
Seseorang?
Otak Cakra Buana langsung bekerja. Dia segera menerka-nerka siapakah seseorang itu. Walaupun hanya satu patah kata, tapi sanggup membuat siapapun penasaran.
Bagaimana tidak? Seorang Maling Sakti Seribu Wajah adalah tokoh lihai. Dia disejajarkan dengan para tokoh pilih tanding yang kemampuannya hampir setara dengan datuk dunia persilatan. Terutama sekali ilmu merias wajahnya.
Di Tanah Pasundan, tidak ada yang dapat mengalahkan kemampuannya yang satu ini kecuali hanya si Kakek Penyaru.
Sekarang dengan entengnya dia mengaku kalau apa yang sudah dia lakukan selama ini, merupakan tugas dari seseorang?
Tentunya siapapun bakal mengerti kalau seseorang itu pastinya bukan orang biasa. Kalau tidak begitu, bagaimana mungkin seorang seperti Maling Sakti Seribu Wajah mau disuruh-suruh seperti itu?
"Apakah Majikan Bertudung Hitam?" tanya Pendekar Tanpa Nama setelah dia berpikir beberapa saat lamanya.
"Kenapa kau berpikir kalau dia lah orangnya?"
"Karena selain orang berjuluk Majikan Bertudung Hitam itu, rasanya di dunia ini tiada seorangpun yang sanggup memperlakukanmu seperti ini,"
Maling Sakti Seribu Wajah mengangguk-anggukkan kepalanya beberapa kali. Alasan yang diucapkan oleh Pendekar Tanpa Nama cukup masuk akal. Memang, dia sendiri tahu setinggi mana kemampuannya.
Meskipun kadang dia sendiri tidak percaya, tapi kalau orang lain sudah yakin, bagaimana mungkin dia bisa menolak?
"Alasan yang masuk logika. Memang dia lah seseorang yang aku maksudkan," jawabnya tanpa menyangkal.
"Hemm …" sekarang giliran pemuda itu yang manggut-manggut. "Aku hanya heran, kenapa orang sepertimu mau disuruh olehnya?" lanjut Cakra Buana.
"Bukan saja diriku, bahkan siapapun manusianya, kalau Majikan Bertudung Hitam sudah memberi perintah, aku berani jamin kalau orang itu pasti akan melaksanakannya,"
"Apakah orang itu sangat hebat?"
"Bukan saja hebat, bahkan jauh lebih hebat daripada apa yang kau bayangkan selama ini. Asal kau tahu saja, Majikan Bertudung Hitam bisa membunuh siapapun hanya dengan tatapan matanya saja,"
Cakra Buana tersentak kaget. Antara percaya atau tidak percaya.
Tapi walaupun pemuda itu tidak mau percaya, dia harus tetap percaya. Sebab yang mengatakannya bukanlah orang lain. Yang bicara adalah Maling Sakti Seribu Wajah.
Seorang tokoh sesat namun selalu bicara dengan jujur.
Tetapi, terlepas apapun itu, Pendekar Tanpa Nama tetap masih merasa ragu. Dia tidak yakin kalau di dunia ini ada ilmu seperti barusan yang disebut oleh Maling Sakti.
Sekalipun memang ada, pasti yang mampu menguasainya tidaklah banyak. Terlebih lagi, mereka yang memilikinya pasti merupakan tokoh angkatan tua yang usianya sudah sangat lanjut.
__ADS_1
Sedangkan untuk Majikan Bertudung Hitam sendiri, Pendekar Tanpa Nama sangat yakin kalau orang itu pasti belum tua. Setidaknya umur orang itu tidak berbeda jauh darinya.
Meskipun belum pernah berjumpa, tapi hatinya mengatakan demikian.
Seperti yang diketahui, kalau hatinya sudah berkata, maka Pendekar Tanpa Nama pasti akan mempercayainya.
"Aku jadi ingin berjumpa dengannya," ucap pemuda itu sambil memandang ke tempat jauh.
"Aku sarankan jangan," jawab si Maling Sakti dengan kalem.
"Kenapa?"
"Karena kalau kau bertemu dengannya, mungkin waktu itu adalah saat terakhir bagimu melihat dunia ini,"
"Umpama ucapanmu ini benar, aku tentu akan menerimanya dengan senang hati,"
Sementara itu, di tengah percakapan mereka berdua, lambat laun dari kejauhan sana mulai terdengar kembali teriakan orang-orang yang tadi sempat mengerubungi si Maling Sakti.
