
Huang Pangcu, Pendekar Tanpa Nama dan si Buta Yang Tahu Segalanya hanya tersenyum sambil menggeleng-gelengkan kepala.
Meskipun Cakra Buana baru pertama kali berjumpa dengan Orang Tua Menyebalkan, namun sedikit banyaknya dia sudah mengetahui watak kakek tua yang satu ini.
Siapapun orangnya, mereka pasti akan segera dapat membaca sifatnya yang tidak jelas itu. Hal itu memang sudah menjadi ciri khasnya sejak dulu.
Kalau sifatnya tidak menyebalkan, bagaimana mungkin dia bisa mendapat julukan Orang Tua Menyebalkan?
Keempat orang tersebut berjalan dengan santai. Sepanjang perjalanan, mereka bercerita tentang banyak hal.
Seluruh anggota Kay Pang Pek yang tadi datang bersama Huang Pangcu, kini mereka semua sudah kembali lagi. Tinggal ada beberapa orang saja yang masih mengikuti mereka, itupun dari kejauhan.
Restoran di sana tidak besar. Namun tidak bisa juga dibilang kecil.
Di setiap sudut terdapat beberapa lentera berwarna kuning kemerahan. Di tengah-tengah tergantung sebuah nama yang ditulis di atas kayu.
"Restoran Angin Musim Semi"
Restoran ini sudah terkenal ke seluruh pelosok. Bahkan para pelancong kota ini pun pasti akan singgah di restoran ini. Begitu pula dengan Huang Pangcu, baginya, restoran ini adalah restoran terbaik.
Apalagi hidangan Ayam Masak Balado dan Bebek Bakar Bumbu Laut. Kedua hidangan tersebut menjadi menu hidangan yang paling favorit. Ada juga Arak Hijau Muda yang terkenal dengan rasanya yang manis. Lembut, harum, namun juga memberikan sentakan keras kepada para peminumnya.
Seorang pelayan wanita menyambut kedatangan mereka bertiga. "Selamat datang Pangcu. Silahkan duduk," kata si pelayan dengan ramah.
Usianya paling banter baru berusia sekitar tiga puluh tahunan. Wajahnya cantik. Kulitnya putih dan katanya agak sipit.
"Terimakasih," sahut Huang Pangcu.
Ketiganya segera masuk. Mereka duduk di meja tengah-tengah. Seorang pelayan datang menghampiri mereka lalu segera menuliskan pesanan.
Sambil menunggu, ketiganya menikmati Arak Hijau Muda yang enak dan harum itu.
__ADS_1
"Pangcu, aku merasa ganjil akan kejadian tadi," kata Orang Tua Menyebalkan.
"Memangnya kenapa?" tanya Huang Pangcu.
"Aii, kau dengar sendiri bukan? Orang yang melaporkan tentang kejadian terbunuhnya para anggota Tujuh Perampok Berhati Kejam dan Kay Pang Hek, bahkan Oh Kay Tin sendiri tidak mengenalinya. Seharusnya sebagai ketua, dia sudah tahu. Walaupun mungkin belum melihatnya, tapi pasti mereka mempunyai kode rahasia bagi sesama anggotanya. Tidak mungkin sebuah perkumpulan besar tidak mempunyai kode semacam ini. Dan lagi, Pendekar Tanpa Nama juga mengatakan tidak membunuhnya. Bukankah ini sangat ganjil?"
"Benar. Aku sendiri merasakan hal sama. Sepertinya memang ada orang ketiga di balik semua permasalahan ini," sahut Huang Pangcu.
"Jelas ada. Mereka ingin menghancurkan dua kelompok itu. Dan lagi, mereka ingin mengambil nyawa Pendekar Tanpa Nama lalu mengambil pedang dan kitab pusaka yang ada pada dirinya. Selain itu, orang ini juga sengaja mengundang para tokoh sesat lainnya. Terlebih lagi mereka yang mempunyai dendam kesumat dengan Pendekar Tanpa Nama. Aku yakin yang menyebarkan informasi sesat ini adalah kerjaan mereka," kata Li Guan si Buta Yang Tahu Segalanya.
"Kau benar. Tadi saat Huang Pangcu menanyakan siapa yang memberikan informasi, aku melihat wajah Oh Kay Tin berubah. Dia sendiri sepertinya baru tersadar, namun untuk mundur rasanya sudah tidak mungkin. Apalagi dia datang bersama anggota dan para tokoh lainnya. Untungnlah antara kami sudah mempunyai dendam sebelumnya, sehingga masalah ini bisa memperkuat alasan untuk mereka supaya bisa bertarung denganku," sambung Cakra Buana.
Empat orang tersebut mulai berdiskui tentang kejadian yang baru saja mereka rasakan. Jelas, semua orang merasa bahwa kejadian tadi memang sangat ganjil.
