Pendekar Tanpa Nama

Pendekar Tanpa Nama
Amarah


__ADS_3

Suara nyaring terdengar sangat keras memekakkan telinga. Si Walet Putih tersentak. Seumur hidupnya, dia baru mengalami hal seperti ini.


Pedang yang selalu menemaninya dalam segala macam pertarungan, kini ujungnya telah dibuat patah oleh lawan. Kurungan ujung pedang jatuh ke tanah.


Si Walet Putih langsung terasa lemas saat itu juga. Seorang pendekar pedang, jika pedangnya patah, bukankah itu berarti nyawanya juga akan melayang?


Bagi para pendekar pedang seperti si Walet Putih dan si krempeng, pedang adalah dirinya. Dan dirinya adalah pedang. Keduanya menyatu menjadi satu sehingga menghasilkan kekuatan dahsyat jika berada dalam pertarungan.


Tapi sekarang satu nyawanya telah gugur. Itu artinya, nyawa yang satunya lagi juga akan melayang.


Dia baru menyadari, ternyata si krempeng sebenarnya mempunyai kekuatan yang bahka lebih tinggi dari pada yang dia perlihatkan sebelumnya. Dia hanya sedang menunggu waktu yang tepat.


Melawan pendekar pilih tanding, ketepatan waktu memang menjadi perhitungan yang sangat penting.


Saat tadi melihat si kekar turun tangan, saat itulah si krempeng mengumpulkan segenap kekuatannya dalam pedang. Tenaga dalam dahsyat, amarah, api dendam dan kebencian mendalam, menyatu menjadi satu sehingga menimbulkan kekuatan mengerikan.


Saat semuanya sudah sesuai dengan perhitungan, si krempeng langsung melesat tanpa diduga oleh lawannya sama sekali.


Si krempeng tidak sampai di situ saja. Dia melanjutkan serangannya yang sangat dahsyat itu. Pedangnya melesat dengan cepat memberikan tusukan hebat.


Tusukan itu adalah tusukan terakhir. Sekaligus menjadi serangan terakhir pula.


Dengan telak, pedang yang membawa hawa dendam itu menusuk hingga tembus ke belakang. Sasarannya tepat di tengah-tengah tenggorokan.


Si Walet Putih mengeluarkan suara rintihan sakit tertahan. Darah segar segera memenuhi mulutnya. Dia tidak mampu berkata. Lagi pula, memangnya apa yang akan dia katakan?


Matanya menerawang jauh. Puluhan bahkan ratusan pertarungan yang telah lalu, mendadak melintas dalam bayangannya. Bayangan manusia kesakitan saat meregang nyawa, bayangan kepala terlepas dari tempatnya, bayangan darah yang menggenang, semuanya muncul silih berganti.


Rasa sakit yang tiada terkira mulai menggerogoti tubuhnya. Sakitnya tidak ada yang dapat menandingi.


Apakah ini yang dinamakan kematian? Apakah sesakit ini saat menjelang nyawa melayang?


Matanya mulai terpejam. Mulut yang penuh darah itu perlahan menyunggingkan senyuman puas.


Dia puas karena tewas di tangan pendekar pedang yang sepadan dengannya. Walaupun sebelumnya ada rasa menyesal karena gagal menjalankan tugas seluruhnya, tapi sekarang penyesalan itu telah sirna dan digantikan dengan rasa kepuasan.

__ADS_1


Batang pedang yang sebelumnya masih sempat digenggam, kini telah jatuh ke tanah. Berbarengan dengan jatuhnya pedang, saat itu pula nyawanya melayang.


Si krempeng mencabut pedangnya dari tenggorokan si Walet Putih. Seketika orang tua itu langsung ambruk ke tanah.


Saat itu, Pendekar Tanpa Nama sedang menghadapi si gendut. Orang itu mengeluarkan seluruh kemampuannya sehingga posisi pemuda tersebut berada dalam kesulitan. Dia bisa saja membantu si Walet Putih, tapi dengan resiko nyawanya akan melayang.


Kalau sampai nyawanya melayang sekarang, bagaimana dia mau menyelesaikan tugasnya? Karena itu, secara terpaksa, dia hanya mampu mendengar suara tertahan sahabatnya tanpa sempat memberikan bantuan sedikitpun.


Si gendut mendadak melompat ke belakang. Dia ingin melihat bagaimana ekspresi seorang pendekar pilih tanding yang meregang nyawa.


Pertarungan berhenti seketika. Semua mata memandang kepergian si Walet Putih. Tiga lawannya tampak gembira sekali.


