Pendekar Tanpa Nama

Pendekar Tanpa Nama
Menyebalkan


__ADS_3

Kakek tua itu telah berdiri di hadapan Pendekar Tanpa Nama. Wajahnya nampak lucu namun juga menyebalkan. Dia masih tersenyum, senyumannya terlihat lucu sekaligus bisa membuat orang merasa sebal dengannya.


Di Tionggoan, yang mempunyai wajah dan senyuman seperti itu, siapa lagi kalau bukan si Kakek Tua Menyebalkan?


Orang tua yang dimaksud memang dirinya. Begitu puas tersenyum, kakek tua itu langsung menyambar guci arak yang sebelumnya digenggam oleh Cakra Buana.


"Dari dulu panca inderaku selalu tajam," kata Cakra Buana sengaja membanggakan dirinya di hadapan sahabat tuanya itu.


Si Kakek Tua Menyebalkan tertawa terbahak-bahak. Bahkan saking lantangnya tertawa, sampai-sampai dia tersedak oleh arak yang diminumnya sendiri.


"Kukira kau sudah mampus," ujar Cakra Buana.


"Tidak setiap orang dapat membunuhku, bagaimana mungkin aku bisa mampus?"


"Bisa saja kau jatuh ke jurang atau dimakan seekor harimau," kata Pendekar Tanpa Nama segera duduk kembali.


"Jatuh ke jurang, hemm, aku jarang main ke pinggir jurang. Dimakan harimau? Hemm, dagingku sudah tidak ada. Mereka pasti tidak akan doyan," jawab si orang tua itu seenaknya.


Julukan Orang Tua Menyebalkan sepertinya memang sangat cocok. Terbukti sekarang, setiap jawaban yang dia berikan memang membuat orang lain sebal kepadanya.


"Kau menyebalkan," sindir pemuda dari Tanah Pasundan itu.


"Julukanku memang Orang Tua Menyebalkan,"


"Terserah. Di mana Huang Pangcu?"


"Aku bukan anaknya, aku bukan pengawalnya, aku bukan dirinya, pun, aku bukan keluarganya. Kenapa kau malah bertanya kepadaku? Kalau aku bukan siapa-siapa, bagaiamana mungkin aku bisa tahu? Bukankah gadis ini adalah cucu Huang Pangcu? Kalau iya, kenapa kau tidak bertanya kepadanya saja?" jawab orang tua itu sambil tertawa penuh kemenangan.


Pendekar Tanpa Nama berhasil dibuat kesal oleh Orang Tua Menyebalkan. Pemuda itu menggertak gigi sambil memandang kakek tua tersebut dengan tajam. Terkadang dia merindukan setiap sahabatnya, salah satunya Orang Tua Menyebalkan.


Namun setelah sekarang bertemu, pemuda itu jadi memilih untuk tidak bertemu lagi selamanya dari pada harus naik darah setiap kali mendengar dia bicara.


Di sisinya, Mei Lan juga merasakan hal yang sama. Gadis itu benar-benar geram terhadap Orang Tua Menyebalkan. Untung bahwa dirinya sudah mengetahui siapa kakek tua itu sebenarnya sehingga dia tidak berani bertindak kurang ajar. Orang tua itu sahabat dari kakeknya sendiri, bagaimana mungkin dia berani berlaku demikian?

__ADS_1


Tapi coba kalau Mei Lan tidak tahu bahwa Orang Tua Menyebalkan adalah sahabat kakeknya sendiri, mungkin sudah sejak tadi pedang kembar miliknya keluar dari sarung.


"Sudah-sudah, pergi saja kau. Bisa mati mendadak aku jika terlalu lama berhadapan dengan orang sepertimu," ujar Cakra Buana kepada Orang Tua Menyebalkan.


Si kakek tua itu tertawa semakin lantang. Sejak pertama kali bertemu, dia paling suka mengerjai Cakra Buana. Orang tua itu sangat senang kalau berhasil membuat pemuda berjubah merah tersebut merasa kesal.


Namun meskipun keduanya selalu tampak tidak akur, tapi di antara mereka tidak ada yang menyimpan dendam. Sedikitpun tidak. Hal seperti yang sekarang sedang terjadi adalah suatu cara untuk mendekatkan hubungan pertemanan mereka.


Sekalipun si Orang Tua Menyebalkan selalu menjawab main-main, namun jika situasinya sedang serius, maka dia pun akan serius pula.


"Hahaha … baik, baik, aku akan pergi. Awas kalau kau ingin berjumpa denganku lagi," katanya lalu dia segera berlompatan sambil memamerkan ilmu meringankan tubuhnya.