Walaupun jumlahnya tidak sebanyak sebelumnya, hati Maling Sakti Seribu Wajab tetap gentar juga. Sebab dia sendiri tahu bahwa orang-orang yang sedang menuju kemari itu, pastinya adalah tokoh-tokoh kelas atas dunia persilatan.
Suara mereka semakin dekat. Bahkan ***** membunuh yang keluar dari masing-masing tubuhnya pun bisa dirasakan dengan jelas oleh kedua orang tersebut.
"Aihh, mereka datang lagi," keluh si Maling Sakti.
"Aku sudah tahu. Oleh sebab itulah aku harus pergi sekarang juga," ucap si Maling Sakti dengan cepat.
"Kau mau pergi ke mana?"
"Ke mana saja. Yang penting aku harus lari dari kejaran orang-orang itu,"
"Hemm, memangnya siapa yang bakal membiarkanmu pergi?" tanya Pendekar Tanpa Nama sambil tersenyum dingin.
Wajahnya kembali tanpa ekspresi. Nada suaranya juga datar.
Maling Sakti Seribu Wajah mengerutkan keningnya. Wajahnya juga mengalami perubahan, tapi entah apa maksud dari semua itu.
"Jadi, kau tidak akan membiarkanku pergi?"
"Sama sekali tidak,"
"Apalagi yang kau mau dariku? Aku sudah bicara sejujurnya, tapi kenapa kau justru ingin menahanku di sini?" tanyanya sambil memandang penuh selidik.
__ADS_1
"Aku tidak memintamu untuk menjawab dengan jujur. Aku hanya bertanya saja, masalah kau jujur atau tidak, itu hakmu sendiri," jawabnya dengan kalem.
Kini giliran si Maling Sakti Seribu Wajah yang terlihat sangat kesal. Untuk sesaat lamanya dia hanya bisa berdiri dan berusaha menenangkan dirinya.
Sejatinya orang tua itu tidak tahu lagi apa yang harus dia lakukan saat ini. Mau pergi pun sudah terlambat, sebab orang-orang yang mencarinya sudah sedemikian dekat.
"Kau yang memaksaku untuk melakukan ini …" teriaknya lantang.
Wutt!!! Wushh!!!
Dengan gerakan yang sangat tiba-tiba dan tidak pernah diduga sebelumnya, tubuh Maling Sakti Seribu Wajah mendadak meluncur ke depan sana sambil melancarkan beberapa serangan keras dan dahsyat.
Empat pukulan beruntun sekuat enam bagian tenaga dalamnya langsung dilayangkan. Tiga tendangan berputar yang mengarah ke berbagai macam titik penting di tubuh Pendekar Tanpa Nama juga turut dilakukan.
Wuttt!!! Wuttt!!!
Setiap pukulan dan tendangan si Maling Sakti ternyata sanggup menerbangkan segala yang ada di sekitarnya. Dedaunan kering dan bebatuan kecil menjadi sasaran dari semua serangan tersebut.
Di sisi lain, pada saat itu Pendekar Tanpa Nama masih tetap berdiri dengan santai di tempatnya.
Gerakan si Maling Sakti Seribu Wajah memamg sangat cepat. Mau tidak mau hati Pendekar Tanpa Nama juga memuji kecepatan semua gerak serangan itu.
Tapi sayang sekali, secepat apapun gerak serangannya, tetap tidak akan bisa mengelabui mata Cakra Buana yang diibaratkan setajam mata harimau buas itu.
Sepasang matanya tidak pernah berkedip selama dirinya sedang mengawasi si Maling Sakti.
Plakk!!! Plakk!!!
Dua benturan keras terdengar menggetarkan alam di sekitarnya. Si Maling Sakti terdorong tiga langkah ke belakang. Darah di dalam dadanya terasa bergolak hebat seperti lahar yang akan keluar dari sebuah gunung aktif.
Sedangkan Pendekar Tanpa Nama masih tetap berdiri di tempatnya semula. Sedikitpun dia tidak bergerak. Seolah-olah benturan tangan barusan itu bukanlah apa-apa baginya.
Wushh!!!
Si Maling Sakti kembali menyerang. Kali ini dia tidak tanggung-tanggung lagi, sembilan bagian tenaga dalamnya yang sudah sempurna segera dikeluarkan.
Tubuhnya menghilang dari pandangan mata. Tapi detik selanjutnya, tubuh tua itu sudah tiba di belakang Pendekar Tanpa Nama.
Tujuh pukulan berhawa panas melayang secepat angin.
Wutt!!! Plakk!!!
__ADS_1
Untuk yang kedua kalinya, pemuda tersebut kembali berhasil menghindarkan diri dari serangan yang sangat ampuh itu.