Pendekar Tanpa Nama

Pendekar Tanpa Nama
Kematian Sang Ahli Pedang


__ADS_3

Sedangkan bersamaan dengan kejadian tersebut, Pedang Cantik dari Khayangan juga masih berada di posisinya. Pedang itu masih menancap di jantung lawan.


Saat ini, jarak paku emas itu tinggal setengah langkah darinya.


Trangg!!! Trangg!!!


Tiba-tiba ada sinar hitam memanjang yang meluncur dari sisi Dewi Bercadar Biru. Benturan di tengah udara terjadi lagi. Lima batang paku emas itu telah melesat ke segala arah.


Dewi Bercadar Biru selamat dari maut.


Sinar hitam itu ternyata menjadi perantara akan keselamatannya. Sinta segera menatap ke arah datangnya sinar hitam tadi, dilihatnya Dewi Bercadar Merah sedang tersenyum ke arahnya. Di tangan kanannya ada suatu benda kecil yang mengkilap karena tersorot oleh lentera.


Jarum hitam.


Senjata rahasia yang tidak pernah mengecewakan pemiliknya itu ternyata barusan telah menyelematkan nyawanya.


"Kau tidak papa?" tanya Sian-li Bwee Hua sambil berjalan ke arahnya.


"Aku baik-baik saja Rai, kau jangan khawatir," jawabnya sambil tersenyum lembut.


Dua gadis maha cantik melemparkan senyumannya secara bersamaan. Keduanya benar-benar mirip dua orang Dewi.


Sementara itu, pertempuran Pendekar Tanpa Nama melawan Dewa Pedang Kembar juga sedang berlangsung. Pertempuran mereka jauh lebih seru dan menegangkan daripada dua pertempuran lainnya.


Keduanya merupakan pendekar pedang, sama-sama orang yang berhasil mencapai tahapan tertinggi dalam sebuah ilmu pedang. Kalau seseorang sudah seperti ini, tidak diperlukan lagi banyaknya jurus, tidak butuh kembangan atau variasi dari setiap jurus, mereka hanya membutuhkan kecepatan, ketepatan, dan perkiraan untuk kapan menentukan sebuah serangan maut.


Sebab setiap tebasan dan tusukan adalah jurus. Setiap gerakan sekecil apapun dari pedang itu adalah ilmu. Walaupun cuma mencabut dan menyarungkan kembali pedangnya, hal itu tetap saja sebuah kemampuan.


Mencabut pedang seorang yang sudah ahli dan orang awam sangat bisa dibedakan. Jika orang awam tidak memakai teknik atau perasaan apapun, maka seorang ahli malah sebaliknya.


Setiap mencabut atau menyarungkan pedang, mereka selalu menggunakan perasaan. Menggunakan hati dan jiwa. Jiwanya adalah pedang. Dan pedang adalah jiwanya.

__ADS_1


Saat ini di arena pertarungan itu, Dewa Pedang Kembar sudah melancarkan jurus hebatnya. Dua pedang yang tergenggam di kedua tangannya ibarat dua ekor naga sakti yang sedang mencari di angkasa.


Gerakannya rumit. Cepat. Dan mematikan. Setiap sabetan dan tusukannya membawa maut. Dua sinar pedang sudah menggulung Pendekar Tanpa Nama. Pemuda itu terkurung dalam sinar pedang yang dihasilkan oleh serangan lawan.


Dewa Pedang Kembar bergerak semakin cepat. Ribuan titik pedang tercipta. Cahaya perak yang menyilaukan muncul bagaikan bianglala indah pada saat senja hari.


Semua orang menahan nafas. Setiap tokoh persilatan yang hadir memandangi jalannya pertarungan mereka dengan serius.


Pertempuran ini adalah penentuan. Penentuan hidup dan matinya seorang ahli pedang dalam dunia persilatan Tanah Pasundan.


Trangg!!! Slebb!!!


Di tengah kilatan cahaya pedang, mendadak terdengar satu kali benturan. Setelah itu segera disusul dengan suara tusukan yang berhasil mengenai sasarannya dengan telak.


Cahaya pedang telah sirna. Ribuan titik pedang juga lenyap. Tiada lagi bianglala indah, tiada pula benturan nyaring. Yang ada hanyalah akhir. Akhir dari kehidupan salah seorang ahli pedang tersebut.


Keadaan mulai normal kembali. Debu yang tadi menutupi arena pertarungan, sekarang sudah lenyap.