"Apakah kau sudah tahu siapa dalang di balik semua ini?" tanya Orang Tua Menyebalkan kepada Li Guan.
"Untuk saat ini belum. Namun sedikit banyaknya, aku sudah mengetahui,"
"Orang-orang ini tergabung dalam sebuah organisasi yang sangat rahasia sekali. Si pelaku utama mempunyai pengaruh sangat besar sehingga dia bisa menyuruh tokoh kelas atas untuk melakukan semua perintahnya. Aku yakin Iblis Tua Langit Bumi juga suruhannya,"
"Apakah itu benar?" teriak Huang Pangcu sedikit kaget mendengar ucapan tersebut.
"Tentu saja benar. Aku rasa Pangcu sendiri sudah tahu bahwa kakek tua itu paling anti disuruh oleh siapapun. Jangankan kau yang menyuruh, sekalipun Kaisar sendiri, belum tentu dia akan mau," ucap si Buta Yang Tahu Segalanya.
Semua orang tercengang mendengar ucapan Li Guan. Namun mereka juga tahu bahwa Iblis Tua Langit Bumit memang bukanlah orang yang mudah untuk disuruh.
Perumpamaan Kaisar sendiri belum tentu mampu menyuruhnya memang tepat sekali. Selama ini, dia hanya melakukan sesuatu yang dia kehendaki sendiri. Kalaupun ada kerja sama dengan orang lain, pastilah hal itu mendatangkan keuntungan besar kepadanya.
Jika tidak ada keuntungan yang dia dapatkan, bagaimana mungkin dia mau melakukannya?
"Sepertinya ucapanmu memang benar, lantas, apakah dia mau disuruh hanya karena uang?"
__ADS_1
"Uang? Bukankan Pangcu sendiri tahu bahwa iblis tua itu mempunyai rumah yang mewah dan bergelimang harta?" tanya balik Li Guan.
"Lagi-lagi kau benar. Tapi, bukan tidak mungkin juga jika dia ditawari uang banyak sehingga mau melakukannya. Bisa jadi Tujuh Perampok Berhati Kejam membayarnya," ucap Huang Yang Qing masih penasaran.
"Tanpa bergerak pun, sudah banyak kelompok-kelompok yang setoran kepadanya. Dan lagi, aku juga yakin bahwa Tujuh Perampok Berhati Kejam adalah kaki tangan mereka. Hanya saja tidak semua orang, mungkin cuma satu atau dua orang saja," ucap Li Guan.
"Masuk akal juga. Singkatnya, Iblis Tua Langit Bumi bisa ikut dalam masalah ini ada dua kemungkinan. Satu, si dalang utama yang memintanya langsung. Kedua, bisa saja Tujuh Perampok Berhati Kejam yang memintanya dengan bayaran cukup mahal dan alasan-alasan lainnya. Apapun itu, bukanlah sesuatu yang tidak mungkin. Justru yang tidak mungkin bisa jadi mungkin," jelas Orang Tua Menyebalkan dengan raur wajah serius.
"Tepat. Memang begitu," seru Li Guan sambil menggebrak meja pelan.
Tapi walaupun pelan, tak urung juga cawan arak yang ada di atas meja dibuat tumpah olehnya.
"Sepertinya dunia persilatan akan mendapatkan masalah besar," ucap Huang Pangcu berpendapat.
"Itu sudah pasti. Apalagi beberapa bulan lagi semua tokoh akan berkumpul," tukas Li Guan.
"Menurut kalian, apa yang sebenarnya mereka inginkan?"
"Mengincar benda-benda pusaka yang menjadi incaran setiap orang. Dan tentunya menguasai dunia persilatan," kata Pendekar Tanpa Nama setelah sedari tadi diam mendengarkan.
"Betul!!!" seru si Buta Yang Tahu Segalanya.
Tentu saja tujuan mereka adalah itu. Siapa yang tidak ingin kekuasaan? Siapa yang tidak mau berkuasa? Siapapun pasti mau.
Bukankah kebanyakan orang berharap dirinya bisa berkuasa? Kalau mereka sudah berkuasa, maka tujuan lainnya pasti akan mudah dicapai. Ini sudah menjadi rahasia umum.
"Kalau begitu, berarti Bengcu (pemimpin dunia persilatan) sedang berada dalam bahaya. Cepat atau lambat, mereka akan berusaha untuk membunuhnya," seru Orang Tua Menyebalkan.
###
Btw nama makanan ini sama aja sebenarnya. Selain imajinasi, saya juga liat contoh novel karya Khu Ling, JY dll. Ternyata menunya jika di ubah ke B. Indo ya begitulah namanya wkwkwk
__ADS_1