
Si Kakek Kipas Badai langsung naik darah. Amarahnya meluap hingga ke ubun-ubun. Matanya bertambah tajam menatap kepada Pendekar Tanpa Nama. Mata itu seolah ingin menghancurkan seluruh tubuh Cakra Buana.
Untung orang yang ada di hadapannya saat ini adalah seorang pemuda yang bergelar Pendekar Tanpa Nama. Siapa yang tidak pernah mendengar berita tentangnya selama beberapa bulan terakhir?
Semua orang pasti pernah mendengarnya.
Kehebatan Pendekar Tanpa Nama yang sekarang tidak berbeda jauh dengan Pendekar Tanpa Nama yang puluhan lalu menggetarkan dunia persilatan. Bahkan keduanya memiliki jurus-jurus yang sama.
Tentu saja, sebab dua orang itu secara tidak langsung mempunyai hubungan yang sangat erat.
"Aku sudah lama tidak merobek mulut seseorang dengan kipas saktiku," kata Kakek Kipas Badai dengan ketus.
"Kalau begitu, robek saja. Kenapa harus bilang kepadaku?" jawab Cakra Buana pura-pura tidak mengerti atas apa yang sudah diucapkan oleh kakek tua itu.
"Apakah aku boleh merobek mulut seseorang?"
"Sangat boleh,"
"Jika seseorang itu adalah dirimu, apakah masih boleh?"
"Tentu saja. Kenapa tidak? Selama kau merasa yakin mampu merobek mulutku, maka lakukanlah," tantang Pendekar Tanpa Nama.
"Baik, jangan pernah menyesal atas ucapanmu,"
"Aku tidak pernah menyesali ucapanku sendiri karena semuanya sudah diperhitungkan,"
Cakra Buana memang penuh perhitungan. Dalam hal apapun, dia selalu berlaku seperti itu. Selama ini, perhitungannya selalu tepat.
Jika dia berkata sanggup untuk melakukan sebuah hal, itu artinya dia memang sanggup. Tetapi jika berkata tidak sanggup, maka sebenarnya dia memang tidak sanggup.
Dalam hidup, memperhitungkan segala hal sebelum bertindak adalah modal yang paling utama.
Si Kakek Kipas Badai sudah merasa muak dengan segala macam jawaban Pendekar Tanpa Nama. Bagi orang lain, pemuda itu mungkin sangat hebat. Namun bagi dirinya sendiri, pemuda itu tidak lebih dari seekor tikus kecil yang berlagak congkak.
Wushh!!!
Tiga batang pisau perak melesat dengan sangat cepat ke depan Pendekar Tanpa Nama. Kecepatannya lebih cepat dari seekor rajawali yang menyambar mangsa. Ancamannya lebih berbahaya dari terkaman seekor raja hutan.
Desiran angin yang tercipta dari lesatan tiga batang pisau itu terasa sangat tajam. Seolah desiran anginnya saja mampu merobek kulit manusia.
__ADS_1
Pendekar Tanpa Nama memutarkan tubuhnya dengan kecepatan tinggi. Gerakannya tidak kalah cepat dari luncuran tiga batang pisau perak tadi.
Clapp!!! Clapp!! Clapp!!!
Debu mengepul. Dedaunan berterbangan karena terhembus angin yang diciptakan oleh Cakra Buana.
Pemandangan selanjutnya membuat siapapun akan terkejut. Seumur hidupnya, orang-orang yang ada di sana baru melihat kejadian seperti apa yang kini terjadi di depan mata mereka.
Tiga batang pisau perak yang dilemparkan si Kakek Kipas Badai dengan sekuat tenaga itu, ternyata mampu ditangkap oleh Pendekar Tanpa Nama.
Yang membuatnya lebih terkejut lagi, tiga pisau itu justru terjepit di antara tiga jari tangannya.
Siapa yang akan percaya ada kejadian seperti ini jika tidak melihatnya secara langsung?
Lemparan si Kakek Kipas Badai sudah terkenal ke seluruh penjuru dunia persilatan. Jangankan tokoh kelas atas, datuk rimba hijau sendiri belum tentu sanggup menangkapnya.
Tetapi kini, seorang pemuda dengan julukan Pendekar Tanpa Nama ternyata mampu menangkap lemparan pisaunya. Kejadian ini benar-benar mimpi terburuk bagi Kakek Kipas Badai.