Pedang Naga dan Harimau milik Pendekar Tanpa Nama telah menembus tenggorokan Dewa Pedang Kembar dengan sangat telak. Pedang itu tembus hingga setengahnya.


Dewa Pedang Kembar masih dapat berdiri. Malah seulas senyuman dia lemparkan kepada Pendekar Tanpa Nama. Bukan senyuman sinis. Bukan pula senyuman merendahkan.


Melainkan sebuah senyuman bangga. Senyuman kekaguman yang paling tulus dari lubuk hati. Ibarat senyuman seorang kekasih karena kepuasan yang telah diberikan oleh pasangannya.


Pedang kembar miliknya sudah jatuh ke tanah. Tapi sampai saat ini, Dewa Pedang Kembar masih dapat bertahan. Hanya seluruh tubuhnya sudah mulai pucat pasi. Terutama sekali wajahnya.


"Hebat, jurus pedang yang sangat bagus. Apakah … apakah ini adalah yang disebut jurus pedang yang sudah mencapai tahap sempurna?" tanya Dewa Pedang Kembar dengan susah payah.


"Benar. Jurus yang aku gunakan bernama Jurus Pedang Kilat Tak Berbentuk. Sebuah jurus pedang tingkat sempurna yang aku miliki," jawab Cakra Buana dengan jujur.


Selesai berkata, pemuda itu langsung mencabut Pedang Naga dan Harimau yang sebelumnya masih tertancap di tenggorokan lawannya.

__ADS_1


"Jurus Pedang Kilat Tak Berbentuk …"


Dewa Pedang Kembar terus mengulang ucapan itu sampai pada akhirnya dia menghembuskan nafas terakhir. Tubuhnya ambruk ke tanah. Dia benar-benar tewas.


Salah satu murid kesayangan Penguasa Kegelapan itu tewas membawa perasaan gembira ke alam baka. Hal ini dapat terlihat dari bibirnya. Meskipun nyawanya sudah melayang, namun bibir itu seakan terus memberikan senyuman tulus.


Seorang pendekar yang gila pedang, lalu tewas oleh pendekar pedang kenamaan pula, memangnya siapa yang tidak bahagia?


Ibarat si tukang amal yang meninggal saat dirinya sedang beramal, bukankah dia juga akan bahagia?


Pendekar Tanpa Nama menghembuskan nafas lega. Dendam kesumatnya hampir tuntas. Tinggal dua langkah lagi, maka pemuda itu akan segera menyelesaikan seluruh tugas yang selama ini dia panggul. Tinggal sedikit lagi, maka beban yang selama ini menindih pundaknya akan segera sirna.


Semua pertarungan yang baru saja lewat itu terhitung sangat cepat. Namun meskipun benar demikian, semua tokoh persilatan yang hadir merasa kagum. Terkesima. Bahkan ada yang tidak percaya.


Sebab apa yang mereka lihat barusan, sebenarnya merupakan pertempuran sangat dahsyat, dan jurus-jurus yang digunakan oleh orang-orang itu merupakan jurus langka. Jurus yang jarang terlihat dalam dunia persilatan.


Pendekar mana yang tidak kagum dengan pertempuran sengit itu?


Suasana masih hening. Tiada seorangpun yang berani membuka suara. Mereka masih diam tak bergerak layaknya sebuah arca batu.


Setelah pertempuran dahsyat tadi, apakah nanti akan ada pertempuran yang jauh lebih dahsyat lagi?


Wajah Penguasa Kegelapan yang saat ini menyamar menjadi Prabu Katapangan Kresna tampak semakin muram. Dia terlihat lebih tua beberapa tahun.


Mungkin karena dia sedang memikirkan sesuatu yang tidak pernah dia bayangkan sebelumnya.


Namun benarkah hanya karena sebuah pikiran, maka seseorang bisa tampak lebih tua dari umur yang sebenarnya?


"Keempat muridmu sudah mampus. Saat ini mungkin mereka sedang menerima timbal balik dari apa yang telah dilakukan pada saat hidupnya di atas muka bumi," kata Pendekar Tanpa Nama sambil menatap tajam ke arah Penguasa Kegelapan.


Penguasa Kegelapan tidak mau menjawab. Dia hanya tersenyum sinis. Sepasang matanya menatap semakin tajam ke arah Cakra Buana.

__ADS_1


"Aku tahu, mereka mampus karena kebodohan dan kecerobohannya sendiri," jawab Penguasa Kegelapan sambil memperlihatkan senyuman sadis.


__ADS_2