Pendekar Tanpa Nama

Pendekar Tanpa Nama
Keahlian yang Mengagumkan


__ADS_3

Sepeminum teh kemudian, Kakek Penyaru sudah mengerjakan tugasnya dengan sempurna. Sekarang penampilan Kakek Sakti benar-benar mirip seperti Dewi Bercadar Merah. Kemiripan itu bahkan hingga mencapai seratus persen.


Kalau saja orang tidak teliti, niscaya siapapun tidak akan ada yang mengenalinya kalau dia sebenarnya adalah Kakek Sakti.


Begitu juga dengan Nenek Sakti. Sekarang wanita tua itu mirip sekali dengan Ratu Ayu. Sedikitpun tidak ada yang dibuang. Wajah yang mulai dipenuhi oleh keriput, rambut yang telah dipenuhi uban, sekarang semua itu telah sirna.


Yang nampak hanyalah bentuk seseorang dengan potongan tubuh bagus yang sanggup menggetarkan hati setiap pria. Wajahnya menjadi cantik. Begitu juga dengan kulitnya yang menjadi lebih lembut.


Tanpa sadar Dewi Bercadar Merah dan Dewi Bercadar Biru terbelalak. Sekarang keduanya baru tahu seperti apa kepandaian Kakek Penyaru itu.


Tak bisa dipungkiri lagi, kedua gadis jelita itupun setuju kalau Kakek Penyaru menjadi orang nomor satu dalam bidang ini.


Diam-diam keduanya menghela nafas, untung saja orang seperti Kakek Penyaru itu berada di pihaknya sendiri. Coba bagaimana jadinya kalau dia berada di pihak musuh?


Mungkin akibatnya bakal lebih mengerikan lagi. Apalagi dia bisa berubah menjadi siapa saja. Kalau sampai hal itu benar-benar terjadi, maka dunia persilatan bisa dibuat kacau oleh dirinya seorang.


Sebab Kakek Penyaru bisa menyamar menjadi pria maupun wanita. Sedetik menjadi Raja, sedetik menjadi Ratu. Dan sedetik lagi menjadi orang lain.


Bukankah hal itu amat mengerikan?


"Benar-benar kepandaian yang luar biasa. Aii, seumur hidupku aku baru melihat ada orang seperti Kakek," ucap Dewi Bercadar Merah kepada Kakek Penyaru.


"Tidak berani, tidak berani. Ini hanya kebetulan bisa saja. Sama sekali bukan kepandaian yang pantas mendapatkan pujian," katanya merendah.


Kakek Penyaru memang bukan orang yang sombong. Kepada siapapun dia suka merendah. Hal ini menjadikan sosoknya disenangi oleh orang banyak.


Tidak sedikit tokoh-tokoh kelas atas aliran putih yang menjadi sahabatnya. Namun tak sedikit juga musuh-musuhnya.


Bukan saja kepandaiannya dalam menata rias yang luar biasa, bahkan kemampuan ilmu silatnya juga sudah sangat hebat. Konon kabarnya dia disejajarkan dengan pendekar pilih tanding.


Pernah suatu ketika, ada seseorang yang secara tidak sengaja melihat dirinya bertarung melawan lima orang yang berasal dari aliran sesat. Kejadiannya terletak di sebuah hutan.


Padahal siapapun mengetahui kalau musuhnya pada saat itu bukanlah lawan yang enteng. Mereka ditakuti di kalangan rimba hijau. Sepak terjangnya yang kejam mendapat pujian dari kalangan sesamanya.


Waktu itu, Kakek Penyaru hanya seorang diri saja. Orang yang menyaksikan berpikir kalau dia bakal kalah. Tapi siapa sangka, yang terjadi justru malah sebaliknya.

__ADS_1


Kakek Penyaru ternyata sanggup mengalahkan mereka hanya dalam waktu lima puluh jurus saja. Hebatnya lagi, dia tidak mengalami luka yang berarti. Sedangkan lima orang lawannya, semuanya tewas mengenaskan.


"Sungguh tokoh yang patut dihormati," ujar Ling Ling. Dia segera meneruskan, "Kek, apakah riasan ini bakal hilang kalau terkena air?"


Sudah menjadi rahasia umum jika sebuah make up atau riasan bakal hilang jika terkena air, bahkan jika terkena cucuran keringat pula. Oleh sebab itulah Dewi Bercadar Merah menanyakannya saat ini, tujuannya tak lain agar dia tahu.


Sebab kalau sampai riasan itu hilang, maka dipastikan semua rencana yang telah disusun matang itu bakal hancur berantakan di tengah jalan.