Cakra Buana sendiri terkejut saat melihat ilmu meringankan tubuh Orang Tua Menyebalkan yang sekarang. Ternyata orang tua itu sudah mencapai tahap hampir sempurna. Kalau di bandingkan, mungkin kakek tua itu sudah setara dengannya.


"Dia benar-benar menyebalkan," ujar Mei Lan dengan ketus.


"Julukannya memang Orang Tua Menyebalkan," timpal Cakra Buana.


Mei Lan mendelikkan matanya. Gadis itu pun merasa kesal saat Cakra Buana menjawab demikian.


Cakra Buana hanya tertawa lebar. Dia tidak suka dan tidak mau berdebat dengan seorang wanita. Baginya, wanita manapun itu, sudah pasti mereka tidak mau mengalah.


Berdebat dengan wanita sama saja berdebat dengan seorang guru. Menang tidak, selalu kalah iya.


"Siapa di sana?" teriak Cakra Buana sambil memandang tajam ke arah semak belukar yang ada di samping kanannya.


Di sampingnya, Mei Lan si Dewi Pedang Kembar juga melakukan hal yang sama. Dia memperhatikan dengan teliti semak belukar itu. Sekarang panca inderanya sudah benar-benar terlatih, sehingga gadis itu bisa merasakan mara bahaya sekecil apapun.


Wushh!!!


Jawaban dari balik semak belukar itu bukan suara orang bicara, melainkan sebuah suara mendengung seperti ribuan lebah. Sepuluh sinar hitam sepanjang setengah depa meluncur dengan deras ke arah keduanya.


Sinar hitam itu bergerak sangat cepat. Lebih cepat dari pada sambaran seekor burung elang kelaparan.

__ADS_1


Wuttt!!!


Mei Lan melompat secara tiba-tiba. Pedang kembar yang selalu ada di punggungnya segera diloloskan saat itu juga. Dua sinar keperakan menyilaukan mata mendadak terlihat.


Gadis itu memainkan dua senjata andalannya dengan lincah gemulai. Setiap pedangnya bergerak, satu sinar hitam tersebut langsung rontok jatuh ke tanah. Hanya beberapa saat saja, sepuluh sinar hitam tadi telah rontok seluruhnya.


Sepuluh sinar tadi ternyata berasal dari ranting pohon berukuran sebesar jempol kaki. Melihat kenyataan tersebut, baik Mei Lan maupun Cakra Buana, keduanya sama-sama terkejut.


Yang dapat melakukan hal barusan biasanya hanya mereka tokoh kelas atas dunia persilatan. Yang menjadi pertanyaan sekarang adalah siapakah tokoh tersebut?


Mei Lan masih berada dalam posisi siap siaga. Pendekar Tanpa Nama juga berada dalam posisi waspada. Keduanya sedang menanti semua hal yang mungkin dapat terjadi.


Wushh!!!


Satu sosok berkelebat sangat cepat ke arah kedua muda-mudi itu. Segulung angin dahsyat terasa menderu menerpa tubuh keduanya. Daun kering berterbangan. Debu dan kerikil terbawa dan menggulung menjadi satu pusaran.


Plakk!!!


Dua tangan terjulur. Cakra Buana dan Mei Lan menahan sepasang tangan tersebut.


Adu tenaga dalam terjadi. Debu mengepul semakin tinggi. Daun kering berterbangan semakin tidak karuan.


Wushh!!!


Mereka terdorong mundur beberapa langkah ke belakang. Pendekar Tanpa Nama menarik tangan Huang Mei Lan agar tidak jatuh tersungkur. Keduanya berputar beberapa kali agar mengurangi daya dorongan yang dihasilkan dari peraduan tenaga dalam barusan.


Pada saat suasana telah kembali seperti semula, mereka berdua dibuat terkejut sekaligus senang. Terutama sekali Mei Lan. Gadis maha cantik itu langsung menghambur ke depan ke arah satu sosok yang telah berdiri di sana.


Tanpa banyak berkata, dia langsung memeluk sosok yang telah berdiri sambil tersenyum ke arahnya tersebut.


"Yaya lama sekali. Aku sudah sangat rindu kepadamu, aku kira Yaya tidak akan datang," kata Mei Lan sambil memeluk erat sosok tersebut.


Sosok yang dimaksud memang kakek dari Dewi Pedang Kembar. Dia adalah Huang Pangcu si Kakek Tua Tongkat Hijau, salah satu datuk dunia persilatan dewasa ini.

__ADS_1


###


Maaf ya belakangan ini up nya kurang hehe, lagi fokus ke novel satu lagi. Ditambah juga semalam dapat berita duka, keluarga author ada yang meninggal. Minta doanya daro semuanya ya …☕


__ADS_2