Malam ini sungguh melelahkan," kata Pendekar Tanpa Nama tiba-tiba membuka suara.
"Malah sangat melelahkan," timpal Kakek Sakti sambil tertawa.
"Aku sungguh tidak menyangka kalau kalian akan datang tepat pada waktunya," kata pemuda tampan itu sambil tersenyum getir.
__ADS_1
"Tentu saja kau tidak akan menyangka. Terlebih lagi musuh-musuh kita itu," kata Dewi Bercadar Biru ikut nimbrung.