Satu orang lawan tangguh sudah tewas. Itu artinya, kemenangan yang dapat diraih menjadi lebih besar lagi. Bukankah begitu? Dengan kekuatan gabungan ketiganya, sudah pasti mereka mampu melawan Pendekar Tanpa Nama yang hanya seorang diri.


Tapi, apakah mereka bertiga juga mampu membunuh Pendekar Tanpa Nama?


Angin bertiup lirih membawa berbagai macam perasaan. Perasaan Pendekar Tanpa Nama saat ini sedang berkecamuk.


Rasa sedih, rasa marah, sara benci dan dendam, bercampur sehingga menciptakan gemuruh dalam dadanya.


Dia marah. Sangat marah. Siapa yang tidak akan marah melihat sahabatnya mampus?


Sebuah aura pembunuhan mendadak menyelimuti tubuhnya. Aura itu sangat pekat membawa serta hawa kematian yang kental.


Matanya mencorong tajam melebihi ujung pedang. Kedua tangannya bergetar hebat. Dia menatap kepada tiga lawannya.


"Hehehe, rekanmu sudah tewas. Sekarang tinggal dirimu yang akan menyusulnya," kata si krempeng sambil tertawa sinis.


Kepercayaan dirinya sudah kembali. Semangat untuk bertarungnya juga sudah tumbuh lagi.


Pendekar Tanpa Nama tidak menjawabnya. Dia hanya berdiri tegak seperti gunung yang kokoh nun jauh di sana.


Wushh!!! Wushh!!! Wushh!!!


Tiga bayangan manusia berkelebat sangat cepat ke arahnya. Mereka terbagi menjadi tiga posisi. Satu di tengah, satu di kanan dan satu lagi di kiri.

__ADS_1


Tiga serangan berbeda sudah siap menghunjam ke tubuhnya. Gerakan yang sekarang, jauh lebih dahsyat dari pada gerakan sebelumnya.


Si krempeng, si kekar dan si gendut tertawa lantang di sela serangannya. Mereka percaya bahwa kali ini serangannya tidak akan gagal. Apalagi seluruh kekuatan sudah mereka curahkan.


Di belakang sana, si Tubuh Pedang justru tampak berubah ekspresi wajahnya. Baru kali ini dia mengubah mimik setelah sebelumnya terlihat tanpa perasaan.


Keningnya berkerut. Beberapa kali dia menggeleng-gelengkan kepalanya pelan. Dia seperti menyesali tindakan tiga orang rekannya yang sangat gegabah itu.


Serangan lawan sudah tiba. Tiga serangan, datang secara bersamaan.


Anginnya sangat tajam sehingga mampu merobek harapan seseorang. Sayatan pedang menebas dengan ganas. Lemparan bole besi melesat sangat dahsyat. Dua macam pukulan beruntung tiba dengan segala kekuatan yang ada.


Mendadak pusaran angin terbentuk. Si kekar, si krempeng dan si gendut tersedot ke dalam pusaran angin tersebut. Ketiganya tidak tahu sesuatu apa yang sebentar lagi akan terjadi.


Walaupun begitu, mereka tidak menarik serangan. Justru malah menambah kekuatan dalam serangannya.


Blarr!!! Gelegar!!!


Suara ledakan dahsyat terdengar. Hawa kematian menyebar luar membawa perasaan menyeramkan.


Tiga teriakan tertahan menggema di angkasa raya.


Pusaran angun semakin besar. Debu yang menyelimuti juga semakin tebal.


Mendadak dari dalam pusaran tersebut satu sosok terlempar jauh ke belakang. Kepalanya pecah. Senjatanya entah hilang ke mana. Darah menggenangi tubuhnya saat itu juga.


Si gendut. Orang yang pertama terlempar adalah dia. Kematiannya benar-benar mengenaskan.


Tidak berapa lama setelah itu, seorang bayangan melesat kembali. Dua tangan dan dua kakinya hilang. Yang tersisa hanyalah kutungan anggota tubuh itu. Teriakan rasa sakit terdengar menggelora.


Orang itu si krempeng. Dia berteriak keras menahan rasa sakit. Tapi hal itu hanya terjadi sesaat. Karena detik berikutnya, nyawanya juga melayang.


Satu sosok menyusul lagi. Kali ini seluruh anggota tubuhnya masih utuh. Bahkan pakaiannya juga utuh. Luarnya memang tidak mengalami luka apapun.


Tapi dalamnya jangan ditanya lagi. Organ dalam si kekar hancur. Darah segar terus keluar dari seluruh lubang yang ada di tubuhnya.

__ADS_1


__ADS_2