Puluhan tahun melatih ilmu melemparkan senjata, ternyata hasil dari semua itu sia-sia. Padahal dirinya sudah yakin bahwa di kolong langit ini tidak ada yang sanggup menahan lemparannya.
Tak disangka, seorang pemuda yang dianggap masih bau kencur ternyata benar-benar mampu menangkapnya.
Wushh!!!
Cakra Buana melemparkan kembali tiga batang pisau perak itu. Kecepatannya lebih cepat dari lemparan si Kakek Kipas Badai. Cahaya perak berkelebat secara bersamaan.
Slebb!!!
Detik berikutnya tiga orang anak buah roboh ke tanah. Tenggorokan mereka tertembus oleh tiga pisau tadi. Hebatnya lagi, tiga batang pisau itu tidak bersarang di tenggorokan para korban. Benda kecil itu justru terus melesat tembus ke belakang hingga berhenti setelah menancap di batang pohon yang besar.
Darah mulai menggenangi tiga korban pertama. Mereka tewas tanpa mengeluarkan suara sedikitpun.
Kejadian ini berjalan sangat singkat. Tidak ada yang mampu menggambarkannya dengan jelas.
Enam tokoh di hadapan Cakra Buana ditambah tujuh anak buahnya yang tersisa dibuat melongo. Pandangan kepada pemuda itu mendadak berubah.
Terlebih lagi pandangan si Kakek Kipas Badai sendiri. Baginya, Pendekar Tanpa Nama benar-benar bisa menjadi ancaman serius di masa depan nanti.
"Ternyata ilmu melemparkan senjatamu tidak jelek juga,"
__ADS_1
"Memang tidak jelek. Tapi asal kau tahu, barusan itu belum menggunakan segenap kekuatanku," jawab Cakra Buana sedikit menyombongkan dirinya.
"Kagum, sungguh kagum. Apakah ilmu bertarungmu sebagus ilmu melemparmu?"
"Kenapa kau tidak langsung mencobanya?"
Wushh!!!
Tujuh anak buah Kakek Kipas Badai langsung bergerak saat itu juga. Tujuh batang golok telah dihunus ke atas dan siap untuk di bacokan ke tubuh Pendekar Tanpa Nama.
Mereka melompat secara bersamaan. Serangan yang tiba juga serempak. Kilatan perak memenuhi angkasa raya. Pendekar Tanpa Nama masih berdiri dengan kedua tangan di lipat di belakang.
Wuttt!!! Wuttt!!!
Bacokan pertama tiba mengarah ke atas kepala. Sabetan kedua mengarah ke pundak sebalah kanan. Tujuh serangan berbeda itu benar-benar membawa maut.
Tapi calon korban mereka masih terlihat santai.
Wushh!!!
Cahaya merah bergerak sangat cepat. Bunyi benda keras yang patah mulai terdengar ramai. Detik selanjutnya, bunyi teriakan tertahan mulai menggema di telinga masing-masing.
Saat bayangan merah berhenti seperti semula, saat itu juga anak buah Kakek Kipas Badai telah ambruk ke tanah. Mereka tewas dengan keadaan mengenaskan. Tujuh orang korban, tujuh luka yang berbeda.
Semuanya mampus membawa perasaan ngeri. Tapi bagi mereka yang menjadi korban, kematian ini mungkin jauh lebih baik dari pada harus melihat kejadian yang lebih mengerikan lainnya.
Angin berhembus lirih. Suara jangkrik memecahkan kesunyian yang ada di sana. Selain basah karena embun, tanah juga mulai basah oleh darah.
Bau amis menusuk hidung. Tetapi tujuh orang tokoh kelas atas itu masih berdiri dengan penuh rasa percaya diri.
Wushh!!!
Satu orang bergerak dengan kecepatan luar biasa. Orang itu mengeluarkan senjatanya yang berupa dua pedang pendek. Serangan dahsyat langsung menghujani tubuh Pendekar Tanpa Nama.
Belum selesai serangan orang pertama, serangan kedua sudah datang lagi. Cahaya emas berkelebat menusuk jantung. Satu trisula dengan panjang setengah depa telah memberikan ancaman hebat kepada Cakra Buana.
Pemuda itu masih menghindar. Dia belum memberikan perlawanan sama sekali. Kebiasaan Cakra Buana adalah dia lebih suka membaca sampai di mana kekuatan lawan dan mempelajari serangannya.
Kalau dua hal itu sudah bisa dimengerti, maka dia akan langsing bergerak.
__ADS_1