"Nyai tenang saja. Riasan itu tidak akan hilang sebelum waktunya. Pada saat merias aku meminta agar riasan hilang setelah lima hari pada saat senja," jelas Kakek Penyaru.


"Jadi sebelum lima hari itu, riasan tersebut sama sekali tidak akan hilang meski dengan cara apapun?"


"Benar, Nyai,"


"Aishh, sungguh aneh …" gumam Dewi Bercadar Biru yang semenjak tadi diam.


"Memang aneh. Tapi juga memang begitu kenyataannya," jawab kakek tua itu.


Di dunia ini terkadang sangat banyak sekali keanehan yang benar-benar terjadi. Salah satunya seperti yang baru saja dibahas oleh ketiga tokoh tersebut.


"Apakah kita akan memulainya sekarang?" tanya Kakek Sakti.


"Tentu saja, aku rasa Kakek dan Nenek sudah tahu tugas yang harus kalian laksanakan," kata Dewi Bercadar Merah.


"Kau jangan khawatir. Aku mengerti seluruhnya," jawab Nenek Sakti.


"Baiklah kalau begitu. Sekarang juga aku akan berangkat mencari Kakang Cakra Buana,"


Baru saja Dewi Bercadar Merah hendak mengangkat Ratu Ayu, tiba-tiba Kakek Penyaru bersuara.


"Tunggu!!!"


"Ada apalagi kek?"


"Ke mana kau hendak mencari orang yang kau maksudkan itu?" tanyanya kebingungan.

__ADS_1


"Ini urusan gampang. Aku tahu di mana dia berada," jawabnya sambil tersenyum.


"Tapi Ratu …" ucapan Kakek Penyaru segera dipotong oleh Ling Ling.


"Ah, benar. Hampir saja aku lupa. Tolong kakek ubah wajah Ratu Ayu menjadi seorang nenek tua renta yang mirip denganku sehingga seolah-olah dia ini adalah ibuku,"


"Baru saja aku mengusulkan demikian," ucapnya sambil tertawa gembira.


Ling Ling tidak jadi mengangkat Ratu Ayu. Dia merebahkan kembali wanita berpengaruh itu di tempat tidurnya yang empuk. Begitu selesai, Kakek Penyaru langsung menghampirinya lalu segera menjalankan tugasnya kembali.


Keahliannya dalam menata rias kembali diperlihatkan. Gerakannya sangat cepat dan lincah. Hanya sesaat saja Ratu Ayu sudah berubah menjadi nenek tua. Wajahnya benar-benar hampir seperti Ling Ling. Bedanya, dia sudah keriput. Usianya sama dengan wanita berumur tujuh atau delapan puluh tahun.


"Sudah selesai," katanya sambil mengundurkan diri ke belakang.


"Baiklah. Aku segera berangkat,"


Tiga orang yang ada di sana mengangguk. Dewi Bercadar Merah segera pergi dari kamar mewah itu. Gerakannya masih cepat, ternyata meskipun dia menggendong seseorang di punggungnya, tapi sama sekali tidak mempengaruhi.


Di dalam kamar itu, Dewi Bercadar Biru serta Sepasang Kakek dan Nenek Sakti mulai menjalankan tugasnya masing-masing. Nenek Sakti langsung merebahkan dirinya di tempat tidur yang amat empuk itu. Kakek Sakti segera duduk di sampingnya bersama Dewi Bercadar Biru.


Siapapun pasti tidak akan ada yang tahu kalau keadaan di kamar itu sudah berubah total.


Tidak lama setelah itu, kebetulan sekali ada para dayang yang datang untuk memberikan makan. Nampan berisi makanan enak telah tersedia. Seorang dari dayang tersebut segera menyuapi 'Ratu Ayu' yang merebahkan dirinya.


"Apakah Ratu Ayu sudah sakit sejak lama?" tanya Dewi Bercadar Biru pura-pura.


"Sudah cukup lama Nyai. Semakin hari keadaannya semakin mengkhawatirkan,"


"Benar, apakah kalian merasakan seperti apa yang aku dan adikku rasakan?"


"Tentu saja Nyai. Kita sama-sama wanita, sudah pasti kita dapat merasakan apa yang dirasakan oleh Ratu Ayu," jawab seorang dayang dengan nada sedih.


Sinta hanya bisa menghela nafas mendalam. Gadis itu tidak tahu apa yang harus dikatakan lagi olehnya.


Sekarang yang dia harapkan dalam hatinya hanya satu hal saja. Yaitu semoga Ratu Ayu segera disembuhkan agar kembali seperti sedia kala.

__ADS_1


__ADS_2